
"Sayang! Dila!" Teriak Ezra di tanggapi oleh beberapa petugas luar Bandara menuju ruang kesehatan.
Setelah sepuluh menit di sana.
"Baiknya ke rumah sakit karena kondisinya lemah, meski masih sadar," ujar dokter di Bandara.
Tak banyak cakap, Ezra meminta Dilara diantar ke rumah sakit segera. Dia menghubungi Rolex agar sang istri dapat menempati kamar yang sama dengan Bibi. Serta meminta supaya seseorang mengurus mobil miliknya karena tertinggal di Bandara.
Nyonya muda mendapatkan perawatan setelah pindah brangkar. Fisiknya melemah karena serentetan peristiwa, sejak kemarin ibu hamil tak dapat makan dan beristirahat dengan benar.
Sebelum di beri obat, Dila sempat berujar bahwa Ezra harus meminta video pemakaman Ibu disana.
Dua jam berlalu.
"Abang," tangannya terulur disertai panggilan lemah untuk suaminya.
"Dila? mana yang sakit?"
"Pusing, Ibu gimana?" lirihnya lemah.
"Sudah tiba di sana karena memakai pesawat passenger biasa jadi cepat. Baru saja usai di sholatkan dan akan di kebumikan ba'da sholat jum'at, mau lihat videonya?" tanya Ezra menawarkan hal yang dia minta.
Netra yang sudah bengkak karena tangisan sedari pagi, bertambah merah kala melihat dari video betapa banyak pelayat yang mengiringi kepergian ibunya.
"Di sebelah ada Bibi, jangan risau yaa. Beliau berangsur membaik. Tadi sudah sadar jadi semoga bisa ditanya apa penyebab semua ini selain karena memang takdir Allah," bujuk Ezra.
Putra sulung Emery menjadi pribadi penuh kehangatan setelah menyadari cintanya pada Dilara kian bertambah seiring masa. Ia begitu sabar menemani serta meladeni segala keinginan Dila.
"Bobok yuk, aku ngantuk, tapi mau tidur disitu." Tunjuknya pada brangkar Dila
"Naik, sini." Dilara menggeser tubuhnya agar Ezra dapat bergabung.
Tidak ada bantal paling nyaman selain lengan suami. Tak ada kehangatan melebihi dekapan hangat penuh kasih dari raga pemilik cinta.
...***...
Rumah sakit lainnya.
Rolex mencuri waktu di sela kesibukan saat Ezra tak ada di kantor. Ia kini mengunjungi lelaki asing yang di temukan beberapa hari lalu.
VVIP.
"Dia sudah siuman?" tanya pria dengan setelan mewah saat masuk ke dalam kamar.
"Dia pingsan selama tiga hari, Bos. Baru siuman tadi namun tidur kembali setelah minum obat," jawab sang bodyguard.
"Diagnosanya?"
"Tulang rusuk retak dua, lambung dan liver bengkak akibat pukulan benda tumpul. Pelipis sobek, tulang rahang bergeser. Akan dilakukan operasi jika Anda tiba dan menyetujui tindakan lanjutan," terangnya lagi.
__ADS_1
"Ckck, parah sekali, siapa yang berlaku demikian?"
Rolex memindai semua luka. Ini adalah bekas pembantaian. Bahkan wajahnya seakan sengaja di rusak agar tak dikenali. Apakah struktur wajah asli atau operasi? batin Rolex bergemuruh, sangat ingin membuka semua clue.
Satu jam lamanya dia di dalam kamar, hingga sebuah suara menariknya bangkit.
"To-long," ucapnya penuh nada kesakitan hingga wajahnya meringis.
"Siapa kamu? darimana? mengapa bisa begini?" cecar Rolex seraya duduk di kursi sebelah brangkar sambil bersedekap.
"Anda s-sia-pa?"
"Rolex," jawabnya lugas.
"To-long temu-kan adikku, foto di do-mp-et," balas pria asing masih dengan nada yang sama.
"Mana barang-barangnya?" tanya Rolex pada bodyguard didalam kamar.
"Ini Bos, adiknya masih belia entah dimana," pria berjas menyerahkan selembar foto.
"Dimana dia?"
"Dise-kap da-lam clu-b sudah dua bulan, seba-gai pene-bus huta-ng papa," ungkapnya kemudian.
"Aku akan di-bu-nuh, to-long aku."
"Kenapa kau harus mati? apa yang sudah ku perbuat?"
Degh.
