SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 136. RUSAK SEMUANYA


__ADS_3

"Begitukah, yang dia sampaikan padamu, Zayn?" Emery menatap sendu. Dia masih ingat Fransiska tidak sadarkan diri hampir satu pekan setelah melahirkan.


"Kau tahu, dari mana namamu berasal?" sambung ayah kandung Ezra.


Al Zayn bergeming. Dia seakan menulikan telinga.


"Al Zayn, artinya indah, unggul karena kamu begitu tampan saat menyongsong dunia ini pertama kali. Karena Ibumu tidak sadarkan diri sedangkan nama bayi harus segera di catat, maka aku memberimu nama Zayn ... Al Zayn, agar selaras dengan Ezra yang memiliki arti nama pelindung, melindungi ... harapanku, kalian saling menjaga namun aku salah duga," terang sang Ayah sambung.


Ezra menundukkan kepala, kilasan peristiwa seakan menampar pipinya bolak-balik. Dia bahagia memiliki adik laki-laki namun sekaligus membenci hampir bersamaan kala melihat sang Ayah seakan lebih menyayangi adiknya itu.


"Ezra terluka bertubi, Nak. Untuk kamu, hingga usia dia beranjak belia ... saat ayahmu datang, meminta kalian kembali, Fransiska telah melahirkan Mita, anakku ... disaat Ezra sangat menyayangimu, dia harus merelakan kau pergi juga ibunya...." Emery angkat bicara.


Zayn terbelalak. "Jangan dusta, kau yang menyerahkan aku!"


Brakk. Dia menggebrak meja, namun Emery tak gentar, ia tetap melanjutkan kisah.


"Bertahun-tahun aku membantu mencari keberadaan ayahmu, agar dia bertanggungjawab pada Fransiska namun nihil ... entahlah, mungkin aku yang bodoh, hingga jatuh kembali dalam pesona mantan istriku dan kami memutuskan untuk rujuk, lalu tak lama kemudian, lahirlah Mita ... perlahan kehidupan rumah tangga juga perusahaan ku kembali harmonis namun mungkin kiranya, aku dan Fransiska tak berjodoh," kali ini sorot mata Emery menerawang jauh.


"Pa, jangan teruskan."


Ezra menyentuh dan menahan lengan Papa, menggelengkan kepala agar beliau menoleh padanya. Luka ini teramat sakit untuk jiwa dan raga.


"Harus selesai, Za. Papa tahu, kamu banyak mengalah dan menderita...."


Emery melanjutkan kisah nan pilu menyayat hati baginya, yang dia simpan berpuluh tahun lama hingga menunggu saat tepat, seperti ini.

__ADS_1


"Kau pasti bertanya kan, kenapa aku menyerahkan Fransiska dan kamu pada Abdul Manaf? karena dia ayahmu, Zayn ... inginnya menahan Fransiska agar tidak meninggalkanku lagi, namun gaya hedon itu kembali muncul saat dia mengetahui bahwa Manaf mencarinya juga melimpahi dengan banyak imingan harta agar bersedia menikah dengannya ... aku tidak setara dengan ayahmu itu, maka ku putuskan untuk melepas Fransiska kedua kali, dan merelakanmu yang telah ku rawat bertahun-tahun demi agar keluargamu utuh, meski keluarga bagi anakku tidak."


Huft. Emery menjeda, menghela nafas seakan oksigen enggan memasok udara dalam bronkus.


"Manaf membutuhkan pewaris, maka dia mencarimu dan membawa Fransiska, ibu dari kedua anakku ... kami pun bercerai lagi ... Za, Zayn, Mita ... Aku tidak dapat mempertahankan mahligai pernikahan yang ku jaga sekuat tenaga jika salah satu tiang penyangganya memilih merobohkan diri agar dapat membangun pondasi kokoh di tempat lain," nada bicara lelaki paruh baya itu sangat pelan, menggambarkan suasana hati saat ini. Perih.


Ezra kembali menoleh pada sosok pria tegar disampingnya. Dia bahkan rela melepas wanita yang masih dia cintai demi agar Zayn mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang sesungguhnya.


"Paaaa," lirih Ezra pelan.


Mita mulai terisak menyadari bahwa luka batin sang ayah lebih dalam darinya. "Paa, maaf."


Zayn mulai gusar, kisah yang dia dapatkan dari sekitar Manaf sangat berbeda. Emery lah yang merebut ibunya hingga mereka terpisah dan Zayn harus puas merasakan kasih sayang singkat dari sang ayah kandung.


"Tidak, bukan begitu ceritanya," kilah sang putra Manaf.


