
Menjelang petang.
Ketukan di pintu oleh suara Velma dan Bibi membuat Ezra harus keluar dari kamarnya, lupa pada laptop yang berniat dibuka.
"Ada apa?"
"Ada yang cari Den Ezra di bawah, Velma yang nemuin tapi. Kata frontline sih dari Masjid," ucap Bibi.
"Masjid mana? sumbangan maksudnya?"
"Gak tahu, tunggu Velma saja Den, nah itu datang," balas Bibi ketika mendengar nada suara pintu Unit terbuka.
Betul dugaan sang pengasuh, Velma datang dengan seorang pria muda memasuki ruang tamu hunian.
"Tuan, pembawa pesan ustadz Zaky menunggu Anda," ucap Velma ketika melihat tuan mudanya telah berada di ruang keluarga.
"Kau ikut." Ezra meminta Velma turut hadir bersama mereka.
"Assalamu'alaikum, Pak Ezra ya?" sapa sang tamu pada Ezra.
"Wa'alaikumussaalaam, betul. Maaf, dengan siapa?"
"Agus, DKM Masjid Agung dua blok dari sini. Saya ingin menyampaikan titipan pesan dari ustadz Zaky," ujarnya lagi.
"Oh, Ok. Silakan Pak Agus."
"Ustadz Zaky meminta Pak Ezra datang ke sekretariat satu bulan mendatang atau ke Uni Emirat Arab untuk membicarakan suatu hal," jelas sang tamu.
"Hal apa ya?"
"Pribadi, katanya Pak. Saya gak di beritahu spesifik akan membahas apa."
"Hm, Tuan. Maaf, mungkin tentang Nona. Karena terakhir kali pergi denganku siang itu mampir ke Masjid Agung dan Nona bertemu istri ustadz Zaky, sahabat ketika Nona di pondok, yang ternyata mengelola suatu kegiatan berkaitan dengan kursus atau apa gitu, saya gak begitu jelas mendengar," tutur Velma menyela obrolan mereka.
"Betul. Ustadz Zaky dan istrinya di percaya mengajar mengaji untuk anak berkebutuhan khusus di sekitar Masjid. Kebetulan salah datu donatur meminta keduanya selama satu bulan untuk mentraining tenaga pengajar lembaga di sana saat ini."
"UEA maksudnya?" tanya Ezra memastikan.
"Betul, Pak. Saya langsung pamit ya, alhamdulillah tugas tertunaikan. Lama nyari karena ustadz gak ngasih alamat lengkap. Beliau buru-buru berangkat semalam."
"Berapa orang yang berangkat ke sana? apakah ada yang bernama Dilara?"
"Dini hari tadi sudah berangkat semua dua orang. Dilara? enggak ada Pak, karena kebetulan saya yang mengurus tiketnya. Semuanya pengajar, gak ada orang awam." terangnya lagi.
Degh.
"Velma, manifest. Cari, lekas."
__ADS_1
"Punya kontak ustadz Zaky? boleh aku minta?" Ezra berharap dia dapat menghubunginya.
"Ada, sebentar saya tulis."
Tak lama, pria muda itu pamit dari kediaman Ezra dengan meninggalkan sejumlah informasi.
Kakak sulung Ermita memilih melakukan semua aktivitasnya di kamar Dila termasuk sholat, makan bahkan tidur. Dia sudah merasakan rindu.
Menjelang tengah malam.
Setelah Rolex mengatakan by phone bahwa dia baru saja landing dan akan langsung menuju ke rumah, Ezra semakin fokus.
"Ponselnya belum di setting apa ya? gak aktif mulu," keluh Ezra. Sudah berpuluh kali dia melakukan panggilan namun nihil karena nomer yang dia tuju tidak aktif.
Pria gigih itu kini tanpa sengaja terlelap bertumpu pada lengan yang ia lipat di atas meja. Setelah matanya panas berjam-jam memandangi laptop, menghubungi banyak kolega yang dapat memberikan bantuan, ia tak henti mencari kemana istrinya pergi.
Hanya ustadz Zaky harapan saat ini sebab manifest semua penerbangan menuju UEA yang Velma dapatkan tak menemukan nama Dilara di sana.
"Jika kamu di Dubai atau kota sekitarnya, aku bisa meminta bantuan ke beberapa kawan di sana. Untuk menjagamu sementara, Sayang."
"Ayah ... Ayah ... aku kangen Ayah tapi tak ingin Bunda sedih."
"Eeell...!" Ezra tergagap bangun dari tidurnya bertepatan dengan adzan subuh menggema.
