SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 101. PROPOSAL


__ADS_3

Shan terbangun tepat kala Bundanya sholat. Ezra menggendong bayinya hati-hati. Mencoba mendiamkan Shan yang menangis mencari ibunya.


"Lapar, Shan? kata Bunda, kalau kamu bangun, Ayah harus beri satu biskuit. Kamu mau?"


Mendengar nama makanannya disebut, seketika putra Dilara terdiam dari rengekan manjanya. Ezra meraih tas bayi di atas meja cafe lalu mengeluarkan wadah berisi cemilan untuk Shan.


"Lunch for my Son, pelan Nak, pelan." Tangan dengan jemari gendut itu tak sabar meraih satu keping snack miliknya.


Shan kecil, mulai menggenggam kemudian mengecapi bulatan berwarna coklat ditangannya.


Dilara membiarkan kedua lelakinya menjalin bonding. Shan menggeliat karena posisi yang tidak nyaman, namun suami kakunya itu menyadari dan langsung mengubah gaya menggendong hingga Shan tenang.


"Habis? tumben, biasanya Shan gak mau banyak ngemil. Masih lapar gak Nak?" Dila menghampiri keduanya di meja. Dia mengeluarkan satu wadah berwarna biru berisi bubur tim Shan.


"Gak boleh dihabiskan ya? salah donk aku, nanti Shan sakit perut gak, Dila?" tanya Ezra merasa bersalah.


"Enggak, makan siang dia sudah terlambat. Wajar karena Shan keburu lapar ... Bunda ganti biskuit pakai pure sayur ya," ucap Dila seraya memasang celemek makan di tubuh montok putranya yang masih dalam gendongan Ezra.


Bayi gempal itu kecewa, menangis makanannya diambil sang Bunda.


"Jangan nangis, buka mulut Shan ... pinternya," Dilara yang pendiam, berubah menjadi ibu yang banyak bicara saat berinteraksi dengan putra satu-satunya.


"Bikin sendiri Sayang? repot banget ya, ngurusin Shan, ngajar, belajar ... kamu gak capek, Dila?" Ezra mulai khawatir.


"Katrin yang buat, aku hanya beri menu saja, so far Shan gak rewel soal makanan. Dia gak pemilih seperti seseorang," sindirnya kemudian.


"Iya, aku pemilih. Dulu," jawab Ezra sadar sedang di sindir oleh istri judesnya.


Dia mengamati cara Dila merawat Shan, telaten seperti saat mengurus dirinya kala sakit dulu.


Menyenangkan, perasaan yang dia rasa hari ini. Setelah Shan selesai makan, Ezra mengajak keduanya menuju taman di tepi dermaga, duduk di kursi panjang menikmati ombak jelang sore hari.


"Moms, tentang Ibu ... kamu siap mendengar berita ini belum?" Ezra menoleh ke arah kirinya. Masih menggendong Shan yang kian menempel erat padanya.


"Ibu?" lirih Dila menyebut panggilan untuk Ruhama. Netranya kembali mengembun mengingat wanita mulia itu.


"Anastasya, seperti dugaanmu. Rolex mengumpulkan buktinya dan akan membeberkan saat gugatan nanti. Dia mempunyai motif yang sama seperti Cheryl juga ingin mengakuisisi EQ building di Jakarta, milikku," ungkap Ezra.


"Minuman itu, ditujukan untukmu jika menurut penuturan Bibi. Dokter Ilman meneliti, efek cairan dalam minuman yang dia antar akan berakibat pada kontraksi hebat hingga menyebabkan kelahiran sebelum waktu nya atau terjadi pendarahan serius. Fatal terhadap kondisi janin juga rahim Ibu ... Sayang, entah aku harus bahagia atau sebaliknya," Ezra lalu tertegun, berhati-hati dalam berucap karena Dilara semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Firasat ku gak salah," lirihnya.


"Bukan aku menghalangi argumen kamu saat itu. Tapi bukti yang kami dapatkan belum lengkap, Sayang. Maaf, aku lamban."


Dila mulai terisak. Dia lagi-lagi diselamatkan oleh Bundanya.


"Sayang. Maaf," sesal Ezra.


Shan yang melihat wajah ayahnya murung, meletakkan satu telapak tangannya, membelai perlahan menenangkan.


"Maafkan ayah ya, Nak. Gak bisa jagain eyang juga Bunda kala itu," ucapnya ditujukan pada sang buah hati.


"Takdir. Pengorbanan Ibu untukku demi Shan," balas Dila, seraya menghapus jejak tangis dan menerawang jauh.


Hening.


Hanya suara deburan ombak, riak gelombang kecil yang memecah bebatuan pembatas tepi dermaga.


"Abang ... tentang aku pergi, maaf tak lebih gigih menunggumu. Aku terlalu emosi, lelah yang bertumpuk ... ah bukan, aku memang kurang sabar. Salahku meninggalkan Abang," Dilara menautkan kedua jemarinya, ia gugup.


