
"Surat siapa ya? penasaran, apa Dila sudah baca?"
Hingga setelah sarapan, otak Ezra masih berkutat perihal surat yang dia temukan tadi pagi. Sekilas pandang melihat pada Dilara, tak nampak kejanggalan di diri ibu kandung Shan itu.
Ketika Dila hendak masuk ke kamar lagi, bermaksud merapikan baju Ibu untuk di bagikan ke panti sore nanti, Ezra menahan langkahnya.
"Dila, Shan ngantuk kayaknya. Aku tidurin dia dimana? kamar Ibu atau kamar kamu? sementara Mahira ngajar dan santri juga gak ada," tanya Ezra ketika melihat kamar Ruhama mulai berantakan karena Mita membongkar semuanya.
"Di sini boleh, ranjang Ibu kosong ko itu. Kita beresin pakaian di tikar biar lega. Kalau Abang mau tidur ya di kamarku aja," balas sang Nyonya muda hendak masuk.
"Mommy," lirih Shan memanggil dalam gendongan Ezra.
"Kan, Shan gak bisa lepas juga dari Bundanya. Aku masuk deh, nemenin dia dulu."
"Yeeee, alasan. Bilang aja biar bisa ngerumpi," sahut Mita menyambung obrolan.
Sesungguhnya benar kata Mita, Shan hanya alasan. Ezra ingin menanyakan perihal amplop surat tadi mumpung suasana rumah sedikit lengang.
Dua wanita muda, asik mengobrol seraya memilah perlengkapan Ruhama yang masih dapat digunakan. Termasuk alat dapur yang tidak akan di pergunakan lagi.
Setelah Shan lelap, Ezra mencoba membuka pembahasan.
"Dila, tadi aku lihat ada amplop usang di meja rias Ibu. Kemana ya?"
Dilara yang menyadari tak melihat benda itu di tempat semula, kemudian mulai mencari kembali.
"Eh iya, tadi di sini. Kemana ya, jatuh kah?" Ibu kandung Shan, berjongkok menilik kolong ranjang dan lemari, mencari benda itu di bantu penerangan lampu ponselnya.
"Aku bantu cari," imbuh Ezra seraya turun dari atas ranjang.
"Kak, ini bukan maksudnya? Mita simpan di sini," ungkap Mita setelah tahu pasangan muda itu mencari barang yang ia amankan tadi karena di mainkan oleh Shan.
Kedua pasang netra melihat ke arah tangan Mita yang menggantung di udara seraya memegang amplop coklat yang di cari.
"Nah ini. Benar, thanks Kak Mita," balas Dila menerima uluran benda itu.
__ADS_1
Jemari kiri berhias cincin berlian pemberian Ezra, menarik kertas dari dalam amplop, juga menumpahkan isinya.
Netra bulat Dilara membaca perlahan, seraya mengeja beberapa kata yang mulai pudar akibat tinta yang di gunakan seperti terkena lelehan air hingga melebar melebihi batas garis pada kertas.
Ezra beringsut duduk mendekat pada istrinya.
25 Januari 2002.
Malam itu aku terkantuk-kantuk di tepi ruko pasar induk Jakarta, menunggu rombongan Nyai Syuria selesai ceramah.
Keluarga Nyai, di jamu dan diundang tausiah di salah satu kediaman konglomerat di seberang jalan. Aku malas bergabung dengan mereka, merasa rikuh duduk di lantai marmer atau sofa empuk. Rasanya pantatku gatal berlama menikmati apa yang tak biasa ku punya.
Karena malam di Jakarta ramai, aku izin pada beliau untuk berjalan-jalan di sekitar pasar induk yang sempat ku lihat sebelum memasuki gerbang elite perumahan tadi.
Dingin lama-lama menusuk kulit. Ku putuskan untuk masuk ke dalam lorong mencari penjual makanan yang telah buka, ba'da isya. Karena tidak mungkin kembali ke perumahan hanya untuk menyesap segelas teh hangat.
Belakangan ku tahu, pasar beroperasi setelah tengah malam, pantas saja tak ku jumpai satu penjual makanan pun di sana. Hanya ada sekelompok bapak-bapak bermain kartu di pos keamanan ujung tengah pasar.
Hujan mulai turun, semakin menambah sunyi suasana malam itu. Penyesalan hadir dalam hati, aku memutuskan untuk kembali ke kediaman konglomerat dimana Nyai ku berada.
Tiba-tiba, saat akan melewati satu blok menuju jalan utama, dari sisi pasar yang tak di pasangi gerbang.
