SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 108. SHAN BINGUNG


__ADS_3

Indonesia.


Malam hari saat semua telah lelap, Ezra sudah duduk bersandar di kepala ranjang berniat membuka suatu hal pada ponselnya, rahasia di antara mereka berdua, yang di kirimkan seseorang.


Putra sulung Emery membaca semua pesan sang istri yang tertulis dalam jurnal. Seksama, perlahan menikmati setiap kata. Membayangkan sosok cantik itu tengah bicara langsung di hadapannya.


"Dia semakin dekat dengan Shan, meski aku menjaga jarak sekuat tenaga. Apakah harus melonggarkan cekalan lalu masuk ke dalamnya agar mendapatkan satu titik kelemahan? bagaimana jika aku gagal dan tak dapat keluar?"


"Gadis itu, mulai luluh denganku. Aku menstimulasi dengan mengakui bahwa dia kreatif, memunculkan percaya dirinya kembali. Satu hal yang ku dapat darinya, bahwa pria itu, benar salah paham seperti yang Abang kira. Kapan ini berakhir?"


"Oh iya, aku sudah tahu siapa seseorang yang Abang maksud menjagaku, bilang padanya agar hati-hati saat membawa gawai ke kamarku untuk memfoto jurnal pribadi yang kuletakkan di atas meja. Juga, ada satu video malam ini untuk kita, jangan lupa lihat ya. Big hug my own superhero, kata Shan. Juga dia titip salam untuk Ayah."


Senyum menghiasi wajah lelah suami Dilara, ketika Ezra selesai membaca tiga paragraf berisi pesan tadi.


Sepasang kaki kekar itu kembali terjulur turun dari ranjang, meraih mini laptop miliknya yang dia simpan dalam tas khusus di atas meja sofa.


Matanya memancarkan binar bahagia. Senyum sumringah seketika menyeruak dari bibir sensual Ezra El Qavi kala melihat video yang baru saja dia putar.


"Happy 2nd anniversary, Sayang," ujarnya membalas ucapan Dila dalam video.


Sejenak, dia berpikir.


"Eeh, Honey? kau memanggilku Honey, Dila? " Kali ini bukan hanya sorot matanya penuh bahagia, Ezra bersorak kegirangan mendengar Dilara memanggilnya Sayang. Jemari kekar berhias cincin besi couple itu menekan tuts berulang kali, me-reply ulang saat sang istri memanggilnya Honey.


*


Hari berganti minggu hingga bulan.


Pagi ini Shan akan menjalani test masuk untuk mulai menghafal kalam Allah. Di salah satu sekolah internasional, Al fatteh School.


Rata-rata umur para penghafal Qur'an di negara ini dimulai saat mereka berusia dua tahun atau jika sudah lancar berbicara. Para calon anak didik, akan diseleksi menjadi beberapa level. Tingkat intermediate, middle hingga mumtaz, disesuaikan berdasarkan kemampuan ketegasan pelafalan verbal.


Test dimulai dari mengenal huruf hijaiyah, tajwid dasar hingga pelafalan doa harian sebelum masuk seleksi ke juz amma.


Sisa dua urut nomor sebelum giliran Shan tiba. Ibu dan anak, keluarga Qavi telah menunggu di ruangan.


"Sudah minta doa kan sama Daddy sebelum pergi. You can do it, best as could as Shan do. Ok?" bisik Dila mengusap dada putranya perlahan.


Dila lalu mengajak Shan berdoa. "Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahla. Lapangkanlah urusan dunia dan akhirat Shan ya Allah. Aamiin.“


(Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan/kesulitan, jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah)

__ADS_1


"Aamiin. Shan pasti bisa, Daddy support you here," sambar Al Zayn yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. Entah dia mendapatkan izin darimana hingga sampai ke ruangan khusus ini.


"Shan sudah berdoa sama Ayah sebelum berangkat," balas bocah polos itu, memeluk dan menciumi wajah ibunya.


"Daddy ko enggak di cium juga? kita juga belum tost," bujuknya lagi agar Shan mau mendekat padanya.


Shan kecil menjulurkan tangan mungilnya berniat menyambut uluran tost Al Zayn, namun Dilara cegah. Anak polos itu hangat dan lembut pada siapapun yang datang menyapa padanya, tak heran jika Shan terlihat menerima kehadiran pria ini.


"Please, jangan ganggu kami, Tuan Muda. Apakah Anda tak punya pekerjaan lain? " sindir Dila.


"Punya, inilah pekerjaan ku. Menemani kalian," jawabnya ringan seraya duduk di sebelah Shan.


Dilara menggeser posisinya, menarik Shan ke dalam pelukan hingga bocah itu dipanggil masuk kedalam.


"Sini, daddy peluk Shan dulu. Bisa ya, apapun hasilnya, Daddy tetap sayang Shan," ucap Al Zayn, menghampiri Shan yang sudah diajak oleh panitia ketika akan masuk.


