SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 82. MENEPI


__ADS_3

Sebelum pergi, netranya memendar sekeliling kamar. Ruangan sempit yang ia huni hampir satu tahun. Saksi atas segala perjuangannya semenjak tiba di Jakarta, perih pedih lelah sakit hingga bahagia dan kembali terpuruk.


"Bye kamarku. Sampai jumpa lagi, entah siapa penghunimu nanti," lirih Dilara menutup pintu pelan. Meninggalkan segala kenangan di dalamnya.


"Adek, bismillah sama Bunda ya. Tumbuhlah jadi anak yang sholeh agar ayah bangga padamu juga angkatlah derajat kedua orang tuamu di mata Allah. Aamiin."


Dalam hatinya sesaat merasa tegar, namun sejurus kaki melangkah, kalbu itu kian getir menahan rasa. Bulir bening kembali jatuh kala langkah perlahan memasuki lift untuk turun ke lantai dasar.


Dilara tak lagi peduli sekitar, pandangannya lurus kedepan, menuruni anak tangga lobby satu persatu menuju titik temu dengan Winda yang terhindar dari cctv.


"Jalan Mba, ke dokter dulu minta rujukan terbang buat adek juga surat keterangan lainnya kemudian ke sekretariat penampungan anak berkebutuhan khusus karena Anis menyiapkan kamarku di sana," ujar Dila pada Winda saat telah bertemu, dengan suara serak.


"Baby El, aman Non?" tanya Ibu yang juga memiliki seorang putra.


"Aman, sudah hangat. Dia tidur ko Mba dan aku sudah pumping asi di tas," balas Dila saat tubuh kurusnya sudah diatas motor.


"Bismillah, semoga ke depan semua baik ya Non. Semangat," sahutnya lagi menyemangati sang pelanggan. Dilara hanya mengangguk, menyeka air mata yang kembali turun seiring motor melaju.


Satu jam kemudian.


"Non, jaga diri ya, jangan lupakan saya nanti. Kalau udah balik ke indo lagi, kabari ya Non. In sya Allah saya gak akan ganti nomer ... ya Allah Non Dila," Winda tak dapat menahan tangis melepas kepergian wanita muda yang satu tahun ini sesekali mengisi semua kegiatannya.


Kesan pertama saat melihat pelanggannya itu adalah sopan, dan royal. Tidak ada rasa canggung berteman dengan dirinya yang berasal dari kasta rendah, sholihah karena menjaga adab dengan sesama.


"Mba, do'akan Dila dan El ya, sayangi Wisnu dan rajinlah berlatih. Jika nanti aku kembali pasti akan mencari Mba Winda ... pesanku, jangan katakan pada siapapun kemana kami pergi," Dila tak kalah terisak.


Sahabat pertama yang dia miliki di Ibu kota Jakarta, nyatanya banyak menolong juga menopang segala aktivitas yang dia mulai karena tak mengenal sesiapa.


Mereka saling memeluk erat, meluapkan rasa sesak di dada. Dilara perlahan melepas kepergian Winda dengan kendaraan dua rodanya yang kian menjauh dari pandangan.


Saat Nyonya Qavi telah tiba di kediaman ustadz Zaky, Rengganis langsung mengajaknya memasuki ruang tamu. Suami ustadnya itu tidak banyak berkomentar karena keputusan Dila sudah bulat dan ada penyebab lain meski Ibu muda ini menolak bercerita, ketika dia akhirnya melayangkan gugatan cerai terlepas dari ucapan talak kiasan Ezra.


"Aku gak bisa, rasanya sakit. Aku memaafkan namun untuk saat ini tidak dapat menerima apa yang telah dia lakukan padaku," jawab Dila saat ditanya Rengganis, sang sahabat.


Keduanya memilih diam tak lagi ikut campur dengan persoalan rumah tangga. Akhirnya pasangan itu mengarahkan Dilara agar mengisi data untuk POI (pertanggungan resiko) juga menyiapkan dokumen MEDIF (surat keterangan medis untuk bayi), sebagai syarat terbang karena El belum genap berusia dua bulan.