"Heh, bisakah kau korek ingatanmu itu? aku saja masih ingat kala Papa meninggalkan Kakak dan aku, padahal saat itu kami demam ... untuk siapa? demi panggilan telepon dari wanita itu, yang meminta Papa menjemput kalian di Bandara karena suruhan ayah pengeranmu itu terlambat datang sedangkan kau tengah dilanda panas tinggi!" Mita mengungkit kejadian yang membuatnya sakit hati pada sang Bunda.


"Zayn, aku gak mengenal Ibuku dengan benar. Hanya sekilas saja jika dia berkunjung ke Indonesia, itupun bukan menilik anaknya ... melainkan mengurusi semua asset kebanggan yang menyatakan bahwa dirinya adalah putri Mahkota Sharjah!" lagi, seruan kebencian Mita, menguar, melayang kasar pada sosok pemuda tampan di depannya.


Ermita menangis. Bahu ringkih itu intens berguncang tanda isakan tegas keluar dari mulut mungilnya. Hiks.


"Tahukah kamu, bagaimana rasa hati memiliki ibu namun tak dapat dijangkau? TAHU GAK? ... kau tidak akan merasakan ... aku dan Kakak pernah nekad menantikan kehadiran Mama di salah satu gedung pertemuan ... berharap dia menyapa kami, namun nyatanya, menoleh pun tidak! bahkan dia enggan mengakui kita berdua," isakan Mita kian jelas terdengar. Gadis itu menyeka derasnya air mata yang jatuh ke pipi putih nan tirus.


"Aku dan Kakak diusir, atas perintah sang Nyonya. Sejak saat itu, kami enggan menyebut dia sebagai Ibu ... aku tahu Mamaku anak tunggal dan terbiasa di manja, namun rasanya hanya perkara harta, dia rela menukar kami? pemikiran itu tak sampai pada otak untukku cerna ... bukan kamu yang kehilangan kasih sayang, TAPI KAMI!" Ermita tak kalah menatap nyalang pada pemuda tampan yang baru saja menolehkan muka padanya.

__ADS_1


"Mita ... kendalikan dirimu, Mita," pinta Ezra lembut, dia juga sama sakitnya dengan sang adik.


Zayn mulai goyah. Namun Velma masih membisikkan kata-kata agar pendiriannya teguh.


"Velma, bisakah kau diam? aku curiga, jangan-jangan ini adalah sejatinya misi pribadi. Kau membalaskan dendam pada Papa, melalui tangan Zayn ... berpura mencintai adikku agar dapat masuk meyelinap dalam keluarga Qavi ... Velma ardian, putri penghianat yang membantu meloloskan dokumen semua asset Papa untuk Fransiska ... karena ulah Adrian itu, Papa membuatnya dipenjara dan membusuk disana ... benar kan, Velma?" tuduh Ezra, seraya meminta bukti pada Leon. Lelaki muda Qavi, melempar slide tindak kejahatan ayah Velma termasuk artikel pelecehan se-ks-sual yang di alamat karyawati EQ building.


Gadis itu terbelalak, dia tak mengira Ezra menyelami sedemikian dalam.


"Dek, karena kebencian yang gak tepat, kamu di tunggangi banyak pihak agar hubungan juga kisah sebenarnya tersamarkan... mungkin Mama menyebut namaku karena dia menyesal menukar darah dagingnya dengan harta, karena itulah perjanjian antara keluarga Manaf dengan Mama ... Leon, mana buktinya?" Ezra kembali meminta Leon menunjukkan temuan perjanjian klasik kebiasaan keluarga kerajaan bilamana sang pewaris menikah bukan dari kalangan bangsawan. Semuanya dia dapatkan berkat cerita dan usaha Sabrina, sang sepupu.


"Sayang, jangan lihat. Abaikan, dia menjebakmu lagi ... Zayn," Velma panik, identitasnya terbongkar.


Al Zayn terlihat meragu, dia mulai goyah. Telapak ramping dengan beberapa luka memar dibuku jemari, meraih tab milik Ezra di atas meja, tempat semua bukti atas pernyataannya itu.


Mata kakak Alyssa itu memicing, ketika telunjuknya menggeser slide demi slide. Mulai dari bukti kejahatan ayah Velma, juga perjanjian kuno.


"Bawa dia," titah sang keturunan pangeran pada anak buahnya.


"Sayang, Zayn ... jangan percaya, mereka mau misahin kita, Zayyyynn!" seru Velma saat tubuhnya di tarik paksa oleh dua orang bodyguard.


"Jadi?"


.


.

__ADS_1


...________________________...


...Seperti aku, berharap pada manusia itu, sakit... let it flow, terus berkarya wahai aku... ...


__ADS_2