
"Love you Sayang," kecup Ezra di pucuk kepala wanita yang ia dekap.
Masih jam sepuluh malam.
Terdengar sayup beberapa suara melewati kamar mereka. Mungkin Akbar dan Anastasya telah undur diri. Teringat akan peristiwa tadi, Ezra beringsut menggeser tubuhnya sedikit menjauh agar dapat menjangkau ponsel yang ia letakkan diatas meja.
"Nyandu liat kamu tidur sejak aku demam karena efek mabuk, itu pertama kalinya Dilara tidak mengenakan hijab didepanku. Juga, wajah dan lekukan tubuh sensual namun tertutup gamis longgar, enggan memudar dari ingatan," gumam Ezra, mengamati lekat setiap inci postur wanitanya.
"Kamu makin seksi ya Dila," bisiknya seraya menghadiahi banyak kecupan basah di wajah ayu, hingga Dilara menggeliat tanda tidurnya terusik.
"Gemesin, bangunin gak ya?" timbangnya melihat kemolekan leher jenjang juga bahu mulus yang terbuka. Ezra lupa pada tujuan awal kala meraih gawai tadi.
"Baby, aku gak bisa tidur. Dila ... Dila," bisiknya mesra.
Ibunda Shan tak bergerak, dia semakin nyaman dan lelap ditandai dengan deru nafas halus nan teratur, terhembus perlahan.
"Lah, gak pake alat dengar ... mau bisikin kayak apa yaa gak akan bangun, Za," ia terkekeh atas kelakuan absurd yang baru saja diperbuat.
Terlintas niat awal saat menyadari layar ponsel yang menyala. Ezra menggeser tuts untuk membuka pola.
Tujuannya adalah Rolex, dia mengirimkan beberapa pesan panjang di sana. Lalu melakukan video call.
"Intinya, buat gugatan dulu. Dila sudah tidur, besok aku diskusikan dengan Mama juga. Oh iya Lex, sekalian nanti tolong uruskan dokumen kepindahan mertuaku dan konseling untuk beliau," pinta Ezra beruntun. Rolex sudah ada diatas tempat tidurnya kala dia vcall.
"Bos, ciye yang udah gak Ari Lasso," ejek sang asisten.
"Apaan Ari lasso?" tanya Ayah Shan pada sahabat rasa aspri.
"Hampa terasa hidupku tanpa dirimu," kekeh Rolex mulai ngawur, menirukan satu bait lagu melow.
"Hmmm, ya bagus lah ... daripada kamu, salam hangat untuk cintaku, aku yang kandas dan patah hati...." balas Ezra menyanyikan bait lagu trending tak lekang dimakan usia, milik diva Agnes Monica.
"Ngomong-ngomong, dia udah makin akrab aja sama si onoh, kamu kelamaan Lex ... jangan salahkan aku yaa padahal sudah beri kamu akses VVIP namun di sia-siakan," kecam Ezra mengingatkan pada sang Aspri agar tak lupa berjuang untuk cintanya.
"Yeee, Bos. Aku gak jera, belum dan jangan sampai ... dah malam Bos, tuh Nyonya minta kelon. Selamat siaran ulang unboxing ya." Rolex memutus panggilan sepihak kala mendengar Dila mengigau. Ia menghindari obrolan yang akan membuatnya teringat seseorang.
"Berisik Abang," keluh ibunda Shan seraya meringkuk dan berbalik badan.
"Loh, bisa dengar?"
__ADS_1
"Bisa, kan aku gak lepas yang kanan, nih." Dila membuka matanya sekilas, menoleh ke arah Ezra menunjukkan satu alat bantu dengar berukuran kecil yang masih menempel di telinga kanannya.
Merasa mendapatkan angin segar, Ezra menahan tubuh istrinya saat akan kembali berbalik.
"Baby, aku gak bisa tidur. Nih...." Ezra menarik tangan kiri Dila, mengarahkan telapak tangannya menyentuh sesuatu.
Blush. Pipi kuning langsat itu merona.
"Ya, boleh?"
Dila hanya mengangguk, kemudian izin ke bathroom agar dirinya lebih segar setelah tertidur sejenak tadi.
"Bismillah, tugas pertama Dila," batin putri angkat Ruhama, kala ia kembali menuju dekapan hangat suami yang telah menungu di peraduan.
...***...
Sementara di tempat lain.
Al Zayn menikmati suasana malam kota pelajar saat dia baru saja landing. Ditemani Emery yang dia sandera, namun tak seperti tawanan pada umumnya.
