
Sudah satu pekan, Shan kembali dari rumah sakit. Dia sedang masa pemulihan. Al Zayn nampaknya melakukan pendekatan berbeda pada mereka. Pria muda keturunan pangeran itu tak lagi memaksa. Mungkin sebagai pengalihan agar Shan menerimanya dengan suka hati.
Seperti malam ini. Mereka berdua asik mengobrol banyak hal di ruang keluarga kediaman Asyraf hamid, membahas tentang superhero.
Usaha Dilara menjejali Shan dengan figur Ezra nampaknya tak sia-sia. Meski Al Zayn kerap mengarahkan agar Shan mengikuti keinginannya namun bocah polos itu selalu menyertakan nama Ezra di setiap kalimat yang terucap.
"Daddy Ezra bilang, Shan juga superhero bukan cuma yang di kartun saja," protes batita itu, menunjuk ke arah televisi yang sedang menayangkan film kartun power puff girls.
Detik berikutnya. "Kata Ayah, Shan anak baik. Ayah Ezra juga bilang happy and loved sama Shan. Uncle, are you happy to me too? like my Daddy?" tanyanya lagi.
Entah Al Zayn menjawab apa tapi yang pasti bocah polos Dilara mulai menangis ketika pria itu mengatakan sesuatu tentang ayahnya.
"Shan sayang Daddy. No uncle No. Mommy, mine, my precious mine!" seru Shan, bangkit dari duduk di lantai, berlari menghampiri Dila yang tengah berada di pantry tak jauh dari mereka.
Dila terkejut mendapati putranya menangis. Ia membelai lembut kepala bocah emas keturunan Qavi seraya menenangkan. Setelah si pintar Shan kembali tenang, dia meminta Kesih, agar membawa Shan masuk ke kamar. Dirinya lalu menghampiri Al Zayn yang masih duduk di tempat semula.
"Sudah ku bilang, anakku tahu siapa ayahnya. Jangan terlalu keras berusaha, Tuan muda. Aku tahu, Anda banyak melakukan perlindungan pada kami, namun aku tak meminta," ucap Dila sudah sangat jengah.
"Nona Dila, jangan pula repot menyangkal kehadiranku. Baiknya mulai membuka hati sehingga jika kebenaran terungkap. Kau telah memiliki tempat berlindung," balasnya santai dengan senyum menawan.
"Apa maksud Anda Tuan Muda. Berlindung dari siapa? Jangan lagi menebar aura kebencian dirumahku," sergah Asyraf hamid, dirinya baru saja tiba dari negeri tetangga.
"Sampai kapan kau sembunyikan semua ini, Nyonya. Jujurlah, atau aku yang akan membukanya? permisi," jawab Al Zayn, dengan langkah pongah meninggalkan ruang keluarga megah milik saudagar kaya.
"Kau!" geram Asyraf hamid pada Al Zayn yang melenggang pergi melewati dirinya.
"Membuka apa, Nyonya? berkaitan dengan siapa? aku?" cecar Dila seakan memiliki kesempatan.
Ekspresi Asyraf hamid terkejut atas rentetan pertanyaan wanita cantik di hadapannya.
"Bu-kan siapa-siapa." Wanita paruh baya dengan dandanan elegan itu membuang pandangan. Hendak melangkah menuju kamarnya di lantai dua, ketika Andre menahannya.
Samar terdengar oleh Dilara, Asisten pribadi sang janda kaya menyebutkan nama Akbar Sanjaya.
Degh.
"Akbar Sanjaya. Benarkah yang Abang bilang waktu itu, jika mereka ada hubungan masa lalu? Akbar yang sama kah?"
"Apakah aku, benar putrinya sesuai dugaan Abang?"
__ADS_1
"Dila, Nak ... istirahat lah, kita bicara lagi nanti. Sudah malam, kamu juga pasti lelah setelah menjaga Shan kemarin di hospital," pintanya pada Dilara seraya melewati wanita muda yang masih diam berdiri mematung di tempat semula.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan, Dilara mengikuti keinginan sang Nyonya besar. Ia masuk ke dalam kamar, menemani Shan.
Saat di Australia, putri Ruhama pernah memeriksakan kondisi indera pendengarannya disana.
Untuk telinga kiri, alat yang dipakai sejak dari Indonesia mengalami kerusakan hingga dirinya membeli harus membeli satu alat baru. Walhasil, telinga kiri kini dapat menangkap suara lebih jernih dibandingkan sebelumnya.
Di atas pembaringan, Dilara merenungi setiap pesan rahasia dari Ezra mengenai identitas Asyraf hamid yang pernah ia minta. Jika dihubungkan, mungkin benar ada kisah masa lalu di antara mereka. Mata menantu Emery lantas melihat ke arah jam dinding diatas pintu kamarnya.
"Shan sudah tidur, jam sebelas malam. Aku gak bisa memejam, kompres mata enak kali ya," gumam ibu muda, menjulurkan kaki turun dari ranjang.
