SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 85. MULAI MENGERTI


__ADS_3

Ezra menemui Winda dan Sonny di ruang tamu. Dirinya curiga, kepergian Dila pasti dibantu oleh Winda, satu-satunya sahabat yang dimiliki.


"Win, sudah makan?" tanya Ezra memecah suasana kaku.


"Sudah, Tuan. Baru saja sebelum si rese itu menarik ku kasar," kesalnya pada Sonny.


"Lah, Lu gak kalah sangar. Main pake jurus aja padahal gue ajak baik-baik. Tanya pelan dengan lemah lembut. Tapi emang dasar bar-bar tarzan kota sih Luh," balas Sonny seraya membuka tutup botol air mineral yang baru ia ambil dari atas meja tamu.


Ezra hanya mendengar ocehan unfaedah, tak berniat melerai hingga keduanya sadar bahwa sang tuan muda sedang tidak mood.


"Maaf, Tuan."


"Sorry, Bos."


"Win, Dila meminta bantuan padamu? apakah saat pergi, El dan Dila, sehat? atau adakah pesan untukku?" tanya Ezra pada Winda.


"Aku gak ketemu Nona sudah lama, Tuan ... sudah lebih dari 24 jam lalu," Winda menyambung perkataan dalam hati.


"Aku kangen mereka berdua, Win. Ini memang kesalahan fatal dariku, makanya memintamu datang ... paling tidak agar aku tahu, Dila ku pergi dengan membawa El dalam keadaan baik, dan kamu yang mengantarnya langsung ke tujuan, untuk bertemu orang baik," pancing Ezra pada Winda.


"Entah, Tuan."


"Sampaikan pada Dila. Bahwa aku menyesal, kini akan berjuang dengan benar agar dia kembali padaku. Keduanya masih lemah, istriku dengan lukanya juga El yang masih berusia kurang dari dua bulan."


Winda hanya menunduk, tak berani menatap lawan bicaranya. Ia takut terbawa emosi hingga tanpa sadar memberitahukan kemana istrinya pergi.


Masih tergambar jelas dalam benak Winda. Bagaimana rupa sang Nona muda kala baru saja turun dari motornya.


Wajah pucat itu sangat kuyu, terlihat banyak jejak kesedihan terlukis disana. Matanya sedikit bengkak meski El lelap dalam gendongan.


"Heh, ditanya diem aja. Gak sopan," hardik Sonny melempar tutup botol yang dia genggam pada Winda, tepat mendarat di kening wanita itu.


"Aww, rese Lu. Gue gak tahu lah kemana tujuan Nona, gue cuma nganterin doank, Eh." Winda menutup mulut dengan telapak tangannya. Hampir saja, kelepasan.


Ezra hanya tersenyum samar melihat Winda mulai termakan umpan.


"Aku gak tanya kemana istriku pergi. Hanya ingin tahu keadaan mereka terkahir kali, Win," ujar Ezra lagi.


"Nona menangis sepanjang perjalanan kami, Tuan. El sempat rewel tapi sebentar, saya jadi ikut sedih ingat Nona," Winda mulai terisak.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mengantar Dila ke tujuan sementara ya Win. Do'akan semua urusannya lancar," sambung Ezra.


"Tuan tahu Nona sekedar transit disana? kejar Tuan, kayaknya belum terbang," seru Winda mulai sedikit menguak kemana Dila akan pergi.


"Terbang?"


"Mampus gue. Ni mulut kenapa sih, kelepasan mulu."


"Eh, maksudnya angan-angan beliau ingin terbang tinggi menggapai cita-citanya," kilah Winda di iringi cibiran Sonny.


"Lu kenapa sih, gak jujur aja. Pahala bantuin orang tau gak? inget donk, Nyonya itu masih lemah, bawa baby El pula ... matamu kemana sih? gak bisa nilai kalau beliau berdua masih saling cinta, Heh?" kesal Sonny merasa bahwa Winda sengaja menyembunyikan sesuatu.


"Maaf Tuan. Ada amanah yang harus di jaga. Aku gak tahu tujuan Nyonya pergi, hanya mengantar ke rumah ustadz kenalannya saat di Surabaya dulu," jelas Winda.


