
"Ndoro, maap gawat ... Ndoro D---," bisik sang ART, disusul wanita muda yang membawa hidangan suguhan untuk tamu sang Ndoro.
Wanita anggun ini mendengarkan seksama apa yang Mban nya sampaikan.
"Biarkan dulu. Sudah ku bilang, jangan menyebutnya demikian. Dia sehat jiwa raga, nanti aku kesana sebentar lagi," ujar sang majikan.
Setelah Art itu kembali masuk, beliau melanjutkan perbincangan yang sempat terjeda.
"Maaf, tadi ada sedikit iklan. Di temukan dimana ini tadi?" imbuhnya, selendang emas itu kini telah berpindah tempat ke pangkuan.
Tatapan matanya tajam menyelidik pada Ezra.
"Di Surabaya, dalam lemari baju milik mertua angkatku," Ezra sengaja menggantung kalimatnya, ingin melihat reaksi sang Nyonya putri wedana.
"Maksudnya bagaimana? mertua angkat? apakah istri Pak Ezra adalah anak angkat, begitu?"
Ezra tak menjawab, ia hanya menganggukkan pelan.
"Benar ini milik keluarga Anda? apakah Anda pernah melahirkan anak perempuan sekaligus kehilangan dalam waktu yang hampir sama?" desak Ezra tak sabar.
Wanita ayu berbusana kebaya rumahan ini hanya diam. Dia sedang menimbang apakah sepadan jika membuka kisah kelam yang menoreh luka bagi seluruh anggota keluarganya.
"A-pakah berkenan menceritakan kisahnya dahulu? hingga ditemukan ini?" suara lembutnya mulai goyah, sedikit serak dan terbata.
Ezra tak ingin banyak bicara, dua pucuk surat Ibu juga milik si pembuang bayi diserahkan padanya.
Wajah ayu itu seketika kembali sendu, jemarinya kian bergetar hebat kala melihat dua lembar kertas usang di atas meja.
Sementara situasi di joglo di selimuti kabut kesedihan. Leon menepi, karena mendapatkan laporan dari Rolex bahwa Akbar tengah menuju lokasi mereka. Ia juga menunggu kedatangan Nyonya muda Qavi karena Ezra yakin bahwa ini adalah kediaman ibu kandung istrinya.
"Bakalan perang disini kayaknya," gumam Leon mengatur siasat sesuai permintaan Ezra, agar semua kian jelas.
Putra kandung Emery menunggu beliau membaca semua surat yang baru saja digenggam.
Hening.
Sunyi.
Kosong.
Hiks. Satu isakan terdengar, kemudian berubah menjadi tangis pilu menyayat hati.
Ezra sadar, dirinya berhasil menemukan orang tua kandung Dilara. Ucapan syukur terlintas dalam benaknya.
"Di-a ... dimana dia? siapa na-manya?" tanya sang wanita.
"Jadi benar?" tanya Ezra memastikan.
Wanita itu mengangguk cepat. "Saya Davina."
"Alhamdulillah ya Allah ... maaf, istriku agak kurang fit tapi sudah aku minta ke sini. Kami tinggal sementara di cottage dengan dua homestay didalamnya sekitar wilayah Otista ... Dilara huwaida, nama istriku, pu-tri Anda-kah?"
Davina hanya menatap manik mata elang pria tampan di hadapannya. Dia ragu untuk mengutarakan kebenaran.
Dalam keheningan, suara asisten rumah tangga memecah suasana.
"Ndoro, punten, anu...." suara kekhawatiran menguar. Wajah wanita sepuh itu kian ketakutan hingga membuat Nyonya Davina bangkit meninggalkan Joglo.
"Permisi Pak Ezra ... saya ke dalam dulu sebentar, silakan di nikmati sajian kami," ujarnya kemudian.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu.
Setelah menenangkan seseorang, dia kembali menemui Ezra di Joglo.
Saat dia tiba.
Terjadi keributan antara Ezra juga seorang pria yang dikenal baik oleh keluarganya. Leon memegangi Anastasya agar tak ikut andil dalam adu argumen kedua pria.
"Mas Ak-bar?" panggil Davina pada sosok lelaki arogan.
"Deva, Deva ... ini kau, mau masih ingat kan? aku menemukan putri kita, akhirnya," ujar Akbar yang mendapat teriakan putrinya yang lain. Dia menghampiri Davina, hendak merengkuh wanita itu.
