SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 40. FIRASAT


__ADS_3

Keesokan hari. Di kamar Dilara.


Gadis dengan mata bulat itu susah payah membuka kelopak matanya kembali, seakan terbanduli batu. Berat.


Infusnya sudah dilepas jelang subuh tadi saat ia pertama kali membuka mata. Yang dia minta saat itu hanya ingin melepas tusukan jarum pada nadinya.


"I-bu...." lirih Dila terbata. Retinanya berusaha menyesuaikan dengan seberkas cahaya yang masuk melalui sela vertical blind.


"Alhamdulillah, Non. Udah enakan? Ini Bibi," suara wanita paruh baya menahan serak karena haru.


"Mana yang masih sakit?" tanya Bibi pelan menatap manik mata yang belum sepenuhnya terbuka.


"A-ba-ng?" suara lembut itu kian lirih, hingga Bi Inah mendekatkan telinganya ke mulut sang Nona.


"Yang disebut, kalau bukan Nak Ezra ya Ibunya."


"Den Ezra belum pulih. Kalau Non Dila mau jenguk, harus sehat dulu. Minum ya, sudah 24 jam puasa." Bi Inah membawa gelas yang berisi air juga di beri sedotan, ke sisi mulut sang Nona agar dia mudah menyedot cairan bening itu untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


Bibir Nyonya muda pun perlahan kembali basah.


Dilara mengangguk samar, menggunakan bahasa isyarat tubuh dengan menutup matanya.


"Mau Du-ha." Dila menunjuk pada mukena di atas meja.


"Gak dipake semua ya, Non?" Bi Inah menunjuk ke arah telinganya. Sebab saat mengganti hijab dan baju Dila yang basah akibat pingsan semalam, Bibi melihat hanya satu telinga masih memakai alat bantu dengar.


Dilara hanya mengangguk samar menjawab pertanyaan asisten rumah tangga sekaligus pengasuh suaminya itu.


"Yuk, Bibi bantu jika mau sholat. Tayamum ya Non? caranya gimana? pake debu ambil kemana?"


Dilara mengangguk. "Bantu miringkan, Bi," pintanya sangat pelan pada Bibi.


"Bismillah." Dila meletakkan kedua telapak tangan kanan dengan posisi jari-jari dirapatkan pada tembok. Lalu mengusapkan pada seluruh wajah.


"Nawaitut Tayammuma Lisstibaahatish Shalaati Fardlol Lillaahi Taaalaa.”


Dilara kembali meletakkan telapak tangannya pada tembok, kali ini dengan jari-jari yang direggangkan.


(Jika menggunakan cincin, maka cincin harus dilepas selama melakukan tayamum.)


Selanjutnya ia menempelkan telapak tangan kirinya pada punggung tangan kanan sampai ke bagian siku. Lalu, balikkan telapak tangan kiri tersebut ke bagian dalam lengan kanan, kemudan usapkan hingga ke bagian pergelangan. Selanjutnya usapkan bagian dalam jempol kiri ke bagian punggung jempol kanan.


(jangan sampai terputus ya, dan tidak trabas menyentuh telapak tangan kanan)


Sang Nona melakukan hal yang sama pada tangan kirinya. Bibi memperhatikan cara Dila bertayamum.


Langkah akhir, Dilara mempertemukan kedua telapak tangan dan usapkan di antara jari-jarinya.


(Nah, telapak tangan, ini paling akhir)

__ADS_1


Dengan sabar, wanita itu mengurus majikan kecilnya. Membantu segala keperluan Dila hingga betul-betul pulih.


Sementara Ezra, dipantau oleh suster pria juga Rolex yang setia mendampingi dikamar sang pangeran El Qavi.


...*...


Satu pekan berlalu.


Tuan muda El Qavi sudah mulai berlatih duduk dan berjalan meski tubuhnya masih lemas. Berusaha mengurus dirinya sendiri.


"Lex, siapa?" tanyanya.


"Sebuah nama, Tuan. Baiknya Anda pulih dahulu, kita akan bicarakan ini lebih lanjut."


"Dalam mimpiku, entah alam bawah sadar, aku teringat seseorang ... Dila, bagaimana?"


"Nona sakit sama seperti Anda, hampir satu pekan. Beliau juga kini lebih pendiam dari sebelumnya. Bibi bilang, Nona sejak kemarin sudah mengurung diri kembali di kamar," ungkap Rolex menjelaskan kondisi Nyonya mudanya.


"Dia terluka karena aku. Salah paham, Lex," sesal Ezra.


"Maksudnya?"


"Nanti aku akan bicara padanya. Aku belum sanggup menemui dirinya, terlebih menatap matanya itu," lirih Ezra merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan pada Dilara.


