SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 115. MOTIF SELENDANG EMAS


__ADS_3

Juga menyerahkan sebuah surat dan perhiasan sebagai identitas sang anak.


Tubuh merah nan mungil itu di rawat intensif selama satu pekan, Nyai terpaksa pulang terlambat ke Surabaya karena menemaniku, juga untuk menjamin biaya perawatan bayi yang ku temukan.


Aku bersikeras ingin membawanya pulang, seraya mengikuti saran Tuan Besar tamu Nyai untuk melapor pada polisi bahwa telah menemukan seorang bayi perempuan, lengkap dengan kronologisnya. Juga menyebar spanduk, brosur mencari keberadaan orang tua si anak.


Satu pekan berlalu, akhirnya Nyai meloloskan permintaanku. Atas bantuan konglomerat itulah, aku mengurus semua dokumen proses adopsi terhadap bayi ku. Ada uang maka urusan lancar. Dokumen adopsi pun akan dikirimkan ke pondok dalam waktu satu bulan ke depan.


Aku sangat bahagia, putriku ikut pulang. Namun rasa ini sekaligus memicu petaka yang lain. Karena kecerobohan ku juga tak mendengarkan nasihat dokter kala itu, dua bulan kemudian kurasakan kejanggalan padanya.


Keesokan pagi, aku membawanya ke rumah sakit terdekat saat baru saja menerima upah dari majikan lain. Banyak test dilakukan padanya, hingga saat pembacaan hasil, putriku diagnosa mengalami gangguan pendengaran di kedua telinganya akibat suara bising yang tinggi.


Dokter bertanya padaku, apakah pernah melakukan perjalanan jauh sebelumnya. Saat itu, rasa bersalah muncul menghujam dada. Suara bising pesawat saat kami kembali ke Surabaya membawa dia yang berusia kurang dari satu bulan ternyata penyebab bayiku tuli.


Dhuaarr. Bagai disambar petir. Aku lemas.


Perjalanan dari rumah sakit ke kediaman Nyai ku isi dengan deraian air mata. Dokumen adopsi telah ditangan namun aku merusak putriku sendiri.


Nyai menenangkan ku. Juga bersedia membelikan alat bantu dengar untuk anak angkat yang ku namai dengan Dilara Huwaida. Sesuai amanah dalam surat itu, juga liontin dengan huruf D.


"Dilara dalam bahasa Turki artinya cantik, Sayang," bisik Ezra melihat istrinya mulai berkaca-kaca.


"Benarkah?" lirih Dila.


Netra bulat itu melanjutkan membaca tulisan Ruhama.


Nyai memberikan nama Huwaida, yang berasal dari bahasa Arab dengan arti lemah lembut. Aku sangat berharap dia tumbuh menjadi putri yang cantik namun welas asih, berhati lembut meski akan banyak orang mencaci akibat status dalam akte lahir juga keadaan fisiknya.


Aku akan merawatnya penuh kasih, mungkin Tuhan memberiku Dilara sebagai pengobat hati karena aku pernah di diagnosa tak dapat memiliki keturunan.


Daripada hati ini sakit akibat cibiran mertua dan suami yang menikah lagi karena aku mandul. Maka ku putuskan tidak akan menikah, hanya Dilara penguat hidupku.


Panggil aku, Ibu, ya Nak.


Ibu akan jadi pelindung Dila, memasang badan apabila ada yang mengusik putriku. Namun hati ini juga harus siap, jika suatu saat orang tua kandungnya meminta Dila kembali.


Doaku mungkin konyol, daripada menanggung sakit akibat kehilangan Dila, atau dipisahkan dari nya. Lebih baik aku tak merasakan itu semua, aku sudah menitipkan mu pada Nyai jika terjadi sesuatu denganku, putriku sayang.


"Nama yang Ibu berikan, cocok dengan mu, Sayang," bisik Ezra menguatkan Bunda Shan.


Hiks. Dilara menangis.

__ADS_1


Jeda.


Hening. Menguar ke penjuru kamar.


Dila, jika suatu saat kamu menemukan tulisan ini. Maafkan Ibu yaa, sudah membuatmu cacat, Nak.


Ibu bodoh, maafkan si perawan tua tak tahu malu ini. Kamu mungkin putri keturunan bangsawan jika di lihat dari perhiasan yang di tinggalkan bersama selendang sutra emas. Maafkan Ibu, hanya merawat mu sebisaku, di gubuk reot peninggalan ibuku.


Dilara sayang.


Tumbuhlah baik, sholihah, do'akan Ibu ya meski kamu bukan lahir dari rahimku. Ibu sudah berusaha terus mencari kemana orang tuamu dari plat nomer mobil itu, namun nampaknya orang kaya mempersulit langkahmu bertemu mereka lagi.


