
"Tuan? kau memanggilku Tuan?" Ezra mendelik pada Dilara yang duduk disampingnya.
"Lalu aku harus memanggil Anda siapa?" Dilara kembali menulis.
"Tuan," ucapnya.
"BAIK TUAN MUDA." Dilara menulis dengan huruf kapital.
Setelah perdebatan kecil tentang nama panggilan, suasana kembali hening hingga mobil yang membawa mereka tiba di pelataran rumah Ruhama.
"Permisi, aku turun duluan." Dila menunjukkan catatannya lagi pada Ezra.
Dia membuka handle pintu mobil itu lalu menurunkan kaki yang tertutup gamis coklat tua dari sana.
"Ezra, segera urus pengobatan Ruhama esok hari agar kesehatan beliau kembali pulih," pinta Emery saat melihat Ezra turun dari mobilnya.
"Iya Pa."
"Kak, kami pamit pulang ya ... jaga Dila untukku," bisik Mita berjinjit agar dapat menjangkau telinga sang kakak yang tinggi menjulang disampingnya.
"Nyonya Ruhama, kami pamit undur diri, Ezra akan disini dahulu," tutur Emery menghampiri Ruhama didepan teras rumah.
"Baik, terimakasih Tuan Emery," sahut bunda tak kalah santun.
Mita melambaikan tangan pada Dila yang melihatnya dari teras sebelum masuk ke dalam mobil mereka dan meninggalkan kediaman besannya itu.
"Masuk, Nak Ezra," ajak Ruhama pada menantunya.
Ezra hanya mengangguk mengikuti ajakan mertuanya masuk kedalam rumah.
"Itu kamar Dila, rapi ko, semuanya sudah diganti baru jangan kuatir ... selamat istirahat," jelas sang ibu sambil lalu masuk kedalam kamarnya.
"Tuan, silakan ... air hangatnya sudah siap jika ingin mandi." Dilara menulis dan memperlihatkan pada Ezra yang terlihat bingung.
"Dimana?"
Dilara melipat jemarinya, menunjuk dengan jempol ke arah kanan dari tempat ia berdiri.
"Baik. Jangan kau sentuh semua barang-barang ku, kita tidak akan lama disini," pinta Ezra tegas pada Dila.
Dilara kesulitan membaca gerakan bibir Ezra yang terlalu cepat. Ia hanya mampu menganggukkan kepala seraya mencerna maksud ucapan suaminya itu.
"Apa maksudnya ya? ga boleh dibongkar atau gimana?" batin Dila.
Gadis itu tak ingin ambil pusing, ia hanya membuka koper Ezra untuk mengambil satu helai pakaian ganti lalu meletakkannya diatas tempat tidur.
Tak lama, Ezra keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamar yang Ruhama tunjukkan tadi.
"Kan sudah kubilang, jangan menyentuh barangku!" Ezra marah Dila mengindahkan larangannya.
Yang dibentak, hanya diam ditempat dengan wajah bingung.
"Maaf, tadi aku salah mengartikan, maaf Tuan, aku bereskan kembali." Dila menulis cepat lalu menyodorkan pada Ezra.
__ADS_1
Srak.
Ezra menampik buku catatan Dila hingga membentur lemari dan berserakan di lantai.
"Lihat baik-baik bila aku sedang bicara agar kau tak salah mengartikan maksudku," Ezra menunduk, mensejajarkan posisinya dengan Dila yang memungut kertas catatan.
"Lihat aku, mengerti?" Tangan kekarnya mengangkat wajah Dila.
Dila hanya mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang membuat otak seketika beku, tak dapat mengimpuls perintah dengan baik.
"DENGAR TIDAK?" bentaknya lagi.
Tok. Tok.
"Nak Ezra, tak perlu susah payah berteriak malam begini, istrimu itu tunarungu. Jangan membuang tenaga, dia tak akan mendengar semua ocehanmu ... lantang atau lembut, bagi Dila, sama saja," ujar Ibu menyadarkan Ezra.
Ruhama mendengar keributan dari kamar putrinya. Apa yang ia khawatirkan terjadi, Ezra tak memahami kondisi anaknya dengan baik.
"I-iya Bu, maaf," balas Ezra kaku, ketahuan membentak Dila.
Aku lupa jika disini tidak ada peredam suara, Ezra membatin.
Ezra melihat gadis itu masih membereskan kekacauan yang baru saja ia buat. Tak ingin ambil peduli, Ezra pun naik ke atas ranjang, merebahkan tubuh lelahnya.
"Kau tidur dimana?"
"Ck, susahnya mau komunikasi. Dila, kau tidur dimana?" Ezra menepuk sisi kasur agar Dila melihatnya.
"Dilantai saja, aku punya kasur lipat, Tuan. Jangan khawatir." Dila kembali menulis.
"Benar, aku sadar diri siapa aku, bagaimana harus bersikap dan lainnya. Jangan khawatir, aku pun tak akan pernah meminta dari Anda, jika bukan tangan itu yang memberikannya langsung," Dilara menyakinkan diri.