"Aku melarang Winda memberitahu Abang semata agar tak mengusikku dulu. Namun kesempatan ini, entahlah ... seakan harus menjauh darimu kian jelas kala mendengar tentang lowongan sebagai trainer untuk anak-anak seperti ku."


"Aku yang meminta Rengganis dan ustadz Zaky agar membawaku serta. Dia temanku saat di pondok dulu. Juga meminta mereka mengurus perubahan akte lahir El, mengubah nama menjadi Shan ... Abang ingin dengar alasannya?" Dila melihat sekilas ke sisi kanannya.


"Why honey?" balas Ezra cepat.


"Karena aku ingin agar Shan tumbuh menjadi anak yang teguh, kokoh baik dalam keseharian ataupun saat menghafal kalam Allah, suaranya akan tetap merdu meski banyak air mata kala menjalaninya. Aku membayangkan dia akan hidup tanpa ayah karena video itu juga latar belakangku," tutur Dilara panjang.


"Sayang, No. Buang pikiran sempit itu, please." Ezra mulai mengerti arah pembicaraan istrinya.


"Ma-af."


Hiks. Dila menangis. Entah karena kebodohannya atau kenaifan diri menilai makna hidup.


Shan yang semula tenang dalam dekapan Ezra, memainkan squeeze, seketika meronta melihat Bundanya menangis.


"Aku membaca jurnalmu, semuanya. Bukan salahmu, Dila. Aku pun punya peranan dalam setiap peristiwa ... terimakasih atas niatan muliamu untukku." Ezra menenangkan putri Ruhama yang masih terisak.


"Semuanya?"

__ADS_1


"Hem, semuanya." Ezra kembali menoleh, menatap wajah sembab yang tak dapat ia sentuh.


"Aku ingin meminta izin pada Abang untuk tinggal di sini, belajar selama enam bulan ke depan. Setelah itu, menjalani kontrak kerja dua tahun sebagai balas budi pada Asyraf Hamid ... aku tengah mencurigai sesuatu yang berkaitan dengannya," pinta Dila tak yakin Ezra mengizinkan.


"Hanya itu, Sayang?"


"Tidak. Aku ingin Shan belajar pada seorang syech agar mahkrojl hurufnya betul. Peluang mendapatkan guru yang baik disini terbuka lebar baginya. Aku ingin ketika kembali nanti, kami memiliki sesuatu yang dapat di banggakan ... agar ketika bersisian dengan Abang, semua seimbang. Tak lagi ada tatapan sinis bahwa aku...." suara Dila kembali terputus, menahan sesak.


"Dila, jangan pikirkan anggapan orang lain."


"Tetap saja, predikat istri Ezra El Qavi adalah seorang penyandang disabilitas akan tetap melekat. Aku gak minder dengan kekuranganku ... tetapi aku ingin menjadikan ketidaksempurnaan yang Allah titipkan padaku ini dapat menjadi sebuah nilai lebih ... Bukan untuk manusia hasad, namun bagi yang membutuhkan," tegas Dila akan niatannya.


"Aku juga ingin Shan bangga lahir dari rahimku. Aku tahu, dia akan memuliakan kita sebagai orang tua. Akan tetapi putraku juga butuh senjata ketika keadaan menghimpit kelak. Setidaknya anakku bisa menjawab bahwa ibunya bukan benalu namun memiliki skill. Aku bukan Cinderella, Abang...." Dila bersungguh-sungguh dengan kalimat tegas yang terlontar.


"Dila, kamu terlalu jauh berpikir," Ezra mencoba mematahkan argumennya.


"Suka atau tidak, circle suamiku demikian. Abang terlalu tinggi untuk kami gapai maka aku harus mempunyai tangga menuju ke sisimu. Buatlah aku pantas bagi Ezra El Qavi, ya ... Izinkan aku," putri Ruhama menahan suara parau, mendadak semuanya sangat sulit terucap.


Ezra menatap nanar wanita disisinya. Hati yang baru saja pulih harus memilih antara siap dan tidak. "Kita perjuangkan ini sama-sama, kenapa tidak bisa?"


"Akan beda hasil dan rasanya ketika ada andil Abang didalam setiap proses ini ... biarkan kami merakit tangga sendiri, yah, bolehkan?" lolos sudah, buliran air mata yang sedari ditahan agar tak menganak sungai membanjiri wajah ayu khas Jawa.


Suasana mendadak syahdu. Ezra hanya diam, dia menimbang keinginan Dilara. Tidak ada yang salah, semua anggapannya betul. Akan tetapi, hatinya berat, juga enggan merelakan.


Lama dia menatap sosok yang kini terlihat jauh lebih tegar meski tetap saja tubuh itu ringkih membutuhkan sandaran.


"Sayang, bagaimana nanti kita ke depan?"


Dilara menoleh ke arah pria yang masih sangat dia cinta.


"Aku?"


.


.


..._______________________...


...😭😭😭 dilema...

__ADS_1


__ADS_2