
"Hmmmm... kalau aku tanya juga, Tuan belum tentu akan mengabulkan. Kedudukan aku tidak setara dengan pekerjaan dan karyawan Tuan. Mereka prioritas utama, bukan?" Dilara kembali menulis kalimat yang berhasil menohok tepat di jantung pria tampan yang masih setia memandang lewat panggilan jarak jauh.
"Dila, bukan begitu maksudnya." Ezra gusar, ia tergesa menulis guna membalas kalimat Dila.
Sosok yang semakin manis dalam pandangan suaminya itu hanya mengulas senyum samar. Sungguh gadis kampung ini mawas diri. Siapalah diri nan lusuh, meski kini Ezra telah berubah melembut namun entah mengapa, hati kecil Dilara tak serta merta menerima.
Sebut saja bahwa anak angkat Ruhama ini naif. Dia pernah menaruh harap pada sosok tampah nan gagah putra mahkota El Qavi itu namun berkali terluka sebab kesalahpaham.
Salahkan saja Dila, mungkin gadis manis ini memang sangat polos. Hingga ia menyadari bahwa kepolosannya itu belum sanggup untuk mengimbangi sosok menjulang, Ezra El Qavi.
"Abang begitu tinggi. Aku merasa tak mampu menggapai kursi megah disampingmu. Entah, inginnya menjalani semua dengan ikhlas tapi aku takut," batin Dilara.
Setelah hening menjeda lama, menghadirkan perasaan canggung yang begitu kentara. Ezra mencoba mengurai kekakuan. Dia setengah mati menahan emosi menghadapi istri kecilnya itu.
"Apakah perubahan sikapku ini masih membuatmu ragu, Dila?" Tulis Ezra dikertas kedua lalu menunjukkan padanya.
"Entah Tuan. Pendapat ku tidak penting bukan? Anda orang yang cerdas, tentunya telah memiliki argumen terhadap sikapku."
"Ya Allah, Sayang. Begitu sulit memahami mu," keluhnya masih menyambung kalimat di kertas kedua.
"Maaf." Dilara hanya menunduk. Hatinya teremas kala mengingat semua sikap kasar Ezra padanya.
Nyonya muda itu berpikiran sempit, tidak mungkin seorang Ezra yang teguh pendirian sejak awal begitu mudah melunak. Jika bukan karena kasihan, mungkin hanya terpaksa dan berpura karena dia tengah hamil. Untuk menjaga mood.
"Apakah anakku akan Tuan ambil nanti?" entah, keberanian apa yang Dilara miliki, menyampaikan pertanyaan demikian.
"Maksudnya? aku memisahkan kamu dengan anak kita?"
Dilara mengangguk samar.
"Dila! pikiran darimana itu?" Ezra gusar, emosi yang sedari tadi ia tahan menguar hingga gadis itu merasa takut karena telah membuatnya marah.
"Hmm, maaf. Sudah ya. Assalamu'alaikum." Nyonya muda mengakhiri panggilan setelah menulis terburu dan menunjukkan pada layar gawai agar EEzra membacanya.
Pett. Panggilan terputus.
"Dila ... Dila, fu-ckk. Arrggh ... susah sekali membuatmu percaya bahwa aku perlahan berubah," kesalnya mere-mas rambut hitam legam yang tersugar rapi.
"Bos."
__ADS_1
Rolex memanggil pimpinannya itu agar segera menuju ruang medical check-up sebab hasil pemeriksaan mereka telah muncul.
Sosok tampan itu bangkit, memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Ia mendekati Rolex yang lebih dulu telah menandatangani beberapa dokumen.
"Sabar Bos. Anda harus membuatnya percaya, wanita itu susah dimengerti namun jika kita mampu mengambil kepercayaan darinya. Anda bagai memiliki separuh isi dunia. Dia akan menunggu, setia, melayani, care bahkan rela berkorban," tutur Rolex panjang.
"Bagai ahli saja. Pasangan juga gak punya."
"Gak butuh pasangan jika hanya ingin belajar memahami wanita, Bos. Lagipula aku sedang menyiapkan diriku agar tak seperti seseorang, mengaku berubah namun masih saja tak sabaran, bahkan emosian," ucap Rolex saat akan keluar ruangan sebab urusannya telah usai.
"Coba ulangi?" Ezra menatap tajam padanya.
