
"Nak...."
"Lepas ... jangan menyentuh ku lagi," sentaknya pada pria Sepuh yang menarik lengan Al Zayn tadi.
Kedua nya duduk di sofa ruang keluarga dengan Jhonson menemani. Suasana temaram mulai pudar seiring ruangan yang kini lebih terang kala Eldo menekan saklar lampu.
Emery menarik nafas panjang, menatap sendu sosok di depannya. Pemuda itu mulai tenang, mungkin waktu yang pas untuk bicara.
"Ada urusan apa lagi dengan Ezra? bukankah dia sudah memberi semua yang kau mau?" tanya Emery lembut, bagai bincang dengan sang putra kandung.
"Cih, semua. Tetap saja aku dipandang sebelah mata sebagai anak buangan."
"Buangan bagaimana? hingga kini, Ezra masih sangat peduli padamu, Zayn. Jangan kau lupakan bahwa dia juga sama terluka," tatapan Papa Ezra kembali sendu, nada suaranya melemah seakan menyesal.
"Ah, sudahlah. Aku hanya mau Dilara," tukas Al Zayn acuh.
"Dila itu istri sah Ezra. Keduanya terikat erat satu sama lain kini, Zayn. Jangan kau tambah daftar dosa lagi, bahkan Ezra melepaskan Cheryl untukmu ketika dia tahu bahwa kalian aff-airs ... sudahi ini, biarkan Ezra meraih bahagia ... Ok?" ujar tetua El Qavi ini.
Al Zayn menatap tajam, binar kebencian masih tersorot jelas dalam pancaran matanya. Wajah pemuda yang telah kembali tampan itu terlihat kaku.
"Selalu Ezra."
Emery menggelengkan kepala pelan. Berusaha menjelaskan apa yang pernah dia ucapkan dulu.
"Karena dia anakku!" Emery mulai kehilangan kesabaran. Sudah cukup dia diam selama ini.
"Oh ya, dia anakmu. Aku lupa. Mungkin jika kau terluka, dia akan sudi menukarmu dengan dila-ku," ujar nya seraya menampilkan senyuman sinis seakan merencanakan sesuatu.
Al Zayn bangkit, lalu memerintahkan sesuatu. "Bawa dia!" titahnya pada bodyguard.
Jhonson di wanti oleh Ezra agar selalu siap siaga. Tak di nyana, sekretaris putra Emery itu, mengeluarkan pistol dari balik bajunya.
Ckrakk.
"Coba saja jika berani!" ucap Jhonson, seraya mengokang pelatuknya. Asisten Ezra berdiri tegap menodongkan pis-tol siap menghadang musuh.
Keturunan pangeran Sharjah berhenti melangkah, menoleh ke samping kiri, menangkap dari ekor mata sosok dengan pistol tengah berdiri layaknya singa jantan.
"Bereskan!" Al Zayn kembali memberi perintah. Dua orang bodyguard melangkah mendekati pria sepuh itu.
Sementara Jhonson menahan letusan senpi, Eldo menerobos masuk tepat saat dua orang pengawal menarik paksa lengan sang pimpinan.
"Lepaskan Tuan besar," seru Eldo melayangkan pukulan.
Bugh. Salah satu pengawal Al Zayn terhuyung.
Terjadi perkelahian antara pengawal El Qavi melawan Al Zayn. Jhonson masih setia berdiri, waspada dengan kokangan senpi yang bisa kapan saja meletuskan timah panas.
__ADS_1
Nampaknya pewaris harta Manaf itu tak sabar, dia meraih pistol bodyguard di dekatnya lalu menembakkan peluru ke udara. Baku tembak pun terjadi.
Dhuar. Dor. Dor.
Seketika semua orang yang terlibat perkelahian tiarap, selongsong peluru mulai berjatuhan. Disaat itulah, Eldo sekuat tenaga menarik Emery berlindung.
Ketiganya merangkak mencari perlindungan saat letusan timah panas menghujani mereka.
Jhonson kalah telak, beberapa pengawal El Qavi telah tumbang. Mereka terkapar, bau amis mulai menguar akibat da-rah yang mengucur dari tubuh yang bergelimpang.
"STOP. OK, AKU IKUT!" seru Emery dari balik tembok pantry, bersisian dengan Eldo saat sekretaris abu-abu Ezra mengevakuasinya.
Jhonson yang masih bertahan di balik sofa panjang, menggelengkan kepala pelan, tanda ia tak setuju dengan ide sang pimpinan.
"Kasihan anak buah Ezra, mereka punya keluarga Jhon. Biar Papa saja mengalah. Dia tidak akan tega melukaiku," bisik Emery pada kedua orang kepercayaan putranya.
"Tuan, kaki Anda." Jhonson menunjuk pada betis majikannya.
"Gak kena peluru, hanya tergores pecahan kaca. Jangan khawatir," balas sang Tuan besar.
"Emery! KELUAR!" pekik Al Zayn untuk terakhir kali.
