
"Shan, sini sama Ayah," Ezra meraih Shan yang telah berpindah gendongan dari Dila ke Mita.
"Duduklah Sayang, aku di sini," ujarnya pada sang istri yang masih terlihat bingung. Ezra bangkit agar Dilara dapat duduk di dekat Nyonya pemilik Joglo.
Davina tak melepas pandang pada sosok wanita muda berparas ayu, pemilik netra bulat, bulu mata lentik juga hidung mungil namun bangir, mirip sang kakak sulung.
Begitupun dengan Anastasya, terpana melihat looks Dilara yang sangat berbeda dibandingkan saat terakhir mereka berjumpa pertama kali.
"Dia kini sangat cantik," batin putri sulung Akbar.
"Dilara?" sebut Davina lembut, seraya menggeser duduknya mendekat pada istri Ezra meski mereka berbeda kursi.
Putri angkat Ruhama mengangguk samar, juga tak melepas pandang dari tatapan manik mata sepertinya.
"Alhamdulillah...." suara lembut Davina terdengar lega.
"Dila, ini Papa, Nak." Suara Akbar menyebut nama putri yang baru saja dia temukan. Dengan nada bergetar berharap wanita muda, duduk jauh dihadapannya bersedia menoleh pada sumber suara.
Dilara mengalihkan pandang, pada sosok pria, saat ia sekilas melihat keributan tengah malam di kediaman asyraf hamid beberapa waktu lalu.
"Aku dan dia? saudara satu Ayah?... A-abang?" Dila menunjuk Anastasya dengan isyarat mata, menoleh pada Ezra yang berdiri di belakangnya. Meminta lelaki itu mengkonfirmasi kebenaran.
"Iya Sayang. Kalian saudara satu Ayah." Ezra meragu namun ia harus menyampaikan perihal status mereka.
Tak dapat Dilara sembunyikan, gurat wajah terkejut tersirat jelas saat Ezra mengatakan kebenarannya.
"Dilara," sebut Akbar kembali.
Netra bulat menantu Emery kembali bersirobok dengan Akbar. Dila masih enggan menetapkan pandangan padanya. Ia pun melempar sorot mata kebingungan, pada Shan yang mulai tenang dalam dekapan Ezra.
"Enggak, Papa hanya milikku. Sanjaya hanya untukku," seru Anastasya.
"Kita pulang, Pa. Ayo," ajak sang putri Arabella. Menarik paksa lengan Akbar agar beranjak dari sana. Namun pria itu menepis tarikan Anastasya.
Akbar bangkit, melangkah mendekat pada putrinya. Merasa Dilara masih enggan berjumpa dengan si Ayah kandung, Ezra berdiri menghalangi, masih menggendong Shan.
"Duduklah, kalian. Selesaikan ini baik-baik," ujar Davina menengahi.
__ADS_1
Ezra pun duduk, menggeser posisi Akbar agar tak berdekatan dengan Dilara. Meski lelaki ini berstatus sebagai mertuanya, namun rasa hati masih enggan menerima dan menempatkan pria itu sejajar dengan Ruhama. Terlebih, Anastasya adalah pelaku kejahatan yang menyebabkan Ibu angkat Dila meregang nyawa.
Akbar sangat berharap, sorot mata hangat dia dapatkan dari Dilara. Namun, ia sadar keberadaan dirinya tidak dapat di akui begitu saja mengingat banyak kisah yang terbuang selama kurun waktu puluhan tahun.
"Dila. Papa hanya ingin kamu tahu, bahwa aku tidak pernah sungguh-sungguh mengabaikan kehadiranmu meski perlakuan terhadap Mamamu bukanlah sikap seorang suami sejati."
"Dan aku berupaya mencari kamu hingga masa dua tahun. Setelah itu, Papa akui, menyerah. Memilih membesarkan Anastasya. Tapi dalam hati terdalam, Papa tetap merindukanmu dan Devanagari, Mamamu. Meski aku tak pernah lagi mengunjunginya sejak ia di bawa kembali pulang oleh Danuarta karena beliau melarangku menemui putrinya lagi."
"A-aku...." Akbar terbata.
Mendengar penuturan Akbar, hati Dila panas, darahnya mendidih. Bagaimana mungkin dia mengatakan rindu namun tak punya keberanian mempertahankan ibunya.
Dila pun memberanikan menyela ucapan sang pria yang mengaku ayah biologisnya itu.
"Sudah, cukup. Biarkan seperti semula, anggaplah aku jika Anda ingin menganggap ada. Namun jangan mengharapkan imbalan apapun dariku ... aku ... aku, entahlah ... hatiku masih gamang, maaf," ujar Dilara menegaskan kondisi hati masih meragu, ia tidak dapat mencerna dengan benar banyaknya kisah yang diterima dalam waktu bersamaan.
