SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 76. IBU


__ADS_3

Keesokan pagi.


Anastasya sudah bertolak ke lokasi proyek dengan Sonny. Lelaki muda itu sengaja memancing reaksi kala membaca pesan bosnya.


"Innalillahi, kasihan sekali Ibu dan Bibi, siapa yang tega memberikan minuman beracun? kondisi Ibu kritis dan Bi Inah belum sadar," ujarnya dengan suara sedikit lantang.


"Siapa?"


"Mertua dan art tuan muda. Kritis," balas Sonny.


"Bukan istrinya?"


"Bukannya istrinya pendarahan ya?" selidik Anastasya.


"Pendarahan dari mana? Nyonya sehat ko. Malah lagi happy nunggu kelahiran eh ada aja musibah," ungkap Sonny, kali ini menatap tajam Anastasya.


"Hmm, syukur deh. Heh, kenapa liatin aku gitu," Anastasya rikuh ditatap tajam oleh sekretaris Ezra.


"Jika aku mengetahui siapa pelakunya, pasti akan ku perlakukan sama dengan apa yang menimpa Ibu juga Bibi, karena mereka bagai orang tua ku. Bahkan Rolex tak segan mencicipi lalu mencincang hingga tanpa jejak ... kau tahu siapa Rolex? psiko jika sudah mencium bau darah," Sonny, menelisik setiap garis wajah yang tercipta dari mimik Anastasya.


"E-eh ko gitu." Anastasya merasa terintimidasi oleh pandangan Sonny. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu.


...***...


Rumah sakit.


Pasangan El Qavi sudah berada di rumah sakit. Ezra terkejut saat Bibi sudah di pindahkan ke kamar rawat meski kondisinya masih lemah. Sedangkan Ruhama di pindah ke ICU karena kritis.


"Semalam itu hampir, Tuan. Namun berhasil kami tolong dengan alat kejut jantung. Riwayat penyakit yang pasien cerita cukup berat di tambah kuatnya zat yang masuk dalam makanan terakhir kali seketika membuat jantungnya bekerja lebih cepat."


"Pasien sesak nafas akut sebelum akhirnya pingsan. Kondisi saat ini, tubuhnya tidak lagi bereaksi terhadap obat," ujar Dokter jaga membeberkan hasil lab.


Petugas medis menyampaikan bahwa mereka dapat bergantian masuk ke ICU karena sejatinya hidup Ruhama hanya di topang oleh alat medis. Ezra keluar ruangan dokter dengan wajah murung. Dilara pun sudah menduga apa yang terjadi.


"Abang," Dila meminta di izinkan di sisi Bunda kala suaminya itu duduk.


"Dila, dokter bilang kondisi Ibu sudah pasrah, obatnya gak masuk, Sayang. Dokter menyerahkan keputusan padamu apakah akan tetap disini atau bagaimana," jelas Ezra perlahan.


"Ikhtia-r a-l-a wajib. Aku ingin membe-ri yang te-r-baik untuk Ibu sepe-r-ti beliau se-lal-u mengutamakan ha-l apapun untukku," ucapnya lirih menundukkan kepala, Dila terisak.


"Aku udah izin biar kamu bisa di sisi Ibu. Dila, ikhlas ya," Ezra meraih wajah tembam istrinya, menegaskan dengan sorot mata bahwa jika memang saatnya melepaskan Ibu, mereka harus siap.


"Ikh-l-as, in sya Allah." Bulir bening itu jatuh luruh begitu saja membasahi pipi mulusnya.


Menantu Ruhama menyeka jejak basah dari wajah istrinya. Rasa hati tak tega melihat Dilara di posisi demikian. Satu-satunya keluarga yang dia punya berada di ujung nyawa.

__ADS_1


Menit demi menit berlalu.


Dilara masih melantunkan kalam Allah di sisi Bundanya. Jemari keriput itu berkedut samar saat Dila menggenggamnya.


"Ibu," Dila memanggil dengan suara lirih menahan isak. Kedua kelopak mata itupun terbuka, bibirnya bergetar mengucap sesuatu.


"Dila, ja-ga di-ri, ba-ha-g-ia y-a...."


Wanita senja, yang merawatnya sejak kecil akhirnya sadar, berucap sebisanya dengan tenaga tersisa.


Dilara hanya mengangguk, wajahnya basah oleh air mata.


"Terimakasih Ibu. Makasih banyak, maafin Dila belum bakti sama Ibu," ia tak lagi kuat berucap.


Tatapan Ruhama sendu, air mata muncul dari ujung mata tua nya. Bibirnya mengulas senyum dengan isyarat mata seakan mengatakan bahwa dia redho.


Mereka hanya saling pandang, wajah bersahaja yang mulai terlihat lelah, jemari Ibu dan anak itu saling terpaut erat. Hingga beberapa saat, sorot mata senja perlahan meredup. Dilara langsung berbisik di telinga Ruhama.


