SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 81. PUNCAK RASA


__ADS_3

Sadar Ezra mengabaikannya, Dila menghapus air mata yang membasahi wajah, otaknya bekerja cepat. Dia lalu mengambil El dari gendongan Velma lalu masuk ke dalam kamarnya yang dulu.


Jemari lentik itu bergetar halus menekan tuts di layar gawai. Dia menghubungi Rengganis, namun alangkah terkejutnya Dila kala mengetahui sahabatnya akan terbang ke Dubai dengan sang suami.


Rengganis mengatakan bahwa mereka di minta oleh donatur yayasan untuk mengajar ngaji pada anak berkebutuhan khusus di sana, di lembaga sang donatur. Namun belum menemukan trainer yang mau pergi dan menetap di sana.


Dila mengambil keputusan kilat, dia menerima tawaran Rengganis saat ini juga. Wanita itu akhirnya menjelaskan kondisinya. Ustadz Zaky meminta Dilara memikirkan kembali juga menanyakan apakah Ezra betul-betul berniat menceraikannya sebelum keputusan ini.


Akhirnya obrolan panjang itu disepakati, nyonya muda El Qavi seketika menangis kembali. Dia melihat putranya, menciumi wajah mungil yang terlelap di atas ranjang.


"Maafin ayah ya Nak. Bunda akan tetap memberikanmu segala yang terbaik, janji. Kita mulai hidup baru," ujarnya disela isakan yang menyakitkan hati.


Sepanjang hari, Dila dikamar mengerjakan sesuatu, tak lupa menghubungi Winda untuk membawakan pesanannya sore nanti.


Ting. Ting.


Bunyi notifikasi pesan masuk. Ibu El shareef membuka aplikasi pesan.


"Cek email segera? tapi dari nomer asing, apa nomer staff kantor ya?" gumam Dila.


Putri Ruhama kemudian duduk di kursi kerjanya membuka laptop, mengecek sesuatu karena notif yang sangat mengganggu di ponselnya.


Jari kanan yang tersemat cincin couple pemberian Ezra, menekan tuts. Betapa terkejutnya dia kala melihat sesuatu yang terpampang di sana, netranya seketika memanas karena kelenjar raklimal bekerja keras.


Hatinya bergemuruh, dadanya sesak, wajahnya pucat karena sangat terkejut. Tubuh itu bangkit dari kursi terhuyung membentur ranjang sebelum jatuh ke lantai.


"Abang, kamu menjijikkan! kamu ingkar janji padaku!" Dila berteriak.


Tangannya mengepal, sorot matanya penuh kebencian. Seketika wajah ayu berubah bringas, ia geram, marah atas penghianatan yang Ezra lakukan.


"Pantas saja, malam itu kamu menyebut Cheryl!! aaaaaarrrggghhhh ... bodoh Dila ... bodoh!!"


Tangisan pilu menguar ke penjuru ruangan.


Kepalan tangan itu memukul dadanya yang sesak, berharap dapat meredam sakitnya tertusuk hujaman belati penghianatan yang menerkam, mencengkeram kuat gumpalan daging yang ia namakan hati.


"Aku benci kamu!"


"Aku sudah curiga siang itu saat kau tak mengantarku pulang. Juga ketika kau pulang setiap hari menjelang pagi ... apakah aku kotor? setelah melahirkan anakmu? kau jijik padaku?" isakan kuat yang membuat bahunya terguncang.

__ADS_1


El terjaga, menangis mendengar ibunya berteriak bagai kesetanan, bahkan Velma mengetuk pintu berkali-kali namun tak jua mendapat kepastian.


Sadar sikapnya memicu rasa khawatir. Dila berusaha meredam gejolak emosi, meski sakit menyerang. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia menggendong El. Sebisa mungkin dia kembali menetralkan suara saat akan menghubungi Rengganis.


"Aku tak apa Velma, maafkan mengganggumu ya," ucapnya dengan intonasi normal, sebisanya.


Keputusannya sudah bulat, tekadnya kuat. Dilara mentransfer semua uang yang ia punya ke rekening Winda dan kembali meminta padanya untuk menarik cash by ATM karena sudah di alihkan melalui akun milik driver online itu.


Menantu Emery pasrah seandainya Winda kabur, hidupnya sudah diujung tanduk. Kehilangan Ibu juga suami dalam waktu hampir bersamaan membuat hatinya remuk redam. Otaknya sebisa mungkin waras demi El.


Saat sambungan dengan Rengganis berlangsung, dia meminta agar kedua orang baik itu mengerjakan sesuatu untuknya saat dia telah pergi. Mengurus perubahan nama sang putra.


