SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 133. DIA?


__ADS_3

"Hai, lama tak bertatap muka. Not bad, kamu terlihat makin tampan kini," Ezra menyapa seraya duduk di hadapan pria muda itu.


"Ckck, basa basi. Kembalikan Dila ke posisinya semula, dia masih terikat kontrak kerjasama denganku," sebut Al Zayn, dia melipat tangan di depan dadanya, bersandar malas pada sofa.


"Dengan Asyraf hamid, tepatnya. Awal kepergian Dila menuju janda kaya itu untuk mengabdi, bukan mencari jodoh. Karena dia masih milikku ... ah ya, meski perpisahan itu hasil dari campur tanganmu," tuduh Ezra seraya membakar sebatang rokok dari saku celananya.


"Jangan dusta, gentlemen bicara dengan bukti asal kau mampu," ejek Zayn, merasa yakin Ezra tak memiliki bukti konkret.


Asap putih mengepul di udara dari mulut sang architect keturunan El Qavi.


" ... kau tahu Zayn, Cheryl telah tiada? partner se-ks mu itu dibunuh oleh kekasihmu yang lain ... lalu, inikah yang akan kau suguhkan untuk Dila? tubuh bekas para wanita murahan?" cibir Ezra menampilkan smirk mengejek.


Al Zayn gusar, terpancing emosi oleh ucapan Ezra.


"Kau!"


"Apa? sejak awal Dila milikku, tidak merebutnya darimu atau siapapun. Kurang apa aku padamu selama ini?... perusahaanku disisipi orang-orang mu, aku diam. Bahkan kau jadikan gadis kepercayaan Dila sebagai mata-mata keluargaku ... kau ingin hancurkan aku dari kedua sisi lagi? so sorry, misi mu gagal kali ini meski effort yang kau kerahkan lebih besar dari kejadian lalu," Ezra melempar semua bukti yang dia miliki ke atas meja.


"VELMA, KELUAR!!" Ezra memanggil asisten yang dia berikan untuk Dila.


Al Zayn mencibir, tidak ada gunanya lagi membuang banyak kata.


"Tuduhan tidak mendasar dari El Qavi ... bawa dia kemari, biarkan memilih," seru Al Zayn pada beberapa bodyguard.


Emery terkejut. Firasat karena sekilas melihat gadis itu di beranda rumah tadi memunculkan rasa khawatir ternyata terbukti. Tubuh senjanya di dorong moncong laras senjata salah satu bodyguard Zayn. Dia dibantu Leon agar duduk tepat di sebelah Ezra, masih dibawah todongan pis-tol.


Tak lama, gadis bernama Velma yang Ezra panggil, masuk dalam homestay dengan membawa Dila juga Shan. Tak terlihat Mita juga sang mertua, Ezra tak ambil peduli sementara waktu.


Degh.


Ezra sudah menduga, kedua orang tercintanya akan menjadi alat untuk menekan agar dia memilih.


"Baby, percaya aku. Ok?" Ezra menatap manik mata bulat istrinya, melafalkan samar gerakan bibir agar Dila paham.


Nyonya muda Qavi mengangguk, memeluk Shan. Sungguh Dila heran mengapa Velma memaksa dirinya seperti ini.


Terjadi ketegangan antara Mita dan Velma sesaat setelah Ezra turun tadi. Kedua wanita muda itu adu mulut juga serangan fisik, namun karena Velma terlatih maka Mita dengan mudah dikalahkan olehnya.

__ADS_1


"Dilara huwaida, beraninya kamu lari dariku ... Aku bisa melupakan kesalahan fatal ini asalkan kau kembali padaku." Zayn menegaskan kalimat panjang pada Dila seraya meraih paksa Shan.


Batitanya menangis kencang, disertai amukan Dila kala Velma menyerahkan Shan pada Al Zayn.


"Kembali apa? aku bukan milikmu sejak awal ... ternyata semua yang Abang katakan adalah benar. Dan kau, bisa-bisanya ... Velma," seru Dila geram.


Al Zayn menoleh pada gadis yang Velma cekal. Menatap lama wajahnya seakan dia ingin agar Dilara mengenali.


"Kau benar-benar lupa siapa aku, Dila? tak adakah sedikit ingatanmu tentangku?" tanya Al Zayn lemah, terlihat memohon.


Dilara diam. Dia bingung, merasa belum pernah melihat Al Zayn selain di Sharjah. Kepalanya menggeleng perlahan.


Al Zayn murka, dirinya menilai bahwa Dilara mengabaikan kedekatan yang dia sengaja ciptakan. Bahkan semua signal pemberian itu tak diakui.


Meski dalam hati gusar, namun Ezra berusaha tetap tenang.


"Sudah ku bilang, istriku tidak mengenal pria lain selain suaminya. Aku yang pertama bagi Dila ... ckck, kasihan sekali, ingin terlihat namun tetap dianggap semu dan ghoib," Ezra tertawa lepas.