"Jangan baperan. Kan aku gak sebut nama, perasaan semenjak Nyonya hamil, Anda yang ngidam bahkan sensi bagai wanita," sindir Rolex lagi.
Inginnya marah pada sang aspri, namun ia tahan. Dirinya masih membutuhkan bantuan pria itu hingga esok sebelum pulang ke tanah air.
...***...
Indonesia.
Ermita pamit pulang karena janjinya pada sang Papa, mengunjungi Dila hanya tiga hari.
"Jangan bilang Tuan Emery, biar Abang nanti yang menjelaskan pada beliau ya," pinta Dila pelan.
Degh.
"Cheryl, wanita yang Abang sebut saat itu. Hatiku masih saja sakit."
"Dila, kamu gak apa kan? ko pucat?" tanya Mita melihat wajah sang kakak ipar pias.
"Eh, lapar mungkin ya, nafsu makanku bertambah dua kali lipat akhir-akhir ini," kekeh Dila berusaha mengalihkan suasana.
"Makan yang banyak ya Bumil. Sehat selalu. Abaikan sikap kakak jika membuatmu tak nyaman. Ku rasa, jika Papa tahu hal yang sebenarnya, beliau akan membelamu," tutur Mita meneguhkan hati iparnya itu.
"Janji ya. Jangan ikut campur masalah kami, itu aib dan aku telah menebarkan keburukan suamiku," cicit putri Ruhama ini malu dan menyesal.
"Bukan membeberkan, namun meminta bantuan agar rumah tangga kalian harmonis. Sudah menjadi kewajiban Papa loh. Kamu ingat kan? saat sungkeman setelah akad nikah itu? pesan Papa?"
Menantu cantik Emery itupun mengangguk pelan. Mengingat moment manis dengan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Iya, aku ingat. Thanks Kak Mita, fii amanillah. Salam untuk Tuan Emery," bisiknya saat Mita memeluk.
"Papa, bukan Tuan Emery," balas Mita mengurai pelukan mereka dan meluruskan panggilan Dilara bagi ayah mertuanya.
"Jaga diri ya Kakak iparku yang cantik. Jangan minder, kamu pantas Dila. Juga ini nih, cucu Papa. Gak peduli, apakah kakak menerima kehadirannya atau tidak, dia adalah cucu emas El Qavi," sambung Mita perlahan terus memberikan sugesti pada Dilara agar hati wanita hamil itu tenang.
"Iya, jazakillah kheir."
Kedua wanita yang enggan berpisah, akhirnya harus saling melepas tautan jemari mereka.
Dilara mengantarkan Mita hingga didepan lift yang akan membawanya turun. Sungguh ia tak menduga, ternyata Mita pun memiliki dua orang bodyguard yang menjaganya.
Berada ditengah keluarga ini hampir satu tahun, melatih kepekaan Dila akan sosok-sosok tersembunyi yang mengawasi semua gerak gerik mereka.
Setelah mengantar adik iparnya kembali pulang. Istri Ezra langsung masuk dalam unitnya.
Inginnya ikut turun dengan Mita menuju taman di lantai dasar namun badannya terasa lelah. Yang dia inginkan saat ini hanya tidur.
"Sehat ya Nak, maaf Bunda belum ngaji. Rasanya sangat pusing juga mual sejak tadi. Kita bobok dulu yuk," ucap Dila saat melangkah menuju kamarnya, tangan kanan gadis cantik itu mengelus perutnya yang membuncit disertai gelombang akibat tendangan bayi didalam kandungan.
Bi Inah berkali memanggilnya dari lantai dua, tak dihiraukan sang Nyonya muda. Ia terus melangkah masuk ke kamarnya lalu mengunci rapat.
Alat bantu dengar yang melekat di kedua telinga mungil itu pun dilepas. Tepat saat Bi inah mengetuk pintu kamarnya pelan.
Tok. Tok.
"Non, Non." Terlambat. Dila tak mendengar, sudah mulai masuk ke peraduan.
"Den, kenapa lagi sih? gak mau dibuka nih pintunya. Marahan?" desak Bibi melihat Ezra pada layar gawai yang sedang melakukan panggilan dengannya.
Putra kebanggaan Emery hanya mengedikkan bahunya ke atas.
"Ya sudah. Hati-hati." Pungkas Inah menutup panggilan.
...***...
"Sayang, aku pulang ... padamu," gumam Ezra saat akan boarding seraya mengubah setting ponselnya ke flights mode.
.
__ADS_1
.
...__________________________...