SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 64. BERHARAP SATU KAMAR


__ADS_3

Di dalam kamar berbeda. Kedua insan yang seharusnya berada dalam satu naungan, kini masih terpisah ruang.


Ezra mencoba memahami istri kecilnya perlahan. Gadis abege yang tidak dapat dipaksa karena saat di usianya pun, Ezra tak suka kehidupan pribadinya di usik.


"Bagai punya anak gadis, ckck, tapi bedanya dia istriku yang bebas diapain aja, cuma ya tahan diri dulu dah daripada dia kabur," gumam Ezra dengan senyum mengembang di wajahnya, sesaat setelah sholat ashar dipenghujung waktu. Ia berdiri di balkon kamarnya menatap semburat senja.


Tok. Tok.


"Siapa?" lirihnya seraya masuk kedalam kamar, lalu membuka pintu.


"Dila, ko bawa beginian? Bibi mana? berat loh," dia terkejut kala melihat istrinya membawa baki berisi minuman hangat juga mushaf di sampingnya.


Kedua tangannya mengambil alih nampan dari tangan sang istri.


"Sini, biar aku," ucapnya kemudian.


"Kata Bibi, Abang minta minum," balasnya pelan, setelah itu Dilara berbalik badan, kembali turun.


"No, mau kemana? Sudah sampai sini. Masuk," Ezra menarik lengan istrinya yang masih mengenakan mukena, masuk ke kamar.


"Mau ngaji, di bawah," Dilara berusaha menepis cekalan tangannya.


"Sama aku, di sini ngajinya," meski berusaha mengelak, tenaga Dilara tak cukup kuat melawan, ia pun mengalah. Memilih duduk di sofa sudut ruangan dekat pintu masuk.


Tak berani mengedarkan pandang ke sekeliling, menantu Emery hanya fokus pada mushaf di tangannya, yang dia ambil dari atas baki tadi.


Karena besok hari jum'at, senja itu Dila memilih membaca yaasin, mengirimkan doa untuk Ibu juga orang tuanya yang entah siapa, bahkan dia tak tahu dimana kuburnya.


Dilara membaca pelan, diiringi Ezra yang diam-diam mengikuti bacaannya setelah tawassul tadi.


Hingga tiba di ayat ke 52, Dilara berhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali hingga selesai. Ezra yang mengikutinya sempat terheran karena ada jeda hingga membuat bacaan berjarak dengan Dila.


"Kenapa tadi berhenti?" tanya pria disampingnya.


Wanita hamil dengan nafas yang mulai terengah itu meminta kertas juga pulpen pada Ezra.


Tangan kanan suaminya meraih noted yang ada di bawah meja sofa lalu menyerahkan pada Dilara.


"Ada tanda saktah, itu termasuk salah satu dari empat bacaan gharib (tersembunyi atau samar) ... Aku memilih waqaf bukan mewasholkan, maka wajib saktah," Dila lelah, kali ini dia memilih menulis.

__ADS_1


Ezra mengambil kesempatan, dia menempel pada tubuh istrinya. Mengalungkan lengan kiri ke belakang tubuh Dilara. "Artinya? gunanya?"


"Tujuan adanya saktah pada ayat yaasin ke lima puluh dua ini menjelaskan perkataan orang-orang kafir yang berhenti di kata -marqodina- . Di sana dilanjutkan dengan perkataan malaikat yang dimulai dari kata -hadza- . Kata -hadza- bukan sifat dari kata -marqodina- , melainkan jadi mubtada’."


Sementara Ezra membaca, Dilara melanjutkan kalimatnya.


"Saktah, di tandai huruf sin, atau sin kaf ta ha. Artinya berhenti sebentar tanpa mengambil nafas kurang dari dua harokat, dan berniat melanjutkan bacaan ... berbeda dengan waqaf jaiz yang ditandai dengan Jim, kalau ini boleh melanjutkan atau berhenti. Meski waqaf jaiz juga ada beberapa macam, seperti jaiz kafi, yang di tandai huruf qof lam dan ya, hukumnya boleh melanjutkan namun lebih baik berhenti." Lanjut Dila di paragraf kedua.


Jeda.


"Kalau washol dan mubtada itu apa?" tanya Ezra lagi, setelah jeda beberapa saat.


