SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 87. BUKTI


__ADS_3

"Astaghfirullah ... apa ini? Lex!"


Rolex beranjak dari duduknya menghampiri sang bos, berniat melihat sesuatu di layar laptop milik Nyonya kecil.


Keduanya melihat adegan panas yang terpampang jelas di sana, juga beberapa slide sesudahnya.


"Pantas saja, Dila menggugat ku. Dia dikirimi seseorang ... rekaman yang sesungguhnya tak pernah aku lakukan," geram Ezra, wajahnya merah padam menahan amarah. Pria itu meraih ponselnya, menekan angka panggilan cepat, menghubungi sang sekretaris.


"Sonny, bawa Cheryl kemari. Juga, mintalah cctv saat aku menemani Mr. Smith di resto," pintanya tegas. (bab 74)


Sementara Bosnya memberi banyak tugas pada Sonny. Rolex berkirim pesan, meminta pada lawyer Ezra untuk menghubungi pengadilan agama guna menanyakan prihal gugatan yang di layangkan sang Nyonya kecil. Setelah keduanya selesai dengan gawai masing-masing, mereka fokus kembali ke benda kotak di atas meja.


"Bos, ini kan yang saat di Surabaya itu kan. Dia di usir Eldo? sebelum Anda menikah, darimana foto ini diambil? siapa yang menyiapkan semua ini dan melempar pada Nyonya tepat di saat hatinya sedang goyah?" (bab 11)


"Menurutmu, Lex? aku mengantongi satu nama," duga Ezra kuat. Karena ia mengenal tabiatnya.


"Persis, sama dengan pemikiranku."


Degh.


"Pria itu. Binggo...." Rolex girang, wajahnya secerah mentari karena menemukan sebuah bukti akurat.


"Pria mana? siapa?" sesak Ezra, melihat wajah asprinya yang sumringah bagai mendapat lotre.


Dia lalu menceritakan asal mula kejadian beberapa pekan lalu hingga berujung pada penyelamatan kakak beradik, namun salah satunya tewas.


Brakk.


"Si-alan! apa maunya? selalu begitu. Aku kurang apa padanya!"


Ting. Notifikasi pesan masuk ke handphone Rolex.


"Bos, gugatan Nyonya sudah masuk. Jadwal mediasi dua minggu lagi. Kita punya semua bukti, tinggal menemukan ... anu... maaf Bos, Cheryl saja," ujar Rolex segan saat menyebut nama wanita mantan istri Ezra.


"Dila mengirimkan dua salinan berkas. Satu di tinggal dalam kamar dan sudah aku robek, satunya di antarkan oleh Winda langsung ke PA. Ck, Sayang ... betapa hatimu sakit kala melihat ini semua, ditambah ucapanku, maafkan aku, Dila."


Semakin menyelidiki, maka semua kian jelas. Perpisahannya dengan Dila, di nanti dan rancang seseorang, terlepas khilafnya.


"Bos, silakan."


Rolex meletakkan komputer jinjing miliknya ke hadapan Ezra. Video itu telah berputar, di awali sebuah pernyataan dari seorang pria.


"Dia, sangat mi-rip ... a-ku...." Ezra tercengang melihat kemiripan dengan pria dalam video.

__ADS_1


Pria asing yang Rolex tolong, wajah penuh luka namun akhirnya tewas saat telah membuat pengakuan juga permintaan untuk menemukan adiknya. (bab 73, 77, 78)


"Dalang semua ini, menggunakan seseorang yang wajahnya mirip dengan Anda untuk melakukan adegan pernikahan, kegiatan syur beberapa kali. Dia mengetahui jadwal Anda sehingga mudah menghasut Nyonya agar menduga suaminya kerap membagi waktu dengan wanita lain," imbuh Rolex.


"Juga dia tahu, saat aku baru bercerai dengan Cheryl. Jika semua dihubungkan, wajar Dila menuduhku demikian ... ini sangat nyata, Lex. Dia persis aku, dimana adik pria ini?" tanya Ezra kemudian.


"Aman, Bos. Kita simpan dulu, menunggu informasi dari Sonny."


"Baik, kita susun rencana. Aku akan meminta bantuan ustadz Zaky juga rekan ku di sana. Dila, ... maaf mengulur waktu, tapi kita harus menyelesaikan ini berdua. Kuatlah di sana, Sayang."


Hingga hari mulai senja, Sonny baru bisa menemukan Cheryl di pub sebuah hotel.


Tak bisa menahan terlalu lama, akhirnya Sonny menggunakan cara yang spesial padanya.


