SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 109. POINT OF


__ADS_3

Pagi ini Ezra menerima sebuah pesan dari adik Kevin, bahwa Shan dirawat di rumah sakit. Sabrina pun mengatakan demikian karena driver Dila mengantarkan mereka dan dia kembali pulang ke kediaman janda kaya itu, seorang diri.


Pria yang tengah duduk di kursi kebesaran dalam ruangan pimpinan EQ building, merasakan firasat bahwa Shan rindu dirinya. Dia pun memutuskan segera membuat sesuatu.


Ezra sangat lembut bertutur kata, menyelipkan banyak doa juga harapan bagi sang Putra. Tak lupa, suntikan semangat bahwa mereka akan segera jumpa.


"Shan, Ayah juga kangen banget sama kamu, hanya saja dia menggenggam Bunda terlalu ketat, bahkan Sabrina kehilangan satu orang akibat berusaha mendekati Bunda agar Ayah leluasa berada didekat kalian."


"Shi-ttt, ku kira dia gak segigih ini menjegal jalanku pada Dila."


"Sabar ya Sayang. Ya Allah, masih satu tahun lagi dan dia makin intens...."


Ezra gelisah. Vega Gianina kunci segalanya. Dia sudah mengantongi identitas wanita itu, jika Vega, dapat di kendalikan olehnya maka melawan Abdeen akan mudah.


Bertanya detail pada ustadz Zaky pun percuma, mereka hanyalah pekerja yang bahkan tak memiliki akses apapun.


Hatinya sakit, melihat Shan yang ceria mendadak kehilangan semangat. Ezra sangat mengerti keinginan istrinya itu, Dilara dibesarkan oleh Nyai dan Ibu, dimana fokus pembelajaran pesantren As-salam bertumpu pada makhrojl huruf. Maka dari itu, ia ingin putranya dapat mengaji dengan benar.


"Tujuan Bunda, baik Shan. Agar kamu jadi Imam yang sholih, muflih, mujahid dan mujtadid untuk keluarga mu kelak. Menjadikan Al-Quran sebagai pedoman juga tuntunan hidup, tak seperti Ayah yang faqir," putra Emery masih menatap sendu pada foto keluarga kecilnya.


...***...


Sharjah, sore hari.


Dilara sedang berbicara di telepon dengan Asyraf Hamid kala Katrin datang mengantarkan makan malam baginya. Gadis itu setia menunggu hingga majikan mudanya selesai.


Dia melihat kondisi Shan, berpura swafoto dengan bocah gemuk yang terbaring lemah di atas ranjang serba putih.


"Katrin, sampaikan pada suamiku. Aku baik saja, Shan akan pulih."


Gadis belia yang tak mengerti maksud Nona mudanya hanya diam mematung dengan mimik wajah bingung.


"Aku, tidak mengerti maksud Anda," jawabnya lugu.


"Hmm, maaf jika salah. Terimakasih banyak bantuanmu selama ini untuk kami," balas Dila cepat.


Katrin tak bicara apapun lagi, dia membungkukkan badannya lalu undur diri keluar kamar.

__ADS_1


Tidak ada Kesih didalam sana, gadis belia satu itu juga sedang izin ke cafetaria untuk membeli cemilan juga menelpon pacarnya.


Dilara, membuka paper bag yang Katrin bawa. Menu makan sehat untuknya, cemilan, buah juga yoghurt kesukaan Shan.


"Eh ini?" tangannya meraih sebuah alat mini tape records lengkap dengan uliran headset dari sudut paper bag. Dia memutarnya perlahan.


"Suara Abang, untuk Shan." Batin Dila, hatinya seketika gerimis mendengarkan semua kalimat indah suaminya untuk sang putra.


Ibu muda itu segera memasangkan headset ke mini records, menempelkan di salah satu telinga anaknya yang masih tertidur karena pengaruh obat. "Shan, ini Ayah. Dengerin ya, Sayang."


"Shan sayang. Ini Ayah. Kita baru bisa bersua lewat udara ya. Gak apa kan?"


"Saat Shan lahir ke dunia ini, Ayah tahu bahwa kita akan punya cerita seperti bajak laut, berpetualang like luvi, kartun yang suka Shan tonton dengan Bunda."


