
"Kenapa, Pa?" serunya pada sang Ayah yang justru hanya diam, memandang nanar pada dirinya.
"Karena kelahiran adikmu tak diinginkan olehnya. Ana, hanya tersisa kamu. Putriku satu-satunya," jelas Akbar.
"Yakin, Pa? hanya aku?"
"Iya." Akbar sanjaya, memeluk tubuh putrinya, sumber atas apa yang dia punya kini. Berkat kelahiran anak ini, dia mewarisi harta peninggalan kedua orang tua mereka.
Dalam hati wanita muda keturunan Pakualaman, yang tengah berada dalam pelukan sang ayah. Meragu atas pernyataan lelaki ini. Namun Ana mengingat kembali bahwa meskipun ada ahli waris lainnya. Semua yang dia miliki sekarang tidak akan beralih kekuasaan bagi seseorang yang mungkin akan muncul dari masa lalu. Jika menilik sekilas pada lembaran kertas yang sempat ia baca.
...***...
Tiga bulan berlalu.
Tecipta rutinitas baru seorang keturunan keluarga bangsawan Turki, El Qavi dari trah Dinasti samaniyyah yang pernah berjaya pada masanya dalam memperluas kekuasaan Turki di masa silam.
Setiap hari, sebelum tidur dirinya kerap membaca ulang tulisan wanita pujaan atau menulis di jurnal milik Dilara. Juga, ia tak akan melewatkan berbagai pesan yang dikirimkan oleh seseorang dimana istri dan anaknya berada.
"Tuan. Laporan hari ini, Shan imunisasi namun tidak rewel karena Nona sangat tanggap menjaga putra Anda meskipun ada Kesih."
"Tuan, Nona sudah terlihat lebih berisi di bulan ketiga beliau di negara ini. Kesibukannya tak begitu jelas karena beliau amat sangat betah di kamar hanya berdua dengan Shan."
Putra sulung Emery membaca ulang pesan tadi siang.
"Maaf tuan, terlambat melaporkan kejadian terbaru. Kisah hari ini semua menurut Kesih, karena aku terbatas berada di sekitarnya. Juga tak diizinkan membawa ponsel seperti biasa, maka aku mengabarkan pada Anda jika masuk ke kamar."
"Nona sore ini terlihat murung. Matanya sembab saat makan malam, Kesih bilang, Nona hanya rindu seseorang. Shan juga nampak rewel menjelang malam namun sudah kembali tenang setelah di timang oleh Nyonya Asyraf Hamid."
"Kenapa, Sayang? rindu padaku kah? jangan sakit, Dila ... Dia mencekal Papa jika aku gegabah lagi. Tunggulah manusia jahat itu lengah, aku akan menemuimu," hatinya perih. Bagi yang tak paham situasi mungkin menilai dirinya lamban.
Korban berjatuhan jika Ezra menginjakkan kaki ingin mendekat pada istrinya itu. Mulai Rolex dijegal preman hingga luka serius, Sonny dan Bi Inah, yang hampir mati sesak karena kebocoran gas dalam apartemen mereka.
"Ku kira, dendammu hanya sebatas pada aku dan Papa, tapi ternyata kamu menggunakan semua sumber daya yang ku punya, untuk mencegah Dila kembali...."
"Sedalam apa perasaan terbuang yang kau punya? Abdeen?"
Huft.
Suami Dilara melanjutkan dua pesan terakhir yang belum ia baca.
Bibirnya mengulas sebaris senyum, pelipur lara hari ini, penawar rasa rindu yang semakin sesak untuk di pelihara.
"Kamu masih sah istriku di mata hukum Dila, gugatan mu dapat aku patahkan. Shan, jaga Bunda ya. Sudah besar ternyata, tiga bulan berlalu."
Foto yang baru dia dapatkan, meski secara candid namun terlihat jelas. Istrinya kian ayu dalam balutan gamis serba hitam yang ia kenakan hampir tiap hari, menurut penuturan agent rahasia. Wajah putra semata wayang kian tegas menyerupai dirinya, Ezra bangga.
"Foto pertama kalian, setelah tiga bulan lamanya aku menunggu ... Arthur, thanks a lot. Berkat usahamu, orang ku aman masuk hingga berada dekat dengan istri dan anakku."
__ADS_1
Menjelang tengah malam, sebelum tidur Ezra kini selalu menyempatkan diri mengikuti semua jadwal dalam jurnal istrinya. Witir dan mengaji sebelum tidur.
Ada hikmah dalam setiap peristiwa, kebiasaan baik Dilara yang tak pernah di ketahui sesiapa. Akhirnya menular pada sang suami juga Bi Inah, mereka kian mendekat pada sang Pencipta.
...***...
Sharjah. UEA.
Pagi ini, Nyonya Asyraf Hamid meminta chef di rumahnya untuk membuat hidangan jamuan karena akan ada tamu kehormatan yang berkunjung ke hunian rahasia mereka.
"Dia campuran, jadi buatlah hidangan manis namun variatif. Dua orang karena beliau hadir dengan putri juga," pinta Vega pada tiga orang juru masak, termasuk koki khusus milik Dilara.
Mba Mun pun ikut sibuk mengatur table untuk acara jamuan malam nanti.
