SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 141. HONEYMOON


__ADS_3

Sudah hampir satu pekan, mereka berdua berada di negeri jiran, Malaysia. Ezra mengenalkan Dilara ke banyak sahabat yang menetap disana, termasuk sang sepupu, Sabrina.


Pagi ini Dila masih enggan turun dari ranjang hotel tempat mereka menginap. Bahkan saat sesi sarapan pun ia meminta jatah breakfast nya agar di antar ke kamar oleh room service.


Meski dibujuk dengan segala cara, Ezra akhirnya menyerah. Dia turun ke restauran seorang diri untuk sarapan tanpa kehadiran Dila.


"Badanku sakit semua, Abang keterlaluan," keluh Bunda Shan dari balik selimut.


Terdengar pintu kamar terbuka, Biip.


Disusul bunyi sesuatu yang diletakkan di atas meja sofa kamar mereka.


"Sayang, makan dulu yuk," panggil Ezra namun Dila tak bergeming, masih bergelung, meringkuk di atas tempat tidur.


Tak habis akal, dia menghampiri ranjang lalu mengangkat tubuh sintal yang semakin berisi agar bangun dari tidurnya.


"Lepas, turunkan aku. Ngantuk ... gak mau," Dila berontak dalam gendongan Ezra namun tak di gubris pria itu.


"Jangan pura-pura tidur makanya, sarapan dulu biar ada tenaga Honey, lalu ke spa. Aku gak bakal ganggu kamu kok," bisiknya di telinga Dila saat dia duduk di sofa.


"Modus. Tempo hari juga gitu, gak gangguin lalu di ajak nyalon, spa ... malamnya? babak belur lagi, ya sama aja," cebik Dilara, menelusupkan kepala kembali menggunakan selimut meski masih dalam dekapan Ezra.


Ayah Shan tertawa lepas.


"Kan aku minta si terapisnya agar gak pakai wewangian saat kamu di sana, Sayang. Tapi kamunya gitu, balik kamar malah semerbak. Siapa suruh naikin mood, juga ini nih ... makin berisi kayaknya ya," Ezra menyentuh salah satu asset kembar milik Dila. Dia merasakan perubahan signifikan, bahkan sangat pas dengan genggamannya kini di banding sebelumnya.


Bunda Shan, meremang. Sudah tahu akan berujung kemana bila diteruskan.


"Lepas, lepasin gak. Aku ngambek nih, pulang sendiri," ancam Dila, mata bulatnya terbuka, melotot tanda ia marah.


Seperti biasa, Ezra tidak menanggapi amukan istri abaegenya itu. Bagai angin lalu, justru menyenangkan melihat Dila marah padanya. Wanita keturunan ningrat, nyatanya tidak pernah bisa meluapkan kemarahan jika untuk hal sepele.


"Udah ah, lekas sarapan dulu. Aku mau mandi, Sabrina menunggu kita di bawah satu jam lagi, Dila. Membahas kejahatan Zayn di negara itu ... dia adikku tapi mau gimana lagi ya, kematian Kevin gak bisa di abaikan, juga praktek obat racikan ilegal. Oh ya, Velma selamat dari maut meski kini dia masih di rawat intensif."


Ezra mendudukkan Bunda Shan ke sofa masih dengan balutan selimutnya. Kemudian dia berlalu menuju bathroom. Banyak urusan yang harus dikerjakan hari ini dengan Sabrina. Sampel serum dari minuman Anastasya terhadap Ibu juga saat di Jogja, akan Sabrina selidiki di laboratorium markas besar Dubai.

__ADS_1


Menantu Emery melepas selimutnya, setelah memastikan sang suami pergi. Dila menikmati sarapan dengan tenang. Tak lama, terdengar bunyi suara air dari shower cabin dalam bathroom.


"Zayn, semoga hukuman untukmu setimpal. Disini, kejahatanmu atas kematian Kevin dan Cheryl karena Velma berhubungan dengan mu ... trafficking, sebab Katrin dijual ke club juga mengintai Dila, membuat keributan di Mansion."


Semua pemikiran itu berkutat dalam otak. Guyuran air shower nan dingin nyatanya tidak dapat memudarkan segala apa yang telah adiknya perbuat.


