SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 80. APAKAH AKU?


__ADS_3

Setelah mendapatkan penuturan dari Rengganis, Dila amat penasaran dengan apa yang di lakukan para aktivis di sana terhadap anak berkebutuhan khusus seperti dirinya.


Siang ini, Nyonya muda kembali mendatangi masjid agung dimana Rengganis bekerja tanpa membawa El, hanya berdua ditemani oleh Winda.


Satu jam telah mereka habiskan bersama. Banyak ekspresi perasaan yang tercipta di antara kedua wanita, termasuk saat Dila bercerita tentang kematian ibunya belum lama ini.


Semua kesedihan itu perlahan memudar saat Rengganis membicarakan sesuatu yang membuat mata Dilara berbinar.


"Akan aku pikirkan ya, izin Abang dulu boleh atau enggak mengajar di sini guna membagi tehnik tentang audio visual yang pernah ku pelajari dari trainer Australia itu, karena kan baru punya baby," ujar Dila sumringah.


Keduanya berpamitan setelah bertukar nomer ponsel dan berjanji akan bertemu lagi dalam waktu dekat.


Dilara tak mengetahui bahwa setiap dirinya bepergian keluar rumah, banyak pasang mata yang mengawasi.


Saat perjalanan kembali ke apart.


"Non, maaf saya gak bisa hadir saat pemakaman Ibu karena pas banget baru jatuh dari motor akibat melawan begal. Untung ada motor dan mobil lewat malam itu jadi saya selamat meski tubuh lebam dan linu semua," tutur Winda ikut berduka cita atas kehilangan keluarga yang dialami Dilara.


"Gak apa, Mba Winda ko gak bilang sama aku? terus makannya gimana?"


"Ya ada aja sih Non, yang ngasih. Gak usah dipikirkan," balas Winda sungkan.


"Mba, kursus beladiri gih. Aku gak bisa selalu ketemu Mba kan? padahal Mba adalah sumber penghasilan utama keluarga, kerja sampai malam butuh perlindungan diri," ujar Dila saat ia telah turun di lobby gedung apartemen.


Winda nampak menimbang, yang disampaikan pelanggan rasa sahabatnya ini ada benarnya juga.


"Ini ongkosnya ya, terimakasih banyak." Dila berbalik badan, melenggang masuk kedalam gedung.


"Non, kebanyakan," Winda menepikan sepeda motornya, lalu mengejar Dila yang belum jauh berjalan.


"Non," Winda menyentuh lengan sang pelanggan.


"Buat belajar beladiri, mungkin cuma buat latihan sampai tiga bulan, diterima ya. Dila gak bawa cash banyak tadi," balas Nyonya muda seraya menghela nafas. Keduanya pun tak lama, berpisah.


Biiipp.


Nyonya muda tiba di hunian, membuka panel pintu disambut tangisan baby El. Tak dia sangka, Ezra justru telah berada di rumah, siang itu.


"Dila, pergi ko lama? gak bawa El? kan ada Velma, ajaklah serta. Dia nangis dari tadi nyari kamu, memang gak pumping? harusnya siapkan kebutuhan El dahulu sebelum pergi. Gak izin sama aku juga kan?" tuduh Ezra tiba-tiba beruntun, saat istrinya memasuki ruang keluarga.


"Pumping tadi banyak. Angin, makanya gak diajak, kasihan. Aku izin tapi hape Abang gak aktif. Sini," jawab ibu muda ketus, seraya mengambil El dalam pelukan Ezra lalu menuju kamarnya di belakang.


Braakk. Dila membanting pintu keras.


"Kenapa sih? ck, aku pulang cepat karena ingin bermain dengan El dan melihat kalian berdua, ko jadi gini sih? mana penat banget akhir-akhir ini," keluh Ezra, dia memilih menuju kamar di lantai dua. Ponselnya sejak tadi silent mode, pantas saja tak melihat pesan Dilara saat meminta izin.


Sepanjang hari, Nyonya muda itu tak menampakkan diri. Meskipun satu rumah, Ezra kesulitan menemui istrinya tanpa bantuan bujukan dari sang pengasuh.

__ADS_1


"Dila, maafin aku. Keluar donk...." bujuk Ezra lembut didepan pintu.


"Nona sudah makan Tuan, tadi sore sebelum Den El tidur," jelas Velma dengan wajah menunduk, takut majikannya murka.


Ezra mengabaikan Velma, ia masih saja membujuk didepan pintu kamar hingga sang istri membuka panelnya.


"Alhamdulillah, makan yuk temani aku," pintanya di angguki Dila.


Inginnya meminta izin perihal obrolan siang tadi dengan Rengganis. Namun lidah rasa kelu untuk berucap saat suaminya itu mengeluh tentang kesibukannya. Dila tak ingin dia bertambah beban karena khawatir akan keselamatan dirinya dan putra mereka.


"Jangan pernah lagi pergi begitu saja dari rumah tanpa ada yang menemani," tegur Ezra kemudian.


"Iya, maaf."


"Sayang, kamu kenapa sih? sejak kembali dari rumah sakit, kamu seperti bukan Dila ku," sambung Ezra kemudian.


"Abang juga," balasnya tak ingin kalah menyampaikan keberatannya.


"Aku? kan udah bilang bahwa banyak banget persoalan yang harus diselesaikan Sayang ... ya maaf jika janjiku babymoon belum terlaksana," ujarnya berusaha menjelaskan situasi yang menghimpit.


"Ok."


