SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 20. KHUTBATUL HAJAT


__ADS_3

"Ezra!"


"Maaf Pa, aku tergesa-gesa menjawab panggilan Rolex," ujarnya menarik kembali handuk yang terlepas.


"Kebiasaan kamu kalau habis mandi bukannya langsung pakai baju malah berkeliaran, memang wajib dikawinin kamu ini ... biar ada yang mengurus masalah sepele macam ini ... pegang project besar, kamu sanggup ... masa ngurus asset sendiri ga sanggup, memalukan kamu Ezra!"


"Ya ampun Papa, urusan pakai baju doank ribet...."


"Lekas pakai baju, lalu sarapan dan siapkan pengecekan tahap akhir untuk semuanya," ujar Emery meninggalkan kamar putra sulungnya itu.


"Dila, Dila, selalu Dila ... apa istimewanya gadis itu, nampak biasa saja dimataku," gumamnya sedikit jengah akan sekitar yang selalu menganggap gadis itu sempurna untuknya.


Ezra tak kunjung jua menghampiri dua orang yang masih menunggunya. Hingga Mita tak tahan untuk menyantap menu sarapannya lebih dulu daripada dia lemas akibat kelaparan.


"Mba, panggilkan Ezra dikamar," pinta Emery pada salah satu maid mereka.


"Ga usah Pa, aku sudah disini," sahut Ezra mendekati meja makan yang di atasnya telah terhidang berbagai menu special.


"Ini test food fix untuk jamuan di pondok nanti, hanya saja berupa nasi box sebanyak lima ratus porsi, Za ... jika ada lebihan, nanti dibagikan ke panti terdekat, gimana?" Tanya Emery meminta saran.


"Ya sudah, begitu juga boleh ... aku langsung pulang setelah akad ya Pa," ucapnya seraya mengambil beberapa menu, memindahkannya dalam pinggan terbuka miliknya.


"Kamu gimana sih, istrimu disana ya kamu pun ikut dia ... urus administrasi pengobatan Ruhama dulu sebelum membawa Dila tinggal disini," titah sang Ayah.


"Aku, tidur disana?" Ezra meragu.


"Kak, kamar Dila cantik loh, nyaman pula ... tahu sendiri kan, meskipun rumah jadul tapi sangat bersih," imbuh Mita seraya mengunyah makanannya.


"Iya itunya sih, tapi kan aku."


Eh, tahan Ezra jangan sampai Papa tahu.


"Baik, Pa."


Setelah sarapan, dia dan sang ayah kembali melihat semua persiapan yang akan mereka bawa sebagai hantaran.

__ADS_1


Satu koper berisi pakaian Ezra, lima box hantaran tidak termasuk mahar yang berisi satu set perhiasan, perlengkapan sholat, gamis set, clutch dan sepatu, skincare dan perlengkapan mandi. Semua adalah produk yang biasa Dila gunakan berdasarkan hasil pengamatan Mita saat di rumahnya beberapa waktu lalu juga diperkuat oleh penelusuran Velma.


Emery menyarankan agar tak terlalu banyak membawa hantaran, yang penting adalah isinya sesuai dengan keseharian Dila.


Baju dan lainnya hanya simbolis karena selera seseorang tidaklah sama, Emery tidak punya banyak waktu mempersiapkan ini apalagi Dila mengatakan bahwa dirinya tak meminta bahkan mengemis, artinya gadis itu hanyalah menerima apa yang diberi padanya.


*


Kediaman Dilara.


Berbeda dengan kesibukan yang terjadi di Mansion El Qavi, kondisi rumah hajat yang sedari awal memang hanyalah sebuah bangunan sederhana, hari ini pun tak terasa bedanya, sama lengang seperti biasanya.


Tetangga yang datang hanya sekedar menyapa Ruhama, tak berapa lama mereka pun kembali meninggalkan kediaman itu.


Dila hanya diam duduk di salah satu kursi kayu jati ruang tamu ala kadarnya, ditemani oleh Velma yang sama bingung dengan dirinya hingga keduanya pun larut dalam suasana hening yang tak sengaja tercipta.


Sorot mata gadis itu memandang pada kejauhan, melintasi pelataran rumahnya menuju hamparan luas sawah membentang didepan sana. Tatapan mata yang sulit Velma gambarkan, ada kehampaan, rindu serta kebingungan tergurat jelas di wajah ayunya. Jemarinya terkepal diatas pangkuan.