"Mimpi ... astaghfirullah ... payah, berapa lama aku ketiduran sampai lupa matikan laptop," sesalnya seraya keluar dari kamar Dila.
"Hem, sudah dua hari, Lex. Aku rindu," ujarnya sambil lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
After breakfast, ruang kerja.
Karena laptopnya mati, Ezra meminjam milik Dila. Dia membawa serta tas jinjingan itu ke dalam ruangan di mana Rolex menunggu.
"Bos, aku dapat pindai looks akhir Anastasya. Jika di cocokkan dengan foto di hape Bibi, tepat sasaran karena potongan bajunya sama," Rolex membuka obrolan.
"Ok, analisa ku. Ana menghina Dila di pesta terakhir dan berniat masuk dalam kehidupan kami. Aku mendengar sekilas tentang perjalanan yang Sonny gantikan bulan lalu. Indikasi jika Dila yang meminumnya maka akan terjadi pendarahan hebat dan mengancam nyawa ... jika Dila tiada, ia berniat menggantikan posisinya. Pun, Akibat kekecewaan karena rencana pergi bersamaku gagal ... ck, pede sekali aku mau dengannya, cih," Ezra mendengus, merasa jijik sekaligus geram dengan pikiran piciknya.
"Yes betul Bos ... juga rencana akuisisi EQ building karena demo karyawan bulan lalu disisipi oleh orang-orang mereka, pun jajaran management sudah ada dua orang yang aku curigai," sambung Rolex.
"Awasi Manager Keuangan juga General Affair, mereka kan yang kau maksud?" duga Ezra kemudian.
"Tepat, Bos."
"Kau urus berkas gugatan atas percobaan tindak kekerasan pada Dila dan Ibu, setelah semua bukti lengkap. Hubungi lawyer," titahnya lagi.
"Baik. Bos."
"Sekarang, masalah Dila. Aku ... ah nanti saja tanya dengan yang berilmu ... kita bahas ini, kau baca saja dulu." Ezra menyerahkan lembaran satu dan dua yang Dilara tinggalkan kemarin agar Rolex dapat membacanya.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu.
Sementara Rolex mencerna segala kalimat di sana. Ezra menyalakan laptop Dila.
"Apa sebenarnya yang kamu kerjakan selama ini, Sayang. Aku penasaran," lirihnya mencari sebuah file tersimpan.
Jemarinya lincah membuka banyak tombol, bahkan meski file terkunci, Ezra dengan mudah membobol sandinya.
Netra elang milik putra kebanggan Emery berbinar kala melihat beberapa naskah yang telah selesai dia kerjakan.
"Translator?... Lex, istriku kerja sebagai translator freelance buku bahasa asing," girangnya, ia bangga.
"Ku bilang juga apa, Nona cerdas Bos."
"Aku juga menemukan banyak file skripsi, dia juga editor? atau sekedar merapikan penggunaan kata baku dalam script?... ya ampun Dila, pantas kamu betah di kamar. Pekerjaan berat ... juga, wajar enggan menerima uang dari ku, salarymu cukup untuk menopang kebutuhan mu sendiri."
"Aku gak kenal kamu sama sekali ya, Sayang." Ezra masih asik dengan banyaknya dokumen, serasa tenggelam dalam dunia literasi milik istrinya.
Hingga ucapan Rolex membuyarkan semua itu bertepatan dengan matanya menangkap sebuah dokumen yang belum di close masih terpampang pada toolbar bawah desktop.
"Bos, video."
"Astaghfirullah ... apa ini? Lex!"
Rolex beranjak dari duduknya menghampiri sang bos, berniat melihat sesuatu di layar laptop milik Nyonya kecil.
...***...
Sementara di tempat lain.
Dila bersiap menuju Bandara. Semua dokumen telah ia simpan di tas kecilnya. Dia hanya pergi berdua dengan El. Jantungnya berdetak kencang, ini kali pertama ia terbang sendiri ke negeri dengan seribu julukan karena salah satu kotanya.
"Bye Jakarta ... semoga ketika aku kembali, semua telah lebih baik," gumamnya saat menaiki taksi yang membawa menuju tujuan.
Satu jam menunggu, akhirnya pesawat itu terbang membelah angkasa membawa harapan baru, meninggalkan luka.
...*...
"Halo, safe flight and hope happy landing. Laporan selesai, ganti...."
.
.
..._______________________...
...Terlihat lamban, padahal tidak. Ezra punya pertimbangan sendiri....
__ADS_1