SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 65. SEDIKIT LAGI, LULUH


__ADS_3

"Ck, susah amat pengen minta dia pindah tidur disini...."


Sesaat, adzan maghrib merata memenuhi ruang angkasa, Ezra pun turun ke lantai dasar bersiap untuk sholat berjamaah. Dila dan Bibi sudah menunggunya di sana.


"Saktah, tuma'ninah, perlahan. Baca surah al kafirun juga al ikhlas saja mencontoh Rosulullah, karena waktu maghrib hanya satu jam, hingga mega merah terbenam." Dila menyodorkan sebuah catatan saat suaminya akan mengambil posisi di depan mereka.


"Iya Sayang," ucap Ezra seraya menggelar sajadah.


"Bibi kebagian pahala dua puluh tujuh derajat," bisik Bi Inah pada Dila. Wanita hamil itu hanya tersenyum sembari mengucapkan isyarat aamiin.


Sudah lewat dari tiga puluh menit, ketiganya belum beranjak dari sana. Terbawa oleh kebiasaan Dila, dzikir hingga menjelang isya dan baru akan turun dari mimbar setelah sholat nanti.


Jam alarm waktu sholat di kediaman Ezra berbunyi, seiring adzan yang menggema dari pengeras suara di luar sana. Empat roka'at, bersiap mereka tunaikan.


Pukul tujuh lewat sepuluh menit, Dilara merapikan perlengkapan sholatnya. Saat itulah Bi Inah bertanya tentang keutamaan dzikir di antara waktu tadi, juga mengapa surat yang dibaca adalah keduanya.


"Rosulullah membaca itu, dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar, dalam riwayat an nasa'i," ujar Dila bangkit perlahan.


"Tanya yang banyak, Bi. Mumpung gratis," ujar Ezra mengelus punggung Dila, saat mendengar interaksi keduanya.


"Iya Den, ilmu gratis," balas Bibi siap mendengarkan penjelasan Nyonya muda.


"Para ulama terdahulu, apabila sore menjelang Maghrib mereka berzikir dan menyiapkan diri untuk beribadah hingga waktu Isya, menjauhkan diri dari hal keduniawian," pungkas menantu Emery berlalu dari ruang keluarga menuju dapur untuk menyiapkan menu hidangan.


Masih mengenakan sarung dan koko, Ezra mengajak wanita muda itu makan malam tetapi Dilara hanya diam menemani sang suami bersantap, dia bahkan membiarkan satu buah apel yang Bibi kupas untuknya.


Karena sesungguhnya ibu hamil itu ingin makan tekwan di warung ujung blok kediaman mereka namun hari sudah malam. Ingin meminta Mba Winda tapi rasa hati tak tega.


Dilara akhirnya memilih pamit masuk ke kamar ketika Ezra telah selesai.


Saat merenungi bagaimana caranya untuk mendapatkan makanan yang ia mau, tetiba pintu kamarnya di ketuk.


Tok. Tok.


"Dila, boleh buka bentar gak?" suara Ezra memanggil dari balik pintu.


Sebagai istri yang mencoba bersikap baik, dia pun membukanya.


"Ya?"


"Keluar yuk, kamu belum makan? pengen beli sesuatu gak?" tanya pria yang menyandarkan bahu di kusen pintu.


"Hmmm, jajan bo-l-eh?"

__ADS_1


Pria itu hanya mengangguk, mencoba meraba keinginan ibu hamil di depannya. Karena seharian dekat dengan Dilara, dia hampir tak pernah mendengar wanita itu meminta sesuatu padanya.


"Sekalian belanja, stock cemilan kamu kata Bibi udah hampir habis. Besok kita pulang, aku gak mau saat kembali nanti ketika tengah malam kamu kelaparan," tuturnya panjang.


"Aku tunggu di depan, pakai jaketnya." Pria yang mengenakan celana pendek dengan kaos oblong berwarna hitam itu berlalu dari hadapannya.


Nyonya muda nampaknya perlahan luruh, senyum terulas jelas di wajah oval nan ayu. Dilara mengganti kerudungnya lalu meraih jaket yang dia sampirkan di belakang pintu.


"Adek, Ayah tau apa yang kita mau. Makan yang banyak yuk nanti," ucapnya seraya mengusap perut yang semakin membulat.


Saat Dila menuju ruang tamu, Ezra sudah melihatnya, punggung tegap nan lebar itu dia sandarkan pada pintu dengan tangan bersedekap didepan dada menghadap ke arah datangnya Dilara.


