SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 42. MULAI PEDULI


__ADS_3

"Mba," Dila menyebut nama Winda lagi.


"Eh, iya Non. Hmm, saya aja yang mengembalikan buku ke perpustakaannya ya. Non Dila istirahat dulu disini. Saya bakalan balik lagi kok, dan akan mengantar Non pulang," tawar Winda pada Dila mengingat kondisi gadis itu masih lemah. Tidak memungkinkan naik kendaraan bermotor menuju tujuan kedua mereka yang letaknya lumayan jauh dari rumah sakit.


"Iya deh boleh. Tolong ambilkan kartu Identitas perpus di tas aku, Mba. Juga uang dendanya barangkali kena sanksi atau apapun itu," ujar Dila meminta agar Winda mengambilkan tas ransel miliknya.


Wanita yang masih terlihat pucat, memberikan dua buah kartu Identitas. Tak lupa tiga lembar uang seratus ribu untuk berjaga-jaga apabila keterlambatan pengembalian buku dikenakan sanksi materi.


Driver wanita itu pergi keluar dari bilik IGD, menutup tirai rapat setelah meletakkan satu botol air mineral dari dalam tasnya, di atas meja sebelah brangkar.


Hingga menjelang petang. Winda baru kembali.


"Non, maaf lama ya. Ngurusin Wildan dulu lalu kejar setoran sekalian jalan kesini dari sono eh banyak orderan. Maaf ya di sambi," ujarnya tak enak hati.


"Iya gak apa, kita pulang yuk. Sudah mau petang," pinta Dila.


"Ini kembaliannya. Tadi cuma di denda dua puluh lima ribu, Non. Mau pulang? aku tanya suster dulu ya," sahut Winda. Ia bergegas membuka tirai bilik, menuju meja suster.


Suster mempersilakan jika memang kondisi pasien telah memungkinkan untuk kembali pulang.


Namun Winda sanksi karena melihat Dilara masih sangat pucat dan lemah.


"Non, pake ojek online yang mobil saja gimana? saya punya kenalan driver wanita jika Non Dila mau," ucap Winda saat kembali ke bilik tempat Dilara berbaring.


"Tapi kita tunggu surat kontrol dan slip tagihan pembayaran keluar ya, soalnya ada beberapa vitamin yang harus di tebus untuk Nona," terang Winda kemudian, ia lupa telah menyerahkan resep ke instalasi farmasi dari dokter yang memeriksa sang Nyonya pagi tadi.


Dilara hanya menanggapi semua ucapan Winda dengan anggukan samar. Kepalanya masih sangat pusing. Tak lupa memberi wanita itu uang untuk membayar tagihan rumah sakit.


...***...


PIK Tower. Ba'da maghrib.


Ezra turun ke lantai dasar setelah menunaikan sholat maghrib. Masih memakai koko hitam juga sarung senada, ia mencari Dila, istrinya.


"Bi, Dila sudah pulang? siapkan makan malam untuknya juga ya. Tolong buatkan kopi, aku hampir tak pernah meminumnya di rumah ini, sejak sebulan yang lalu," pinta Ezra, saat pria tampan itu duduk di ruang televisi.


"Non Dila belum pulang, Den. Pergi sejak pagi tadi. Bibi juga khawatir daritadi bolak balik nanya ke lobby, barangkali staff melihat beliau dibawah namun jawabannya nihil," jawab Bibi.


"Biasanya berapa lama kalau pergi? tadi cuma bilang ke rumah sakit dan perpus aja kan?" tanya Ezra.


"Gak lama, satu sampai dua jam. Non Dila itu gak pernah keluar kamar kecuali untuk wudhu, mandi, dan makan ... keluar rumah pun bisa dihitung jari. Sejak tinggal disini selama lima bulan, Non Dila baru keluar apart sebanyak tiga kali. Selain itu dia di kamar sepanjang hari," terang Bibi.

__ADS_1


Degh.


"Sepanjang hari? dia tak bosan kah? diruangan kecil itu?... apa yang di kerjakan disana?"


Ezra bangkit, melangkah menuju ruang kerja mengambil ponsel miliknya.


"Lex, cari Dila ke rumah sakit atau perpustakaan dan bawa dia pulang," titah Ezra.


"Thanks," ucapnya seraya memutuskan panggilan pada Rolex.


Hampir satu jam menunggu, Ezra tak kunjung mendapatkan kabar dari aspri nya itu.