Dia memakai kembali hijab dan jubah tidurnya, tak lupa sandal bulu, lalu membuka handle pintu perlahan, berjalan hati-hati tanpa menimbulkan gesekan jelas dari alas kakinya, menuju pantry.
Saat hendak melewati ruang keluarga. Samar terdengar suara lantang seorang pria. Dilara penasaran, hampir tengah malam terjadi keributan menggema di hunian mewah.
"Siapa ya," lirihnya memutar arah mengendap menuju sumber suara. Menyandarkan punggung pada dinding dekat pintu ruang tamu mewah, tertutup tirai lebar menjuntai.
Brakkk. Suara seseorang menggebrak meja.
"Astaghfirullah." Dilara terkejut, menutup mulut rapat dengan kedua telapak tangan.
"Dimana dia, Vega. Apa putriku masih hidup? apa yang Arabella minta padamu, ditukar dengan siapa dia?" seru seorang pria, terduga Akbar Sanjaya.
"DIA PUTRIKU!"
"Lantas? apa guna ayahnya saat dia datang padamu? hah? Apa peran suami penghianat seperti mu?... aku tanya sekali lagi, apa usahamu dulu untuk mencarinya?!!" sentak Asyraf hamid murka.
"KAU!! BERANINYA!!" suara menggelegar Akbar, memekakkan telinga.
"Pelankan suara Anda, Tuan!" tegas Andre memperingatkan tamu majikannya.
"Diam kau!" sergah pria tua itu pada Andre.
Asyraf hamid menghela nafas, terdengar tarikan kasar diafragma yang menghembuskan karbon dioksida ke udara.
"Sudahlah. Aku akan menceritakan padanya, sebuah kebenaran ... pergilah, biar dia bersamaku. Lagipula anak itu terlanjur tak mengenalmu, mungkin akan membencimu ... Akbar, kita senasib. Dia akan membenci kita!" cegah Asyraf hamid kala Akbar ingin menerobos masuk ke dalam rumah.
"Jaga sikap Anda, Tuan!" Andre menjegal langkah Akbar.
__ADS_1
"Minggir." Serunya namun Andre tak bergeming.
"Katakan padaku, apa benar dia putriku? Vega, tolong," suara berat Akbar mulai melemah.
"Bisakah kau berjanji padaku, akan menjadi wali nikahnya? jika iya, akan ku katakan. Jangan kira aku tak tahu, Anastasya juga mencintai Ezra, dan kau! lebih menyayangi anak emas mu itu!" Asyraf hamid meminta jaminan pada Akbar, jika Ezra meminta padanya untuk kembali rujuk dengan Dilara.
"Jadi benar?" Akbar melemah, terdengar suara hentakan halus bobot pria itu terduduk di sofa.
"Sudah ku bilang, kamu pengecut! pergilah!" usir Asyraf hamid kemudian.
"Ya Allah. Aku masih punya Ayah? dan dia...." tanpa sadar Dilara terisak.
"Hay, siapa itu!" suara Andre kala mendengar isakan seorang wanita. Aspri Vega Gianina melangkah mencari sumber suara.
Sadar dirinya ketahuan oleh seseorang. Dilara berlari secepat kilat, masuk ke dalam kamar sebelum tertangkap basah oleh Andre.
Setelah didalam kamar.
Tubuh wanita muda itu melorot dibalik pintu, terduduk memeluk lutut. Rasa hati berkecamuk menghimpit sanubari. Sedih, marah, bahagia menjadi satu.
"Ibu. Siapa aku sebenarnya?"
"Ibu...."
Bahu kurusnya terguncang pelan. Otaknya tak dapat berpikir, isakan itu Dila benamkan di antara celah kedua lutut yang ia tekuk. Hingga seberkas ingatan melintas di benaknya. Dia ingat pesan Ezra belum lama ini.
"Honey, jika menemui satu kabar tentang Asyraf hamid. Temui aku di Surabaya, kita cari asal usul kamu di mulai dari rumah Ibu. Juga, kita sekalian menikah kembali dihadapan Yai mu, Ok?"
Degh.
"Abang, inikah maksud pesan mu itu? kamu pasti sudah tahu kan ya, tapi membiarkan aku perlahan menemui kebenarannya sendiri. Sayang, baik banget sih ... Abang terlihat diam bertahan namun mendukung semua yang ku inginkan," ujarnya seraya menghapus air mata yang membasahi wajah.
Menantu Emery bangkit dari duduknya, berjalan tegap menuju meja rias untuk meraih jurnal.
Dilara menulis sebuah pesan untuk sang mata-mata suaminya itu agar menyampaikan bahwa dirinya akan terbang ke Surabaya, jika ia mendapatkan jadwal terbang Asyraf hamid dan Al Zayn tak terlihat sementara, dalam waktu dekat.
"Ibu ... bantu aku, mencari kebenaran,"
.
__ADS_1
.
...___________________________...