
Tiga pekan kemudian.
Kemesraan pasangan Qavi terus bertumbuh. Ezra kini rutin mengajak Dila ke berbagai pertemuan yang ia hadiri. Terlebih istri kecilnya itu sudah di perbolehkan dokter untuk beraktivitas normal kembali setelah bedrest total selama satu bulan lamanya.
Kini keluarga kecil itu berniat mengunjungi sang adik di tahanan.
"Nengok Zayn dulu ya, Sayang." Ezra membuka seat belt istri cantiknya itu.
"Aku bisa," cegah Dila menahan tangan Ezra kala ingin membantunya.
"Gak boleh. Semuanya harus aku, kamu wajib ketergantungan sama aku, titik. Shan, nanti kalau dewasa ... punya istri cantik, perlakukan bagai ratu ya agar hatinya bahagia, maka rezekimu mengalir sebab doanya," ujar Ezra menatap lekat putranya.
"Istri itu apa? Mommy, what its like pop ice or cold tea?" tanya Shan dari bangku belakang, ia mengamati semua yang dilakukan ayahnya.
Dilara tertawa, dia menepuk lengan Ezra. Suaminya seringkali membuat Shan over thingking padahal anak itu belum paham apa-apa.
"Istri itu like Ayah dan Bunda ... you have to do something like this for your wife, in the future," sahut Ezra pada Shan, dan dia mengecupi wajah istrinya.
Awalnya Shan tersenyum dengan sikap Ezra yang menyayangi Dila, namun lama-lama....
"Eeuuwww, Daddy too much. Kasihan Mommy, stop it ... stop it." Shan menarik lengan Ezra agar melepaskan diri dari Bundanya.
Bukan mengikuti keinginan sang anak, putra Emery itu justru menggoda Shan dengan semakin mempererat pelukan.
Shan menangis. "Mommy ... Dads stop it. My Mommy's getting hurt," tangan kecil nan gempal itu memukuli tubuh Ezra bahkan kakinya ikut menendang lengan sang ayah.
"Awh, sakit Baby, ok ok...." Ezra tak mengira reaksi Shan sedemikian rupa menyayangi ibunya.
Dilara hanya tertawa melihat kelakuan ayah dan anak. Shan meminta bundanya itu memeluk.
"Gak boleh gitu sama Ayah, kan lagi sayang sama Bunda," ujar Dila meraih tubuh gendut Shan.
"Kalau sayang, Daddy gak akan tega buat Mommy crying, mana yang sakit, Moms?" telapak tangan bocah gempal meraba wajah ayu ibunya.
"Uh meleleh. Gedenya bakal sayang bini nih," balas Dila, menggelengkan kepala dan mengecup telapak tangan mungil seraya berkata, "Bunda gak sakit juga sedih, Ayah itu terbaik."
"Ketampar banget ya aku sama Shan. Kalau sayang gak akan buat kamu sedih ... ok, Ayah janji gak akan bikin Bunda sedih lagi, buddy," Ezra mengusap kepala Shan, mengacak rambutnya gemas.
"Turun yuk. Daritadi malah berisik disini. Biar lekas ke rumah sakit, check-up Shan dan adek bayi," ajak Dila pada keduanya.
__ADS_1
"Dimana Moms?" tanya Shan saat tubuhnya di raih Ezra untuk ia gendong.
"Jenguk Uncle, Shan. Rumah Uncle pindah disini sementara," balas sang Ayah.
Keluarga kecil Qavi masuk ke dalam rutan untuk bertemu Zayn. Membawa bingkisan makanan kesukaannya juga beberapa buku bacaan.
Tiga puluh menit kemudian.
Ezra menghampiri meja tempat Zayn duduk dengan Dila juga Shan. Anak kecil itu mengulurkan tangan meminta salim padanya.
"Hai boy, kangen Daddy?" tanya Zayn, masih teguh seperti biasa mengakui Shan sebagai putranya.
"Uncle Zayn not My Dads ... My Daddy, Ezra," tegas Shan seraya berlari ke sisi meja memeluk lengan ayahnya setelah dia salim.
Zayn tertawa renyah. "Alyssa gimana Kak?"
"Baik, rutin terapi agar dapat berjalan normal lagi juga mulai sekolah meski di rumah. Papa yang mengurusnya ... ckck, mana ada di penjara bawa bodyguard, Zayn. Kelakuan kamu bak Sulthan disini," tegur Ezra melihat dia bodyguard berdiri mengenakan seragam yang sama di meja sebelah.
