SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 31. DIAGNOSA


__ADS_3

Malam hari, PIK Tower.


Seperti biasanya Dila akan duduk di lantai ruang tamu, membuka laptop. Masih mencari lowongan pekerjaan secara online sesuai keahlian yang dia miliki.


"Ini ada lowongan guru bantu untuk anak usia dini. Jika aku cek jaraknya, lumayan jauh, sekitar sepuluh kilometer dari sini," gumam Dila memandangi maps di gawai serta kriteria jenis pekerjaan di laptop.


Dila mencatat nomer kontak yang tertera untuk di hubungi esok pagi.


"Semoga--"


Biiiipp. Suara pintu apartemen terbuka.


Gadis ayu yang sedang duduk, buru-buru bangkit berdiri menyambut sang suami yang baru saja pulang.


"Assalamu'alaikum," seru Ezra mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam." Dila menjawab dengan mengangkat jari seperti angka tiga, menempelkan pada sisi dahi lalu di gerakkan ke depan.


"Sedang apa?" tanya Ezra saat melihat Dila di ruang tamu.


"Browsing." Dila menulis di atas catatan, "Aku bawakan jasnya, Tuan." Lanjut Dila.


"Gak usah," ujar Ezra sambil lalu seraya melepaskan jasnya menuju ruang makan.


"Biii, dinner sudah siap?" tanya Ezra saat melihat Bi Inah, sedang menyiapkan hidangan.


"Sebentar lagi Den, soupnya baru mendidih," balas Bibi.


"Aku tunggu, minumnya dulu Bii," pintanya lagi, tangan kanannya lalu menarik kursi.


Dila mengikuti langkah suaminya ke meja makan kemudian menyodorkan satu gelas minum ke hadapan Ezra.


Nyonya muda El Qavi, membantu Bi Inah menata hidangan untuk Tuan Muda di atas meja. Setelah semua siap, Dila menyingkir.


"Non, sini makan," Bibi menahan lengan Dila yang hendak pergi ke ruang tamu kembali.


Dilara menoleh, lalu menunjuk ke arah ruang tamu.


"Membereskan peralatanku dulu, duluan saja, Bi." Tulis Dila kemudian, menunjukkan pada Bibi.


"Biarkan, sesuka dia saja, Bi," sambung Ezra membuka pinggan.


Gadis manis bernama Dilara sengaja memperlambat kegiatannya. Ia tak ingin membuat Ezra hilang nafsu makan setelah lelah bekerja. Biarlah dirinya menyusul setelah semua penghuni selesai.


Dila menunggu dengan setia di ruang tamu, catatan sudah ia siapkan agar ketika Ezra akan menaiki tangga ataupun ke ruang kerja, ia hanya perlu menyerahkannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Ezra berjalan ke arahnya.


Istri sebatas status itu berdiri, menyodorkan kertas miliknya agar Ezra membacanya.


"Ke rumah sakit lagi? ngapain? belum sembuh juga? bukannya kamu tadi naik ojek?"


Ezra bicara sangat cepat, ia kesulitan membaca gerakan bibirnya. Dila hanya menduga.


"Pembacaan hasil, kata Dokter." Jemari lentik itu menulis cepat.


"Pergilah ... satu lagi, untuk hal atau kegiatan yang menjadi rutinitas kamu, tak perlu meminta izin ku setiap kali akan pergi. Aku membebaskanmu melakukan apapun," ujar Ezra seraya menggerakkan jemari agar Dila menyingkir tak menghalangi jalannya.


"Terimakasih, Tuan." Dila membuka telapak tangan menghadap atas, menempelkan pada dagu lalu mendorong ke depan.


Keesokan Pagi.


Seperti biasanya sesi sarapan dilalui hanya dalam diam. Hari ini Dila shaum, jadi gadis manis itu hanya menunggu suaminya selesai makan. (puasa)


Pagi ini Dilara mengenakan gamis marun tua, dengan lipit pita emas di kedua sisi juga pergelangan tangan.


Dia padu dengan hijab motif bunga transparan berwarna lebih muda. Anggun, kontras dengan kulit kuning langsatnya. Diamnya Dilara justru membuat Ezra canggung. Pria itu tak menikmati hidangannya dengan benar.


Bi Inah yang menyaksikan kedua majikannya hanya tersenyum simpul kala tuan mudanya itu salah tingkah. Ketika Dila bangkit dan mengganti pinggan yang telah kosong dengan secangkir kopi untuknya.


Wangi apa ya? soft.


Dila melihat jam tangannya, ojek online wanita yang ia pesan sebentar lagi akan tiba. Tanpa aba-aba, gadis itu meraih tangan kanan Ezra di atas meja, menciumnya kilat lalu menyambar tas ransel di kursi makan. Ia berlari hingga menerbangkan catatan bertuliskan pamit lebih dulu, akibat gerakan cepat yang menciptakan hembusan angin.


"Hey!" seru Ezra tak terima.