"Bawa ke kamar," pinta Sonny pada waiter yang membantu misi kali ini. Terpaksa, karena wanita itu licin bak detergen cair. Sebelum menghilang, baiknya di jerat lebih dulu.


Ezra mendatangi hotel tepat satu jam setelah Sonny mengabarkan bahwa Cheryl dalam pengaruh obat tidur. Kedua pria itu kini menunggunya sadar.


Hampir satu jam wanita gila itu meracau.


"Kau mau mengulang malam panas kita, Sayang?" godanya kala melihat Ezra duduk di sofa single.


"Ck, kamu bahkan tak mengenaliku dengan benar, Cheryl? miris sekali. Katakan padaku, apa yang kau dapatkan untuk melakukan semua ini?"


"Kita telah rujuk bukan?" tanya nya lagi, masih setengah waras.


Aspri pria tampan menunjukkan potongan video pengakuan saksi tewas pada Cheryl.


"Enggak, bukan. Itu kamu, kamu Za....!"


"Kau tak lihat? miliknya dan milikku? juga, ya ampun ... bodoh sekali, apa tubuhku seperti itu?" Ezra mentertawakan kekonyolan ucapannya.


Seketika wanita itu sadar, netranya membola, indera pendengaran pun seakan ditusuk pasak menjadikan pengakuan pria dalam video membuat gendang telinga jebol. Ia seketika merasa jijik dengan dirinya.


"Apa rasanya sama?" cibir Ezra pada mantan istrinya itu.


"F-uckk ... kau menjebakku. Pantas saja waktu aku memanasimu dengan si tua Smith, kau hanya acuh!" teriaknya putus asa, mengacak rambut yang sudah berantakan.


"Siapa menjebak siapa? apa imbalan mu? jaminan hidup foya-foya seumur hidup? atau kepuasan?" cecar putra Emery.


"Kamu, aku ingin kembali padamu!"


"Setelah banyak jejak pria? ngimpi!"

__ADS_1


"Dulu, kau cinta padaku," sanggah Cheryl.


"Dulu, otakku tertinggal. Dimana dia? katakan?" desaknya kesekian kali.


"Kau cari saja, aku tak lagi berurusan dengannya sejak dia membuangku dengan si tua Smith!!" teriak Cheryl.


"Tragis sekali hidupmu," Ezra meninggalkannya, setelah Rolex merekam pernyataan wanita gila, sayangnya adalah sang mantan istri.


Setelah mengantongi sejumlah bukti. Ezra meminta Rolex menyelidiki seseorang yang memberikan berbagai informasi yang sifatnya pribadi.


"Kau awasi nama yang ku berikan padamu, Lex."


"Son. Amankan Cheryl hingga sidang mediasi. Dan siapkan tiket keberangkatan ku menyusul ustadz Zaky besok pagi atau lusa."


Ezra punya setumpuk rencana. Bukan lagi hanya perkara cinta, rujuk, namun dendam yang harus dia putus di masa ini, dengan seseorang dari masa lalu.


...***...


Dubai.


Setelah 8 jam melewati angkasa, tibalah ia di Dubai, UEA. Bayi mungil dalam gendongannya masih terlelap. Sesekali El terjaga, namun tak membuatnya repot. Putranya seakan tahu kemelut hati sang Bunda.


"Assalamu'alaikum, Dilara?" sapa seorang wanita paruh baya menghampiri dirinya yang sedang menunggu jemputan sesuai arahan ustadz Zaky.


"Wa'alaikumussaalaam, betul. Anda?"


"Asyraf Hamid, aku ingin melihat langsung kawan ustadz Zaky sebelum tinggal di asrama. Mari, Dila," ajak sang wanita, menurut pengakuan Rengganis, beliau adalah janda kaya di negeri ini.


Awalnya Dila ragu, berkali ia melihat foto dalam ponsel yang Rengganis kirimkan. Ibu muda ini pun, menanyakan beberapa hal padanya dan jawaban beliau sesuai.


"Jika kamu ragu, silakan kirim pesan atau call Rengganis," wanita dengan penampilan elegan itu menyakinkan Dilara.


Putri almarhumah Ruhama bahkan mengirimkan foto pada Rengganis, saat dirinya akan mengikuti langkah sang nyonya milyarder.


"Betul, Nyonya Asyraf Hamid. Beliau memang meminta izin menjemput mu langsung tadi," balas Rengganis.


Setelah teguh keyakinan, keduanya memasuki mobil mewah menuju lokasi lembaga pendidikan miliknya.


Dila tak tahu, kisah apa yang akan dia hadapi di sini kelak.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


...Mo ngasih manis, tapi yang lain aah... ...


__ADS_2