
China.
"Bos, No ... Bos," Rolex berteriak, Ezra balik mengancam akan membongkar sandi ponselnya dan membocorkan rahasia paling sakral milik Rolex.
"Kembalikan Dilaku, atau aku buka semuanya, dan kirimkan padanya ... pilih mana?" ancam Ezra tak kalah sengit.
"Fine, you win ... fine!" Rolex menyerah, mengembalikan laptop yang sedang memutar video rekaman nyonya muda.
Ezra tertawa lepas, merasa unggul melambung ke udara. Senjata lama mendesak Rolex di saat kritis ternyata masih mujarab.
"Jangan manyun terus Lex, mukamu lebih jelek dari boneka chucky," ujar Ezra disela tawanya.
"Tega sekali. Tahun depan mungkin aku sudah kaya, Bos!"
"Jelas kaya, jika kamu menikah dengan...."
"Bos! ya ampun. Jika saja dia sampai tahu, mau ditaruh mana mukaku?" sungutnya kesal.
"Taruh situ lah, emang mau tukeran posisi dengan apa? dengkul?" Ezra tak henti tertawa, ia puas mengolok Rolex kali ini.
Cinta masa kecil yang bersemi hingga dewasa. Bahkan sampai saat ini, dia masih mengagumi sosoknya dalam diam. Salah satu sebab dia enggan menjalin kasih dengan wanita lain karena Rolex sangat mendamba gadis itu.
"Maju, kejar. Dia gak mandang siapa kamu," saran Ezra.
"Ck, Bos. Lupakanlah," asisten Ezra itu menyingkir. Badannya selalu saja gemetar, jantung pun berdegup tak beraturan meski hanya mendengar gadis itu disebut secara kiasan.
Setelah beberapa menit mereka bercanda, semua berangsur normal kembali. Ezra mulai berkutat lagi dengan segala pekerjaannya.
Hingga sesuatu terjadi.
"Bos!"
"Lex, wait."
" No, tinggalkan," seru Rolex menarik Ezra keluar kantor darurat mereka, berlari kencang menaiki beberapa anak tangga.
Braakkk.
Bangunan semi permanen itu runtuh hampir rata dengan tanah. Gempa baru saja melanda kota.
"Dila, Alhamdulillah. Dilaku," ujarnya mengusap laptop berisikan semua video sang istri. Ia mendekap erat benda itu seakan takut kehilangan.
Ezra berhasil meraih benda emas miliknya sedetik sebelum sang aspri menarik lengan.
"Ya ampun, kalau aku gak narik, bakal jadi apa Bos?" gumam Rolex. Kakinya luka akibat terantuk besi tumpul menghindari pasak runcing yang ikut roboh tadi.
"Lex, kakimu." Pemilik EQ building Jakarta, memekik melihat darah segar mengucur dari balik trouser hitam yang ia kenakan.
"Wah, ilmuku luntur karena menyebrangi lautan," selorohnya menahan sakit.
__ADS_1
Suami Dilara memanggil team medis, ia mengabaikan semua peralatan miliknya yang tertimbun reruntuhan. Fokusnya untuk Rolex, saat ini.
"Bos, laptop lebih penting dari aku?" sindir pria yang tak kalah rupawan dengan sang majikan itu.
"Disini ada istri dan anakku. Jelas lebih penting. Kamu juga penting, Lex. Jangan kalah dengan sakit, lekas sehat lagi ya dan perjuangkan cintamu yang sudah hampir basi itu," ujarnya mencoba bijak.
"Dia lagi disebut," Rolex bergumam.
Degh.
Degh.
Degh.
Baru menyebutkan kata Dia, jantungnya sudah melompat kegirangan. Ezra memang sejak dulu mendukungnya namun ia terlalu kerdil bila berhadapan dengan sosok cantik itu.
Ezra menemani asisten kesayangannya ke ruang medis di proyek yang mereka tangani. Rolex mendapatkan tiga jahitan, kulit dibawah lututnya robek terkena besi yang tak ia ketahui darimana datangnya.
Setelah aspri nan istimewa selesai mendapatkan pertolongan pertama, Ezra lega. Tergambar jelas dari gurat wajah suami Dilara itu.
Negara ini memang sangat tanggap bencana.
Selang tiga puluh menit setelah gempa, semua aktivitas hampir kembali normal. Bangunan yang baru saja rata dengan tanah, di dirikan ulang. Semua peralatan penunjang kerja, di evakuasi sementara ke tenda darurat.
"Wow," Ezra takjub.
