
Ezra lunglai. Kecerobohan membawa petaka baginya. "Apa kafarahnya?"
"Kafarah ini saya yakin Mas Ezra mampu menunaikan selain berpuasa ... memberi makan 10 orang fakir miskin, memberikan pakaian kepada 10 orang miskin, membebaskan budak kalau jaman dulu yaa ... jika ketiga pilihan tadi tidak mampu, maka beralih pada yang ke empat, berpuasa 3 hari. Boleh berturut-turut atau enggak," jelas Zaky.
"Ada kriteria nya?"
"Memberi makan, lengkap dengan lauk pauk selayak menu makanan yang diberikan pada keluarga ... memberi pakaian, ini batasannya seperti pakaian untuk sholat, sarung, baju, kopiah, pokoknya lengkap atasan dan bawahan, gak boleh sepotong dan hanya di berikan pada orang miskin yang muslim," sambung Zaky.
"Baik, ustadz. Sekarang, Dila dimana? aku ingin bicara dengannya dulu. Boleh kan?"
"Boleh, asal tidak bersentuhan selama ikrar rujuk belum terucap. Namun, ada berita yang kurang baik mengenai Dila," Zaky kini mulai was-was.
"Maksud ustadz, kabar kurang baik bagaimana?"
"Saat kami menjemput ke Bandara, Dila sudah tidak ada. Entah kemana, kami berusaha mencari selama tiga jam memutari Bandara hingga meminta izin melihat cctv tapi mereka mengatakan harus walinya yang mengajukan permohonan disertai bukti pelaporan orang hilang," ungkap Zaky.
"Innalillahi, kemana istriku?" Ezra terburu mengambil ponselnya, nampak hendak menghubungi seseorang.
"Maafkan kami Mas, lalai menjaga amanah. Karena keterbatasan kemampuan mencari maka hingga saat ini belum di ketahui kemana Dila pergi," sesal Zaky.
Ezra diam, ingin menyalahkan juga toh bukan salah mereka. "Dila memang ingin menjauh dariku," balas Ezra dengan suara lemah.
Keturunan Emery itu bangkit, masuk ke dalam. Zaky tak enak hati meski suami Dila terlihat tenang namun tidak dengan sikapnya. Dia nampak tengah membujuk seseorang di dalam kamarnya melalui ponsel, sebelum ia kembali bergabung di balkon.
"Arthur, bisakah? iya, bantu aku dulu. Urusan custom lagi gampang, nanti aku ajak Dila ke rumah untuk memilih design limited milikmu itu dan mengenalkannya pada Michelle, Ok? ... iya janji, ck, lekas," tutupnya pada panggilan dengan sahabat.
"Siapa Mas?"
"Arthur Julian, klien sekaligus sahabatku sejak college dulu. Kondisi istrinya sama dengan Dila sebab satu kecelakaan, dan aku baru tahu karena meski sahabatnya ... aku jarang menanyakan hal pribadi. Tadi coba meminta bantuan padanya, karena dia dulu tinggal di sini dan koleganya lumayan. Siapa tahu bisa bantu," terang Ezra pada Zaky menjelaskan usahanya mencari Dilara.
Ezra kembali sibuk dengan gawainya, terlihat akan menghubungi seseorang kembali.
"Halo, gue send foto by email. Mau nagih janji Lo dulu ... iya, Dilara istri gue, please cctv airport ... ya ampun, kesini karena mendadak gak sempat kabarin Lo, lah ... iya iya bawel nanti di kenalin," ujarnya lagi saat menghubungi teman.
"Punya kenalan di airport Mas? ... Kayaknya kehidupan Mas Ezra misteri ya?"
__ADS_1
"Sandrina, police di sini dengan jabatan lumayan. Dia sepupu jauh dari pihak Papa ... karena gak pernah tanya hal pribadi ke semua sahabat atau saudara, mereka juga jadi gak tahu tentang privasi aku, sungkan ngulik ... aku minta tolong ke mereka, imbalannya bukan uang atau apapun itu tapi justru minta di kenalkan dengan Dila ... ckck kesempatan mengorek privasiku," kesalnya pada kedua sahabat.
"Pantas saja, kemarin nikah itu milih di pondok dan privasi banget," tebak Zaky akhirnya mengerti.
"Iya, begitulah ... aku, introvert Ustadz. Makanya belum bisa memahami Dila dengan baik karena ya begitu ... dengan Cheryl pun, dulu menikah yaa hanya karena nyaman dan rasa percaya, bisa terbuka dengannya kala melewati masa berat."
"Saya paham Mas."
"Ini kita tunggu atau gimana? aku punya beberapa sahabat di sini, dan mereka welcome, seharusnya gak susah buat menemukan Dila," ujarnya lagi penuh harap.
"Baiknya Mas Ezra saja. Rengganis juga masih mencari dengan beberapa guru yang sudah mukim lama di sini," tambahnya agar Ezra tak merasa bahwa dirinya dan Rengganis lepas tanggungjawab.