"Stop. Jangan kurang ajar!" ucap asisten pribadi sang Nyonya.
"Dia istriku! masih istriku!" bentak Akbar sanjaya.
"Appa! PAPA! HANYA MAMA ISTRIMU!" teriak Anastasya tak terima bahwa ayahnya mendua.
"DIAM SEMUANYA!" seru asisten Davina lantang.
"Silakan duduk Mas Akbar, Pak Ezra, Pak Leon juga kamu, Nona," Davina masih berusaha melembut meski kebencian muncul kembali ke permukaan.
Huft. Helaan nafas para penghuni Joglo.
"Mas Akbar, kemana saja kamu selama ini? dengan maksud apa kini kau hadir? membawa putrimu? dari wanita perebut kebahagiaan kami?" tuduh Vina kemudian.
"Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Akbar sanjaya.
"Maka jelaskan!" sengit sang Nyonya.
Glekk.
Ezra dan Leon telah siap menyalakan sesuatu dalam tas mereka.
"Aku menikahi Devanagari, putri lurah karanganyar karena mencintainya. Gadis ayu kembang desa, pilihan Ayahku, Raden Budiharso Sanjaya. Kedua orang tua kami bertemu saat perayaan ulang tahun Sinuhun kala itu, Nyai Arumsari mengenalkan Devana pada Ayah."
"Setelah tiga tahun pernikahan, Devana tak kunjung mengandung membuat Kakek mendesakku untuk segera memiliki keturunan. Ayah telah sakit-sakitan sehingga asset perusahaan kami di Jakarta tidak ada yang mengelola ... aku kemudian pamit menggantikan posisi ayah di kota itu, meninggalkan Deva, di sini."
"Tiga bulan berselang, aku dipaksa menikah dengan salah satu putri kenalan Kakek, ayah mengatakan bahwa jika aku tidak memiliki pewaris maka posisiku akan digeser oleh paman. Otomatis harta warisan kakek pun akan berpindah kepemilikan, Ayah akhirnya ikut mendesakku."
"Pernikahan kedua ku dengan Arabella berlangsung tanpa Devana ketahui, dan di bulan berikutnya dia hamil. Sukacita menyelimuti diriku, hingga abai terhadap Deva. Aku jarang mengunjunginya sampai putriku Anastasya lahir. Keluargaku menutup erat tentang Arabella terhadap Deva."
"Kelahiran Anastasya, mengukuhkan posisiku sebagai pewaris dua kekayaan keluarga, milik Arabella juga kakek. Karena kehadiran putriku lah, kunci segalanya."
"Semakin sibuk dengan kegiatan pekerjaan, sesekali aku ke Jogja melihat keadaan istriku yang masih sangat ayu. Malam itu, hubungan dingin kami menghangat kembali hingga satu bulan berikutnya aku kembali ke Jakarta. Komunikasi saat itu tak secanggih sekarang, kami hanya berkirim surat atau semua hal disampaikan Deva saat aku pulang."
"Bre-ng-sek!!" cibir Ezra.
"Kau pun sama!!" sentak Akbar.
"Diam, lanjutkan...." seru sang Nyonya.
Akbar melanjutkan kisah hidup yang menoreh luka.
"Entah siapa yang membocorkan rahasia ini pada Deva, suatu masa dia mengunjungiku dikantor malam hari, menangis mengatakan bahwa aku tak pernah membalas suratnya lagi ... sejujurnya aku tidak pernah menerima sepucuk surat pun dari Deva. Yang tak kalah terkejut, istriku tengah hamil besar."
"Posisi ku sulit, jika Arabella dan kakek tahu, mungkin ia akan meminta pisah atau aku harus menceraikan Devana. Aku mencintai istri pertamaku, dan tak mungkin meninggalkan dia saat tahu ada darah dagingku di rahimnya. Akhirnya, aku menyembunyikan Devana di apartemen sembari menunggu kelahiran anakku."
"Tapi, semua diluar prediksi. Arabella dan kakek tahu, mereka murka. Sebisa mungkin aku menyelamatkan Deva dan anakku dari mereka ... semua masih dapat aku kendalikan hingga hari itu, 24 Januari, istriku melahirkan seorang putri cantik ... aku masih ingat wajah bayi mungil kala Deva menyematkan selendang peninggalan sang Mama sebagai selimut, karena menurut Deva benda itu mewakili kehadiran ibu kala menemani saat persalinan ... namun saat aku meninggalkan istri pertama ku setelah melahirkan karena Ayah kritis, putriku yang baru lahir, raib."