Dilara, semoga kamu ikhlas ya, dirawat tangan tua yang tak paham apa-apa. Maafkan Ibu jika memukul, memarahi dan memintamu mengerjakan ini itu. Maafkan Ibu, jika telah lancang memperlakukan putri orang kaya nan terpandang dengan sangat kasar.


Maafkan Ibu, memaksamu memanggilku dengan sebutan IBU, meski aku tahu kamu tak lahir dari rahimku.


Maaf, Dilara.


Meski demikian, cinta yang ku beri tulus padamu. Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk Dilara putriku ... bolehkan, Ibu memanggilmu begitu? putriku...


Hiks. Air mata Dilara kian deras menetes.


"I-bu ... selamanya I-bu-ku." Ucap Dila terbata. Ezra tidak dapat melakukan apapun meski hatinya ikut sakit membaca semua kisah Ruhama.


"Kak ... Dila ..." suara sahabat dan adik ipar memanggilnya.


"Jadi aku?"


"Tanya ke Nyai, Sayang. Mungkin lebih tahu tentang hasil pelaporan Ibu terhadap nomer polisi itu. Aku akan meminta Rolex menyelidikinya," saran Ezra pada istrinya.


"Surat satunya, Dila. Ayo baca juga," ujar Mahira mengingatkan sahabatnya itu. Agar dia dapat membaca tulisan Ruhama yang baru saja Dilara genggam.


"Kak Mita, tolong carikan selendang sutra emas di tumpukan itu, ada gak?" pinta Dila pada ipar.


Sementara kedua sahabat sibuk dengan urusan masing-masing. Dila membuka satu surat yang tak kalah usang.


Banyak jejak tetesan air di lembar kertas berwarna kuning tua itu, namun tulisan tangannya masih tegas.


"Bismillah, Abang."


"Go on Sayang. Aku menemani," balas Ezra menenangkan.

__ADS_1


Minggu, 24 Januari 2002.


Jika kamu menemukan bayi ini, maka tanggal di atas adalah kelahirannya. Berikan dia nama berawalan huruf D, agar sesuai dengan runutan silsilah keluarga asli.


Dia, bukan putri yang lahir dari hubungan gelap. Namun harus di hilangkan jejak kehadiran karena suatu hal. Tolong rawat dia dengan baik. Orang tuanya berasal dari keluarga terpandang, tetapi guratan nasib berjalan demikian.


Jangan hilangkan identitas asli itu, tapi kau boleh merahasiakan tentang ini semua darinya. Aku titipkan pada mu, sebuah selendang emas juga liontin peninggalan leluhur milik sang bayi.


Terimakasih.


"Hanya ini?"


"Kak, ini bukan selendangnya? amaze banget sih, mewah, cantik," puji Mita seraya menyerahkan benda itu pada Ezra.


"Petunjuk itu namanya, Dila. Selendang emas ini terlihat special juga liontin nya, bukan orang sembarangan yang punya benda berharga seperti ini di jaman dulu...." jelas Ezra ketika meneliti guratan ukiran perhiasan juga motif selendangnya.


"Jadi gimana?" Dilara tak dapat berpikir dengan benar kali ini.


"Aku akan kirimkan foto liontin ke Arthur, mungkin dia lebih paham mengenai perhiasan jaman kuno," terang Ezra lagi.


Jemari kekar itu lincah menekan tuts di layar gawai nya, mengirimkan pesan pada Arthur juga Rolex agar menyelidiki sesuatu.


"Kak, aku bantu capture dan kirimkan ke Mas Arjuna boleh? jika Ibu kandung Kak Dila orang terpandang, atau bangsawan, mungkin Mas Juna bisa bantu selidiki karena beliau kan ningrat. Ya kali aja sesama Ningrat tahu, karena biasanya punya ciri khas masing-masing," ujar Mita antusias.


"Arjuna Fawwaz? calon mu itu? bukannya dia di Turki ya?" sangkal Ezra.


(bab awal, Mita dijodohkan dengan seorang pria baik teman sang papa)


"Iya, tapi kan asli Solo. Kakak tahu gak keluarga dia di Solo kayak apa?" Mita tak mau kalah adu argumen.


"Serah dah, yang penting ketemu titik terang ... Dila, kita ke Nyai sore nanti juga meminta pendapat Yai tentang niatan kita. Gimana?" imbuh Ezra lagi, karena banyak hal yang harus di selidiki sejak ditemukan dua surat Ibu.


"Boleh, biar lebih terarah," balas Dila.


"Apakah benar aku keturunan bangsawan?"


.


.


...______________________...

__ADS_1


...Arjuna siapa hayo? 🤭...


__ADS_2