Selama satu jam berbincang dengan sang calon duda, Zaky dapat menyimpulkan bahwa memang Ezra nampak hati-hati dalam memilih lawan bicara. Sikap menyayangi istrinya, tergambar dari perkataan juga tindakan jika dirinya menyesal.
"Kangen El, suara tangisnya ... terlebih Dila, meski tak banyak bicara, sedikit waktu bertemu ... tapi semua yang ia kerjakan rapi, bahkan aku gak bisa lagi menikmati kopi selain dari racikan tangannya. Aneh kan Ustadz? masakan Bibi yang mulanya favorit, semua hambar. Banyak rasa yang hilang meski kedekatan kami baru sesaat...." keluh Ezra kemudian, tanpa sadar dirinya mulai terbuka.
"Sabar, Mas. Rumah tangga punya ujiannya masing-masing dan dari sanalah kita belajar. Rengganis pun sama, masih suka grasak grusuk, tapi ya itulah kodrat wanita. Kurang bisa lurus, makanya disebut tulang rusuk ... tugas kita cuma nggiring agar arahnya gak melenceng jauh ... nunut gitu, pelan-pelan, toh mereka itu pada akhirnya akan luluh jika kitanya juga adem," Zaky pun membagi apa yang dia rasa.
"Iya Ustadz, pelajaran banget ini bagiku."
Ting.
Notifikasi pesan di ponsel kedua pria berbunyi. Keduanya nampak sibuk.
Ezra lalu membuka pesan sang sepupu. Dia mengirimkan pindai foto mobil seseorang, milik saudagar kaya dari kota Sharjah, 45 menit dari Dubai. Wanita muda mirip Dilara nampak keluar bersamanya.
Putra Emery membalas dengan meminta info lebih banyak tentang sosok misterius itu.
Kriing.
Arthur calling. Jemari Ezra menggeser tuts ke arah samping pada layar gawai.
"Ya ... terduga Asyraf Hamid? explain...." Ezra mendengar penuturan dari Arthur tentang sosok misterius.
"Ok, thanks a lot. Aku masih ada tamu, kita lanjutkan nanti." Ezra meletakkan ponselnya kembali di meja. Ia meraup wajah kasar, menghembus nafas ke udara.
__ADS_1
"Mas, kata Rengganis ... sekretaris Nyonya Asyraf mengatakan bahwa Dila aman bersamanya. Jangan ganggu dahulu, fisiknya lemah dan akan kembali ke asrama jika sudah fit lagi. Nyonya Asyraf orang yang sulit, akses sukar di tembus jika bukan beliau yang menghubungi, kami gak bisa connect," tutur Zaky.
"Begitu ya. Yang penting aku tahu, anak istriku aman dulu, Ustadz. Perkara akses, akan aku pikirkan caranya agar bisa berkomunikasi dengan Dila. Anda pulanglah dahulu, kasihan anak-anak didik. Aku sudah banyak menyita waktu," Ezra sungkan, merasa telah menahan Zaky lebih lama.
Dia menyilakan tamunya pulang agar leluasa menyusun rencana dengan Arthur dan Rolex. Karena dia tahu, domisili Abdeen adalah di kota ini, Indonesia hanyalah transit. Jika keberadaan Dilara diketahui olehnya, hancur sudah harapan.
Setelah kepergian Zaky. Ezra menghubungi Rolex.
"Bos. Prince Abdeen, baru akan kembali dari UK pekan depan. Waktunya meped, harus ada rencana," saran Rolex khawatir.
"Aku ada rencana. Siapkan seseorang juga awasi informan dia disekitar kita. Dua nama, kau sudah ada hasil?"
"Clear, Angel, Eldo, tak terlibat. Lainnya on proses bukti, Bos." Rolex memberikan laporannya.
"Ok ... I'll call you back, soon. Sesudah menghubungi Arthur," ucap Ezra menutup panggilan.
...***...
Sementara itu, dalam mobil mewah di sebuah rute perjalanan.
Dilara dengan tenang menyusui Shan, sementara hatinya mengucap syukur bahwa kondisi Shan, normal tak terindikasi gangguan kesehatan terlebih indera pendengaran. Luka pasca melahirkan, sudah berangsur membaik. Kondisi rahimnya pun bersih.
"Alhamdulillah. Abang, kita sehat. Jangan khawatir, aku akan jaga Shan dengan baik."
Jika dalam hati Dila merasa lega. Lain halnya dengan sang Nyonya.
"Dre, cari tahu tentang apa yang ku kirimkan tadi. Aku harus memastikan sesuatu," tulis pesannya untuk sang asisten pribadi.
.
.
..._______________________...
...Jempol kiri gak bisa nulis gegara iseng main rebana dll, liat anak gadis pandai darbuka, ko mommy pengen 😅 akhirnya pretekk, sedap... maafkan lama up ya. ...
__ADS_1