
Romansa pasangan El Qavi berlanjut hingga dua bulan berikutnya. Keseharian berubah 360 derajat untuk keduanya, membuat siapapun iri akan perlakuan manis sang mantan duda pada istri abege milik architect tampan tuan muda Ezra.
"Honey, setelah dari dokter, aku ada urusan penting. Menemui klien, kamu gak apa kan jika pulang hanya di antar Rolex ... Bibi akan menyusul agar kau tidak berdua dengan bujang lapuk itu," tanya Ezra saat Dilara memakaikan dasi untuknya.
"Hem, Ok." Hanya menanggapi sekenanya.
"Gak enak banget, masih pagi Sayang. Kamu kenapa sih daritadi gak genah di pandang," protes Ezra, pagi ini melihat sikap yang tak biasa dari istrinya.
"Entah, hatiku cemas. Abang, hmmmm," ucap Dila ragu. Ia urung menyampaikan gelisah hati.
"Bilang sama aku, kenapa?"
Seperti biasanya yang di tanya hanya diam. Mengunci rapat mulutnya.
C-up.
"Enggak ada klien wanita, semuanya pria, Sayang. Jika itu yang kamu risaukan," bisik Ezra setelah mengecup bibir yang semakin seksi.
Dilara tersenyum, merasa tak perlu repot mengutarakan kegundahannya.
"Kebiasaan, curigaan mulu. Apa kurangnya aku kepada dirimu...." Ezra mengutip satu lirik lagu.
"Mu-l-ai, masih pagi sudah e-ro-r." Dilara meninggalkan suaminya, keluar kamar dengan langkah perlahan saat akan menuruni tangga.
"Hati-hati ... besok pindah ke kamar tamu ya, biar aku gak khawatir kamu naik turun tangga," suami siaga mengejar pujaan hati calon Ibu anaknya saat akan mencapai tangga.
"Iya, ikut kata Abang."
"Kalau manis gini, bikin gak ingin pergi," rayu putra Emery.
"Modus."
"Dila, alat pendengar yang kanan, mau ganti gak? pakai seperti yang kiri, di dalam jadi gak kelihatan?"
"Pake hijab kan gak nampak." Dila fokus pada setiap anak tangga yang ia pijak. Pandangan ke bawah mulai terganggu akibat perut yang kian buncit.
"Bener juga."
Pasangan muda melanjutkan kegiatan mereka di pagi hari, bersiap menuju rumah sakit.
*
Rumah sakit.
Putri Ruhama menggenggam ponselnya saat ini. Semalam saat dia sedang mandi. Ezra terlihat memegang gawai miliknya namun terburu di letakkan kembali setelah mendengar suara langkah kaki Dila. Terlambat, gadis abege sudah melihat apa yang dia lakukan.
Saat ini, Dila sudah berada di ruang tunggu depan poly Obgyn bersama hot daddy disampingnya. Dia membuka laman berita online.
"Jangan di baca, itu mempengaruhi mood," ucap Ezra kala jemari berhiaskan cincin berlian itu mengetuk sebuah situs berita.
"Poligami, selingkuh juga bercerai ... semua berita yang sedang marak, mungkin ada pengajarannya. Tapi gak oke buat kamu baca saat ini, Sayang," Ezra mengulangi kalimat perintah untuk Dilara.
__ADS_1
Wanita hamil hanya diam, tak menggubris protes suaminya.
"Cuma baca aja," jawabnya acuh.
"Dila, tadi aja udah curigaan mulu. Sini ah, aku gak mau benakmu itu terisi pikiran-pikiran negatif. Cukup isinya aku, aku dan aku didalam sini," tuan muda mengambil gawai dari tangan Dilara, mengecupi pucuk kepala abege yang kadang makin labil kala memasuki usia kandungan 9 bulan.
"Ba-l-ikin." Tatap Dila marah.
"Tapi gak baca artikel gituan, Sayang. Aku milikmu," bujuknya lagi, mengusap perut buncit yang menjadi kebanggaannya. Memeluk erat istri gemoy hingga banyak tatapan mata melihat ke arah mereka.
"Ck, gak nyambung. Sema-l-am hapeku kenapa dipegang?"
"Send nomer kontak kamu, minta baik-baik gak dikasih, padahal sudah sekian lama. Tidak ada kisah, suami gak tahu nomer ponsel istrinya, mungkin cuma aku doank," kesal Ezra, sejak menyatakan cinta, Dilara masih saja merahasiakan nomer ponsel darinya.
"Kan sengaja," Dilara hanya tersenyum manis. Saat keduanya asik sendiri, diantara belasan pasangan lain. Seorang wanita menegur mereka.
"Maaf Bu, sudah mau lahir ya? babynya ketahuan jenis kelamin gak?" tanya pasien lain pada Dila.
"Iya a-l-hamdu-li-ll-ah, semoga sesuai dengan prediksi, aku ingin l-aki-l-aki," jawab Dilara padanya.
