SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 44. DIAM-DIAM OVERPROTECTIVE


__ADS_3

Sejak kepergian Ezra menjelang siang tadi, Dilara tak keluar kamar meski Bibi mengetuk pintunya beberapa kali. Hingga wanita tua itu melayangkan kalimat bernada ancaman pada Nyonya kecilnya.


"Non, kalau gak keluar. Adeknya gak berkembang baik loh, Bundanya ngambekan. Bibi tahu karena melihat patahan testpack di tempat sampah ... jika Non Dila mau menghindar, harus ada kawan. Tapi kalau gak mau berkawan dengan Bibi lagi ya ndak apa, cuma Bibi gak tahu menahu nanti," ancam Bi Inah pada Dila, agar gadis itu berkenan membuka pintu kamarnya.


Hening.


Beberapa menit berlalu, Bibi masih berdiri didepan pintu kamar Dila meski sunyi, tak ada suara sahutan dari dalam.


Ceklak. Akhirnya pintu kamar itu terbuka.


Bi Inah hanya tersenyum melihat wajah murung Dilara.


"Sini," Bi Inah menarik lengan Dila. Memeluk erat wanita muda bagai putrinya ini.


Dilara diam, lalu perlahan terisak dalam dekapan hangat pengasuh suaminya.


"Aku akan menjaga anakku, Bi."


"Iya, Bibi bantuin ya. Non Dila makan yang banyak, nanti diantar ke kamar jika enggan keluar ... yang penting cucu Bibi dan Ibunya sehat, Ok? sekarang makan yuk. Bibi buatkan jus apel, mau gak?" bujuk Bi Inah lembut membelai kepala Dilara.


Wanita yang semakin pendiam ini pun menganggukkan kepala. Lengannya digamit Bibi menuju pantry, ia menarik kursi meja makan lalu duduk tenang di ruangan itu menunggu hidangan untuknya siap.


Mungkin memang lapar atau entah bawaan kehamilan. Siang itu Dila menghabiskan semua yang Bibi sajikan di atas meja.


"Alhamdulillah, senangnya. Masakan Nenek laku," ucap Bibi sumringah.


"Lapar entah doyan," jawab Dila sambil tersenyum.


"Ini, di minum vitaminnya Non. Nanti malam Bibi buatkan susu kalsium ya. Besok siang ditambah vitamin C juga ... kalau perutnya sakit, atau ada flek, atau lapar tengah malam, bilang ya ... bangunkan Bibi. Jangan segan apalagi takut ganggu, kan kita prend mau jagain adek bayi sama-sama. Kalau prend itu saling sayang," tutur Bi Inah panjang lebar.


Dilara tersenyum, sedikit terhibur dengan segala ocehan satu-satunya sahabat di rumah ini.


Setelah nasehat panjang mengenai efek trimester kehamilan dari Bibi, Dila merasa lelah.


"Aku ngantuk, semalam begadang kerjain naskah, Bi. Bobok boleh gak?" tanya Dila ragu.


"Ikuti apa maunya badan Non Dila. Kalau cape, istirahat. Jika bosan ingin jalan keluar ya pergi ... nikmati ya, jangan beban karena kalau Bundanya Ok, adek bayi juga Ok ... cucu Bibi kuat karena ibu dan ayahnya juga kuat. Banyak cobaan namun tetap teguh berdiri," jawab Bibi lagi.


Degh.

__ADS_1


"Ayahnya...."


"Dila ke kamar ya Bi," ia bangkit dari kursi makan menuju kamar, Bibi menawarkan untuk membalur kakinya dengan parutan jahe agar hangat, ditolak Dila dengan alasan mual.


"Adek, punya dua Nenek, satu Kakek dan satu tante ... gak apa jika Ayah cuek, yang penting banyak yang sayang sama kita Ok?" gumam Dila seraya terus melangkah.


Dua puluh menit berlalu. Saat rumah kembali sepi.


"Lapor komandan, Non Dila sudah makan, minum vitamin juga lainnya. Sekarang sedang tidur siang ... selamat ya Den, calon Papa. Jangan galak-galak makanya, kan jadi cinta," goda Bi Inah pada pesan yang baru saja ia kirimkan.


Sebelum pergi, Ezra meminta padanya agar sebisa mungkin menjaga Dilara. Mengikuti segala kemauan, juga memperhatikan setiap keluhannya.