"Washol itu terus membaca atau bersambung, mubtada adalah isim marfu' atau yang diterangkan, letaknya biasanya di awal kalimat untuk menerangkan. Hadza juga termasuk isim isyaroh sebagai kata tunjuk tadi," terang Dilara kemudian, meletakkan pena nya diatas meja beserta kertas yang ditulis.


Tubuh mungil itu lelah, ia menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Pinter banget, belajar sama siapa," bisik Ezra mengusap kepala tertutup mukena itu.


"Nyai."


"Selain di yaasin, ada di surat apa saja, Sayang?"


"Saktah juga ada di dalam sholat, makanya Abang kalau sholat jangan buru-buru." Dila mengutarakan keberatan saat kemarin ia menjadi makmum.


"Contohnya?" lanjut Ezra makin merapat.


"Setelah takbiratul ihram sebelum membaca doa iftitah ... kedua, di antara bacaan doa iftitah dan ta'awudz ... ketiga, jeda saat ta'awudz dan bismillah ... keempat, di akhir surat al fatihah, saat bilang Aamiin ... kelima, setelah aamiin dan akan membaca surat pendek ... ke-enam, akhir surat saat hendak rukuk ... kemarin Abang gak jeda, padahal jadi imam sholat loh."


Meski lelah, putri Ruhama terus melanjutkan penjelasannya.


"Saktah da-l-am sho-l-at, itu berhenti sejenak," lirih Dilara.


Ezra mengangguk mengerti setelah penjelasan detail istrinya.


"Ada alasan gak belajar ini semua?" desak Ezra ingin tahu, pantas Dila ingin sekali belajar pelafalan kata.


"Aku gak punya cukup umur dan amal untuk menebus tiket masuk surga-Nya Allah. Harapanku adalah memiliki keturunan yang sholih sholihah, syukur jika Allah mencurahkan rahmat agar anakku menjadi penghafal kalam-Nya ... agar aku mendapat kemuliaan hadiah mahkota terindah dari putra putriku nanti." Dilara mengungkapkan keinginannya.


"Aku juga kurang cakap bicara. Allah memberiku kekurangan, bukan berarti aku pasrah ... jika untuk berbicara aku kurang jelas, maka Allah menganugerahkan padaku suara tegas kala mengaji, jadi sebagai tanda syukur ya aku mempelajari tajwid agar bacaannya sempurna."

__ADS_1


"Aku di buang, di temukan Ibu, diasuh dan hidup di lingkungan pesantren itu bukan kebetulan semata. Pasti Allah ingin aku belajar bukan? di saat calon santriwati antri mendaftar masuk ke sana, aku gratis gak pake syarat. Rezeki lagi kan?"


"Maa sya Allah, aku minder sama kamu, Dila. Semoga doa kita terkabul, aamiin."


Dilara bangkit, hendak menutup pintu balkon saat lengan pria itu menariknya hingga terduduk di atas kedua pahanya.


"Eehh."


"Sayang, setelah pulang dari Surabaya ... ikut aku ke jamuan makan malam ya," bisik Ezra di telinga kiri Dila.


"Kapan? dimana?" kakak ipar Ermita berusaha melepaskan pelukan.


"Di Jakarta, pekan depan. Peresmian jabatan perusahaan real estate, mau kan?"


"Gak ma-l-u bawa aku?" tanya Dila ragu.


"Enggak, bangga malah punya abege kan," Ezra tertawa masih memeluk Dila.


Degh.


Putra kebanggaan Emery merasakan gerakan halus dari perut buncit di balik mukena. Ia melonggarkan pelukan bermaksud mengusap kandungan istrinya itu.


Merasa lilitan tangan Ezra mengendur, Dila langsung bangkit. Melangkah menuju balkon, menutup pintu seraya mengucap bismillah.


"Aku pakai baju biasa kan? gak aneh-aneh ka-l-au ikut Abang?" tanya Dilara saat berbalik badan.


"Iya ... untuk pulang besok, gak usah packing, Sayang. Di sana sudah disiapkan baju oleh Mita," ujarnya mendekati posisi Dila berdiri.


"Hmmm, aku mau wudhu dulu," gadis manis itu mengelak, berjalan cepat keluar kamar Ezra.


Brakk.


"Ck, susah amat pengen minta dia pindah tidur disini...."


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2