SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
EXTRA PART 2


__ADS_3

Cibubur.


Garden Family Party yang digelar kedua pasangan pengantin baru, terasa hangat dan penuh keakraban meski hanya di hadiri kerabat juga sahabat dekat.


Menjelang dzuhur acara pernikahan Rolex dan Katrin selesai. Sonny terlihat lesu, cinta yang baru saja bertunas terpaksa ia pangkas lalu di tabur soda api agar tak lagi tumbuh.


Mungkin karena merasa mood nya buruk, pria itu melampiaskan kekesalan pada Winda yang hadir di sana. Hanya karena sebuah hal sepele, berebut dessert plate untuk mengambil slice fresh fruit.


Ketegangan pun terjadi, adu mulut antara kedua asisten berbeda bos akhirnya mengundang perhatian Dila yang akan pamit undur diri.


"Kalain berdua jangan sering berantem, nanti jodoh loh karena Mba Winda bakal jadi driver aku setelah pulang dari Malay nanti dan sementara karena aku gak ada disini, dia akan menjadi penghubung kebutuhan Shan juga Zayn," tegur Dila pada keduanya saat melintas.


"Mbak, tolong anter Mamaku pulang ya. Papa Emery dan Kak Mita bareng Sonny," pinta Dilara pada Winda.


"Ok, Non ... apa liat-liat, naksir kan Lo!" jawab Winda pada Dila sekaligus mencibir Sonny.


"Dih, ogah. Gadis kawe!" ejek Sonny.


"Heh, emang bisa bedain mana gadis Ori dan Kawe? jomblo abadi aja bangga, berasa kayu jati, makin tua makin mahal ... ck, modelan begini yang ada kropos duluan. Kalaupun gue kawe, situ gak bakal mampu beli," sergah Winda tak kalah bengis.


"Kau---" umpat Sonny.


"Sudah ... malu berantem dah pada tua. Pokoknya hati-hati ya kalian. Awas aja kalau jatuh cinta, aku panggilkan penghulu saat itu juga."


Ezra menggamit pinggang ibu hamil berlalu dari hadapan dua orang yang berseteru sebab perkara tak jelas menuju parkiran.


Sesaat setelah Ezra memastikan keluarga nya aman dengan seat belt.


"Kita ke rumah Papa Akbar yuk Sayang, pamit sebelum berangkat," Ezra memberi saran pada istrinya, berusaha ingin merajut lagi jalinan yang putus.


"Mama melarang, tapi gimana baiknya aja deh. Lagian mau di ingkari juga dia tetap Papaku kan? urusan dengan Mama ya biarkan saja jadi masalah mereka," akhirnya Dila luluh.


Porsche Baxter metalik silver meninggalkan venue pernikahan menuju rutan khusus wanita sebelum ke rumah Akbar Sanjaya.


"Ko ke sini?"


"Kamu, jenguk Anastasya dulu mau gak? kalau keberatan ya jangan."


Dilara menimbang. "Ok, sebentar aja. Semoga dia dalam keadaan baik didalam," balas sang Bunda Shan.


Pasangan Qavi memasuki ruang tunggu khusus besuk di bagian kanan gedung. Shan mulai mengantuk dalam gendongan Ezra ketika sipir mengatakan bahwa Anastasya menolak bertemu namun hanya menitipkan sebuah surat.


Dilara membaca barisan kata didalamnya. "Hmm, dia lagi gak enak badan takut nularin aku. Eh, dia tahu aku hamil dari siapa?"


"Aku bagi kabar ke Akbar kalau mau punya cucu lagi, sorry Sayang," ucap Ezra sedikit tak enak hati.


"Gak apa kok, Papa wajib tahu biar anakku di doakan Eyangnya. Nyonya Asyraf juga sudah dapat kabar ini kan? dan beliau antusias malah tiap pagi kirim doa buat kita," ungkap Dila, banyak kebaikan didalam sebuah prasangka. Hanya saja kita kerap menampik dengan alasan kejahatan mereka di masa lalu. Padahal Allah saja maha pengampun.


Ezra mengusap kepala istrinya. Lalu meminta Dila agar membalas isi surat Ana.


Selesai di rutan wanita, pasangan romantis itu melanjutkan perjalanan menuju Mansion Sanjaya Grup.


Hampir satu jam di habiskan membelah jalanan Ibukota. Akhirnya mobil sport milik sang pimpinan EQ Building memasuki wilayah kekuasaan Papa mertua.


Dilara takjub akan deretan rumah megah nan mewah sepanjang jalur masuk Sand Land, kawasan elite di ujung selatan Jakarta.


Tin. Tin.


"Sampai." Ezra menekan klakson agar gerbang hitam menjulang nan kokoh itu terbuka.