__ADS_1
Jeda.
Hiks. Suara berat lelaki menjelang senja itu menguar.
Tangis Akbar pecah, bahu tegapnya terguncang hebat. Sang ayah meninggal tepat saat bayi baru lahir itu di culik dan buang oleh seseorang.
"A-aku ... aku mencari tahu sekuat tenaga, dengan semua apa yang di miliki hingga praduga bahwa Emery, ikut andil di dalamnya mencuat dalam otakku. Karena saat itu, ayah tengah bersaing merebut tender besar dengan El Qavi.
"Fu-ckkkk!! kau fitnah Papa! kala itu Papaku baru merintis jatuh bangun, mana mungkin melakukan tindakan keji!" Ezra mengamuk hendak menghajar Akbar namun di cegah Leon.
Tring. Akbar melempar satu benda ke atas meja.
"LALU INI APA?! ditemukan dalam mobil yang membuang putriku, saat itu dia diantar oleh driver Ayah setelah pertemuan terakhir kalian, tepat satu hari sebelum beliau wafat, juga anakku hilang!" sentak Akbar melempar pin berinisial huruf E.
"Tanyakan pada putrimu ini ... atau orang kepercayaan Arabella!! itu bukan milik keluargaku!" seru Ezra tak kalah sengit.
Adu argumen yang Akbar layangkan pada Ezra berhasil dipatahkan pria tampan putra kebanggaan Emery.
"Aku tahu segalanya karena Papa menceritakan semua kisah penting padaku, kecuali cerita memalukan milikmu. Justru Raden Budiharsa Sanjaya meminta Papa agar menjagamu dari Kakek yang mengajarkan hal kurang baik dalam berbisnis ... kau tak percaya? tunggu Papaku datang!" sergah Ezra memukul telak Akbar.
"A-pa? gak mungkin," kilah Akbar
"Pantas saja. Inikah alasan mu menghancurkan El Qavi? dendam bodoh, tak beralasan! bahkan putri yang kau banggakan punya tabiat buruk! Anastasya ... tunggu saja kejutan dari ku," Ezra menatap tajam pada keduanya.
"A-ku, kenapa aku?" kilah sang putri Akbar.
"Tunggu saja ... ucapan selamat tahun baru...." tukas Ezra.
Davina menghela nafas. Cerita lengkap versi Akbar telah dia dapatkan, yang melatari kisah pilu terpendam puluhan tahun. Memisahkan takdir antara istri, anak dan suami.
"Lalu apa tujuan Mas Akbar kemari?" tanya Davina.
"Kembalilah padaku, Deva. Kita mulai lagi, kamu masih istriku," Akbar memohon. Dia berlutut dihadapan Davina.
"Papa!" Anastasya kembali tak terima atas keputusan sang ayah.
"Ck ... Mas Akbar, setelah sekian lama, apa gunanya? ... wajar jika kau mudah lupa pada kami. Sosok Devana yang kau bilang cinta itu ternyata tidak dapat meningalkan kesan pada ingatan. Bahkan, kau tak mampu mengenali dengan baik istriku sendiri...." Davina mencibir.
"Kalian telah bercerai, aku yang mengurusnya sendiri...." imbuh Vina lagi.
"Tidak, Deva! aku tak pernah menerima surat akta cerai itu."
"AKU BUKAN DEVA, KAU TAHU?" amarahnya tak lagi dapat dia tahan.
Ezra bahkan Leon terkejut akan suara lantang yang menggema dari tubuh anggun di hadapan mereka.
"Jadi ... Anda bu--," tanya Ezra menduga.
"Ka-kaamu?... dimana Deva!" lelaki senja tak sabar ingin menemui istrinya. Dia bangkit dan berlari menerobos masuk bangunan utama namun di cegah Abdi dalem almarhum Danuarta.
"Kau tak pantas!" sergah putri Danuarta.
Dalam pergulatan debat antara Akbar dan sang Nyonya pemilik kediaman. Tiba-tiba...
"... aku juga ingin meminta maaf pada beliau," suara seorang wanita.
Semua mata menoleh ke arah sumber suara.
.
__ADS_1
.
...____________________...