SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 140. PERTIMBANGAN


__ADS_3

"Gimana, selesai semua?" tanya Arthur memulai pembicaraan serius setelah kedua wanita menepi ke meja sebelah mereka.


"Belum, Zayn susah di hubungi hingga jatuh somasi. Lawyer ku ngejar dia pake sesuatu dan kata Leon, bisa. Dia akan memenuhi undangan dua pekan lagi," ungkap Ezra seraya memesan hidangan untuk dirinya juga.


Arthur menyesap black coffee yang mulai dingin dan surut, hanya tersisa ampas pekat didasar cawan.


"Ada yang perlu gue kerjakan lagi gak?" sambung sang sahabat lama, prihatin atas kondisi Ezra.


"Sementara belum sih ... hmmm, menurut Lo, tentang ayah kandung Dila bagaimana? status bini gue di silsilah keluarganya apakah harus diperjuangkan juga?" bisik Ezra, berharap suaranya tidak sampai pada telinga putri Akbar itu.


Arthur menimbang. Seharusnya Akbar sudah langsung mencantumkan nama Dilara dalam silsilah nasab keluarga.


"Hasil test DNA ada kan? bini Lo ningrat donk ya, cocok lah sama-sama bangsawan meski satunya lokal," ujar Arthur tersenyum simpul.


"Yaa gue gak tahu bakalan gini kan ... tapi sepertinya tidak. Kalau gue perjuangin gimana? maksa gak sih?"


"Enggak lah, hak itu wajib. Cuma balik lagi, ada Anastasya kan? terus nasib gugatan Lo sama dia gimana? kebayang gak sih jadi Dila ... satu sisi ayahnya sedangkan ada ganjaran yang harus diterima Ana atas kejahatan meracuni Ibu angkatnya, dilema Za," sekilas sang sahabat melirik Dila yang semakin asik dan akrab dengan Michelle.


Ezra tak suka Arthur mencuri pandang pada istrinya itu. Dia melempar kotak tisu di atas meja ke arah suami Michelle.


"Sh-itt, sakit!" keluh Arthur terkejut, benda keras itu berhasil mengenai dadanya.


"Gak pake lirik-lirik juga kaleee, ada bini juga noh ... gi-la Lo ya, lakinya disini berani main mata diam-diam," sungut Ezra, karena Arthur sejenak tak melepas pandang pada Dilara.


"Dulu aja ogah, di umpetin, nikah pake rahasia segala. Sekarang jangankan di dekati ... liat doank sedetik gak boleh, amit-amit ... sama Cheryl, Lo gak kayak gini Za," sungut Arthur mengusap dadanya yang sakit terkena lemparan kotak tisu.


Ahli perhiasan itu lalu meminta menu tambahan saat pelayan kedai mengantar pesanan Ezra. Mengabaikan rasa sakitnya sejenak.


Putra Emery membantu waiter memindahkan hidangan yang dia pesan dari baki ke atas meja. Setelah semua lengkap, Ezra lalu bangkit berdiri sembari membawa dua pinggan ke table Dila. Menata menu kesukaan istrinya, tak lupa mengambil alat makan juga membersihkan ulang dengan menggunakan tisu.


"Eh aku bisa," ucap Dila terkejut kala Ezra menyiapkan hidangan untuknya.


Michelle hanya tersenyum dengan satu tangan menopang dagu. "Manisnya, kamu gak demam kan, Za?" sindir Michelle melihat sikap manis sahabat lama saat mereka college dulu.

__ADS_1


"Enggak, gue udah sadar dari pingsan bertahun...." jawabnya asal.


"Baby, dimakan sampai habis ya. Atau aku suapi?" tawarnya dari balik tubuh Dilara.


"Ish, banyak banget bakso nya ini. Punya Abang mana?" Dilara menoleh pada meja di seberang, melihat hidangan yang sama juga ada di sana.


Dilara mendongak, meminta sang suami agar segera menyantap hidangan alih-alih mengurusi dirinya.


C-up.


Satu kecupan di bibir Bunda Shan sukses mendarat sebelum pria itu membalikkan badan seraya tersenyum puas, kembali ke meja.


Michelle bersorak, sedangkan Dila tak enak hati mengumbar kemesraan di depan umum. Entah apa yang mereka rayakan atas kelakuan bar-bar suaminya itu.


"Dila, Ezra itu pendiam sejak dulu. Gak pernah dekat dengan gadis manapun sejauh kita jalan bareng, semua cewek yang deketin pasti kena mental karena kata-kata dari nya itu pedasssss," Michelle sedikit membuka masa muda sang pimpinan Qavi.