Tak lama, seorang pria menghampiri lalu meminta mobil melaju pelan ke sayap kiri dan masuk garasi.


Ezra mengikuti instruksi, hingga mobilnya terparkir cantik sesuai arahan sang penjaga. "Turun yuk. Kita nginep semalam disini," ajak Ezra di angguki Dila.


Rasa hati berdebar, suaminya memang tak pernah membicarakan ini padanya. Baru saja di perjalanan tadi, Ezra mengutarakan semua rencana baiknya ini.


Ada rasa syukur menjalar sekaligus ragu menyentuh kalbu Dila. Sang putra sulung Emery lalu menggenggam jemari istrinya untuk bersama masuk dalam hunian megah.


"Rumahnya Maa Sya Allah."

__ADS_1


"Istriku ternyata milyarder," bisik Ezra di hadiahi tatapan bingung Dilara.


"Tahu kan kenapa Anastasya dan ibunya khawatir akan kehadiran kamu, Sayang. Harta mereka macam penguasa Orba," imbuh Ezra lagi saat kepala rumah tangga menyapa keduanya yang masih berdiri di depan pintu.


Dilara hanya tersenyum tipis menanggapi, dia tak memikirkan harta.


Sang Pelayan senior lalu membawa mereka menuju ruang keluarga.


"Tuan. Raden Ayu Dilara sudah tiba," ucapnya melapor pada seseorang yang sedang duduk sendiri dalam ruangan besar super mewah.


Pria itu menoleh ke arah pasangan yang masih berdiri. Perlahan, ia bangkit dari duduk nyamannya.


"Di-Dila."


"Go on Sayang. Sapa Papa," bisik Ezra seraya mendorong punggung Dila pelan.


Dilara menoleh ke arah suaminya, sorot matanya berkaca-kaca. Akbar yang ia temui saat ini berbeda jauh dengan pertama kali mereka jumpa di Jogja.


Ayah Shan mengangguk samar, dengan isyarat mata tajam seakan mengatakan, pergilah.


"Papa." Dilara melangkah cepat, menghambur dalam pelukan sosok pria berusia lebih dari setengah abad.


"Putriku ... maafkan Papa ya, Nak. Maaf...." Akbar memeluk sang putri erat, wajah senja itu basah oleh lelehan air mata juga sedu sedan yang ia tumpahkan.


Ezra membiarkan keduanya larut dalam suasana haru, untuk pertama kalinya bersentuhan fisik.


Setelah beberapa saat.


"Za, tidurkan Shan di kamar sana. Lalu kalian istirahat gih, sore nanti kita ngopi ... Nduk, kandungan mu sehat kan?" tanya Akbar seraya mengusap perut anaknya.


"Alhamdulillah, doain ya Pa. Dila mau sekolah lagi bulan depan ke Malay, pulang sini sebulan sekali itupun kalau Abang izinkan dan sanggup terbang bolak balik."


"In sya Allah, ikuti apa kata suamimu. Kalau Papa kangen, nanti nyusul ke sana. Boleh kan, Za?" tanya Akbar pada menantunya.


"Hmm boleh, cuma tiga bulan ko di sana," imbuh Ezra menanggapi.


Dila enggan tidur siang, dia masih asik berbincang dengan sang Ayah di ruang keluarga.


...***...


Bulan berikutnya.


Winda telah menjemput Shan dan langsung membawa sang putra tampan itu ke Bandara dimana kedua orang tuanya menunggu karena akan langsung bertolak menuju Surabaya.


Menghabiskan waktu dua jam di udara kembali.


Malam hari, Surabaya.


Suasana persiapan lamaran Ermita dengan Raden Mas Arjuna Fawwaz sudah rampung. Nuansa biru laut mendominasi dekorasi kali ini.


Dilara takjub, semua terlihat sederhana namun tetap terkesan mewah. Termasuk setelan seragam yang akan ia kenakan esok nanti.


"Cantik banget bumil," ujar Ezra saat penjahit meminta Dila fitting.


"Ndoro Dila ayu alami, Den. Lagi hamil tapi body goals ya tetap. Ramping cuma madet, perutnya gak keliatan malah ... ini kegedean ya, Den, Ndoro?" tanya sang asisten designer.


"Istriku gitu loh. Seksi dan ayu ... udah segitu jangan di kecilin, aku gak mau lekuk tubuh Dila terlihat."


Putri Devanagari setuju dengan pendapat suaminya. Ia tetap ingin mengenakan gaun longgar agar leluasa bernafas juga menjaga kesantunan berbusana.


Keesokan pagi.


Sebagai Kakak sulung, tugasnya mewakili sang Ayah menyambut tamu di depan rumah saat rombongan calon Ermita tiba.