"Bu, Allah...."


"All-ah ... Allaaaaaaahhhh...."


Nafas akhir dari perawan tua bernama Ruhama, terhembus halus.


"Tolooonnggg, Dokteeeeeeeeerrr," seru Dilara panik, tenaga medis sigap melakukan tindakan darurat. Dia menepi agar mereka leluasa.


Sekian detik kemudian.


Dila melihat Dokter menggelengkan kepala samar, hingga mereka berlalu pergi. Istri Ezra meragu, ia bagai kehilangan ekspresi wajah. Badannya dipaksa bergerak berusaha kembali mendekat dengan langkah tertatih.


"Bu, I-bu ... I-b-uuu." Dila menyeka air mata, juga tetesan cairan dari hidungnya.


"I-bu...." wanita hamil itu masih berusaha berbisik di telinga memanggil ibunya. (astaghfirullah mewek sendiri)


"Allah, Ibuuuu, aaaaaahhh." Tangis Dilara pecah seiring Ezra yang diizinkan masuk. Postur tegap itu sigap menahan tubuh istrinya yang melemah.


"Honey, Dila," bisik Ezra pilu di telinganya. Mendekap pujaan hati yang terluka.


"Nyonya Ruhama, meninggal dunia pada 3 Maret, Jum'at pukul 9 pagi." Dokter telah menyatakan Ruhama berpulang. Ezra meminta pada suster agar semua berkas lekas di urus termasuk memandikan jenazah di rumah sakit, seraya membawa Dilara keluar ruangan.


Rolex yang meng-handle pekerjaan sang CEO di kantor ikut berkoordinasi dengan asistennya yang lain, termasuk izin untuk menerbangkan jenazah ke Surabaya.


Ezra juga telah menghubungi ayahnya agar Ruhama di kebumikan satu komplek dengan pemakaman keluarga mereka.


Dilara masih tersedu dalam pelukan ketika ponsel Ezra berbunyi.

__ADS_1


"Sayang, Velma call. Mau bicara?" wanita yang tengah berduka itu hanya diam, sehingga Ezra menjawab panggilan Velma dan me-loudspeaker.


"Dila, aku Mahira. Aku tergesa izin kuliah saat kak Velma datang ke rumah ... Dilaaa, I-bu? be-narkah? Dilaaaa," Mahira histeris.


Selama ini Ruhama lah yang juga mengasuh dirinya kala sang Nyai pergi keluar kota. Wanita penuh kesabaran dan penyayang, sesuai arti namanya itu kini telah tiada.


Dila tak kuasa menjawab, hanya tangisan yang keluar dari bibirnya yang perlahan memucat.


"Dilaaaaaa, jawab aku!" gadis itu tak kalah kencang menangis diujung sana.


"Iya benar, Mahira. Ibu berpulang, mohon doa dari para santri ya. Aku minta maaf apabila Ibu banyak khilaf pada keluarga Yai," ujar Ezra mewakili istrinya.


Tak lama panggilan itu terputus, seiring suster yang mendorong brangkar beroda menuju pemulasaran jenazah.


"Sayang, mandiin Ibu mau? kuat gak?" bisik Ezra lembut untuk wanitanya, dijawab Dilara hanya dengan anggukan.


Keduanya mengikuti suster menuju ruang di lantai dasar.


"Terakhir kali, aku yang akan memandikan Ibu. "


Setelah masuk ke ruangan. Ia berniat dan menarik nafas panjang. Dilara memulai, meski ditemani petugas, tangannya tetap bergetar.


"Kuat Mba, jangan nangis ya. Ibunya senyum, tugasnya in sya Allah selesai dengan baik, yuk lagi, bismillah." Petugas menuntun Dila hingga selesai mengkafani.


"Disholatkan di pondok pesantren, kata Yai melalui Mahira tadi." ujar Ezra kemudian saat Rolex datang membawa surat izin terbang.


"Ck, regulasi Bos. Aku keluar dana, agar lekas tuntas," keluhnya.


Kedua pria berbicara menjauh saat Dila duduk di sebelah jenazah ibunya yang telah wangi.


"Dila gak bisa ikut Ibu, maaf ya Bu, karena kehamilan Dila beresiko terbang saat ini."


"Ibu, selalu cantik dan baik di mata Dila, aku gak pernah sakit hati apapun perlakuan ibu terhadap ku. Maafkan Dila ya bu, aku sayang Ibu...."


Dilara mengecup wajah ibunya sebelum peti itu di tutup. Tangisnya kembali pecah saat pihak rumah sakit menyerahkan semua berkas berikut peti jenazah.


Iringan mobil membawa Almarhumah Ruhama pun meninggalkan rumah sakit. Pasangan Qavi hanya dapat mengantar hingga Bandara menatap sendu, ketika peti masuk bagasi seiring kepanikan Ezra muncul kala....


"Sayang! Dila!"


.


.


...___________________...

__ADS_1


__ADS_2