
Pagi hari setelah keributan semalam.
Asyraf Hamid mengatakan pada nona muda di hadapan nya bahwa akan terbang ke England untuk melakukan penjualan asset di sana selama satu pekan. Juga kerjasama bisnis dengan beberapa perusahaan termasuk dengan Al Zayn telah memasuki masa pengakhiran kesepakatan bisnis.
Wanita janda kaya itu berpesan pada Dila agar menjaga dirinya selama di Sharjah. Juga menjalankan tanggung jawab sebagai team leader tentang pengembangan skill AVT bagi para trainer untuk terus dilakukan.
"Aku pergi ya Dila, kamu boleh libur saat weekend seperti biasanya," ujar sang Nyonya saat akan meninggalkan teras depan rumah seraya berpamitan dengan Shan.
"Bye Shan, Oma kerja dulu. Nanti dibawain oleh-oleh dari sana ya," Vega Gianina mencium gemas pemilik pipi chubby.
"Bye Oma, dadah."
Mobil mewah milik sang saudagar pun perlahan meninggalkan pelataran hingga menghilang di balik pagar besi yang menjulang di depan sana.
"Weekend, lusa. Aku harus mempersiapkan semuanya," lirih Dilara melangkah menuruni anak tangga menuju mobil yang akan membawa mereka ke sekolah para anak berkebutuhan khusus.
"Shan, hari ini test ya Sayang. Kan bentar lagi dua tahun. Masih mau belajar sama syech kan?" tanya Dila saat batita nya berusaha muroja'ah surat al kafirun, tepat setelah mobil melaju meninggalkan kediaman Asyraf Hamid.
"He em. Mau pintar, Bunda."
"Eh, sudah bisa panggil Bunda?" binar mata Dilara terpancar menoleh ke arah Shan yang duduk disampingnya.
Bocah berbadan tambun itu membalas tatapan berbinar sang Bunda. "Sudah, tapi Shan susah," cicitnya pelan.
"Susah itu maksudnya belum terbiasa ya?" tanya Dilara diangguki cepat oleh putranya.
"Its Ok. Itu sudah buat Bunda happy, syukron ya Nak." Ibu muda mengusap kepala anaknya sayang.
Shan kembali melanjutkan bacaannya, sementara sang Ibu mendengarkan seksama.
"Baby, perhatikan ayat satu dan dua ... banyak bacaan mad, mad jaiz, arid lisukun juga mad asli ... kaafirun, kaf nya mad thobii karena bertemu fathah, panjang 2 harokat."
Shan mengulangi ayat pertama hingga Dilara mengangguk, tanda dirinya betul mengaji.
"La a'budu maa ta’buduun."
"Pinter, go on," lanjut sang Mama.
"Wa la antum 'abiduna ma a'bud...."
"Ikfa Shan, angtum, nun sukun nya di baca samar, lalu Shan dengungkan 3 harokat ... ingat ada idzhar syafawi, mim sukun bertemu 'ain dibaca jelas. Ain nya mad thobii ya karena ada?"
"Ada alif di baca panjang dua harokat," jawab Shan percaya diri.
"Cerdasnya anak Ayah. Lanjut ya Sayang, yang akhir hukumnya apa?"
"Qolqolah Bunda, dipantulkan tidak?" tanya Shan bingung.
__ADS_1
"Qolqolah kubro, dal nya di akhir, wajib dipantulkan karena Shan waqofkan. A'budd. Paham?"
Cucu Emery mengangguk semangat. Dia lalu melanjutkan kembali.
" Wa la ana 'abidum ma 'abadtum."
"Baby, yang akhir itu harusnya dibaca bagaimana?"
"Idgham mu--," jawab Shan ragu.
"Pinter, jangan ragu. Idgham mutajanisain. Dal sukun bertemu dengan ta'. Huruf dal nya dimasukkan ke huruf ta', sehingga ta' seolah-olah berharokat tasydid. Abattum, bukan abadtum, dal nya menjadi samar, Shan. Paham perbedaannya?"
Lagi-lagi putra sulung Ezra mengangguk. Dila meminta Shan melanjutkan bacaan dan ia mendengarkan kembali, karena dalam surat al kafirun banyak hukum tajwid yang sama di setiap ayat, sehingga Shan mudah memahami pelajaran kali ini meski dilakukan selama perjalanan didalam mobil.
"Shan emang cerdas, Onty aja gak paham-paham diajarin Bunda," sambung Kesih saat bocah kecil itu telah selesai ngaji.
"Barokallah. Anak Ayah gitu loh, Onty," puji Dilara mengecup pipi putranya bolak balik.
"Aamiin. Daddy pasti bilang Shan keren ya Mommy, eh Bunda," balas Shan masih kaku ketika memanggil Dila dengan sebutan Bunda.
"Hmm, Shan. Boleh panggil Bunda apa saja deh, sesuka Shan," akhirnya Dila mengalah. Dia lalu di hadiahi senyuman menawan juga hujan kecupan basah di semua bagian wajahnya oleh anak kesayangan Ezra.
Lusa, Shan. Lusa. Kita akan mengunjungi Ayah.