"Aku tahu, Dila pasti melarangmu memberitahu posisi ia kini. Begini saja, tolong sampaikan pada Dila bahwa aku meridhoinya pergi terlepas apapun keadaan yang menyertai ini, aku memberi izin. Katakan juga, titip El sementara padanya saat ini ... anggaplah memberi waktu agar hatinya sedikit tenang, namun aku pastikan akan terus mengawasi meski dari kejauhan juga menyusul kemanapun mereka berdua berada," tegas Ezra pada Winda. Lelaki itu yakin, hanya Winda yang akan Dila beri kabar tentang keadaan dirinya.


"Makasih banyak ya Win, jaga kesehatan selalu. Mulai musim penghujan, kau boleh pergi," ujar Ezra kemudian. Pria itu bangkit dari sana, masuk kembali kedalam. Tepatnya menuju kamar Dila.


Sonny menyilakan wanita itu pergi dengan membuka pintu unit lalu mengikuti tuan mudanya.


"Bos?"


"Rolex kembali esok, lebih cepat dari jadwal, Bos. Katanya ada yang ingin dia sampaikan karena tidak bisa di ceritakan by phone," ujarnya kemudian.


"Ok. Aku gak masuk kantor beberapa hari ya, tolong, Son."


"Baik, Bos."


Ezra menutup pintu kamar Dila setelah mengatakan kalimat terakhir pada sang asisten.


Putra Emery yang tengah di landa penyesalan, duduk kembali di kursi yang ia gunakan tadi. Tangannya meraih diary berwarna merah dari tas jinjingan yang ada di atas meja.


Lembar demi lembar dia baca, tulisan rapi istrinya. Kadang tersenyum tak jarang pula tertawa membaca torehan kata yang dituangkan di sana.


"Kamu lucu, Sayang. Aku gak pernah menemukan sisi dirimu yang demikian selama tinggal di sini."


Ezra melanjutkan, kini ia mulai memasuki lembaran tengah, hatinya kembali bagai di sayat. Jelas sudah semua luka bermula.


"Astaghfirullah...."

__ADS_1


Inginnya berhenti namun jemarinya terus menuntun hingga ke detik-detik lembar terakhir. Mungkin, ini adalah inti dari semua yang terjadi.


Ezra mengusap wajahnya kasar. Semakin mengerti arah pikiran istrinya yang selama ini ia kira tak jauh berbeda dengan gadis kebanyakan. Ternyata Dila nya memang istimewa.


"Aku gak tahu semua ini, jika tak membaca jurnal harianmu. Mulianya niat istriku, terimakasih."


"Mungkin, semua ini bisa di bicarakan baik-baik namun tentu hasilnya akan berbeda. Tuhanku menegur dengan cara halus, membuatku khilaf hingga aku sadar apa kesalahanku dan membuat Dila juga melakukan hal yang sama, pada akhirnya ini memang harus terjadi," Ezra kini lebih menerima, hatinya jauh lebih tenang.


"Sayang, tunggu ya. Aku akan datang padamu." Ketukan di pintu oleh suara Velma dan Bibi membuat dia harus keluar dari kamarnya, lupa pada laptop yang berniat dibuka.


...***...


Mansion lainnya.


Asisten pribadi tuan muda menyampaikan sebuah berita pada majikan prianya itu.


"Apa? pergi dari rumah?"


"Benar Tuan."


"Awasi kemana pergi, lindungi dia. Jangan biarkan Ezra menemukannya," titah sang Bos kemudian pada tangan kanan kepercayaan.


"Baik, Tuan. Adalagi?"


"Cari tahu penyebabnya. Oh ya, bagaimana lelaki itu?"


"Laksanakan ... tewas Tuan. Aku belum tahu siapa yang menyelamatkannya, namun ku akui semua pengamanan yang dia lakukan mumpuni. Anda jangan khawatirkan itu, fokuslah pada fisioterapi dua minggu ini agar kondisi Anda betul-betul normal kembali, Tuan muda," ucap Roy seraya menundukkan kepala lalu menyingkir dari hadapannya.


"Hmm, thanks."


"Dilara ... aku melihatmu lebih jelas kini."


.


.


...___________________________...


...Nunggu Rolex ah, biar seru... ...

__ADS_1


__ADS_2