"Nanti kamu berangkat dua hari setelah kami ya Dila, semua barang mu dikirim kargo agar ketika boarding, kalian hanya membawa satu tas ke kabin. Paspor mu dan El sudah siap ... namanya pun sudah berganti dengan yang baru menggunakan surat keterangan dari disdukcapil karena perubahan akte aslinya belum jadi, tercetak dua minggu kemudian. Nanti kami kirimkan jika sudah di Indo kembali," ustadz Zaky memberikan semua dokumen kebutuhan terbang bagi mereka berdua.


"Selama di sana, semua kebutuhanmu di penuhi. Begitu pula di sini, jadi kamu tak perlu keluar rumah ya Dila," sambung sang sahabat.


"Gaji kamu di sana sebanyak USD$5000 untuk tiga bulan awal dan naik bertahap hingga mencapai USD $7000, belum tunjangan kesehatan dan lainnya ... in sya Allah cukup untuk hidup disana," jelas Anis kemudian.


"Anakmu beda sebulan dengan putraku, Dila. Semangat ya, semoga ini jalan terbaik. Jaga masa iddahmu jika sudah tahu pasti pengajuanmu dikabulkan majelis, meski kau harus bekerja demi El ya...." imbuhnya lagi setelah sahabatnya itu selesai mengisi semua data.


"Aamiin. Iya," balas Dila singkat.


"Yuk aku kenalkan dengan teman-teman di sekretariat. Hanya dua orang guru wanita juga satu pria yang berjaga di depan gerbang. In sya Allah semua amanah jika Mas Zaky yang meminta mereka untuk diam," ucap Rengganis menenangkan Dila yang terlihat gundah.

__ADS_1


"Ya Allah, lupa. Laptopku dan box alat pendengar, ketinggalan."


...***...


Senja terlewati. PIK Tower.


Velma merasa seharian ini begitu sepi, tak terdengar suara tangisan baby El. Dia lalu memberanikan diri mengetuk pintu kamar sang Nyonya.


Tok. Tok.


"Nona, boleh aku masuk? ingin membawakan cemilan untuk Anda," ujar Velma.


Hening.


Sunyi.


Sepuluh menit dia berdiri, menempelkan telinga pada panel pintu. Batinnya mencurigai sesuatu. Gadis itu memberanikan diri menekan tuas agar dia dapat melihat ke dalam.


"No- ... lah, kosong," Velma terkejut.


Dia lalu melihat laptop telah di kemas rapi, juga box penyimpanan sebuah alat yang menyerupai telinga tergolek di atas meja dalam posisi siap angkut. Disampingnya, terdapat setumpuk lembaran yang sukses membuat matanya membola.


Velma lalu menyadari, Nyonya mudanya pergi. Gadis itu memeriksa lemari baju dan ternyata firasatnya benar.


"Kosong, baju Nona juga sebagian berkurang. Gawat," paniknya segera berlari keluar hunian menuju ruang security untuk melihat cctv guna melacak kemana sang Nyonya pergi.


Sesampainya di ruang security, dia harus menelan rasa kecewa. Benar, Nyonya mudanya terlihat pergi keluar gedung berjalan kaki dengan menggendong El, hanya membawa sebuah tas kecil yang beliau jinjing.


Bodyguard wanita itu undur diri. Dia berusaha menghubungi Rolex namun ponselnya padam, begitu pula dengan bosnya.


Velma memberanikan diri berkirim pesan pada beliau perihal sang Nyonya. Langkahnya gontai saat kembali ke hunian, dia memilih menangis di kamar Bibi.


"Kenapa Velma?" tanya Bi inah masih terbaring lemah.


Fisiknya yang renta membuat pemulihan berjalan lambat. Pengasuh tuan muda belum dapat berjalan sebab penglihatannya masih berkunang-kunang jika berdiri terlalu lama.