Kesal atas ejekan Ezra, dia mencengkram lengan Shan erat hingga bayi itu berteriak kesakitan. Dilara histeris, melihat putranya di perlakukan kasar.


"Shan, lepaskan Shan. Kamu jangan sakiti anakku," seru Dila berontak berusaha melepaskan cekalan di lengannya dari tangan Velma.


"Mommy ... Daddy, it"s hurt," Shan merengek kesakitan lengannya diremas Zayn.


Ezra tak kuasa menahan emosi, telapak tangannya mengepal geram, rasa ingin menghajar habis pria pengecut itu namun Emery tahan.


Huftt.


Ayah Shan memejam, menarik nafas panjang seraya mengepulkan asap putih terakhir dari batang rokoknya lalu mematikan bara puntung di atas meja.


Al Zayn menantang Ezra. "Kau tak mungkin melakukan semua yang pernah ku perbuat untuknya ... laki-laki tidak peka, suami macam apa kamu?" giliran dirinya mengembalikan cibiran.


"Orang yang mencintai secara tulus, akan menganggap sesuatu hal sepele menjadi istimewa. Tidak perlu menjelaskan apa saja yang diperbuat bagi istriku. Karena aku yakin, Dilara juga tahu, dengan cara apa aku memperlakukan dia ... betul kan, Sayang?" Ezra menatap sendu pada Dila, merasa bahwa perkataan Zayn, ada benarnya. Dia terlambat memuliakan ibunda Shan itu.


"Suamiku terbaik. Bagai langit, tak perlu menjelaskan bahwa kedudukannya tinggi, terlihat diam namun ia mengayomi kami ... kebodohanku mengikuti permainan yang kalian cipta ... Honey, maafkan aku, Shan, Bunda beg appologize to you," Dila sadar ia salah langkah meninggalkan Ezra karena terpancing manusia hasad macam mereka.


Al Zayn tak suka reaksi wanita yang dia cinta. Dia kira, Dila terluka dalam, akibat perlakuan Ezra namun ternyata tidak. Sadar, dirinya kali ini kecolongan, mereka berjauhan namun komunikasi terjalin semakin baik.

__ADS_1


Rahangnya mengetat, matanya mendelik tajam. Shan, semakin erat dia peluk.


"Daddy...." suara Shan lirih memanggil ayahnya.


"Sabar ya Shan, Uncle sedang pusing dan belum minum obat," ucap Ezra menenangkan sang putra.


"Cih, kau pikir aku gila?" sergah Al Zayn lagi.


"Bisa jadi ... Kau dengar? Dila hanya mencintaiku, dan Shan, bukan anakmu. Dia akan tetap mencari ayah kandungnya meski kau cekoki semua hal buruk tentangku. Akan tetapi, putraku teguh ... sudahlah Zayn, pulanglah ... jaga Alyssa dengan baik. Aku bersedia menemani gadis itu jika ingin terapi, dendammu padaku dan Papa salah alamat, gak mendasar Zayn...." Ezra merubah gaya bicaranya. Bernada lembut juga care sebagai pengalihan kekakuan hati pria muda itu.


"Sayang, jangan percaya ... dia memperdayaimu," cecar Velma berusaha mengompori agar Al Zayn tidak luluh.


Dughk.


Dila menyikut dada Velma dengan sikut kanannya. "Gadis licik, ternyata kamu penyulut api kebencian ... atas kesalahan apa kau menimpakan semua ini pada keluargaku, Velma?"


Bodyguard wanita itu menarik hijab Dila hingga wajahnya menengadah. "Karena aku mencintai Zayn, namun dia hanya akan melihatku bila harapannya terwujud...."


"Bodoh! kau mencintai pria yang menyukai orang lain? membantu merusak rumah tangganya agar dia dapat menikahiku ... tapi kau tetap tidak terlihat, miris sekali. Pengorbanan sia-sia asal kamu tahu itu! lepaskan!" Dilara kembali berontak, melepaskan cekalan Velma.


"Diam!" sentak Velma pada mantan majikannya.


"Mommy, My Mommy, No ... Uncle jahat," Shan menangis melihat Bundanya di sakiti.


Ezra kembali tidak tenang. Tapi dia berusaha membujuk perlahan.


"Baby, tahukah kamu siapa dia?" tatap Ezra pada Dila.


"Enggak ... Shan, sabar ya Nak. Bunda dan Ayah disini. Anak baik itu kuat, Ok?" bujuk Dila pada sang putra agar berhenti menangis. Dia tak ingin, Shan dijadikan senjata oleh Zayn agar dirinya tersudut.


Ezra menoleh ke arah Ayahnya. Meminta izin pada beliau. Anggukan cepat, seketika Emery berikan untuk sang putra.


Ezra menghembus kasar. "Dila dengarkan baik-baik...."


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2