"Uncle Shan, just uncle. Your Daddy's at home, melihat Shan dari jauh. Bunda record ko," Dilara tak ingin kalah mengingatkan Shan tentang siapa Ayahnya.


Sang bocah hanya tersenyum manis seraya mengangguk untuk sang Bunda sebelum pintu itu ditutup. Dilara tak henti berdzikir, memohon kemudahan bagi putranya menjalani test perdana kali ini. Semua ocehan Al Zayn, tak ia hiraukan, fokus saat ini hanya untuk sang putra emas.


Tiga puluh menit berlalu. Pintu ruangan seleksi dibuka kembali.


Bocah kecil berusia satu setengah tahun nampak murung. Dia seketika menghambur memeluk Dila, kala melihat ibunya tersenyum ke arahnya.


"Shan lupa. Mommy," tangisnya pecah. Pertama kalinya, batita Ezra menangis histeris. Dia memeluk Dilara ketat, menelusupkan kepala diceruk leher sang Bunda.


"Its Ok, kita belajar lagi. Shan sudah melakukan yang terbaik. Kita pulang ya." Dila menggendong putranya tanpa banyak kata. Dia meminta pada panitia agar segera mengabari tentang hasil test hari ini by pesan atau email seperti yang tertera di formulir.


Keduanya terus berjalan keluar gedung menuju parkiran. Dilara mengabaikan panggilan Al Zayn yang mengekori langkah mereka.


Selama perjalanan pulang.


Hanya tangisan pilu yang keluar dari mulut mungil itu. Shan tak sedikitpun membuka suara meski Dila membujuk secara lembut.


Hingga malam hari, putranya masih sangat murung. Batita gempal itu tidak nafsu makan atau menyentuh cemilan apapun yang Katrin sodorkan. Dila kehabisan ide, tiada yang dapat membujuk anak kesayangan Ezra. Dia mulai panik karena belum ada makanan masuk ke lambung Shan sejak siang.


Asyraf Hamid pun tidak ada di tempat, biasanya beliau juga ikut andil membujuk jika Shan ngambek atau mogok makan.


Menjelang tengah malam, Dila terkejut, bangun dari tidur kala mendengar bayinya mengigau.


"Demam," gumam Dila saat telapak tangannya menyentuh dahi Shan, dia turun dari atas ranjang, mencari alat pengukur suhu.

__ADS_1


"Lumayan tinggi." Tanpa banyak berpikir, ibu muda itu menyiapkan alat kompres, obat penurun panas juga air minum.


"Shan, bangun dulu. Minum yuk," Dila memaksa putranya bangun. Obat penurun panas telah ikut masuk seiring air minum yang Shan teguk tadi.


Hingga matahari pagi muncul, suhu panas tubuh Shan naik turun. Dilara berniat akan membawa putranya ke rumah sakit.


Ia meninggalkan catatan untuk seseorang, berpesan agar Ezra memberikan sesuatu bagi putranya.


"Shan kecewa, mungkin dia berpikir bahwa gagal dalam test, juga desakan Al Zayn yang terus mengatakan bahwa dia adalah ayahnya. Putraku bingung." Tulis Dila di jurnal.


Ditemani Kesih, Dilara menggendong Shan ke mobil menuju rumah sakit.


Dua puluh menit berikutnya. Rumah sakit.


Keturunan Ezra, putra semata wayangnya harus mendapatkan perawatan intensif di sana. Shan dehidrasi karena tak ada asupan makan atau minum hampir 24 jam.


Kesih setia menemani Nona Mudanya saat brangkar Shan berpindah masuk ke kamar perawatan.


"Tenanglah, dia anak kuat," suara Al Zayn memecah keheningan kala Dila baru saja duduk di tepi ranjang Shan.


"Jangan ganggu kami. Tolong," lirih Dila pada pria tak tahu malu.


"Aku tidak, hanya jenguk anakku. Masa gak boleh," jawabnya seraya duduk di sofa.


"BERHENTI MENGATAKAN BAHWA SHAN ANAKMU!!"


"Mommy," Shan terkejut, dia menangis lagi. Tubuh lelah Dila segera menenangkan sang putra kembali. Menepuk lengannya lembut, mengusap kening Shan yang berkeringat.


"Pergi!! ... Kesih, tolong!" seru Dila jengah, ia gusar.


"Mari, Tuan muda. Beri waktu Nona kami sendiri," Kesih menyilakan pria tampan yang masih duduk itu agar beranjak keluar ruangan.


"Aku akan kembali," tegasnya seraya bangkit menarik langkah dari sana.


"Abang ... say something, please."


.


.


...__________________...

__ADS_1


...Yang LDR, suka panik kalau anak sakit ya. Gak tenang gitu meski uang ada, rumah sakit terjamin dsb. Tetap aja, bapaknya yang di cari.....


...Mau pindah plot, but, selesaikan proses Shan dulu ya... kejap....


__ADS_2