"Beliau, istri Anda, Bos. Kalian seharusnya tidak begini sejak awal. Nona itu, tulus terhadap Anda," jelas Rolex menyadarkan tuannya.


"Siang ini, Dokter Ilman, akan menjelaskan kondisi Anda," imbuh Rolex lagi.


"Iya, aku siap apapun hasilnya. Apakah sebuah nama yang kamu kantongi, sama dengan yang ada di benakku?" tanya Ezra lagi pada Rolex. Kali ini pemuda itu hanya menunduk.


"Gak usah di jawab, Lex. Dari wajah mu saja aku sudah tahu jawabannya." Ezra tersenyum miring mengingat nasibnya yang tragis.


Tok. Tok.


Pintu kamar Ezra di ketuk. Rolex bangkit dari sofa single di ruangan itu menuju pintu dan membukanya.


"Silakan, Dokter," Rolex mempersilakan karib serta Dokter pribadi Ezra memasuki ruangan yang di dominasi warna abu tua itu.


"Hai Za, gimana kabarmu hari ini?" sapa Ilman saat melihat wajah dan fisik pasiennya mulai bugar.


"Masih terasa lemas, Man. Gimana hasilnya?" tanya Ezra dengan raut wajah datar.


"Retinis pigmentosa, non-syndrome nihil. Retinamu terselamatkan, penyakit pada retina yang pada awalnya memicu rabun jauh lalu berangsur-angsur memburuk hingga mengalami kebutaan. Terjadi karena genetik atau penyebab lain, salah satunya efek samping terhadap penggunaan via-gra secara rutin dalam dosis tinggi"


" ... aku curiga pada matamu sejak lama ketika dulu kau sering mengeluh tidak dapat melihat dengan jelas jika senja. Aku takut kejadian kemarin memicu itu namun sekarang aku pastikan, aman," Ilman menjelaskan diagnosanya.


"Liver, Tuan Emery pernah bilang padaku kau lahir dengan bilirubin tinggi. Kebiasaan gaya hidup yang kurang baik, pernah membuatmu mengidap penyakit hepatitis A. Jika racun yang kau minum kemarin tadi menarik reaksi itu semua, aku takut akan menjadi sirosis. Namun, sekali lagi, kau selamat," Ilman menarik nafas panjang.


"Well, jantung. Kau masih merasakan sakit atau berdegup kencang tak beraturan?" tanya Ilman lagi.

__ADS_1


"Sedikit," jawab Ezra.


"Wajar, aku detox dengan ini ya, alami. In sya Allah mereda beberapa hari ke depan," pungkas Ilman, seraya menyerahkan satu botol obat berisi sepuluh butir pada Rolex.


"Kesimpulannya, Dok?" tanya sang Aspri.


"Dia akan berangsur-angsur membaik. Ikuti menu diet sehat yang sudah ahli gizi buatkan untukmu. Berterimakasih lah pada Nyonya. Siapa namanya, Za?"


"Why?" Ezra mencoba berpura.


"Dia, menyelamatkan nyawamu. Ini tiada penawar dan hanya dapat dibuat oleh seseorang yang mempunyai uang. Serum ini mematikan dan sangat mahal," ungkap Ilman menjelaskan temuannya.


"Tak terasa, tanpa bau bahkan harus ada pemantik untuk mengaktifkannya. Menghilangkan jejak dengan sangat rapi," sambung Rolex atas dugaan Ilman.


"Absolutely, correct." Ilman memberi acungan dua jempol pada asisten pribadi karibnya itu.


Ezra hanya diam, terpaku pada semua catatan yang Ilman serahkan padanya.


"Sebegitunya kau menginginkan aku mati. Kau mintalah, akan aku berikan."


...***...


Di tempat lainnya.


Sesosok daging bernyawa tengah disekap dalam ruangan gelap nan pengap.


Plakk. Pipi kanannya ditampar sekuat tenaga.


"Gak pernah becus. Pilih mana? ulang sampai dapat atau mati!" Teriak seorang pria dengan tubuh kekar.


"Sudah aku kerjakan! ****** itu juga tak berkhianat dan aku telah menuntaskan tugas. Lepaskan!" sentaknya tak terima atas perlakuan ini.


Plakk. Lagi, kali ini pipi kirinya menjadi sasaran.


"Mimpi. Matilah!" Pria kekar dengan tato kepala harimau di lengan kiri itupun meninggalkan dirinya disana.


"Kau, Kau janji akan menyelamatkan adikku. Hey! kembali....!"


"Aku bersumpah, jika adikku mati. Akan membalas dendam padamu. Tunggu saja," geramnya.


"Aaarrggghhhh, Tuan muda! aku salah menilaimu. Aku meminta tolong pada orang yang salah." Sesalnya tiada guna kini.


.


.


..._______________________...


...Nitip clue dulu... 😌...

__ADS_1


__ADS_2