...***...


Rumah sakit.


Sejak menerima panggilan dan permintaan dari putra mahkota El Qavi untuk mencari Nyonya muda, Rolex bahagia karena tuannya itu sudah mulai peduli pada sang istri.


Dia melajukan kendaraan mewah milik Ezra menuju perpustakaan. Setelah menanyakan pada petugas, mereka menyampaikan bahwa member yang bernama Dilara, siang ini hanya mengembalikan beberapa buku yang terlambat dari jadwal pengembalian semestinya. Dan di wakilkan seorang wanita.


"Nona, semoga aku tak menemukan Anda di rumah sakit dan telah tiba di rumah."


Rolex memutar arah saat akan memasuki pelataran hospital dan memarkirkan mobilnya di basement.


"Nona eh, Nyonya eh, Nona...." Rolex panik hingga bingung menyebut nama panggilan untuk istri Ezra itu bila sedang tak dirumah.


Merasa ada yang memanggil sang sahabat, Winda menoleh ke arah sumber suara, masih memegangi Dilara yang akan menaiki mobil sewaan kawannya.


"Non, itu," bisik Winda di telinga Dila.


Gadis ayu yang masih terlihat pucat itupun menoleh mengikuti arah pandangan Winda.


"Nona," Rolex menghampiri.


"Tuan Rolex, ko disini?" tanya Dila lemah.


"Mencari Anda, mohon tunggu disini sebentar ... hey kamu, Nyonya harus duduk. Aku ambil mobil dulu," Rolex memerintahkan agar Winda menjaga Dilara sementara ia mengambil mobil.


Pria itupun meminta mobil avanza yang telah di sewa Winda agar membatalkan rute perjalanan mereka. Rolex memberinya kompensasi.


Tak berapa lama, mobil mercedes-benz telah terparkir di hadapan Dila. Winda segera membantu sang Nona masuk di kursi belakang.

__ADS_1


"Thanks ya Mba, maaf menahan pekerjaan Mba Winda. Aku transfer by top up saldo aja gimana?" tanya Dila lemah, sebelum ia pergi.


"Iya gak apa Non, ini surat dan obatnya. Lekas sehat kembali ya." Winda memeluk Dila.


"Hey, pelan-pelan bawa Nona ku, awas kalau ngebut," sergah Winda pada Rolex.


"Eh, ngaca. Beliau Nyonya muda kami, sudah sepatutnya menjaga dengan baik. Kamu jangan macam-macam," sentak Rolex tak terima ditegur Winda.


"Sudah, jalan Tuan," lirih Dila melerai pertikaian tak mutu mereka berdua.


Mobil mewah itu melaju perlahan meninggalkan Winda disana.


Dalam perjalanan pulang, Rolex melakukan panggilan handsfree. Ia melihat dari kaca spion dalam, wajah pucat majikan kecilnya itu.


"Baik, Tuan," jawab Rolex singkat.


Dila sudah tak memperdulikan sekitar. Ia sangat mual, kepalanya pening. Hingga mereka tiba di basement PIK Tower pun, Dilara bagai setengah sadar.


"Dila...." Ezra membuka pintu belakang. Terkejut melihat wanitanya lemas terkulai. Tanpa banyak kata, pria itu menggendong Dila lalu menuju lift dibantu Bibi yang membawakan tas juga jaketnya.


Pintu Unit apart dibuka oleh Rolex. Ezra membawa Dila menuju kamarnya di lantai dua.


"Kamar ku," lirihnya sangat pelan. Ezra mendengar namun tak ia hiraukan hingga tubuh yang dibopong pun meronta.


Dilara memaksa turun dari gendongan Ezra. Ia lalu berusaha berdiri, melangkah menuruni tangga satu persatu, susah payah.


Ezra mengalah, dengan sabar memapah Dila menuju kamarnya.


"Istirahat ya," ujarnya saat telah tiba dikamar Dilara.


Bi Inah pun sigap melayani majikan wanitanya itu agar nyaman berbaring.


"Gak demam. Kayaknya maag Non Dila kambuh ya?" tanya Bibi.


Dilara menggeleng pelan, ia tak punya riwayat maag. Karena merasa sangat pusing, dia memiringkan tubuhnya ke kanan. Menghindari tatapan intens Ezra yang enggan berpaling.


"Jangan memberi harapan padaku, Bang. Aku tak sanggup mencinta sekaligus membencimu nanti," batin Dila.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2