Gadis itu pun perlahan bangkit dari duduknya, ia kini berdiri didepan pintu, menundukkan wajah, menghela nafas panjang, tergambar dari gerakan bahu yang terhentak kasar oleh tarikan diafragma yang dihempas paksa.


Waktuku hanya beberapa jam lagi tapi Ibu masih belum memberiku restu. Bukankah Restu Ibu adalah restu Allah?


Tak terkecuali Dila, Ruhama pun sibuk menata hatinya. Ingin rasanya dia menolak Ezra namun dirinya kembali menilik, siapa aku? meski ia yang merawatnya namun tetap saja tak berkuasa akan garis nasib putrinya.


Siapa tahu, Dila akan menemukan keluarganya bila bersama Ezra. Artinya Ruhama akan dilupakan oleh Dila. Pikiran kerdil yang menghantui benaknya akhir-akhir ini, berhasil merusak hubungan baik antara dirinya dengan Dila.


Sementara di pesantren.


Ustadz Zaky yang baru saja mendapatkan kabar dari santri khidmah yang berada disekitar kediaman Kyai Sa'id, bahwa Dila akan melangsungkan akad nikah ba'da maghrib nanti dengan seorang duda pengusaha El Qavi merasa terkejut.


Pasalnya ia pun beberapa hari ini mencari keberadaan gadis itu, dia seakan merasa kehilangan tak melihatnya di sekitar pesantren.


Dila, aku terlambat ternyata. Kupikir aku hanya simpati padamu, namun nyatanya rasa kehilanganku membawa pada sebuah ungkapan yang biasa disebut dengan Cinta.


Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, ya Dila. Maafkan aku yang tidak peka lebih awal.

__ADS_1


Ustadz Zaky memilih menyingkir, tak ingin bersinggungan lebih jauh dengan acara malam ini, toh sudah ada panitia yang mengurusi, pikirnya. Biarlah perasaan yang baru saja tumbuh ini dia tekan, mungkin akan perlahan menghilang dengan sendirinya atau tergantikan oleh rasa yang baru.


Menjelang Maghrib.


Rombongan keluarga kedua calon mempelai telah hadir meski terpisah ruangan.


Dila hanya didampingi oleh Ruhama yang masih setia mengunci mulutnya rapat seakan gembok bibirnya itu tak dapat dibuka.


Mahira, putri bungsu Yai Sa'id yang merias wajah Dila kagum akan kecantikan alami yang dipancarkan sahabatnya itu.


"Dila, cantik banget," bisiknya girang meski Dila tak mendengar namun gadis itu tersenyum malu mendapat pujian Mahira.


Khutbah nikah tengah dibawakan oleh Yai Sa'id.


"Dalam surat Annisa ayat satu, bahwa Allah telah menciptakan mahluk dengan masing-masing pasangannya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang diciptakan sendirian melainkan Allah telah menakdirkannya seorang pasangan yang akan menemaninya kelak."


"Pasangan suami istri hendaknya mampu mengondisikan rumah tangganya menjadi sebuah rumah tangga yang sakinah. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan rumah tangga yang sejahtera, damai, dan penuh cinta kasih bagi penghuni dan anggota di dalamnya."


Ezra mendengarkan seksama apa yang diucapkan Yai Sa'id meski hatinya gamang. Hukum menikah baginya jatuh pada sunnah, tak khawatir terjadi zina serta mampu menafkahi dan bertanggungjawab atas kehidupan Dila, calon istrinya.


Apakah aku bisa?


Disaat Kyai Sa'id membacakan khutbatul hajat, ditandai oleh tangan para hadirin yang menengadah, Dila memanjatkan doa dalam hatinya.


Mudahkanlah urusanku Ya Robb, jagalah niat hatiku agar tetap berbakti pada Ibu, lembutkanlah hati Bang Ezra dan Ibu untukku serta rahmatilah keluarga kami.


Aku memohon padaMu yang maha Rahiim, ridhoi langkahku, jagalah Ibu, aku menitipkan padaMu karena Engkau adalah sebaik-baiknya penjaga amanah. Aamiin.


"Aamiin allahumma aamiin." Hadirin mengamini doa yang dilontarkan Yai Sa'id.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara.


" ... bismillah...."


.

__ADS_1


.


...____________________...


__ADS_2