"Satu Ibu, beda ayah. Sungguh rumit, Mama ku memang sangat cantik, wajar bila Papa jatuh hati lagi setelah di sakiti apalagi masih menyimpan cinta yang sama. Ckckck, nasibku gini amat ya," gumamnya lagi masih didalam kamar mandi.


🎶🎶


"Seandainya, kamu merasakan jadi aku ... sebentar saja. Takkan sanggup hatimu terima ... sakit ini, begitu parah."


"Pergi jauh, titipkan perih ... tak sedikitpun peduli."


🎶🎶


Ezra menirukan penggalan bait milik Judika. Matanya memejam, menikmati tetesan air agar menyamarkan sakit dalam hati juga lelehan air matanya.


Deras suara gemericik air jatuh menulikan bunyi samar yang timbul dari dorongan pintu bathroom, hingga Ezra tak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke dalam shower cabin.


Dila memeluk tubuh polos suaminya dari belakan.


"Bagi denganku, perih yang Abang punya." Ia menyandarkan kepala di luasnya punggung tegap dengan bekas luka sayatan di belikat kiri.


"Baby."


Jemari lentik Nyonya muda Qavi mengikuti panjang goresan luka sisa jahitan operasi disana. Ingatan pun kembali saat melihat ini pertama kali, kala Ezra tidur tengkurap tanpa busana. Akhirnya Dilara tahu cerita dibalik semua berkat Leon.


"Luka Tuan Muda karena menyelamatkan Ibunya dari amukan Abdul Manaf kala mereka berselisih paham saat Nyonya Fransiska diminta kembali. Itulah mengapa, Tuan muda masih menyayangi sang Mama meski dia tersakiti. Karena kembali pada Abdul Manaf adalah jua petaka bagi Nyonya ... alasan bahwa beliau sering menyebut Nama Ezra, karena menyesal telah membuang anak lelaki yang justru sangat menyayangi meski dirinya menyakiti."


"Itulah sebab mengapa beliau tidak mengklarifikasi detail tentang hal ini saat di Jogja, Zayn menyebutkan ibunya kerap memanggil nama Tuan Muda. Alasannya? karena suami Anda tidak ingin, Zayn membenci orang tuanya."


Leon bercerita panjang tentang kisah pilu milik sang suami. Ezra tidak akan membuka sesuatu hal bilamana sakit yang dia rasakan belum juga surut.


"Baby, jangan."

__ADS_1


Akhirnya Dilara mengerti, semua sikap dingin, angkuh, kasar juga ketidakpekaan ini muncul karena luka masa lalu.


"Ini juga perihku. Lukaku, tapi akan berganti dengan bahagia."


Putri Devana mengusap bekas luka yang teraliri air, mengecupnya lama di sana.


Terdengar isakan halus yang Ezra tahan. Bunda Shan hanya memeluk erat, menciumi punggung terbuka sang suami perkasanya.


Sesi mandi bersama membuat lelaki muda Qavi itu lebih lega. Perlahan beban hati yang ia miliki terlepas berkat wanita ayu.


Dila mengusap lembut kepala suaminya dengan handuk kecil usai mandi tadi. Berkali membubuhi kecupan kecil disana. Bukan hanya dirinya yang ingin di sayang, namun sang suami juga butuh booster terutama dari belahan jiwa.


Ezra menikmati semua perlakuan manis Dilara padanya. Moment indah kini menjadi milik mereka setelah bertahun terpisah.


"Dah kering, sini bajunya. My big baby, mau kencan sekaligus kerja." Seloroh Dila, berusaha menghibur lelaki yang berubah pendiam.


"Makin cinta sama kamu, Sayang."


Daripada banyak kata, kali ini Dila mengambil inisiatif.


C-up.


"Love you too Ayah Shan, much more than before, happy ever after. Janji ya, gak ada lagi luka, Abang harus bagi sama aku."


Dila lalu duduk dipangkuan, mengalungkan lengan pada leher sang suami.


Ezra mengangguk, membelai pipi glowing didepan wajahnya. Menelisik dalam iris mata coklat tua. Entah rasa apa menyergap, hatinya menghangat diliputi cinta nan begitu besar dari istri yang pernah ia siakan.


"Alhamdulillah, Dilara istriku."


C-up.


Kembali menautkan bagian kenyal dari bibir sensual keduanya, menikmati rasa satu sama lain, tanpa nafsu hanya ungkapan betapa bersyukur mereka kini.


.

__ADS_1


.


...______________________...


__ADS_2