"Kenapa Sayang? aku pengen perempuan biar kayak kamu, pinter ngaji," pinta Ezra.
"Supaya bisa jagain aku ka-l-au Abang gak ada, justru jika l-aki-l-aki aku akan mendidiknya menjadi hafiz," jawab Dila lugas.
"Allahumma aamiin, in sya Allah aku akan menjaga kalian selalu Sayang, meski jika harus berjauhan," Ezra bergumam meskipun ia pun aneh dengan ucapan kalimatnya sendiri.
"Alhamdulillah ya, saya juga pengen laki-laki ... ada resep rahasia gak Bu. Bacaan apa gitu? soalnya baru mau program sih ini, konsul dokter dulu," ujarnya penuh harap.
"Boleh Sayang, share." Ezra sedikit demi sedikit paham gestur Dilara meski ia tak membuka suara.
Dila kemudian mengeluarkan catatan juga pulpen dari tasnya. Menulis panjang di sana.
"Allahumma inni usammi ma fi bathniha Muhammadan faj’alhu li dzakaran fainnahu yuladu dzakaran insya Allahu ta’ala ... amalkan do'anya ... jika menurut kitab qurratul uyun, posisi wanita setelah HB adalah memiringkan badan ke kanan, melakukan HB saat masa subur dengan penetrasi dalam ... nanti tanyakan secara medis juga ya Bu."
"Lalu setelah positif hamil bisa membaca doa ... Wallahu ahrajakum mim buthuni ummahatikum taratan ukhra."
"Serta jangan lupa mendoakan agar anak kita sholeh sholihah ... robbi habli minassholihiin ... di sambung dengan Allâhumma barik lana fi auladina wa dzurriyyatina wahfadhhum wa la tadlurrahum warzuqna birrahum."
"Bagi sang ayah, dianjurkan membaca al fatihah, al insyirah sambil mengusap perut Ibu seusai sholat, tentu dengan membaca doa memohon segala kebaikan. Allahummaj'al maa fii bathnii waladan sholehan aaliman naafiaan kaamilan muthiiian ismuhu muhammad bijaahii toha rosul atmim lan kulla suul."
(Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib)
"Jika amalan khusus yang aku jaga, dzikir, sholawat juga beberapa surat khusus saat memasuki usia kandungan tertentu."
Ezra tersenyum melihat deretan kalimat yang Dilara tuliskan. Ia jadi mengingat malam pertama mereka meski dengan keadaan yang tak semestinya.
"Ini Bu, semoga manfaat ya," ucap Dila menyerahkan tulisan panjangnya pada wanita asing yang bertanya tadi.
"Pinter ya, makanya jadi," bisik Ezra disela obrolan kedua wanita.
Beberapa menit sudah berlalu.
__ADS_1
Rolex sudah berada di basement rumah sakit dengan Bi Inah di dalam mobil yang akan membawa nyonya muda kembali ke rumah.
"Langsung istirahat ya, gak usah ngerjain apapun dulu, Ok?" pesan sang suami tampan saat akan menutup pintu mobil.
"Tenang Den, ada Bibi," sahut Bi Inah sementara Dilara hanya diam dan mengangguki semua pesan Ezra yang bagai kereta.
Setelah memastikan mobil istrinya melaju. Pimpinan El Qavi kemudian pergi dengan sekretaris pribadinya, menuju pertemuan dengan klien di sebuah resto mewah.
"Son, masih keburu gak? Mr. Smith belum check-out kan?"
"Masih Bos, iya belum," jawab Sonny seraya menginjak pedal gas meninggalkan basement rumah sakit.
...***...
Baru saja terbebas dari kemacetan, mobil yang Dilara kendarai harus tergelincir hampir membentur marka jalan kala mereka mengambil jalur alternatif.
"Lex!" teriak Bibi.
"Innalillahi, Tuan Rolex, hati-hati," tegur Dila memegangi perutnya agar tak beradu dengan kursi didepannya.
"Maaf Nona, aku menghindari dia."
"Siapa Lex, kasihan, coba lihat," ujar Bibi cemas.
"Kalian disini, gunakan ini jika ada yang masuk ke mobil," Rolex memberikan sesuatu.
Lelaki perlente itu turun, menghampiri seorang pria yang tergolek disana penuh luka serius.
Degh.
"Celaka, mirip sekali."
Lama dia menimbang, akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi korban seraya melihat sekitar.
"Maaf Nona, jika Anda mual, aku akan panggilkan taksi baginya setelah keluar dari jalur ini," ucap Rolex saat memapah lelaki asing masuk ke dalam mobil.
Dila dan Bibi hanya diam saling pandang tak paham apa yang akan dilakukan sang aspri.
Pria penuh analisis, Rolexander melajukan kembali mobil mereka.
"Son, siapkan dua orang ke titik poin yang aku berikan. Segera dan rahasiakan!" titah Rolex pada Sonny.
"Kenapa ini?"
.
.
...___________________________...
...Robiul awal, full Maa sya Allah 🥺...
__ADS_1