
Mahira menulis dalam buku catatan yang biasa dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Dila.
" Dila, mau ijab qobul bentar lagi."
Jemari berkulit kuning langsat itu pun bertaut, saling mere-mas antar buku jarinya erat. Dila gugup, sesaat lagi status dirinya akan berubah menjadi istri seorang duda asing yang belum lama akrab dikenalnya.
"Bismillahirrahmanirrahim...."
Setelah wali hakim menuntun Ezra beristighfar, ia pun melanjutkan kalimatnya dengan menjabat tangan mempelai pria.
"Saya nikahkan engkau ananda Ezra El Qavi dengan Dilara Huwaida binti Ruhama, dengan mas kawin 25.010.000 rupiah, tunai."
(Pakai wali hakim karena nasab Dila tak diketahui, penyebutan binti hanya formalitas merujuk pada surat adopsi meski nasab orang tua angkat tidak dapat menggantikan nasab aslinya, kecuali pernah disusui dengan aturan syariah yang berlaku)
Ermita yang kagum akan ketegaran serta ketenangan Dila, dia merangkul pinggangnya, meletakkan kepalanya menempel dengan sang pengantin seakan menyalurkan sebersit rasa bahwa, kamu akan jadi bagian keluarga kami, aku sayang kamu Dila.
Baik Mita maupun Mahira, keduanya saling memeluk seraya melafalkan banyak doa bagi Dila, meski sang sahabat tidak mendengar namun mereka yakin, bahasa kalbu itu sampai dan dipahami olehnya.
"SAH ... SAH ... SAH."
Riuh suara hadirin yang ditandai dengan tengadah kedua telapak tangan ke udara. Kedua pendamping mempelai wanita itu berlomba mengatakan bahwa Dila telah sah menjadi Istri Ezra.
"Dila, kakak iparku." Tulis Mita.
"Dila, kamu sudah sah menjadi istri Tuan Ezra yang tampan dan gagah, mabruk sayang." Mahira menulis kalimat lainnya.
Kedua kertas yang disodorkan dua gadis ayu pada Dilara, diterima gemetar oleh tangan kurus terbalut gamis warna coklat tua.
"Aku sudah menikah." Batin Dilara mengucap. Air matanya menetes, entah apa gunanya cairan bening itu mengalir dari sudut mata bulatnya, ia pun ragu.
Dila kebas rasa, ibunya bahkan bergeming ditempatnya meski hanya berjarak beberapa jengkal dari tempat duduk Dilara kini.
"Sungkeman sama Ibu, Dila." Mahira menulis lagi.
Dila mengalihkan pandangan, memutar badannya menghadap sang bunda yang duduk tepat dibelakangnya.
"Ibu, maaf," lirih Dilara berucap dibibir tipisnya.
Dila meraih tangan kanan Ruhama yang masih setia diatas pangkuannya. Mengecupnya takzim bolak balik, hingga bulir netranya kembali membasahi telapak tangan yang telah mengeriput tergerus zaman.
Ruhama hanya menatap sekilas punggung gadis yang membungkuk dihadapannya. Hatinya pun ikut hancur, ingin rasa memeluknya namun ia enggan.
Dilara pembangkang tak akan pernah sama bagai Dilaranya yang dulu, gadis penurut dan manis pelipur laranya.
Kesedihan Dilara atas sikap Ruhama terjeda kala penghulu menghampirinya untuk menandatangani dokumen.
__ADS_1
Setelah itu, Tuan Emery, Ezra dan Yai Sa'id datang keruangan dimana Dilara berada. Yai meminta agar Ezra menyerahkan uang mahar serta simbolis hantaran untuk Dila.
Gadis belia yang baru saja berstatus istrinya itu menerima dengan wajah menunduk tak berani menatap sosok pria yang Mahira katakan sangat tampan, lalu mencium telapak tangan kekar yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Nak Ezra, bacakan doa kebaikan untuk Dila ya, monggo...." pinta Yai Sa'id.
Ezra mendekat, mengikis jarak antara dirinya dan Dila. Jemari kanannya meraih wajah gadis itu, mengusap pipi, mencium kening lalu melafalkan doa bagi Dilara.
Cantik, ucap Ezra dalam hati.
"Ciye Kak, malu-malu," bisik Mita menggoda kakak sulungnya.
"Romantisnya, pacaran habis nikah ya Dila." Mahira dan Mita heboh, mereka bersorak ria atas pernikahan sahabatnya.
"Ayo sungkeman...." Kali ini Emery yang bersuara.
Ezra menggeser posisinya mendekat ke tempat Ruhama lalu membungkukkan badan dengan menempelkan kedua telapak tangannya didada.
"Do'akan kami ya Bu, maafkan aku ... Dila ga salah apa-apa dengan Ibu," ucap Ezra lirih.
"Semoga kalian bisa menemukan bahagia bersama ya Nak Ezra, Ibu titip Dila ... jangan sakiti dia, jika kau bosan padanya atau kau baru sadar esok hari bahwa kalian tidak sepadan atau Dila telah membuatmu malu ... maka jangan sakiti hatinya, kembalikan Dilara padaku, utuh tanpa luka lahir batin," ucap Ruhama seakan menggodam telinga Ezra.
