SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 149. HOPE


__ADS_3

Pekan padat yang dijalani Ezra mengundang simpati sang Nyonya muda. Sore nanti, waktunya kontrol kehamilan setelah dua pekan dirinya bedrest total.


Tiada keluhan berarti yang dirasakan Dila sebab kehamilan keduanya ini. Semua penghuni rumah nampaknya saling berjibaku menjaga sang jabang bayi dengan baik.


"Jangan maksain pulang ya, selesaikan dulu sidang Zayn nya. Juga mengenai Alyssa ... kita bisa reschedule kontrol," jawab Dila di panggilan yang sedang tersambung.


"Love Daddy, so much ... hmm, sudah makan banyak. Bobot ku naik drastis dibanding hamil Shan dulu, udah ah berat buat jalan nanti ... love you too, Sayang," suara Shan menyertai ucapan cinta Dila di penghujung sambungan.


Setelah ponsel di tutup.


"Mommy, call Oma Dubai ... call Oma, Oma. Shan wanna say something just a moment," pinta bocah gempal itu, namun Dila mengatakan tak cukup pulsa. Tunggu ayah tiba.


Terlihat gurat kecewa di wajah chubby, namun Dila segera tepis dengan mengalihkan topik pembicaraan.


"Shan, siap masuk asrama? jadi hafiz cilik?"


"Hem, siap."


"Apa yang akan Shan sampaikan jika ada yang bertanya tentang nama Qavi?"


"Nothing."


"Why? diam saja begitu atau hanya ingin privacy, protect about your identity?" tebak Dilara.


Shan mengangguk. "I'm just wanna people knows me as Shan, not because I was son of Ezra El Qavi ... or if people know me as his beloved son, I need to have something special skill, right moms?" ujar Shan berbinar.


(hanya ingin dikenal sebagai Shan, bukan karena putra Ezra El Qavi atau jika dia dikenal karena kebesaran nama ayahnya, Shan wajib punya kemampuan yang membuatnya special)


"Ooohh, My Baby Boy. So wise, umurmu berapa sih? jelang tiga tahun tapi ko bijak sekali," puji Dilara.


"Karena Mommy, yang ajarin Shan."


"Oh ya? by?"


"Book. Siroh Nabawiyah ... Rosulullah dikisahkan sebagai anak cerdas, briliant ... its like judul : istimewa sejak belia," Shan menunjuk sebuah buku dalam box kontainer.


Koleksi buku berseri siroh Nabawiyah dengan judul utama Muhammad is My Hero, hampir di lalab habis olehnya.


Rupanya Shan menyerap apa yang dia dengar dan saksikan, terlebih meniru semua sikap bijak nabiyullah sejak belia.


"Sebab Rosulullah kekasih Allah ... maka Amaze, tiada dua di dunia ... tapi kalau kamu, karena sudah di jejali banyak bacaan sejak dalam kandungan bahkan ketika masih bayi, oleh Ayah. Semua buku mu, di seleksi beliau sehingga menjadikan Shan, istimewa bagi kami ... so, are you proud of him, Shan?"


"Sure. Shan bangga sama Ayah, love him so much. Baca itu yuk moms," Shan turun dari ranjang, membawa satu buku berjudul Khulafaur Rasyidin dan satu lagi dengan judul 101 things i learned in architecture school, versi adaptasi komik.

__ADS_1


"Buku yang satu, Ok. But satu lagi ini berat Sayang, belum waktu bagi Shan. Milik Ayah kan? dari mana Shan dapatkan ini?" Dilara terheran, kebiasaan Ezra terkadang di luar logikanya. Dia acap kali menjejali Shan dengan buku bacaan midle class diatas usia anak itu.


"Daddy give it to me, yesterday after brunch. Mommy was sleep," jawab Shan bangga, bahwa ayahnya memberikan buku seperti yang dia baca.


(Ayah memberikan padaku, kemarin saat waktu makan sebelum lunch, kala Bunda sedang tidur)


"Hhmm, Ok. Biar Daddy yang jelaskan nanti. Bunda baca tentang kisah sahabat di jaman Rosulullah dulu ya," ujar Dilara, menepuk sisi bantal agar Shan nyaman.


Stimulasi audio verbal terus dilakukan keduanya karena usia Golden Age tak akan terulang.


Menjelang Isya.


Ezra baru saja kembali, wajahnya terlihat lelah saat masuk ke dalam kamar.


"Honey, maaf," keluhnya saat melihat Dila masih mengaji di atas ranjang.


"Mandi dulu ya. Aku siapin air hangat, baru nanti cerita atau mau makan dulu?" tawar Dila, tak tega melihat suaminya kuyu.


"No, diam di sana Dila. Aku bisa sendiri. Sudah makan tadi sebelum pulang ... cuma pengen peluk kamu," jawab ayah Shan seraya masuk ke walk in closet.


Tiga puluh menit berikutnya.


Ezra sudah ada di balik selimut, membagi kehangatan dengan calon Bunda.