"Cheryl?"


"Kebetulan aja, aku juga heran. Cheryl bukan type Ezra namun wanita itu ku akui bisa membuat ia bangkit dan kembali menata hidupnya. Dulu Ezra pernah sakit parah, juga mental health agak down. Wajar sih karena beban di bahu dia sangat berat kala itu," ungkap Michelle. Pembicaraan seru membahas banyak hal, diantara dua wanita berlangsung hingga menjelang tengah malam.


Setelah para istri bertukar nomer ponsel, cipika cipiki, kedua wanita cantik itupun saling memeluk sebelum lambaian tangan dilepaskan.


Kedua orang tua Shan memilih berjalan kaki menuju hotel. Jalur pedestrian masih ramai lalu lalang berbagai pasangan yang ingin menghabiskan waktu weekend, tak terkecuali dua sejoli El Qavi.


Ezra meminta agar Dila menaikkan maskernya hingga menutup wajah, juga tudung jaket pun dia tarik menutupi kepala Bunda Shan.


"Ish, gerah." Rajuk Dila berontak kala Ezra merangkulnya erat.


"Dingin, Sayang. Lagipula kamu menarik perhatian ... tadi denger gak? om-om jalan sama abege, om-om gatel," sungut Ezra masih mengalungkan lengannya di bahu Dila.


Putri Devanagari hanya tertawa renyah mendengar komplain sang suami. Obrolan ringan masih berlanjut hingga memasuki lobby hotel dan lorong menuju kamar mereka.


Tepat pukul satu dini hari.

__ADS_1


Ezra sudah menarik selimut hingga dada, saat melihat Dila baru saja keluar dari bathroom. Dia merentangkan lengan agar istrinya segera masuk dalam pelukan.


Pillow talk.


"Sayang, sudah siap ajukan gugatan Anastasya? atau menangguhkan?" Ezra membuka obrolan sebelum tidur, saat Dila mulai menguap dan bersandar pada lengannya.


Dilara diam, menimbang banyak perasaan bila dia melanjutkan ini semua. Tapi keadilan bagi Ibu tidak bisa di abaikan begitu saja.


"Menurut Abang, gimana?" Bunda Shan mendongakkan kepala meski wajah keduanya tak berjarak.


C-up. Ezra kembali mengecup pemilik bibir sensual.


"Sharing dengan Mama, Sayang. Dengarkan pendapat beliau juga lawyer, mana jalan terbaik yang harus ditempuh? tapi apapun keputusan kamu, jangan takut ya Sayang. Aku pasti support," ujar Ezra lagi, menghujani dahi juga kedua kelopak mata bulat itu dengan kecupan.


"Mengenai keinginan kamu untuk naik level ke advanced AVT ... aku akan memberikan izin. Kita akan menetap di Malaysia sampai kamu dapat sertifikasi trainer resmi, ya Sayang. Tapi janji, setelah semua selesai ... Shan juga kan ingin masuk akademi hafiz cilik. Jika bulan depan kamu hamil, tunda keberangkatan hingga kandungan kamu kuat dan sehat. Ok?" pinta Ezra, berharap usulnya disetujui Nyonya muda.


Dilara melonggarkan pelukan, menatap wajah suaminya lekat.


"Kenapa? ngeliatinnya kok begitu? aku tampan, ku tahu ... jangan gemesin gitu deh, Sayang." Telapak tangan kekar namun lembut itu mengusap pipi Dilara, mencubit pelan salah satunya.


"A-bang beneran tadi? semua i-tu?" Dila mengerjapkan kelopak mata yang kian berat namun harus memastikan bahwa pendengarannya tak salah.


Hanya anggukan disertai senyuman menawan yang ayah Shan berikan. "Dan, kita akan check-up kondisi koklea kamu disini. Apakah masih dapat dilakukan operasi atau sebaliknya? hanya bergantung pada alat bantu dengar saja ... jangan salah paham ya Sayang, bukan aku gak menerima kondisi kamu, hanya ingin tahu opsi teristimewa untuk istriku," tuturnya lagi.


Hiks. Lava bening itu kembali turun dari manik mata coklat tua.


"Gak boleh nangis lagi. Jangan, sini Sayang. Maaf yaa aku terlambat jadi suami idaman buat kamu dan ayah hebat bagi Shan," Ezra menarik tubuh seksi yang terbalut lingerie hitam mendekat. Memeluk erat dan mengikis jarak.


"Enggak, gak terlambat. Aku yang kurang sabar."


.


.

__ADS_1


...________________________...


__ADS_2