"Bunda pernah menjelaskan Shan arti surat al fatihah. Isinya tentang kasih sayang Allah juga keyakinan padaNya bukan? ... Ayah meminta hanya pada Allah, agar diberikan putra yang lucu dan cerdas juga tampan, dan Ayah mendapatkan kamu, karena kasih sayangNya."


"Jika Kupu-kupu punya sayap, sehingga bisa terbang. Ikan punya sirip dan dapat berenang. Kelinci punya empat kaki agar mereka bisa berlari. Ayah punya hati yang besar, untuk mencintaimu."


"Shan akan selalu menjadi bintang di hati dan memenuhi hidup Ayah dengan cinta. Senyum kamu membuat hari Ayah penuh semangat, Daddy love you more than you love your favorite chocolate cake. My Son, Shan and Sun."


"Daddy love you, Shan. Sekecil apapun kebaikan yang kamu lakukan, semuanya hebat di mata Ayah. Lekas sehat jagoan, bantu Ayah jaga Bunda saat kita belum bersama lagi, Ok Boy?."


Dengan telaten, Dilara mengamati dan menjaga putranya. Alam bawah sadar Shan, pasti mendengar apa yang ayahnya ucapkan.


Keesokan pagi.


Batita yang kemarin terbaring lemah, kini terlihat lebih segar, pipinya sudah bersemu merona.


"Morning, shobahal kheir," sapa Bunda kala melihat kedua netra bocah lucu itu terbuka.


"Mommy," gumam Shan masih enggan membuka penuh kelopak matanya.


"Masih sakit, Nak? mana yang nyeri, bilang sama Bunda," ucap Dilara menghampiri, memeluk putranya itu seraya membisikkan sesuatu.


Anak polos itu menggeleng pelan atas pertanyaan Bundanya. "Ayah?" bisik Shan ditelinga Dila.


Wanita muda itu mengangguk, lalu ia meraih headset semalam dan kembali memasangnya lagi di telinga Shan. Mumpung Kesih belum tiba dan pintu kamar mereka terkunci.

__ADS_1


Shan kecil mendengarkan suara Ezra. Respon tak terduga di dapat Dilara pagi itu, membuat hatinya trenyuh.


"Daddy gak marah sama Shan? Ayah miss me too, Mommy. Daddy gak malu sama Shan, Ayah love me too," ucapnya beruntun, menangis meminta Dilara memeluknya.


"Anakmu, rindu ayahnya ternyata. Maafin Bunda ya Shan. Janji, bentar lagi ketemu Ayah," ucap Dila dalam hati menenangkan sang putra kesayangan.


Perasaannya amat peka. Wajar, bocah lugu menjadi bingung karena kehadiran Al Zayn, sementara sang Bunda bersikukuh menolak pria itu dan menjejali Shan dengan sosok Ezra yang tak dikenalnya secara nyata.


...***...


Sanjaya Grup. Indonesia.


Hari ini pucuk pimpinan Sanjaya grup dilanda gelisah. Orang suruhannya menemukan kemana wanita yang dia cari selama ini.


"Sharjah? Asyraf hamid. Baik, siapkan segalanya dan atur pertemuan ku dengan wanita itu," ujarnya meminta sesuatu pada sang asisten.


"Pantas saja, kamu mengganti identitas hingga aku kesulitan mencari. Puluhan tahun, maka harus ku pastikan sendiri."


"Anastasya, entah bagaimana keputusanku nanti bilamana kenyataan berubah lain. Kamu putriku satu-satunya namun aku juga tak dapat menampik bahwa jika dia memang masih hidup, akan ia pun mewarisi separuh asset yang ku miliki ... wanita hamil dalam pesta prince Abdeen beberapa bulan lalu selalu menghantui benakku."


"Wajahnya, kenapa begitu mirip?"


"Asyraf Hamid. Janda kaya penguasa yang diktator. Berhubungan baik dengan King Abdul Abdeen Manaf, apakah kalian partner sejak masa silam?"


"Rumit. Namun urusanku hanya dengan kamu, Vega."


Akbar Sanjaya bermonolog seraya memegangi dagunya yang dia topang dengan lengan di atas meja.


Netra tuanya masih memandang dua foto wanita beda jaman, serupa tapi tak sama. Dalam hati, sang pemilik kerajaan real estate di beberapa kota besar, berkata.


.


.


..._______________________...


...Asyraf hamid vs Ezra vs akbar vs Al Zayn. ...

__ADS_1


__ADS_2