"Putusannya alot. Team lawyer dia mati-matian. Namun jika lolos di sini, Sabrina sudah menunggu di Sharjah jadi aku gak begitu risau. Kesaksian Anastasya sedikit banyak mengukuhkan semua bukti yang kita punya ... Zayn, sudah menitipkan Alyssa padaku. Lusa saat putusan akhir, gadis itu akan datang ... kamu gak apa, Sayang? Visa kamu disana juga sedang diurus Andre," suara berat itu kian melemah, nampak sangat lelah.


"Kangen kamu, Sayang. Banget, sampe mual muntah dan pusing di sana siang tadi," Ezra menarik tubuh Bunda Shan dalam pelukan.


Keduanya mencoba mengistirahatkan semua organ tubuh. Rileks agar esok lebih segar.


...***...


Lusa. Pengadilan.


Zayn dipastikan tidak hadir saat putusan dengan alasan kesehatannya drop. Ezra tahu ia sedang menemani Alyssa sebelum dirinya masuk bui.


Rolex mengatakan kemungkinan hukuman jatuh antara sepuluh tahun kurungan atau di ganti denda dan pengurangan masa hukuman jika mereka banding nanti.


Hari ini ketok palu hakim. Dilara melarang ayah Shan pergi ke pengadilan.


Ibu hamil itu sedang memanjakan suaminya, berbaring di atas ranjang dalam kamar mewah mereka. Putri Devana memijat pelan kepala juga wajah sang pimpinan Qavi dan mematikan semua akses komunikasi. Dilara mengerti, hati Ezra sedang gelisah.


"Mereka adikku, Sayang. Aku--" ucapnya lirih.

__ADS_1


"Aku tahu. Kita abaikan hari ini, just for a moment agar hati siap ketika mendengar kabar yang kurang nyaman. Sekarang Abang milikku seutuhnya hingga mentari tergelincir dan berganti bulan."


Bunda Shan, mengalihkan topik bahasan.


Kali ini, mau dikasih nama siapa?" Dila membimbing tangan kekar itu agar mengusap perutnya.


Ezra menggeser posisi tubuh, kini kepalanya menyamping meski masih di pangkuan Dila.


"Sudah mulai kelihatan ya, tapi kamu kalau hamil tetap ramping, Sayang." Bukannya mengelus, Ezra malah membuka gaun tidur istrinya, memberi banyak kecupan basah terjejak di sana.


"Syaharan Dien, semoga jadi lelaki adil yang berpegang teguh pada agama."


"Kalau perempuan?"


"Eiliya Shazi, pemberian Tuhan, ketenangan ... karena kamu, santai banget menjalani ini semua meski banyak urusan menghimpit," tuturnya lembut.


"Aamiin ... semoga bulan depan semua selesai, hanya fokus pada pernikahan Rolex, acara tunangan Kak Mita juga Shan yang mulai masuk asrama," harap Dila tak sabar ingin menghirup udara di luar ruangan.


"Jangan lupa ke Malay, check-up kondisi terbaru pendengaran kamu dan kalau jadi, melanjutkan studi kan?... satu lagi, sekaligus konsultasi apakah dapat dilakukan tindakan meski sedang hamil," imbuh Ezra mengingatkan agar Dilara mengutamakan kepentingannya.


"Kalaupun berisiko, aku gak mau. Anakku jauh lebih berharga."


"Kalian, sangat berharga buat aku. Punya lima seru ya Sayang," Ezra makin menelusupkan kepalanya, menciumi perut Dila.


Jemari lentik itu mengusap lembut kepala Ezra, yang sedang bermanja dengannya.


"Banyak amat, aku cepet tua lah nanti."


"Biar imbang sama aku ... gak enak juga sih, dibilang kayak ped-ofil, bininya masih anak sekolah ... lagian mumpung punya istri abege, harus dimaksimalkan," seloroh Ezra dihadiahi cubitan bertubi.


"Hitung usia dulu Honey, gak kekejar deh. Awal tiga puluh, aku mau stop hamil ya. Fokus buat dampingi mereka ... jadi mungkin satu atau dua lagi, empat cukup deh," tawar Dila, dirinya juga menginginkan banyak putra putri agar hari tua nanti tidak kesepian seperti Ibu, Mama dan Papanya.


Ezra meraih telapak tangan dengan jemari berhias cincin berlian, menarik mendekati bibirnya lalu mengecup lama disana.


Dila, menikmati apa yang suaminya lakukan, memandang manik mata elang di bawah wajahnya, diatas tumpuan kedua paha. Tangan kiri Bunda Shan, masih mengusap lembut kepala belahan jiwa seakan mengatakan bahwa bersyukur memilikinya.


"Sehat selalu ya Sayang, temani aku hingga usia senja. Sampai anak-anak semua beranjak dewasa dan menikah, lalu kembali hanya ada kita berdua ... love you Dilara Huwaida."


Dilara tersenyum, seraya melakukan hal yang sama. Tautan tangan mereka, Dila kecup. "Love you too Ezra El Qavi, aku bersyukur dimiliki olehmu."


.


.

__ADS_1


...______________________...


...Alhamdulillah selesai 🥰...


__ADS_2