SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 139. MEMAAFKAN


__ADS_3

Alarm ponsel Dila berbunyi, bergetar kencang menimbulkan suara bising dari atas meja nakas samping tempat tidur mereka hingga Bunda Shan terbangun.


Kelopak mata bulat masih enggan terbuka, namun rasa satu sisi tubuhnya sangat berat meski hanya sekedar untuk bergeser. Tangan pun sulit digerakkan. Perlahan, dengan rasa kantuk hebat yang terus menjalar, Dila memaksakan netranya terbuka.


"Mmmnggg, A-bang, tolong geser. Maghrib, bangun yuk bersiap sholat," bisik Dila, suaranya parau khas baru bangun tidur.


Pemilik tubuh kekar itu tak bergeming, satu gundukan benda kenyal milik Dila masih di cekal telapak tangannya hingga membuat tubuh ramping dalam pelukan Ezra, kembali meremang.


Sapuan nafas lembut di belakang tengkuknya kian sukses membuat putri angkat Ruhama tak berkutik. Salah bergerak, dia pasti akan mandi wajib kembali.


"Honey, lepas dulu ya. Maghrib," lagi, bisik Dila berusaha melepaskan genggaman Ezra dari dadanya.


"Bentar lagi donk, Sayang."


Akhirnya pemilik raga yang menindih sebagian tubuh Dila terbangun. Namun tak jua mengendurkan badan yang menghimpit.


"Mau habis waktunya, kan ketemu dengan Nyonya Asyraf ba'da maghrib ... klien Abang setelahnya. Aku juga lapar," rengek Dila masih berusaha melepaskan diri.


"Janji dulu," bisik Ezra.


"Janji apa?"


"Dilanjutkan lagi nanti," masih dengan bisikan lirih, kali ini di bubuhi kecupan basah di cuping telinga.


Sssshhhhrrrrrr. Dila meremang.


"Lepas dulu, sholat lebih wajib hukumnya dari semua yang akan Abang lakukan itu, ayo."


"Kita sekalian honeymoon ... kan belum pernah, moga pulang bawa zigot yang sudah berubah jadi embrio," gumam Ezra lagi.


"Tubuh ibu harus fit dan sehat juga, Abang. Gak boleh dibuat lemas apalagi kelaparan karena kurang asupan gizi juga dehidrasi akibat selalu di sekap dalam kamar," protes Dila. Kesal karena sudah sepuluh menit berlalu, Ezra tak juga melepas rengkuhannya.


Ayah Shan justru tertawa. "Ok, yuk mandi dan kebawah. Harus makan banyak biar kamu punya cukup tenaga," ucapnya lagi, perlahan melepas tind-ihan kaki juga lengannya.


"Eenngghh," lengu-han spontan lolos dari Dilara, akibat rema-san disertai usapan lembut pada dada yang sedari tadi dia cekal.


"Kan, kamu mancing sih."


Ezra urung bangkit, kembali mendekat pada wajah istrinya.


"Apaan, Abang tadi itu ngapain aku? sana ah, mau sholat dulu," Dila beringsut menjauh dan turun dari sisi ranjang satunya meninggalkan Ezra yang kembali turn-on. Bergegas mandi untuk menunaikan tiga rokaat sebelum mereka turun ke resto Hotel.


Pukul Tujuh, sebelum Isya.

__ADS_1


Sejak siang Dila tidak menyentuh makanan, malah tenaganya dikuras habis. Wajar jika saat ini dia kelaparan. Ezra pun membiarkan wanitanya tenang menyantap hidangan yang dia pesan.


Lima belas menit kemudian.


Asyraf Hamid dan Andre datang menghampiri meja mereka. Pimpinan Qavi lalu meminta agar waitress segera clear-up table supaya mereka lebih leluasa.


Terjadi kecanggungan di antara kedua wanita yang baru bertemu kembali setelah insiden beberapa waktu lalu.


"Hallo, Dila. Apa kabar?" Asyraf Hamid menjulurkan tangan untuk berjabat.


"Alhamdulillah, Nyonya." Dila menepis uluran tangannya, mendekatkan diri dan memeluk sesaat.


Seketika Asyraf Hamid membeku, mendapatkan perlakuan manis dari Dila.


"Silakan duduk," imbuh Ezra setelah melihat sikap Dila. Istrinya itu terkadang sulit ditebak.


Mereka menghabiskan bincang malam didalam resto mewah selama hampir dua jam. Membahas banyak hal termasuk kontrak kerjasama antara Dila dengan yayasan Asyraf Hamid juga Al Zayn.


"Aku yang akan mengakhiri kontrak kerjasama dengan Dila sehingga dia bebas wanprestasi. Mengenai Al Zayn, biar Andre yang mengurusnya nanti. Kamu jangan khawatir," ucapnya untuk Ezra menenangkan seraya mencuri pandang pada Dila.


"Terimakasih banyak atas bantuan Anda, Nyonya."


Ezra tak lagi menimpali panjang kalimat sang saudagar kaya.