"Kan, cuma begitu responnya," Ezra menyudahi menyantap hidangan.


"Kudu gimana? tadi katanya sibuk?"


"Terserah kamulah, aku lagi cape, Sayang." Ezra bangkit, meninggalkan istrinya di meja makan, menuju ruang kerja.


Brakk. Kali ini giliran tuan muda membanting pintu.


Malam berat dilalui keduanya. Dilara kecewa karena merasa di acuhkan, sedangkan tuan muda Qavi merasa Dila tak mengerti situasi yang ada dan dirinya yang tengah membutuhkan dukungan moril.


Meski masing-masing tidak dapat memejam sepanjang malam namun keduanya gengsi mengutarakan isi hati. Mereka sesungguhnya saling merindu satu sama lain.


Pagi menjelang.


Sudah sejak pukul enam pagi Rolex berada di ruang makan hunian mereka. Dilara masih sibuk menulis sesuatu di laptopnya sejak semalam, ia tak tidur. Mengeluarkan semua rasa hati yang tak pernah tersampaikan untuk sang suami.


Saat Nyonya muda keluar dari kamar belakang. Dia mendengar bahwa Ezra akan kembali pergi, dengan Anastasya ke suatu tempat selama tiga hari.


Rasa dendam, amarah pada wanita itu, juga kecurigaan Dila yang belum tersampaikan dengan baik pada Ezra membuat darah ibu muda mendidih begitu saja kala mendengar nama wanita setan disebut.


"Pergi saja, habiskan waktu leluasa dengan pembunuh ibuku! kami berdua di sini akan selalu mengerti Abang ko!" serunya dengan nada tinggi.


"Dila? kamu kenapa Sayang? Rolex yang akan pergi, aku ke Bali sendiri ko besok," jelas Ezra, namun Dila sudah menulikan telinganya. Dia kesal, lelah, benci, ingin menangis namun tak ada tempat meluapkan emosi.


"Oh ya? Abang curiga Ibu meninggal karena diracuni sebab hasil fisum demikian, namun kenapa lamban menyelidiki, apa karena kami bukan orang yang pantas bagimu? hingga nyawa ibu melayang sia-sia. Karena Abang, hidup kami terasa di bayangi maut!" Dila meluapkan segala isi hatinya.

__ADS_1


Rolex terpana, Nyonya muda mengeluarkan amarah begitu kentara. Aspri itu menepi ke ruangan lain, tak ingin ikut campur.


"Dila, apa yang ingin kamu sampaikan?" Ezra masih sabar, ia bangkit dari kursi makan, berusaha hendak memeluk istrinya yang mungkin sedang merasa lelah.


Pria itu sadar, kehadirannya sangat Dila butuhkan saat ini namun keadaan memaksa demikian.


"Jangan sentuh aku!!" Dila menepis uluran lengan Ezra.


Percikan kemarahan Dilara akhirnya membawa Ezra ikut dalam emosi.


"Ok. Salahku. Percuma ada disini pun, jika kamu menolak semua aturanku!! aku akan mengantarmu kembali ke Surabaya, Pulanglah....!" ucap Ezra emosi, rahangnya mengetat, sorot matanya tajam.


Degh.


"Talak kinayah? .... apa i-tu yang Abang inginkan?" tanya Dila dengan bibir bergetar.


"Pikirmu?"


Seketika wajah Dila memucat, tubuhnya jatuh luruh menyentuh lantai.


"Nona," Velma berteriak berusaha menggapai tubuh sang Nyonya seraya menggendong baby El yang menangis mendengar pertengkaran mereka berdua.


Putra Emery sesaat berhenti melangkah, mendengar teriakan Velma namun karena hatinya juga memanas. Ia mengabaikan Dila, meninggalkan istrinya itu di sana begitu saja. Mengajak Rolex keluar dari hunian mereka.


Brakk.


Pintu apartemen dibanting keras.


Sementara di ruangan lain. Ada netra dengan air mata mengalir deras membasahi wajah senjanya. Bibi menangis, merasa bahwa ia sumber segalanya bermula. Tak dapat mendamaikan dua insan yang saling cinta namun karena kesalahpahaman hingga berakhir seperti ini.


"Maaf, Mba Ruhama...." lirihnya menahan mulut agar isakannya tak terdengar.


...***...


Mansion mewah lainnya.


Tuan muda baru saja memerintahkan agar sekretaris pribadinya itu mengirimkan sesuatu ke email Dilara, juga beberapa pesan ke ponselnya. Dia sudah mempersiapkan ini, susah payah mencari semua informasi data gadis incaran. (bab 44)


"Karena kamu cerdas, melindungi dirimu bahkan dari Ezra. Namun semua tak berlaku padaku...."


.


.


...__________________________...


...Sebagian ulama hanafiyah dan hambali menilai bahwa cerai dengan lafadz tidak tegas bisa dihukumi sah dengan melihat salah satu dari dua hal, niat pelaku atau qarinah (pemicu). Sehingga terkadang talak dengan kalimat kinayah dihukumi sah dengan melihat pemicunya, tanpa harus melilhat niat pelaku....

__ADS_1


...Namun ... Talak kinayah atau talak kiasan (tidak tegas) kayak Ezra. Ini dinilai dari niat untuk menentukan jatuhnya talak atau tidak. Menurut pendapat yang lebih kuat dalam kitab as-syahru al mumthi. Karena marah itu ada 3 macam jenis. (Nanti mommy jelasin bab macam2 marah di part selanjutnya)...


__ADS_2