Kriing.


Ponsel Bi Inah berbunyi. Muncul satu nama dilayar kecil gawai jadul miliknya. Ia menepi, berjalan masuk ke dalam ruang kerja Ezra agar Dila tak mendengar percakapan rahasia mereka.


"Iya Den, Bibi paham. Uang buat Non Dila, gak pernah di pakai. Utuh masih dalam amplop, di laci mejanya."


Jeda sekian detik.


"Oh gitu, ya sudah, nanti Bibi yang atur buat kebutuhan kontrol ke dokter dan lainnya. Iya, Bibi bakalan hati-hati agar istri manis Den Ezra itu gak tahu kalau suaminya super perhatian ... oh, ada dua bodyguard yang berjaga di luar Unit? Ok Den," jawab Bibi kemudian menutup panggilan.


"Semoga jodoh kalian langgeng, aamiin."


Wanita berwajah teduh itu melihat layar gawainya telah meredup, lalu ia memasukkan benda pipih yang digenggam kedalam saku daster, sebelum membuka handle pintu.


*


Ezra tersenyum saat mendengar Bibi memanggilnya dengan calon Papa. Dia sudah membayangkan betapa suasana rumah akan ramai dengan suara tangisan bayi.


"Fu-ckk lama sekali, tak paham apa, aku sedang sangat terburu ingin pulang menemui Dila dan menjelaskan semuanya," gumam Ezra saat menunggu kliennya meeting dengan rekan bisnisnya yang lain.


"Sonny, tolong berikan aku susunan menu sehat juga aktivitas olah raga ringan untuk ibu hamil trimester awal hingga menjelang kelahiran. Terserah darimana sumbernya, yang pasti harus valid dan teruji," ujar Ezra meminta bantuan pada sekretaris pribadinya.


"Untuk Nyonya, Bos?" tanya Sonny.


"Kepo, kerjakan saja."


"Baik, Bos. Selamat...." ujarnya pelan.

__ADS_1


Jemari pria muda yang duduk disamping pimpinan el Qavi itu mulai browsing dari laptopnya, ia bahkan tak segan menghubungi ahli gizi juga bidan senior kenalannya.


...***...


Di bumi belahan lainnya.


Seorang pria bertubuh atletis mengenakan setelah jas serba hitam melaporkan sesuatu pada tuan mudanya.


Pria yang masih dalam kondisi pasca pemulihan akibat operasi pencangkokan tulang belakang itupun merespon seperlunya, saat asisten pribadi menghadap.


"Nona, hamil. Kami mendapat laporan dari rumah sakit."


"Bereskan pria itu dan ja-lang satunya, jangan biarkan rencana kita terbongkar. Mengapa dia punya begitu banyak nyawa?"


"Baik Tuan Muda. Rekamannya?"


"Simpan. Akan aku gunakan di saat yang tepat ... Dila, akan aku pastikan kamu bahagia bersamaku."


"Anda harus menyimpan kartu As untuk saat akhir, Tuan. Biarkan wanita itu hidup lebih lama. Siapa tahu masih kita butuhkan," saran sang asisten.


"Kau atur saja ... Dila, mengapa bersedia berkorban untuknya? seharusnya anak yang kau kandung itu adalah benihku," pria tampan ini memejamkan mata, wajahnya diliputi kesedihan.


"Tuan, sabar. Nona akan melihat Anda pada akhirnya. Beliau saat ini di jaga oleh anak buah Ezra. Sangat ketat hingga sulit menjangkaunya," keluh sang asisten.


"Cari nomer ponselnya. Jadwal kontrol ke dokter THT juga kandungan. Jangan sampai kecolongan lagi. Semua harus sempurna hingga Dila sendiri yang akan datang padaku," ujarnya, suaranya mulai melemah tanda obat penenang syaraf mulai bekerja.


Lelaki berjas serba hitam itu pun undur diri dari hadapan tuannya. Keluar perlahan dari ruangan yang didominasi interior serba putih serta suara mesin medis.


Dia lalu menyampaikan berbagi opsi pengintaian untuk dikerjakan anak buah yang mereka punya.


"Balas dendam ... ternyata dampak rasa sakit hati itu maha dahsyat. Tuan muda Abdeen."


.


.


..._______________________...


...nitip clue lageh... ...

__ADS_1


__ADS_2