"In sya Allah ... aku akan menjaganya semampuku, Bu," Ezra menjawab nasihatin Ruhama.
"Dila, ayo sungkeman ke ayah Tuan Ezra," Mahira menarik lengan Dila agar menghampiri mertuanya.
Emery takjub, gadis belia yang nampak biasa saja kini menjelma bagai putri. Cantik alami dan sangat anggun.
Andai dia normal, Ezra mungkin telah jatuh hati padamu Nak. Tapi Papa yakin, putra ku akan luluh terhadapmu, meski jalan kalian tak mudah.
Dilara mendekat, menunduk didepan mertua satu-satunya. Bahunya sedikit bergetar kala Emery menyentuh wajah ayu yang sedari tadi enggan terangkat tegak.
"Dila, sekarang kau putriku ... bertahanlah dengan Ezra apapun kondisinya nanti ya, jangan pernah meninggalkannya kecuali dia yang menginginkannya ... jangan sungkan bilang pada Papa apabila Ezra kasar padamu, sampaikan pada Papa apabila Ezra lalai akan tugas dan kewajibannya untukmu ... Papa doakan kalian selalu sehat, harmonis dan bahagia, putriku Dilara Huwaida," tutur Emery dengan suara parau, menahan getir mencurahkan segala kekhawatirannya pada Dila.
Mita menyerahkan kertas berisi semua wejangan yang ayahnya sampaikan untuk sang kakak ipar tepat setelah Emery selesai mengucapkan nasehat panjangnya.
Dilara diam, membaca barisan kalimat diatas lembar putih seksama. Ia pun menangis haru lalu mencium telapak tangan Emery bolak balik. Dila bahagia, ia mempunyai ayah yang mengakui dirinya bagai putri kandung.
"Papa." Batin Dila, disela isakan halus.
"Aku Papamu kini, Dila." Emery meraih pucuk kepala Dila, menghujani ciuman kasih sayang penuh cinta untuknya.
Tidak ada netra yang tak mengembun atas sikap kedua insan beda zaman dihadapan mereka. Haru, bahkan Ezra.
"Alhamdulillah, ayo Nak Ezra ajak Dila kedepan ... paling tidak, muncul sebentar menyapa jama'ah sebelum bubar setelah sholat isya," sambung Kyai Sa'id memecah suasana haru yang masih pekat terasa.
__ADS_1
Semua yang berada dalam ruangan itupun bangkit, menuju ruang tamu yang telah dihias dengan backdrop warna merah dan emas.
Sesi foto pun dimulai. Meski keduanya masih saling diam namun Ermita berhasil mendapatkan beberapa hasil foto yang memuaskan.
"Ck, diamnya kalian kenapa justru bikin cakep sih?" gumamnya kala mendapatkan pose tak sengaja Ezra melihat Dila, kedua mata yang saling bersitatap beberapa detik, berhasil terabadikan lewat jepretan Mita.
"Kak Mita, aku Mahira." Mahira menyalami Mita, meski sejak di ruangan akhwat mereka telah bertemu namun belum resmi berkenalan.
"Hai Mahira, kamu cantik banget ... pasti sudah ada jodohnya ya?"
"He em, Buya memberikan beberapa pilihan namun aku belum menentukan," ujarnya lagi tersipu malu.
"Pacaran setelah halal ya, Mahira," imbuh Mita, karena ia pun akan merasakan hal yang sama.
"Betul in sya Allah jika memang sedari awal sudah ada getar di hati ... semoga lebih mantap dan yakin setelah intens munajat nanti," balasnya tak kalah manis.
Adzan isya berkumandang. Semua hadirin bergegas menuju masjid pondok untuk sholat isya berjama'ah dahulu sebelum bingkisan dibagikan.
Tepat jam delapan malam, semua tamu satu persatu meninggalkan aula pesantren kecuali beberapa kerabat dan para tamu special karib sang Yai.
"Dila, pulang kerumah kan ya?" Tanya Mahira menyentuh bahu sahabatnya.
Dila melihat Mahira, lalu menganggukkan kepalanya.
"Sampai ketemu lagi ya Dila, selamat menjadi istri," peluk Mahira, erat.
"Dila, sabar ya Nak, bakti dengan benar pada suamimu." Pesan Nyai Syuria.
Dila mengangguk, menarik nafas panjang. Setelah salim pada Nyai Syuria, Dila pun pamit berjalan menuju mobil dimana Ezra menunggunya.
Ibu telah lebih dulu pulang dengan Mita dan Emery dalam mobil satunya.
"Dila," Ezra memanggil dengan menjentikkan jari agar Dila melihatnya.
"Kamu sementara tinggal di rumah Papa ya setelah esok hari sebelum ikut aku ke Jakarta," ujarnya dingin saat kedua bola mata bulat itu menatapnya.
"Ngerti ga aku bilang apa?"
"Iya Tu-an." Dila menulis di buku catatannya, rikuh, tak tahu harus memanggil apa pada sosok menyeramkan disisinya.
"Tuan?"
.
.
__ADS_1
...____________________________...
...kalau weekend up diatas jam 10 malam pasti kena review hingga 12 jam 😓...