Semuanya telah siap, Dila kemudian berwudhu. Meneguhkan hati atas apa yang akan dia mulai.


"Bismillah." Dua rokaat yang berat ia lakukan, hanya berisi tangisan disetiap sebutan kalam Rabbnya.


"Aku mohon petunjukMu, jagalah kami. Jaga suamiku dari setiap kejahatan yang tidak nampak, apapun yang ia lakukan aku memaafkan namun tak dapat menerima pengingkaran ini," tubuh ringkih itu kembali bergetar halus, sebisa mungkin kain mukena nya dia gunakan untuk meredam suara tangisan.


"Ibuuu ... benar kata Ibu, aku tidak sekufu dengannya," sesal Dilara.


Sore hari menjelang petang saat Velma tidak berada di rumah karena Dila sengaja memintanya ke supermarket membeli sesuatu. Winda datang ke hunian mewahnya membawa semua apa yang ia perlukan.


Nyonya muda yang polos tak mengira, Winda dapat mengerjakan semua ini dengan cepat. Pantas saja dia bilang jika ada uang ada barang.


"Bawa ini ya Mba, titip ke rumah ustadz Zaky, alamatnya ini dan serahkan dokumen kita ke beliau," ujar Dila menyerahkan satu tas juga berkas-berkas kembali ke Winda.


"Non, cctv?"


"Sudah aku tempel dengan kertas tadi, tuh liat aja?" tunjuk Dilara pada cctv ruang tamu, juga didepan pintu Unit.


"Kapan pergi Non?"


"Aku kabari, setelah menyelesaikan urusanku lebih dulu."


Mereka pun berpisah sementara. Dila menunggu Ezra untuk memastikan sesuatu nanti sebelum dia pamit.


Gadis abege dipaksa berpikir dewasa, terkadang masih tak dapat menjangkau logika atas peristiwa beruntun yang mendera mahligai pernikahannya.


...***...

__ADS_1


EQ Building.


Ezra menekuri sikap acuhnya tadi pagi, ingin rasa hati mendekap raga penyempurna hidupnya namun ia takut Dilara berontak hingga memicu amarah yang kian memuncak.


"Sayang, maaf yaa. Ku akui, aku sungguh kaku menghadapimu," ujarnya seraya memandang foto kedua cintanya pada wallpaper benda kotak canggih diatas meja.


Tak berbeda dengan sang pimpinan, Rolex meresapi kemarahan sang Nyonya. Ia kini tengah mengulik sesuatu di komputer jinjing dalam kubikel.


Wajah yang sudah garang, menjadi demikian angker akibat keseriusan tercetak jelas.


...*...


Malam menjelang.


Dilara dengan setia menunggu sang suami kembali pulang, ingin mengkonfirmasi sesuatu padanya. Namun sayang, yang ditunggu tak kunjung tiba hingga menjelang tengah malam.


Sang Nyonya kecil, kembali masuk ke peraduan bersama jagoan tampan, putranya yang berharga.


Biiiipp.


Anak sulung Emery, masuk ke hunian kala hari hampir subuh. Dia sama sekali tak menjamah kamarnya dilantai dua. Dirinya hanya beristirahat sejenak di ruang kerja sebelum berangkat kembali ke Bali, esok pagi.


"Abang, bisa bi-," sapa Dilara saat melihat suaminya keluar dari ruang kerja, telah rapi dengan tas kerjanya.


"Ya? ... aku terburu, nanti saja kita bicarakan lagi jika aku sudah kembali," putusnya kala melihat Dila seakan ingin menyampaikan sesuatu. Pria tampan itu pergi begitu saja.


"Baik."


Hatinya kian teguh. Merasa Ezra menutup diri padanya padahal mereka dalam situasi genting.


Nyonya kecil menekan satu tombol panggilan cepat, meminta di jemput saat Velma fokus membantu Bibi di kamarnya nanti.


"Aku tidak menyesal menjalani ini, ikhlas sebagai jalan hidup yang Allah beri. Di limpahi nikmat bukan berarti mulia, di timpakan ujian bukan berarti hina ... Sayang, kita mulai hidup baru ya. Do'akan ayah dari jauh, Bunda tidak akan menghilangkan sosoknya darimu. Kita kunjungi ayah jika Bunda sudah siap, kelak."


Tubuh yang belum sempurna pulih pasca melahirkan dipaksa tegar karena kekakuan yang mereka cipta, meninggalkan setumpuk sesuatu yang penuh rasa dalam kamarnya.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2