SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 121. TITIK TERANG


__ADS_3

Penyewa homestay masih asik berkutat dengan selimut meski mentari mulai meninggi.


Jika bukan karena Leon mengabarkan kedatangan Katrin, mungkin Ezra tidak akan keluar kamar. Setia menemani batitanya yang masih pulas, begitupun dengan sang istri. Mita mengatakan Dila kembali demam setelah duha tadi dan kini ia masih tertidur.


Kedua pria, menyambut sang penghubung berita ketika di Dubai. Ezra melihat kondisinya kurang baik saat ini sehingga meminta asisten rumah tangga yang disediakan pemilik home stay membawanya ke kamar bagian samping.


Setelah menyantap hidangan seperlunya, kedua pria memutuskan keluar cottage, menuju Pakualaman dengan sebuah mobil sewaan.


Sebelum pergi.


"Mita, tolong sampaikan pada Dila aku pergi, aktifkan ponsel yang biasa kami gunakan. Juga kamu temani Shan di kamar ... Minta Katrin perhatikan asupan makanan bagi dirinya. Hati-hati disini, Ok?" pesan sang kakak sulung beruntun untuknya.


"Siap. Ada tiga pengawal kan disini? dua pria dan satu wanita ... ditambah satpam, pergilah dan hati-hati. Aku akan menjaga semua asset mu itu, Kak," tegas Mita, kagum pada sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Thanks. Kami pergi," ujar Ezra menyusul Leon yang telah lebih dulu berada di dalam mobil.


Menurut asisten rumah tangga di home stay tadi. Mereka harus mengarahkan kendaraan roda empat itu ke arah utara tempat museum Pakualaman berada. Ezra telah menyiapkan selendang juga liontin didalam waist bag yang ia bawa.


Hampir satu jam habis terbuang, karena Leon salah berbelok hingga membuat mereka memutar arah jauh kembali.


Museum Alit Pakualaman.


Kijang innova hitam yang mereka kendarai telah terparkir rapi di halaman luar gedung. Sang tuan muda Qavi pun turun di susul aspri ayahnya dari sana, berjalan menuju kantor sekretariat untuk bertemu dengan juru kunci yang bernama Pak Wardana Hadinata.


"Sugeng rawuh ing Pakualaman ... monggo di persilakan masuk ke kantor," ujar salah satu tour information kala Ezra mengkonfirmasi kedatangannya.


Keduanya lantas mengikuti sang pegawai, memasuki ruangan yang tak begitu luas namun terkesan nyaman dan kental ornamen Jawa.


"Monggo," lelaki paruh baya dengan setelan beskap menyambut mereka.


"Assalamu'alaikum ... saya Ezra, Pak Wardana," putra Emery mengulurkan tangan untuk berjabat.


"Wa'alaikumussaalaam, kulo eh saya Wardana. Monggo keperluannya Mas Ezra ... sepupu saya cuma bilang ada yang mau nanya benda sejarah khas sini, boleh saya lihat?"


"Wah keturunan keraton semua donk ya, yang menjabat posisi abdi dalem...." ujar Ezra seraya mengeluarkan satu benda yang ia bawa, menyodorkan kepada sang juru kunci.


"Nggih, alhamdulillah biar runut sejarahnya gak putus," jawabnya cepat menerima uluran benda dari tangan Ezra.


Kedua netra senja milik Wardana mengamati setiap detail motif selendangnya. Dia lalu bangkit, mengambil sesuatu di rak bagian dalam ruangan dari balik kursinya.


Tak lama kemudian pria itu membawa sebuah buku tebal dari sana.


"Sebentar, saya lupa-lupa ingat. Ini bukan motif milik keluarga kerajaan. Corak ini di miliki untuk hadiah para pejabat pemerintahan yang berjasa saat itu, dikeluarkan hanya satu kali saat mereka menjabat."


"Dan ujung ini, adalah identitas khususnya. Dianugerahkan kurang lebih empat puluh tahun yang lalu. Coba lihat Mas, ini kan dobel ya ... beda sama contoh gambar motif di buku ini," terang Wardana.


Ezra mengamati bagian yang di beri tanda. Dirinya masih tidak dapat mencerna baik informasi yang disampaikan sang juru kunci.


"Motif ini, di bagikan untuk para wedana atau camat atau setingkat lurah. Masing-masing punya ciri khas berbeda ... jika ini dobel gambar, artinya sang penerima memiliki anak kembar atau dua anak perempuan yang usianya berdekatan," ungkap juru kunci itu menafsirkan corak garis yang dia telaaah berdasarkan catatan bukti sejarah yang dimiliki Pakualaman.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ada berapa orang wedana dengan kriteria ini dulu nya Pak?"


"Waduh gak terdata kalau itu. Cuma kalau wedana, hanya ada beberapa yang berprestasi salah satunya daerah karang anyar. Pejabat disana welas asih sama rakyat kecil, sekarang pun keturunannya masih mengikuti jejak sang ayah. Gak heran, kesetaraan di daerah itu merata hingga kini," ujarnya lagi.


"Kalau boleh tahu, siapa namanya Pak? dekat kan dari sini?" tanya Ezra.


"Dekat, satu jam paling ... namanya Danuarta Segoro. Oh iya, beliau juga punya banyak anak perempuan tapi meninggal dan tersisa dua orang. Salah satunya sakit mental, kabar terakhir saat keturunannya sowan ke Ratu," Wardana menjelaskan secara detail semua informasi yang dia dapat. Ada tiga wedana yang harus diselidiki hari ini.


Demi mempersingkat waktu pencarian, Ezra mengeluarkan satu benda lagi.