Nampak gurat kecewa di wajah Akbar, akan tetapi sejurus kemudian lelaki itu mengangguk samar, menyetujui permintaan putrinya. "Iya Nak, baik. Papa ikuti maumu ya," imbuhnya dengan nada suara lembut, menatap Dila sendu.
"Za, kapan kalian menikah lagi?" tanya Akbar pada Ezra.
"Ya secepatnya ... aku gak sabar ingin meluk dia. Gak bisa berdekatan atau satu atap padahal kami bertemu. Pergi bersama pun tidak boleh jika hanya berdua, itulah sebab aku membawa mereka," keluh Ezra terbuka, menunjuk pada Mita juga Leon.
"Ya sudah, persiapannya bagaimana? Hanya nikah secara agama saja kan? kalian masih legal secara hukum?" tegas Akbar. Dirinya mengetahui status putri Devana dari Vega.
Ezra mengangguk. "Iya. Sudah Leon siapkan. Inginnya ba'da maghrib hari ini karena aku masih harus bertemu dengan seseorang sore nanti," balas Ezra cepat.
Anastasya tak terima. Dia menarik lengan Akbar segera agar meninggalkan tempat itu.
"Pa, Papa tega padaku? aku mencintai Ezra Pa, tapi papa malah menikahkan dia dengannya. Bagaimana aku? bagaimana! Dia bukan putrimu, mereka hanya mengada-ada," Anastasya gusar, ia bagai kehilangan logika.
"Tentukan pilihanmu, Mas Akbar!" pinta Davina.
"Aku, akan mengabulkan permohonan Vega. Anggap saja, ini penebusan sebagai orang tua yang lalai...." ucap Akbar mantap.
Davina segera meminta asisten rumah tangga, untuk berkoordinasi dengan Leon. Menyiapkan apa yang Ezra minta.
Anastasya geram, diam-diam berniat menyerang Dila. Mita yang berdiri di belakang Dila menangkap maksud tak baik gadis itu.
__ADS_1
Adik Ezra ini lalu bersandar pada tiang. Ketika Anastasya memutari kursi secepat kilat ingin menarik hijab ibunda Shan, Mita menyilangkan kaki sehingga ia jatuh tersungkur.
Leon dan Ezra tengah lengah saat gadis bar-bar itu melakukan tindakan bodoh.
Bugh.
"Awwh." Pekik kesakitan Anastasya.
"Ana."
"Rasain. Kakak macam apa kamu? jahat!" sentak Mita seraya menendang pelan kaki yang menghalangi jalannya untuk kembali duduk di kursi.
"Ana," Akbar beranjak membantu putrinya.
Situasi tak lagi kondusif, Davina mengajak Dila masuk ke hunian utama meninggalkan para pria di Joglo. Asisten putri Danuarta lalu meminta Anastasya meninggalkan kediaman mereka, namun Akbar harus tinggal. Tak ingin berpisah dengan sang ayah, gadis manja itu akhirnya menuruti perintah juga aturan yang di kemukakan sang ajudan pribadi Davina.
Sementara Dilara dan Mita diajak Davina memasuki ruang keluarga megah, Ezra di arahkan ke paviliun bersama Sanjaya.
"Dila, kau ingin bertemu Mama?" tanya Davina saat mereka duduk berdekatan di sofa.
"Mamaku? bukan Anda?" balas Dila. Bukankah paras mereka terlihat mirip, namun ternyata bukan.
Davina menggelengkan kepala pelan. Dia menarik nafas yang sedari siang tadi sangat sesak.
"Devanagari, nama Mamamu. Putri sulung pejabat pembantu Wedana di karanganyar. Meski kami bukan keluarga bangsawan, tapi ibuku adalah salah satu orang kepercayaan Ratu."
"Mama tidak sakit ya Dila. Dia hanya lupa sebagian ingatannya, Deva masih sangat sehat karena dia tetap rajin beribadah, sama sekali tidak lupa setiap bacaan sholat maupun hafalannya." Davina menjelaskan singkat kondisi sang kakak.
Dilara mendengarkan seksama penuturan bibi nya itu. Dia pun memiliki kekurangan, apa sang Mama nanti dapat menerima kondisinya?
"Aku tidak dapat sempurna melafalkan beberapa kata karena tunarungu...." ucap Dila ragu.
Davina meraih tangan Dila dari atas pangkuannya. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk sang keponakan.
"Mama akan selalu menerima kondisi putrinya ... sudah siap?" Kedua pasang netra bulat saling bersitatap penuh pengharapan.
.
__ADS_1
.
...________________...