"Kan Sultan beneran. Aku kalau mau kabur gampang loh Kak. Cuma janji sama Alyssa agar aku bertanggungjawab kini juga supaya aku punya muka menghadapai Dila ... Hai cantik, apa kabar?" sapa Zayn pada wanita ayu disamping Ezra.
"Yang sopan, dia Kakak iparmu," Ezra meraih buku pesanan Zayn yang ia bawa, lalu ia pukulkan pada kepala adiknya.
"Alhamdulillah kami semua baik." Dila mengabaikan pandangan sang adik ipar, ia membuka bingkisan kue yang dibuat Katrin.
"Taubat, jangan maksiat mulu. Biar kamu bebas nanti dapat jodoh yang baik, Zayn." Ezra mengusap kepala adiknya kala ia menyantap kue yang Dila suguhkan.
"Carikan ya Kak. Sepertinya, sholihah."
"Pantaskan diri ya Dek. In sya Allah jodoh terbaik datang nanti ... bulan depan aku ke Malay dulu, dua pekan sekali pulang. Kamu mau dibawakan apa?"
"Ngapain Kak? sekolah? kan sudah punya gelar M.Ars kan?" tanya sang adik belia, masih menikmati suguhan kesukaannya.
"Bukan aku, Kakak iparmu. Dan Shan masuk asrama ... jaga diri ya Dek selama aku gak disini," pesan Ezra, lagi, mengusap kepala adiknya penuh kelembutan.
"Hem, semoga lancar semua deh urusannya ... tolong bawakan masakan rumah Kak. Jangan tiap hari, sepekan sekali aja bisa kan? kayak gini nih, kesukaan aku," pintanya pada sang kakak.
"Ok, ada lagi?" Ezra mencatat semua keinginan adiknya.
"Hmmm terjemahan kitab khusus buat laki-laki ada gak? nah itu aja ... juga ... Kak Dila, do'akan aku ya juga Alyssa. Doa orang baik katanya didengar Tuhan. Makasih bawain banyak koleksi buku-buku ... mengajiku sudah mulai masuk juz tiga," tutur Zayn segan menatap iparnya itu.
__ADS_1
"Aamiin, in sya Allah."
Banyak perubahan perilaku dari adik satu ibu Ezra semenjak berada dalam rutan. Kedua kakak beradik itu asik bercengkrama hingga jam besuk habis.
"Ini buat bodyguard kamu, sipir, juga kawan mu di sel ... milikmu, yang ini," Ezra membagi beberapa lunch box yang ia bawa.
"Thanks Kak. Peluk boleh?" tawarnya sebelum kembali masuk bui.
Ezra mengangguk. "Sini."
Dia menarik adik satu ibu, masuk dalam pelukan. Jarak usia yang jauh membuatnya harus menjadi sosok ayah bagi Zayn saat ini sebelum ia kembali dalam pengawasan Papa nanti.
Dilara selalu trenyuh akan sikap lembut Ezra pada semua adik-adiknya. Benar kata Bibi, meski di sakiti apabila mereka datang padanya pastilah semua keinginan itu akan Ezra kabulkan.
"Suamiku terbaik, Maa Sya Allah."
Setelah dari rutan. Pasangan Qavi menuju rumah sakit.
Hasil check up Shan Ok. Begitupun dengan kandungan Dila yang memasuki minggu ke sepuluh. Setelah dari rumah sakit, keduanya menuju venue pernikahan Rolex dan Katrin.
Acara sakral keduanya sengaja di mundurkan karena menunggu Dila sehat atas permintaan Katrin.
"Cantiknya, gak sabar nih nunggu lusa nanti." Dilara mengagumi tata backdrop yang minimalis namun elegan.
"Kita gak begini ya, kamu mau mengulang? saat anniv nanti?" bisik Ezra, merasa tersentil hatinya mengingat pernikahan dengan Dila dulu, bahkan saat ijab ulang pun. Suasananya sangat sederhana.
"Gak usah, hanya happy aja, suka lihatnya bukan berarti ingin. Yang penting, rumah tangga ku kini lebih indah dari semua ini."
Ezra melingkarkan lengan kanan nya pada pinggang ibu hamil. Menariknya mendekat.
"Selalu, jawaban kamu itu bikin adem dan tenang, Sayang. Makasih ya," bisik Ezra.
Keduanya berada di venue hingga menjelang malam. Lalu kembali pergi membeli perlengkapan Shan yang akan ia bawa ke asrama.
"Visa kamu selesai, izin dokter Ok. Shan juga tinggal berangkat ... urusan kita, hanya Mita," ujar Ezra seraya melajukan kendaraan mereka ke tujuan selanjutnya.
.
.
__ADS_1
...________________________...