"Jelas banget ya kalau begini...."


"Apa?" tanya Dila hendak memakai jaket ketika akan mencapai pintu.


"Kamu, cantik."


Lelaki idola kaum hawa di kantornya kini semakin tanggap. Ia membantu nyonya kecil mengenakan jaket, lalu menggamit jemarinya keluar hunian mereka.


"Kemana?" Dilara menoleh kesamping, melihat pria tinggi menjulang.


"Maunya kemana?" Ezra menekan tombol pada panel lift yang akan membawa mereka turun.


"Leggo ... hati-hati." Jika bahunya tidak di tarik dan langsung Ezra dekap, Dila sudah tersenggol wanita tadi.


"Hampir saja. Kau ada yang sakit?" tanya Ezra lagi masih dengan jemarinya yang menahan pintu lift agar tak menutup.


"Enggak, hmm, l-epas, pe-r-utku...."


"Eh, maaf. Lupa kalau jalan sama ibu hamil," seloroh pria rupawan sembari melonggarkan sedikit pelukannya dan membawa wanita yang enggan dia lepas masuk ke dalam lift.


"Adek," cicit Dila lagi.


"Sebentar, mumpung masih bisa begini dari depan," Ezra masih saja memeluk.


Hening. Hanya terdengar suara samar gerakan kotak besi yang perlahan bergerak turun.


Dilara kesulitan bernafas, menepuk bahu Ezra serta mendorong pelan.


"Dia bergerak ... begini ya rasanya ... Ayah belum berani megang kamu, takut Bunda marah. Pelan-pelan dimulai seperti ini, boleh kan?" ucap Ezra dalam hati.


Dia menikmati, merasakan gerakan halus yang berasal dari kandungan istrinya, hingga pintu berwarna silver nan kilap itu terbuka.

__ADS_1


Satu jam kemudian.


Setelah keinginan istrinya terpenuhi, Ezra mengajak Dila ke mini market di bawah hunian mereka.


"Ambil yang kamu mau, Dila."


Moment manis baginya, seharian ini dia puas mengajak wanita yang mulai menetap di hatinya itu menempel.


"Lama-lama kelihatan seksinya, hamil tapi gak begitu kentara. Apa karena Dila tinggi ya? juga ramping ... tapi ah, dia aslinya kan...." kepingan ingatan malam itu melintas, mencetak sebaris senyum manis diwajahnya. Sementara si objek fantasi, asik memilih berbagai buah juga cemilan yang belum pernah dia rasa.


"Berisi, dan aku yang pertama baginya, ish Za, dobel jackpot," gumam Ezra mengekori kemana Dilara pergi sembari mendorong troley.


"Sudah semua?"


Kakak ipar Ermita mengangguki pelan pertanyaan sang suami yang kini menuju kasir. Dirinya meminta agar semua yang mereka beli, diantar ke hunian lantai sepuluh.


...***...


Bi Inah membuka pintu apart saat seseorang mengetuk pintu. Ia melihat dari layar interkom yang terpasang di dinding dapur, dua orang pegawai mini market dari lantai dasar akan menyerahkan belanjaan sang majikan.


Wanita paruh baya itu membiarkan tuan mudanya membujuk Dilara agar naik ke lantai dua, ke kamar utama.


"Tidur di atas ya, biar besok gak kesiangan," minta Ezra pada Dila di ujung pintu kamar belakang.


"Imba-l-an ya? tahu gitu, aku gak mau diajak ke-l-ua-r tadi," sesal Dila tak berguna.


Ezra tertawa menanggapi keluhannya itu.


"Bukan."


"Ya sudah. Se-l-amat ma-l-am, janji besok bangun pagi tanpa Abang gedo-r." Dila mulai menutup pintunya pelan.


Tak juga luluh, Ezra menahan agar pintu itu tak segera tertutup. Dia lalu mendorong agar celah terbuka lebar dan kembali menarik Dila dalam pelukannya. Menghidu wangi apel yang semakin hari kian membuat ia kecanduan.


"Selamat malam, Sayang."


.


.


...____________________...


...Dikit lagi Za, konsisten merayu... banyak othor yang bilang sama mommy, gak usah pedulikan komen... but, buat mommy komen kalian itu ternyata sangat membooster mood... 🤗...

__ADS_1


__ADS_2