"Pak, ini tahu gak siapa pemiliknya?" Ezra mendorong kalung dengan liontin berinisial huruf D.


"Loh, ini cuma di punyai oleh orang kepercayaan Ratu di jaman itu. Apakah kedua benda ini berhubungan?" Wardana takjub saat menerima perhiasan kuno itu.


"Entah berhubungan atau tidak, tetapi ini ditemukan dalam satu lokasi ... Bapak tahu siapa orangnya? apa beliau masih hidup?" Ezra tak sabar. Jantungnya bergemuruh menantikan jawaban juru kunci.


Pak Wardana bangkit, kembali mengambil buku besar di rak ruangan dalam sana. Tempat yang sama dengan buku pertama.


Tak lama, beliau kembali dengan membawa satu buah buku panjang yang tak kalah kuno. Jemari keriput itu memilah lembar demi lembar hingga....


"Ketemu...." suara berat itu memecah suasana tegang.


"Siapa Pak?" Ezra kian berdebar.


Degh.


Degh.


Degh.


"Wedana yang istrinya jadi orang kepercayaan Ratu, cuma Danuarta Segoro. Namanya Dewi Arumsari. Rumahnya di karanganyar tadi," Wardana sumringah.


Kelegaan di wajah Ezra dan Leon memancar kala juru kunci tersebut menawarkan alamat tinggal seseorang yang mereka maksud. Dengan imbalan, bertukar informasi untuknya.


Setelah mendapat persetujuan Leon, atas pertimbangan keduanya. Ezra mengutarakan maksud pencariannya ini.


"Oalah, nyari nasab? alhamdulillah kalau cocok dan ketemu nanti. Jangan lupa tes DNA juga," ujar Wardana.


Lelaki senja itu mengatakan bahwa banyak aturan jika ingin mengukuhkan posisi sang anak atau cucu keturunan Danuarta dalam silsilah kerajaan.


"Kalau urusan itu, nanti saya konsultasikan kembali dengan Pak Wardana. Mohon doa agar semua lancar ya Pak," jawab Ezra menerima segala saran dan wejangan beliau.


Setelah banyak mengantongi informasi, kedua pria Qavi pamit dari kantor sekretariat Pakualaman bergegas menuju mobil dan melajukan kendaraan ke arah karanganyar sesuai alamat yang tertera di atas kertas pemberian Wardana.


Satu jam berikutnya.


Leon kagum akan suasana saat mobil mereka memasuki gapura desa. Asri, rapi dan fasilitas umum terkesan terawat.


Dinding pembatas rumah warga dengan jalan raya pun membentang sepanjang mereka melintas.

__ADS_1


"Tuan. Rapi dan seragam, persis yang disampaikan Wardana," ujar Leon.


"Iya. Berarti no ko-rup-si... semua betul untuk rakyat," balas sang putra Emery.


Leon menepikan mobil kala bertemu pertigaan jalan. Dia memilih bertanya pada penduduk sekitar yang melintas, kemana arah kediaaman Danuarta segoro.


"Ke kanan Mas, dua rumah. Yang halamannya luas pakai pagar bambu ... ada jogloan besar dan garasi mobil di sampingnya. Cuma anu, punten ingin ketemu siapa?"


"Pak Danuarta masih hidup?"


"Sampun padem Mas, sudah lama meninggal. Paling ketemu dengan putrinya saja. Monggo, " pria setengah baya, mungkin seumuran Ezra menyilakan mereka melaju kembali.


Akhirnya, perjalanan panjang telah dilalui, kijang innova itu terparkir cantik di bahu jalan tidak memasuki halaman.


Kedatangannya di sambut oleh seorang wanita muda, menanyakan perihal keperluan mereka. Kemudian dia membawa Ezra dan Leon masuk dan menyilakan duduk di joglo.


"Maa sya Allah, adem," ujar Ezra diangguki Leon.


Tak lama kemudian.


"Assalamu'alaikum, selamat datang ... ada keperluan dengan saya, Bapak-bapak? darimana?" suara lembut seorang wanita.


Ezra membeku, tatapan matanya terkunci pada sosok anggun nan ayu yang datang menyapa, ditemani seorang asisten muda di belakangnya.


"Sayang, dia kah ibumu?"


"Tuan." Leon menyenggol lengan Ezra agar bicara.


"Ma--... eh, saya Ezra dan Leon, dari Jakarta. Betul, dan kami ingin meminta waktu untuk berbincang sejenak dengan Anda sekaligus mengkonfirmasi sesuatu," ucap Ezra sedikit kaku.


"Monggo, silakan duduk Pak Ezra dan Pak Leon," dia menyilakan tamunya duduk kembali.


Tanpa basa basi, ayah kandung Shan mengeluarkan dua benda yang dia bawa.


"Apakah ini milik keluarga Anda?"


Degh.


Wanita di hadapannya, nampak terkejut. Wajah ayu tadi seketika pias dengan sorot mata tak percaya, pupil nya terlihat membesar hingga netra itu membola.


Tangan kanan berkulit kuning langsat, berhiaskan gelang emas terjulur gemetar meraih benda yang disodorkan tamunya diatas meja.


"I-ini ... darimana? i-ini, kalian siapa?" nada bicaranya serak nan bergetar menahan tangis. Kedua netra itu kini menatap nanar pada Ezra seakan tengah mencari jawaban dari pemilik manik mata elang itu.


"Ini ditemukan di Surabaya ... o-leh...." kalimat Ezra menggantung saat asisten rumah tangga pemilik rumah tergesa-gesa menghampiri sang majikan dan membisikkan sesuatu.


"Ndoro, maap gawat ... Ndoro D---," bisik sang ART.


.

__ADS_1


.


...___________________...


__ADS_2