Tak lama, terdengar deru nafas halus dari sosok yang terbaring diatas ranjangnya.
Dila sulit memejamkan matanya malam ini, dia sungguh tak merasa nyaman berada dalam kamar dengan pria asing, meski itu suaminya.
"Tuan Ezra, mungkin sebagian wanita menganggap aku adalah gadis beruntung. Memiliki suami tampan sepertimu, mapan dan cerdas, figur pria idaman. Meski ini tak mudah namun aku akan tetap melaksanakan kewajiban, karena engkau suamiku," ucap Dila dalam hati . Kala memandang Ezra yang terlelap.
Menjelang Subuh.
Dilara lebih dulu bangun, menjaga dua roka'atnya di akhir malam panjang. Lalu beranjak kedapur untuk merebus air.
"Tuan, sebentar lagi adzan subuh. Aku sudah menyiapkan air hangat untuk Anda mandi. Juga saat sarapan nanti, Anda ingin dibuatkan apa?" Dila menggoyangkan kaki Ezra seraya tangan kirinya memegang catatan.
"Diam, aku masih ngantuk," ujar Ezra dengan suara parau.
Dila masih saja mengusiknya, hingga Ezra terpaksa bangun dan duduk dengan wajah kesal.
Dilara menujukkan catatannya agar Ezra membaca pelan.
"Sandwich dan kopi. Jika tidak ada, sarapan apapun boleh yang penting aku dapat menelan makanan dengan baik," gumamnya.
"Apapun boleh? tadi Ibu membuat lontong kari, juga ada lebihan lauk yang dipisahkan catering untuk kita semalam." Dila kembali menorehkan tintanya.
__ADS_1
"Hem, jangan pernah lagi menyentuhku. Minggir." Ezra mengibaskan tangannya agar Dila menyingkir dari hadapan.
"Sabar Dila, sabar ... anggap saja sedang mengasuh bayi besar yang sedang merajuk ditinggal ibunya," ujar Dila menghibur hatinya. Kemudian merapikan kamar, ia tak lagi berani menyentuh semua barang milik suaminya.
Dila memilih keluar kamar menuju dapur untuk berwudhu di kran air dekat pintu belakang.
Ruhama telah menata beberapa menu diatas meja tamu yang merangkap menjadi meja makan bagi mereka.
"Nak Ezra, setelah sholat subuh nanti lalu sarapan dulu," Ruhama berkata saat melihat Ezra melintas menuju kamar.
"Baik, Bu. Terimakasih," balasnya sambil lalu.
Didalam kamar, Ezra melihat gadis itu masih diatas sajadahnya sedang memegang mushaf kecil.
Ezra mendengar lirih suara Dila yang tengah mengaji.
Menyadari suaminya telah masuk kembali ke dalam kamar. Dila diam, meski tetap melanjutkan bacaannya dalam hati.
"Kamu bisa ngomong ga sih?" tanya Ezra sembari menggelar sajadahnya.
"Dila," tegurnya lagi dengan mengibaskan tangan didepan wajah Dila.
"Apa?" Dila kelepasan bicara.
"Kamu bisa ngomong?"
Dilara hanya menganggukkan kepalanya pelan, meraih catatan di depannya.
"Tapi tidak tegas jika berbicara kalimat panjang, karena aku tidak bisa mendengar sehingga aku kesulitan mengucapkan pelafalannya dengan benar." Dila menulis pada catatannya.
"Tidak usah bicara denganku jika begitu, lakukan sesuai kebiasaanmu saja daripada aku pusing mencerna maksud dari ucapan kamu nanti, " balas Ezra sebelum ia melakukan takbirotul ihram.
Dila kembali meneruskan muraoja'ah binnadzor meski lirih, sebisa mungkin dia menggunakan tajwid dengan benar sesuai arahan Nyai Syuria.
Setelah sholat, Ezra memendar pandangannya berkeliling kamar.
"Penataannya bagus, rapi dan pilihan warna kontrasnya sesuai. Benar kata Mita, kamu membuat kamarmu nyaman meski sempit," ucap Ezra dalam hati.
Saat sarapan.
"Bu, aku akan mengurus pengobatan Ibu mulai hari ini ya. Kita akan pergi jam delapan nanti ke rumah sakit untuk medical check up," Ezra menyampaikan niatannya pada Ruhama.
"Tidak usah, terimakasih. Bawa saja Dila, tak perlu merisaukan ku disini," balas Ibu dingin.
"Ini janjiku pada Dila, ku mohon Ibu berkenan."
"Janji? apa yang kau janjikan, jadi kau menikahi Dila bukan karena ingin? hanya untuk sebuah janji?" cecar Ruhama, emosi pada Ezra.
Glek.
.
.
__ADS_1
...__________________________...
...Tahap revisi ya untuk Dilara, semoga makin nyaman dibaca. Thank buat semua support akak 😘...