Rolex termenung sejenak ia nampak berpikir keras, lalu meminta bodyguard didalam kamar agar merahasiakan semuanya. Sang Aspri dengan sigap meminta anak buahnya mempersiapkan sesuatu yang mungkin akan berguna suatu saat nanti.
Pria tangan kanan Ezra mendengarkan seksama setiap patahan kalimat yang keluar dari mulut lelaki yang dia tolong.
"Sehat lah lagi, kamu akan operasi dua hari kemudian. Saat kau pulih, tebuslah semua kesalahanmu itu. Aku permisi," ujar Rolex meninggalkan pria asing itu.
"Mung-kin aku es-ok su-dah ti-ada, baik-nya kau ber-hati-hati. Sem-ua kesa-ksian ku adal-ah be-nar, aku ber-sump-ah at-as nama Tuhan-ku."
Rolex berhenti sejenak, lalu menoleh kembali padanya.
"Aku akan temukan adikmu dan menjaganya. Jika kau harus pergi setelah mengutarakan kebenaran, pergilah. El Qavi bukan orang yang lalai akan amanah," tegasnya sambil lalu.
Mendengar penuturan Rolex entah mengapa dia begitu saja percaya bahwa pria perlente tadi akan memegang ucapannya.
"Aku tenang jika harus pergi. Terimakasih El Qavi," gumamnya seraya menutup mata kembali.
Bodyguard didalam sana selalu merekam apa yang terjadi meski ada cctv yang Rolex pasang diatas plafond.
...***...
__ADS_1
Sebuah markas.
Asisten tuan muda kalang kabut saat anak buahnya mengatakan bahwa pria tawanan mereka kabur hingga kehilangan jejak. Padahal mereka telah mencari berhari-hari.
"Gob-lok!!"
Plakk.
Dia melayangkan tamparan keras ke pipi anak buah yang diminta bertanggungjawab untuk melenyapkan pria itu.
"Aku tak ingin alasan apapun. Temukan dan habisi saja!"
"Jangan kembali jika tak berhasil. Bersihkan jejak dan lakukan semua dengan cara halus!" Titahnya lagi.
"Baik, Bos!" jawab ke empat pria bersetelan serba hitam. Mereka kembali keluar ruangan yang di dominasi cat hitam, menuju mobil guna melanjutkan misi pencarian.
Mereka menelusuri titik terakhir pelarian mangsanya hingga berujung ke suatu jalan setelah melewati lebatnya semak ilalang.
"Cari rumah sakit atau klinik sekitar sini, dan tanyakan apakah ada pasien yang datang dengan luka pada hari itu. Aku yakin, seseorang menolongnya dan menyembunyikan identitas. Tanyakan dengan hati-hati agar tak menimbulkan kecurigaan," ujar salah satu pimpinan mereka.
Bukan hanya sang tuan muda yang memiliki alat canggih, namun para anak buahnya pun dilengkapi peralatan mumpuni.
Menjelang tengah malam.
Satu pria asing melintas didepan sebuah kamar mendorong rak beroda. Kabarnya itu adalah kamar pasien VVIP. Tidak ada suster yang diiizinkan memasuki ruangan tersebut jika dia bukan petugas yang ditunjuk olehkeluarga.
Kluntrung.
Sebuah botol minuman menggelinding tepat di kaki salah seorang pria yang baru saja membuka pintu.
"Eh, punya siapa ini? Mas, ini punya kamu bukan?" serunya seraya mengacungkan botol minuman pada sosok pria yang baru saja lewat mendorong rak obat.
"Gak denger apa ya? masa sih, kan sunyi disini."
Deerrrsshhhh.
Seketika uap dingin muncul pada permukaan botol, rekasi yang tercipta akibat ion hangat yang dihasilkan sebab genggaman tangan. Membuat pria bersetelan jas itu menahan kesakitan lalu perlahan rubuh.
Pria satunya menolong rekan seprofesi, namun nahas. Sengatan jarum berukuran kecil yang mendarat di leher, melumpuhkan tubuhnya seketika.
Dua pria asing, dengan langkah santai. Mengatur para bodyguard yang telah melayang dengan rapi. Kemudian menghampiri ranjang tersangka yang mereka cari.
"Say goodbye," ucap suara bariton menyuntikkan sesuatu kedalam cairan infus.
.
.
..._________________________...
__ADS_1
...Mommy sok aneh, nulis sendiri mewek sendiri... kadang gugup kalau mau nulis adegan kekerasan, atau anu 🙃...