Perlahan, tubuh renta itu bangkit dibantu Eldo yang sama terluka di wajah dan lengannya. Berjalan tertatih seorang diri melewati sofa dan semua perabotan di ruang tengah yang tak lagi utuh bentuknya.
"Ayo, Zayn. Papah aku, susah jalan ini, Nak. Yang penting aku mengikuti keinginanmu kan?" pinta Emery saat jarak telah lebih dekat dengan Zayn. Beliau mengulurkan tangan agar pemuda itu meraihnya.
"Bukan lembek, tapi memperlakukan dengan kasih. Ayo bantu aku, jangan pelit kasih sayang Zayn."
Al Zayn dengan malas meraih lengan lelaki senja yang kian mendekat. Bahkan dia memegangi pinggang Emery saat tahu darah kian deras menetes dari bawah lipatan celana tidurnya.
Di luar nalar Jhonson dan Eldo, bukankah tadi baru saja terjadi perkelahian juga hujan peluru di Mansion ini? namun mengapa endingnya sangat manis?.
"Kau tahu sesuatu dengan mereka?" tanya Eldo, dengan suara maskulin mendominasi.
"Eh, laki ya daritadi...." sahut Jhonson terkejut, dia baru menyadari bahwa dini hari ini, partner kerjanya berwujud asli pria tulen.
"Laki daritadi Kuya! mata Lo kemane?" Eldo kembali ke mode asal.
Luka di lengan tak ia hiraukan karena terpaku menatap kaki Jhonson yang juga cedera, nampak genangan darah kental keluar dari sela celana katun miliknya.
"J-Jhon, i-itu."
Aspri Ezra di Surabaya hanya meringis menahan sakit, dia sudah menekan tombol panggilan cepat agar Dokter Darius datang ke Mansion dengan membawa awak medis.
Setelah kepergian Al Zayn.
Darius datang dengan ambulance juga dua orang asisten. Dirinya terkejut akan keadaan para pasien yang tak biasa.
__ADS_1
Mansion telah lebih rapi dibanding tadi hingga tidak menimbulkan kecurigaan parah bagi tenaga medis yang dokter Darius bawa.
Jhonson hanya menjelaskan sebisanya ketika dokter kepercayaan keluarga Qavi itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
*
Perjalanan Al Zayn ke rumah sakit.
Terlihat membenci namun tak sepenuhnya rasa itu menutup mata hati nya. Dia membawa Emery ke klinik terdekat untuk mendapatkan pengobatan.
"Aku tahu, kamu masih anak baik," ucap Emery di sahuti decakan malas dari mulut pemuda tampan itu.
Setelah selesai dilakukan tindakan, masih di ruang klinik, Al Zayn mulai bertanya kembali pada tetua El Qavi. "Kemana Ezra?"
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas dia mencari identitas Dilara. Tunggulah di sini, temani aku ya," bujuk Emery lagi padanya.
"Aku nyusul dia. Berikan Dila padaku, dia tak bahagia dengan Ezra. Biarkan aku menjaga Dila, tak peduli keturunan siapa aku tetap sayang, seperti saat pertama kali melihat ia dulu. Meski kala itu aku belum ingin mengenalnya," ucap Al Zayn dengan intonasi lebih lembut.
"Tanyakan pada Dila. Biarkan dia memilih, kau sudah berusaha mengambil hati keduanya kan? nah ... jemputlah jawabanmu," balas pemilik EQ building Surabaya.
"Bagaimana jika tidak?" sanggahnya.
"Kau akan mengekangnya? tadi bilang sayang namun berlaku demikian, apa itu benar?" Emery membalikkan logika.
"Aku selalu salah di matamu! Ezra menghina dan merendahkan menantumu, apa kau tahu? Ezra memperlakukan kasar, apa kau peduli? ... TIDAK KAN!! hanya aku, hanya A-K-U yang peduli pada Dila hingga laki-laki ba-ng-sat itu menyadari cintanya yang terlambat," seru Al Zayn berapi-api.
Emery hanya menghela nafas, melihat pemuda didepannya yang lagi-lagi emosi.
...***...
Jelang dini hari, Jogjakarta.
Rombongan Ezra tiba di private homestay yang ia sewa melalui Rolex. Dila satu kamar dengan Mita, sedangkan Ezra bersama Shan. Leon dan para bodyguard mengatur kamar masing-masing.
Mereka lelah hingga memutuskan beristirahat sejenak menunggu matahari meninggi sebelum misi pencarian di mulai.
"Tuan, janji temu dengan owner Pawon Ratu oleh Rolex terjadwal sore hari. Sebelum itu kita dapat menemui juru kunci Pakualaman lebih dulu," Leon menyampaikan kegiatan keduanya esok nanti.
"Baik. Kita pergi berdua agar tak mencurigakan. Dila belum fit benar, aku ingin dia istirahat total hari ini, siapkan penjagaan bagi mereka. Setelah ini, kalian juga istirahat," titah Ezra.
"Siap, Tuan."
.
.
..._________________________...
__ADS_1