"Biarkan. Lagian sudah seharusnya dia ke Den Ezra begitu. Suruh siapa ngelamun, mulai nyaman ya? pagi ini Non Dila cantik banget ya Den," goda Bibi seraya bangkit menuju pantry.


"Siapa yang ngelamun? nyaman, nyaman apa? dia biasa saja bagiku!" sergah Ezra dibalas kekehan Bi Inah.


Rumah sakit.


Berkat driver kenalannya, jarak antara rumah sakit dengan apartment yang tak terlalu jauh membuat ia tiba di lokasi lebih cepat.


Kini, gadis bergamis marun tua itu tengah menunggu di kursi depan poli bersama pasien lainnya.


"Tak sabar rasanya menunggu namaku dipanggil. Ibu, doakan aku. Setelah ini aku akan menelpon Kak Velma lagi," gumam Dila.


"Nona Dilara," panggil suster seraya menunjukkan nama pasien pada white board yang dipegangnya.


Dila mengangkat tangan kanan, seraya bangkit masuk ke ruangan dokter.

__ADS_1


"Telinga kanan Anda, terdiagnosa tuli sedang. Yang kiri, tuli berat ... solusi saat ini untuk telinga kanan Anda adalah dengan memakai alat bantu dengar deteksi suara antara 40-69 dB. Untuk yang kiri, jika sangat berkeinginan mendengar sempurna, hanya bisa dilakukan implan koklea." Tulis dokter saat Dila telah duduk di hadapan beliau.


"Apa itu Dok?" tulis Dila menyambung pernyataan dokter.


"Prosedur pemasangan alat elektronik khusus untuk membantu penderita gangguan pendengaran parah atau tuli berat agar dapat mendengar. Biayanya lumayan mahal, Nona dan Anda harus menjalani serangkaian test kembali sebelum melakukannya." Sambung dokter di bawah kalimat Dila.


"Telinga kiri Anda menderita tuli konduktif yang terjadi karena adanya gangguan tulang pendengaran atau jaringan ikat di telinga. Atau juga bisa disebabkan karena adanya gangguan pada saraf telinga."


"Apa bisa mendengar sepenuhnya?" Dila masih penasaran.


"Tentu, hampir bisa mendengar semua suara, musik, lawan bicara, televisi dan telepon, mampu mendengar dengan frekuensi suara yang berbeda-beda." Lanjut dokter akan penjelasannya.


"Maa sya Allah. Aku harus siapkan dana berapa, Dokter?" sambung Dila.


"Tiga ratus juta, hanya untuk operasinya saja, Nona. Belum obat, dan lainnya."


"Bismillah bisa ... untuk telinga kananku, alat yang seperti apa ya Dok?" tulis Dila cepat, ia antusias.


"Sementara aku sarankan memakai alat in-the-canal (ITC) yang dipasang di telinga, sebagian alatnya menjorok ke dalam untuk telinga kanan ... dan yang kiri, kita coba memakai alat in-the-ear (ITE) yang mempunyai dua mikrofon untuk pendengaran yang lebih baik dalam suasana bising."


"Baik, Dokter."


"Silakan Nona serahkan ini ke farmasi ya, minggu depan, kontrol ke sini lagi. Selamat mendengar kembali suara kehidupan, Nona Dilara." Kalimat dokter disertai emot tersenyum.


Suster menyerahkan secarik kertas pada Dila.


"Terimakasih banyak," ucap Dilara menundukkan wajah. Ia haru.


"Nona juga bisa bergabung dengan komunitas Auditory Verbal therapy (AVT) berbasis di Australia, yang bekerjasama dengan Canada dan US. Karena itu kiblat terapi bicara yang trending, silakan di pelajari. Semangat belajar audio verbal agar dapat berbicara normal. Yakin ya! Fighting!" Tulis dokter lagi.


Dila hanya mampu menganggukkan kepala, ia sibuk menghalau tetesan bening yang terus keluar dari netra bulatnya.


Penghuni ruangan ikut trenyuh melihat Dilara yang terharu. Pemandangan biasa bagi mereka namun tetap saja semua pasien, unik dengan cara menyikapi bahagianya masing-masing.


Dilara bangkit, membungkuk sebagai ucapan terimakasih sebelum keluar ruangan.


Langkah kaki terbalut sepatu slip on coklat itu mantap menuju instalasi farmasi. Ia duduk di sana dengan rasa hati yang tak terlukiskan.


Ibu, sesaat lagi, aku bisa mendengar....


"Dila," sebuah suara memanggil lalu mendekati gadis ayu yang masih menunduk.


.


.

__ADS_1


...____________________________...


...AVT tehnik terapi terbaru untuk kasus tunarungu dengan berbagai fase. Jika pelatihan di sana langsung biasanya minimal 6 bulan. Stimulasi hasilnya, rata-rata pasien dapat berbicara lebih tegas dan jelas layaknya orang normal. ...


__ADS_2