"Mun, gaun Dila sudah? ingat, jangan ketat. Harus longgar dan sertakan niqabnya. Aku gak mau wajahnya terlihat pria lain. Meski tak memintanya ikut hadir dalam jamuan, dia harus tetap rapi."
"Baik... gaun juga outfit untuk keduanya siap siang nanti, Nyonya." Kepala pelayan kediaman mewah sang saudagar melaporkan persiapan terkini.
Sore berganti malam.
Dilara bingung kala Kesih dan Marini membantunya agar mengganti baju karena akan ada tamu kehormatan.
"Mba, kan aku gak keluar. Dengan Pak Andre saja, aku jarang nampak muka. Masa hadir sih?" Dila merasa tak berkepentingan dengan acara ini.
"Enggak Non. Ganti baju saja meski tetap di kamar. Jikalau pun Nona keluar, nanti ada tabir di depan pintu kamar ini. Kalau Nyonya memaksa harus memberi salam hormat," ujar Kesih menjelaskan.
Dua jam berlalu begitu cepat. Shan sudah lelap diatas ranjang king size yang nyaman saat pintu kamarnya di ketuk seseorang.
Tok. Tok.
"Masuk Mba."
Kesih masuk kedalam kamar kemudian memberitahukan satu hal.
"Nona, tamu akan kembali pulang. Semua penghuni diminta memberi salam perpisahan baginya. Silakan keluar dan berdiri di depan pintu kamar," ajak Kesih.
Dilara bangkit dari posisi duduk di tepi ranjang, setelah memastikan Shan aman, dia memakai niqabnya lalu melangkah keluar kamar.
Benar yang dikatakan oleh sang asisten bahwa ada tabir di depan pintu kamar yang dia huni.
Nampak terdengar bincang seru dari ruang keluarga sebelum mereka menyadari Dilara berdiri di balik tabir.
Karena menjadi pusat perhatian, wanita beranak satu itu pun membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
Tak di nyana, sang tamu pria justru bangkit dari duduk nyamannya di sofa seraya mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang gadis, tengah tersenyum padanya kala mereka mendekat.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalaam," jawab Dila lirih.
"Aku tak pernah melihat wanita muda di sini, ada hubungan kah dengan Nyonya Asyraf?" tanya sebuah suara maskulin di hadapannya.
"Hanya tamu," balas Dila masih menunduk.
"Angkat kepala Anda, Nona." Lelaki muda nan tampan, menginstruksikan sesuatu untuk Dilara. Namun, wanita ini hanya diam.
"Namanya Dilara, tamu dan trainer yayasan yang tadi aku ceritakan. Dia tinggal di sini sementara, Tuan Al Zayn." Vega menghampiri kedua tamunya, khawatir dengan kondisi Dila.
"Nyonya Asyraf Hamid, bukan orang yang ramah kurasa jika berhubungan dengan hal baru. Dia istimewa jika kau menariknya hingga memasuki hunian rahasiamu ini. Betul begitu?" cecar sang putra bangsawan Manaf.
Asyraf Hamid hanya tersenyum samar. "Anggap saja, dia putriku."
"Hmm, jika begitu. Bolehkah aku mengenal putri Anda lebih dekat, Nyonya? mungkin akan cocok untuk menjadi teman bagi adikku, atau mungkin kakak ipar Alyssa."
"Hallo, Aku Alyssa," sapa sang gadis belia yang duduk di kursi roda, ramah tersenyum pada Dila.
Dilara hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada atas salam perkenalan tamu istimewa itu.
"Hmm, dia tak dapat dimiliki sesiapa saat ini, Tuan," ujar Vega mulai waspada.
"Kesih, antar Dila kembali beristirahat." Titah sang juragan pada aspri Dilara.
"Baiklah, ku anggap ini sebagai pengusiran secara halus. Anda berhutang banyak penjelasan padaku, Vega Gianina," kekehnya di ikuti sang adik.
"Selamat Malam, Nona Dilara. Sampai jumpa lagi."
Dilara kembali memberi hormat untuk ketiganya sebelum ia berbalik badan masuk ke dalam kamar.
Para tamu pun akhirnya kembali ke tempat semula, hingga tak lama kemudian keduanya pamit undur diri.
Di dalam kamar.
"Mba, mereka siapa?" tanya Dila.
"Masih keturunan bangsawan. Dari trah pangeran, tapi bukan yang sedang menjabat saat ini, Nona. Belum menikah, kabarnya beliau baru tiba dari Inggris dan berencana kerjasama dengan Nyonya besar untuk sebuah proyek amal jika tak salah dengar tadi," jelas Kesih panjang lebar.
.
.
...________________...
*Inisial A.Z pernah disinggung saat memberikan buket bunga. (serah lu moms, gue pusing? muter ja terus)
*Lunas ya janji, crazy up. Kalau othor lain crazy up itu 2000 kata bagi 3 bab. Kalau mommy 2000 lebih kata bagi 2 bab, sama aja kan? 😅. (egepe, gue jadi males komen)
__ADS_1
*Ok Ok. Mommy akan berhenti meminta support. Dan, hanya akan selalu berterimakasih. Thankyou guys ❤