Keseruan ibu dan anak berlanjut hingga siang hari. Batita Ezra sudah tertidur pulas saat Dila selesai mengajar sore itu. Hari yang berat telah Shan lewati, membuat fisik putra kesayangannya lelah.
"Baby, kamu lulus seleksi masuk Al Fatteh, Aaahhh Bunda happy," bisik Dila mengecup wajah Shan. Saat dirinya menidurkan di atas ranjang.
Dilara mulai cemas aksinya akan terbongkar. Netra bulat itu memendar ke sekeliling ruangan kamar yang luas. Kedua matanya seketika memicing kala menangkap sesuatu yang janggal di atas meja rias.
Ada sesuatu menyembul di bawah jurnal yang biasa ia gunakan untuk berkirim pesan pada Ezra. Dilara bangkit dari sisi ranjang, mendekati dan meraih buku bersampul merah marun itu.
"Tiket pesawat juga rute aman menuju Surabaya," senyumnya merekah.
"Eh, ada pesan." Dilara meraih satu lembar kertas berlipat yang melilit tiket miliknya.
"Nona, berpuralah untuk mengikuti event base camp yang saat ini tengah di gelar di dekat pantai Dubai sebelah utara. Ini tiket event family base camp itu. Setelah Anda mengkonfirmasi kedatangan, silakan menuju tenda nomer 20 untuk berganti baju dan bertukar posisi dengan orang Sabrina. Lalu keluarlah dari pintu selatan, driver akan membawa Anda menuju Bandara. Sabrina telah menyiapkan jalur aman dari anak buah Al Zayn."
"Ok, bismillah. Ibu, aku mencari jati diriku mulai saat ini. Tak ku kira, segalanya Allah buka di belahan buminya yang lain, rahasia identitas ku selama ini." Lirih Dilara bermonolog memeluk banyaknya kertas yang dia genggam.
Sementara Shan belum bangun. Ibu muda itu gerak cepat menyiapkan segala keperluan dalam tas ransel miliknya dan Shan yang akan dia bawa.
Keesokan hari, Dila lalui dengan aktivitas normal. Dia mengabarkan pada Kesih juga Mbak Mun sang kepala rumah tangga kediaman Asyraf hamid bahwa saat weekend nanti, dirinya akan mengikuti sebuah event menggembirakan bagi Shan di Dubai.
Tidak ada yang menaruh curiga selama Andre tak berkeliaran di sekelilingnya. Meski Mbak Mun beberapa kali melayangkan pertanyaan menjurus pada kecurigaan atas pernyataan dang nona muda, namun berhasil Dila redam.
Hari Jum'at. Eksekusi.
__ADS_1
Sejak dini hari, Ibu muda itu tidak dapat memejamkan mata dengan benar. Bayangan wajah suaminya menghantui, juga reaksi Shan. Apakah yang akan terjadi nanti malam saat mereka tiba di sana.
Setelah breakfast, Ibu dan anak itu pamit menuju lokasi base camp.
"Aku langsung ke Dubai yaa," Dila melambaikan tangan pada Kesih dan Katrin yang mengantarkan keduanya pergi.
Shan sengaja tidak di beritahu perihal kepergian mereka keluar dari negara penghasil minyak ini. Kejutan untuknya.
Kini, sudah hampir satu jam, Dilara berada dalam camp, menunggu waktu tepat menyelinap tanpa tertangkap pantauan cctv. Hingga.
"Nona, lekas. Menunduk, santai, jangan gelisah. Lewati kerumunan di sisi tenda, come on ikuti aku," pinta sang agent wanita mengarahkan Dila keluar menuju titik jemput.
Degh.
Degh.
Degh.
Jantung Ibu muda berdetak kencang, dia menggenggam tangan Shan erat. Untung bocah gemuk itu tak banyak kata, hanya patuh mengikuti langkah sang Bunda.
"Pergilah. Hati-hati," bisiknya saat mengecoh beberapa orang yang melintas, kala mereka tiba di lokasi penjemputan.
Taksi yang di sewa Sabrina pun melaju, menuju Bandara. "Satu jam lagi, boarding. Cukup waktu hingga kalian check-in. Kami akan mengawasi sampai pesawat Anda take-off," ujar driver yang wajahnya tak dapat Dila lihat, karena tertutup masker.
Secepat itu waktu berlalu.
Sang Nona muda saat ini telah berada di dalam Bandara, hingga suara announcement menggema meminta para passenger segera bersiap masuk ke pesawat.
"Mommy, mau kemana?" bisik Shan di telinga kanan Bundanya, saat jemarinya di genggam, dan melangkah meninggalkan ruang tunggu.
"Top secret. Nanti jika sudah flight ya, Bunda share tujuan kita, berdoa yuk," ajak Dila memeluk putra lucu dengan tas ransel kura-kura dipunggung berisi snack dan minuman favorit bekal dari Katrin.
Baru saja langkah kaki ibu dan anak itu beranjak lolos dari pemeriksaan scan oleh keamanan Airports. Suara berat yang menggema berhasil membuat Dilara mematung.
"Mam, you! ... with a boy wearing the turtle bags, stop."
Degh.
Degh.
Degh.
.
.
..._____________________...
__ADS_1
...Haduh 😱...