"Nona, pergi. Pergi, meninggalkan kita, Bi," isak Velma.


"Innalillahi ... dosaku makin banyak ya Allah," Bibi tak kalah meratapi kepergian majikannya itu.


Sementara itu di Soetta.


Ezra baru saja tiba saat hari sudah berganti pagi. Dia memilih langsung pulang menaiki taksi, ada rasa kehilangan di sudut hatinya sejak siang tadi. Inginnya segera bertemu abege tercinta juga putra tampannya.


Biiipp.


"Sayang, aku pulang...."

__ADS_1


Velma yang tidak dapat tidur, bersegera keluar dari kamar Bibi, menghampiri tuan muda sebelum beliau menaiki tangga menuju kamarnya.


"Tuan ... sudah baca pesanku?" tanya Velma ragu.


Sebenarnya ia tak tega menyampaikan berita karena melihat wajah lelah pimpinan El Qavi itu namun ia juga tidak ingin berdiam diri terlalu lama. Mungkin Nona nya belum jauh pergi.


"Ada apa? batre ku low?"


Velma ragu. "Nona pergi dari rumah, beliau membawa Den El juga meninggalkan sesuatu di kamar," cicit Velma takut.


"A-Apa?" gumam Ezra seakan tak percaya pada pendengarannya.


Kaki panjang itu tetap melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika dia membuka pintu, langkah goyah seorang Ezra muncul.


"Tidak ada yang berubah, bahkan gelas bekas kopiku masih di sana. Dila tak masuk ke sini sejak dua hari lalu," lirihnya lemah.


Ezra lalu memilih turun kembali ke lantai dasar. Langkah kasar tercipta akibat hentakan kaki sang putra kebanggaan Emery saat berlari menuju kamar Dila semula.


"Dila...."


Kosong. Hampa.


Netranya mulai memanas, nafasnya memburu membuat dada bidang itu naik turun kentara.


"Ini? apa? Dila, enggak ... gak akan, kamu tetap istriku," wajahnya pias kala melihat lembaran diatas meja yang sudah di tanda tangani sang Nyonya.


"Dilaaa!!" Ezra mencabik kertas yang telah menyakiti hatinya itu.


.


.


...________________________...


...Status Dila abu2 jika merujuk hanya pada talak kiasan, hingga iddahnya pun menggantung. Namun jika gugatannya di penuhi sebab satu alasan dan bukti di laptop diajukan, atau yang terdapat pada sighat (tertulis di buku nikah), maka iddahnya berlaku sejak ketok palu putusan hakim. Masa iddahnya 3x suci (90 hari atau lebih)....


...Minimal masa haid itu, satu hari satu malam, umumnya masa haid 6 atau 7 malam, dan maksimal masa haid 15 lima belas malam, sedangkan masa suci di antara dua masa haid paling cepat adalah 15 malam, 24 atau 23 hari, dan paling lama tidak terbatas. (Safinatun najah)...


...Jika ia mengalami siklus haid normal kayak batasan di atas, maka ada kemungkinan masa iddahnya tepat 90 hari atau mungkin kurang dari 90 hari, tergantung bagaimana kondisinya saat putusan cerai terjadi, dalam keadaan suci atau sedang haid....


...Namun bila ia mengalami siklus haid yang tidak normal, di mana masa sucinya jauh lebih lama dari batasan di atas, maka masa iddahnya dimungkinkan lebih dari 90 hari....


...Lain pula jika saat menjalani masa iddah seorang wanita tidak mengalami haid karena menyusui, maka masa iddahnya setelah mengalami 3 kali haid. Kapan ia mulai mengalami haid? Kemungkinannya setelah ia tidak lagi menyusui bayinya. Ini berarti masa iddahnya bisa jadi akan lebih panjang dari 90 hari (atau 3x suci)....


...Bingung gak? 🤭 tapi biasanya penghulu atau hakim akan membantu menghitung masa iddah ko untuk menghindari ihtiyath (salah hitung)....


...❤❤❤❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2