Kedua pria itu lebih pantas jika di juluki sebagai pasangan ayah dan anak karena keakraban sesekali tercipta di sela perdebatan tak mutu yang kerap terlontar dari mereka, dua lelaki beda jaman.
"Kenapa Dila lari dariku?" ujarnya tiba-tiba saat duduk di salah satu kursi taman jalur pedestrian.
"Karena bukan takdir. Dila milik putraku," ujar Emery.
"Besok aku janji akan membuka semua dengan rinci asal kau tak melukai keduanya, Zayn. Lepaskan bebanmu, Nak."
Al Zayn tak menggubris perkataan pria tua yang duduk di samping. Hati kakak kandung Alyssa sesaat menghangat, namun tak jarang memanas kala realita menyadarkan bahwa ini semua tidak nyata untuknya.
"Bisakah aku bahagia? menemukan wanita yang tulus di sisiku?" tatap nanar matanya pada lalu lintas malam yang masih semrawut.
"Semoga bisa, pantaskan dirimu agar Tuhan memberi jodoh yang terbaik, sesuai dan tulus, " balas Emery.
Setelah pernyataan panjang, saling membagi rasa, keduanya tak lagi bersuara. Larut dalam ingatan kelam masing-masing.
Emery menggali ingatan lama yang telah ia kubur dalam, esok adalah hari terberatnya, semoga bisa dilalui dengan baik.
"Fransiska, tak ku kira luka yang kau torehkan akan membekas dalam dan gelap terhadap mereka."
__ADS_1
"Hingga akhir hidupmu, sebegitu bencikah padaku? hingga enggan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, kau rela membawa rahasia kebejatanmu hingga liang lahat, membalas dendam atas kesengsaraan dirimu melalui dia. Kau merusak semuanya, padahal Zayn butuh penjelasan. Dia anak baik."
Huft. Emery menghembuskan nafas sesak yang seakan menghimpit selama puluhan tahun.
...***...
Mita masih mengobrol dengan Arjuna, untuk mengucapkan rasa terimakasih karena berkat bantuannya, keluarga Qavi dapat menemukan nasab terputus milik kakak iparnya itu.
"Istirahat ya Mita. Tahun ini insya Allah sebelum romadhon keluarga ku pulang ke indo untuk membicarakan kelanjutan niatan kita," ucap Arjuna di ujung belahan benua Eropa.
"Iya Mas, bentar tidur ko. Aku gimana Mas Juna aja deh. Kuliahku juga belum usai, lagipula urusan ini sudah di handle Papa, aku nurut aja," balas Mita lembut, dirinya memang telah menerima perjodohan yang Emery ajukan.
Arjuna juga sudah mengutarakan niatan untuk serius dengan Mita. Saat ia pulang ke tanah air nanti, inginnya langsung melaksanakan akad nikah.
Jika hati Mita dan Arjuna sedang menghangat, tak berbeda jauh dengan suasana kamar yang berseberangan dengannya kini.
Ezra bagai singa lapar yang lama tak bertemu makanan. Perlakuan halus, tak jarang agresif membuat Dilara kewalahan meladeni apa yang suaminya inginkan.
"Dila, jang-an ... nan-ti aku," racau Ezra ditelinga Dilara seraya menarik selimut yang mulai turun menyingkap tubuh mereka.
Ranjang yang semula rapi, nyaman dan hangat seketika berubah menjadi panas akibat pergulatan dua insan yang akan menjemput nikmat dunia.
Tak ingin kalah dalam pertarungan has-rat menggebu, Ezra mengembalikan posisi semula. Ia tak ingin tersingkir sebagai pemegang kendali permainan panas yang terus menggelora.
"Do-a, doa," bisik Dila tak henti mengingatkan.
"Boleh kan?" Ezra menjeda sesaat sebelum puncak seraya membisikkan lirih doa panjang.
Anggukan Dila membuatnya kembali terpacu ingin memberikan sensasi luar biasa bagi sang istri. Hingga..
Hosh. Hosh. Hosh.
Nafas keduanya tersenggal setelah tertahan beberapa detik di udara. Mereka saling memeluk, mengikis jarak agar tak tercipta celah dalam upaya pelengketan kulit satu sama lain dibawah tabir yang sama.
.
.
..._____________________...
__ADS_1
...Up dulu sebelum tidur, baru sampai ðŸ¤, kayaknya naik besok pagi sih.....