Tak lama. Mereka tergesa-gesa kembali ke mobil dan meninggalkan sebuah bungkusan. B 2675 SB, aku berusaha menghafal plat mobil yang mereka gunakan saat tersorot lampu kendaraan lain. Mencari batu disekitarku untuk menuliskan deretan angka tadi, berjaga bila aku lupa.
Dengan hati berdebar dan langkah ragu, aku memberanikan diri melihat apa yang baru saja mereka tinggalkan. Samar ku dengar suara rintihan seperti seorang bayi. Ku percepat langkah dan meraih bungkusan yang hampir di kerubuti semut hitam besar.
Betapa terkejutnya aku kala melihat bayi merah dengan ari-ari yang sepertinya baru saja di potong, menangis kencang karena kedinginan.
Aku mendekapnya erat, hatiku teriris hingga tanpa sadar air mata mengalir, deras. Tak tega akan kondisi bayi yang ku temukan. Sadar akan keselamatannya, aku memutuskan membawa temuanku pada Nyai ke kediaman konglomerat, dengan bantuan ojek yang melintas.
Sesampainya di kediaman mewah, ku sampaikan pada santri khidmah mengenai hal penting ini. Akhirnya atas bantuan Nyai, orang kaya itu mengutus asisten dan drivernya mengantarku ke rumah sakit, di temani salah seorang santri khidmah.
Dua jam lamanya aku menunggu di Koridor IGD hingga Nyai datang menyusulku. Dokter mengatakan bayi itu sehat, berjenis kelamin perempuan. Juga menyerahkan sebuah surat dan perhiasan sebagai identitas sang anak.
Dila menjeda apa yang dia baca. Hatinya mengatakan bahwa ini adalah kisah Ibu saat menemukan dirinya.
__ADS_1
"Sayang. Kalau gak kuat, aku yang melanjutkan baca. Boleh?" tanya Ezra seketika menarik perhatian Mita yang sedari tadi getol memilah baju Ruhama.
"Kenapa Kak?" tanya gadis yang masih belum lulus kuliah itu, melihat raut wajah Dilara sendu.
"Diem dulu Mit," sergah Ezra tak sabaran pada sang adik, Mita hanya menyebikkan bibir merasa kesal pada kakak sulungnya.
Dilara menarik nafas panjang. Antara sanggup dan tidak untuk melanjutkan, namun ini adalah kisah hidup yang perlu ia tahu karena Ruhama tak pernah sekalipun mengungkit tentang ini.
"Dila hanya putri Ibu. Jangan pikirkan yang lainnya."
Kalimat sakti milik Ruhama menguar dengan nada tinggi, jika Dilara menanyakan siapa dirinya kala dia di bully teman sekelas karena di juluki sebagai anak haram yang dibuang Ibu kandungnya.
"Sayang...." suara lembut Ezra membuyarkan lamunan. Pria berstatus suami di mata hukum, tak berani menyentuh wanitanya.
"Ehh, iya ... aku lanjutkan. Abang, nanti gimana?" tanya Dila cemas.
"Kita cari sama-sama, Ok? ada aku, tenanglah honey...." ucap Ezra menenangkan.
Saat akan membaca kembali lembaran kertas yang masih di tangan. Suara salam Mahira terdengar memasuki rumah lalu mendatangi kamar mereka.
Nafas gadis itu terengah. "Dila, Pak Ezra, kata Buya kapan mau nikah lagi? ba'da maghrib atau isya? siapkan mahar jangan lupa," ucap putri bungsu Yai Sa'id menyampaikan pesan Abuya dengan wajah bahagia.
Dilara menoleh ke samping kanannya, meminta persetujuan Ezra.
"Bentar ya Mahira, Dila menemukan sesuatu," ujar Ezra.
"Apa?" tanya Mahira seraya menyenggol lengan Mita.
"Ini lagi di baca, tunggu sebentar ya, Mahira. Setelah aku selesai baca nanti, Abang akan kasih keputusan bagaimana kelanjutan rencana kita," jelas Dilara pada kedua gadis di hadapannya.
Mita yang telah menyiapkan setelan couple bagi pasangan itu, seandainya mereka akan menikah lagi malam nanti, berharap cemas. Mengingat Dilara baru saja menemukan sepenggal cerita silam kisah hidupnya.
.
.
__ADS_1
..._____________________...
...Mo ngebut nih, bisa nyusulin ga? ðŸ¤...