"Dila, maafkan aku. Jika proses hukum ber---"


"Dilaaa," lirih Vega, terharu.


"Anggap saja, apa yang Anda lakukan padaku di masa ini, telah menebus semua perbuatan silam ... aku yakin, rasa bersalah pasti menghantui setiap malam dan itu sangat menyiksa. Kiranya Allah punya maksud atas ini semua dan ada hikmahnya ... aku banyak mendapatkan pengajaran hidup, cinta juga rezeki yang Allah kucurkan padaku selain rahmatNya," tutur Dila panjang.


Ezra menggenggam telapak tangan istrinya yang tersembunyi dibawah meja, menautkan ke sela jemari lalu membawanya ke atas dan menghadiahi kecupan di sana.


"Terimakasih, Dila. Terimakasih." Asyraf Hamid hanya menunduk malu. Betapa tulus perasaan wanita muda di hadapannya meski ia menoreh luka dalam.


Keduanya lalu berjabat tangan, Dila memberikan pelukan terakhir untuk sang Nyonya kaya.


"Jika ke Jakarta, kirimi aku pesan agar Shan dapat berjumpa dengan Oma Dubai nya lagi," pungkas Dila sebelum mereka beranjak pergi.


"Bo-boleh?" tanya Vega ragu.


Dila dan Ezra mengangguk, "Boleh, Shan juga rindu Oma nya."


Vega Gianina tak henti mengucapkan syukur juga terimakasih mendalam untuk pasangan Qavi. Dia juga berjanji akan menjalani hidupnya lebih baik mulai saat ini. Tak lama, saudagar kaya itupun pamit, perlahan menghilang di balik tembok Hotel.

__ADS_1


Ezra menarik Dilara dalam pelukan, mengeratkan dekapan seraya berbisik mesra. "Thankyou Sayang. Sudah melepaskan beban masa lalu dan memaafkan mereka."


Dila hanya mengangguk samar bersandar pada dada bidang Ezra, hatinya lega. Memaafkan, agar hidupnya ringan karena sebaik pemberi balasan hanyalah Tuhan semesta alam.


Menantu Devana mengurai pelukan, lalu menggenggam jemari Dila. Memakaikan jaket mikiknya untuk istri cantik itu sebelum keluar Hotel menuju pusat kuliner tak jauh dari sana.


Keduanya saling merangkul, merapatkan tubuh seraya bercerita, sesekali terselip candaan receh sepanjang berjalan kaki di pedestrian.


"Za, Ezra ... over here." Sebuah suara pria dari tenda cemilan yang menjual jajanan berbahan dasar ikan.


"Eh Hai. Ku kira masih jauh," balas Ezra, menarik Dila serta.


Kedua pria tampan itu berjabat tangan lalu saling menepuk pundak dan berpelukan sejenak. Nampak di sisi sang pria bule, duduk seorang wanita cantik berkulit putih tersenyum ke arah Dilara yang masih berdiri di samping Ezra.


"Eh iya, kenalin. Michelle," ujar pria bule.


Dila tersenyum atas sapaan tadi. Ezra lalu menarik kursi agar istrinya duduk sebelum mengenalkan pada dua sahabatnya itu.


"Sayang, dia Arthur Julian, yang mendesign semua perhiasan kamu termasuk cincin saat kita beli di Mall ... dia juga berjasa menyelinapkan Katrin ke dalam rumah Asyraf Hamid sebagai penghubung kita," terang Ezra mengenalkan sosok penolongnya.


"Hai, salam kenal Nyonya Dilara. Aku meminta imbalan padanya ... saat itu dia keberatan namun akhirnya luluh juga," balas Arthur.


"Panggil Dila saja ... imbalan apa ya? sudah Abang lunasi belum?" Dila bingung dengan maksud beliau.


"Hmm, wajar sih diumpetin ... polos dan ayu begini, nemu dimana Za? ... Dila, mau aja sama duda sekenan," sindir Arthur di iringi tawa kedua pria, sementara sang wanita anggun hanya tersenyum.


"Dikasih sama Papa, nemu di pesantren. Keren kan?...."


"Rezeki banget Lu ya, Za ... gini Dila, imbalannya itu Ezra bawa kamu ke sini dan ketemu kita ... terlebih Michelle, yang penasaran banget sama kamu, istriku ini kondisinya sama seperti mu, eh maaf ya Dila," jelas sang designer perhiasan itu.


Netra bulat itu mengerjap, beralih pandang pada sosok ayu yang menarik perhatiannya.


"Hai, saya Michelle...." wanita cantik melambaikan tangan pada Dilara seraya tersenyum manis. Menambah kadar ayunya.


"Salam kenal, Dilara."


"Nah, silakan ngobrol deh kalian...." imbuh Ezra, melihat Michelle seakan tak sabar bercengkrama dengan istrinya itu.


Dila membalas senyuman Michelle lalu bangkit dari kursinya, mengajak sahabat baru itu menuju meja lain agar leluasa berbicara berdua.


"Gimana, selesai semua?" tanya Arthur.


.

__ADS_1


.


..._____________________...


__ADS_2