Satu jam penuh ketegangan, dilalui ratusan pekerja disana dengan lancar. Saat CEO El Qavi itu kembali duduk di belakang meja kantor daruratnya, seketika ia teringat sosok sang istri.
...***...
Indonesia, malam hari.
Dilara enggan makan, apalagi melakukan kegiatan ataupun sesuatu. Dia hanya diam, duduk di depan televisi mendengar berita dunia serta mengamati cara gerakan bahasa isyarat.
Hatinya ikut gundah mendengar gempa berkekuatan 7 skala richter baru saja melanda negara Tiongkok, jelang petang ini. Dila ingin mencari tahu tentang suaminya. Namun ponsel dan laptop di kamar, dia malas beranjak karena takjub mengikuti perkembangan tanggap bencana di negara itu.
"China, Abang dimananya ya?" Dila bangkit, terpaksa mencari asisten pribadi suaminya itu hingga ke ruang cuci.
Tak kunjung menemukan wanita yang akan dimintai pertolongan. Nona muda memutar arah masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel dan laptopnya. Jemari berkulit putih itu lincah searching tentang sebuah proyek besar disana.
Wajahnya memucat, telapak tangan kanannya menutup mulut yang sempat menganga karena shock tatkala ia menemukan lokasi titik paling parah akibat gempa.
"Enggak, Abang, gak boleh ... Bii, Bibi," seru Dilara.
Biipp. Suara pintu apart terbuka.
Dilara lupa bahwa kondisinya sedang berbadan dua. Dia berlari dari kamar menyongsong kedatangan Bi Inah.
"Astaghfirullah, Non, lagi hamil!" Bibi tak kalah panik, suaranya melengking tinggi membuat Dila sadar seketika.
__ADS_1
Sreg. Dilara berhenti.
"Aah," pekiknya kemudian menyentuh perut. Menyadari kesalahannya.
"Non!" Bibi melempar semua keranjang belanjaan yang ditentengnya sejak masuk ke dalam hunian.
Wanita tua ini berusaha menopang tubuh sang majikan agar tak jatuh menyentuh lantai.
"Enggak, aku gak apa. Adek, gak apa kan Bi? darah? ada gak?" Nyonya muda panik melihat ke arah tubuh bagian bawah, nada bicara Dila tak jelas hingga memilih mendudukkan dirinya di lantai.
"Gak ada Non, sakit gak perutnya? kenapa lari-lari? lupa, punya kandungan?" tegur Bibi dengan nada tegas.
Dilara terkejut, baru kali ini wanita bagai ibu keduanya terlihat marah.
"Abang, gimana hubungin Abang. Aku mau tahu," tangisnya pecah.
Degh. Inah baru menyadari sebab Nyonya mudanya panik.
Saat di lobby tadi setelah dari supermarket. Bi Inah menerima telepon dari Sonny yang mengabarkan bahwa tuan muda mereka baik saja. Hanya Rolex cedera mendapatkan tiga jahitan atas luka robek terantuk besi.
"Den Ezra baik saja, Rolex yang luka ringan. Wes yang tenang ya. Ayo bangun, lantainya dingin ... pantesan dari kemarin uring-uringan terus. Wes nyantol mbatin," ujar Bibi seraya menarik dan memapah Dila agar bangun dari posisinya menuju sofa di ruang keluarga.
"Call Abang, Bi."
"Bibi gak pernah telpon tapi coba ya." Wanita sabar ini pun mengambil ponsel dari saku roknya lalu menekan tuts nomer sang putra mahkota Emery.
Tuut. Tuut.
Bi Inah mengulangi panggilan yang sama hingga tiga kali namun tetap tak tersambung. Dilara murung, ia bangkit perlahan dari sofa. Memilih merapikan semua benda miliknya dan membawa masuk kembali kedalam kamar. Meninggalkan Bi Inah yang masih duduk sendiri di sana meski jemarinya tetap berusaha menekan tuts nomer yang sama.
"Den, tunggu ... Non, Non...." giliran Bi Inah berlari menuju kamar Dila.
Tok. Tok.
"Ya, Bi?"
"Ini ... tuh, mo di telen, di lamot, di pandang sampe belekan juga boleh. Gih mumpung ada signal...." Bibi menyerahkan ponselnya ke tangan Dila.
Gadis itu diam kala melihat wajah yang ia rindukan.
"Halo, Bi...."
"A-bang?"
"Dila, sayang ... kamukah di sana?"
.
.
__ADS_1
..._____________________________...
...Mommy besok safar, in sya Allah tetap UP. Jangan lupa masuk grup chat ya, mommy mau bikin GA... 😁...