"Loh, Bu Naya?" Ezra terkejut kala rombongan yang ia sambut, adalah koleganya. Ia lalu menjulurkan tangan kanannya, menyapa seseorang di belakang Naya.


"Eh, ini tuh Ermita adiknya Pak Ezra ... Halo Bu Dila, apa kabar?" sapa Naya sama terkejutnya.


"Alhamdulillah baik, Bu Naya," jawab Dilara.

__ADS_1


"Halo Pak Ezra, saya Mahen." Mahendra menyambut uluran tangan Ezra.


"Iya, adik bungsu saya. Dan Arjuna?" jawab Ezra.


"Sepupu berbeda uyut. Juga kebetulan, adik Arjuna dulunya istri kakak kedua aku. Jadi ya masih saudara gitu..." jelas Naya masih berdiri di depan sementara keluarga lain sudah menempati posisinya.


"Oalah, Kusuma juga tapi beda Sepuh. Saya paham, dunia sempit ya ... kita jadi saudara deh dengan para designer kondang ini, juga duh saya insecure ketemu master IT juga pemilik agency bodyguard terkemuka," tutur Ezra memuji kebesaran nama Kusuma.


Melanjutkan obrolan seru sesudah acara, menjadi poin penting kedua pasangan yang ditemukan oleh sebuah perjalanan cinta.


Naya dan Dilara kian akrab dan seru membahas segala hal hingga.


"Kak, titip Fayyadh ya. Aku nyusuin Athirah dulu. Qolbi sedang di depan," pinta Aiswa menjeda obrolan mereka.


"Eh, Fayyadh yang ikut hafiz cilik, terkenal dengan suara merdu saat adzan bukan sih ini? ... sama Shan, kenal gak sayang? tuh Shan lagi main, Fayyadh mau gabung?" tawar Dila kala melihat anak kecil nan tampan.


"Kok tahu Mbak?" tanya Aiswa pada Dila.


"Shan, anakku ikut pelatihan masuk asrama hafiz cilik juga. Kayaknya beda kamar ya...." jawab Dila menjelaskan.


"Umma, aku gak ngerti," bisik sang putra tampan. Aiswa kemudian mengatakan inti pembicaraan orang tuanya hingga bocah itu akhirnya bergabung dengan Shan.


"Maaf ya, aku tunarungu jadi beberapa kata sulit untuk di pertegas pelafalannya. Belum operasi karena Abang bilang tunda hingga kandungan ku betul-betul kuat." Dilara mengerti jika Aiswa terlihat mencerna kalimatnya.


"Eh, gak gitu. Kami ngerti kok, malah gak kira kalau Bu Dila itu ... keren, Shan itu terkenal karena tegas banget tajwid nya. Belajar dimana?" Aiswa akhirnya bergabung dengan mereka.


"Sendiri, sempat belajar dengan syech di Sharjah tapi gak lama," ungkap Dila, meraih telapak tangan bayi perempuan dalam dekapan Aiswa.


"Maa sya Allah." Seru kedua wanita Kusuma, kagum akan kemampuan sosok wanita di hadapan mereka. Dalam keterbatasan tapi mampu mendidik Shan dengan sangat baik.


"Kita jadi saudara ya."


"Ini hamil, tapi gak kelihatan ya. Cantik banget, pantesan Shan tampan juga cerdas, Mama nya begini ... aku inget, Pak Ezra bilang, istri rahasia waktu dulu itu ya, ckck ternyata beneran pantas buat di rahasiakan." Puji Naya mengingat kala jumpa pertama mereka, Dila sedang hamil Shan juga body nya tetap ramping.


Dila menampik semua pujian yang di sematkan kedua wanita Kusuma, justru dirinya merasa kerdil dibandingkan mereka.


Obrolan para orang tua tak kalah seru dengan kedua bocah yang baru saling Akrab.


"Hai Shan. Aku Fayyadh."


"Hallo, Fayyadh. Cita-cita kamu sama kan kayak aku? ingin jadi hafiz?" tanya Shan.


"Iya sama karena Abiku hafiz." Fayyadh tersenyum bangga.


"Ok. Janji ya, hafiz. Agar Mommy punya mahkota indah dari ku." Shan tak kalah bangga menyebutkan ibunda yang amat sayang padanya.


Kedua jari anak lelaki itu terpaut, memegang janji. Akankah suatu saat mereka bertemu kembali?


.


.


..._______________________...


...TAMAT...


...Terima kasih banyak. Sudah menjaga jempol tidak boom like. ...


...Maaf jika tidak sesuai ekspektasi kalian, membingungkan juga pusing πŸ˜…. Semoga ada pengajaran yang dapat diambil meski melenceng jauh dari ide awal. ...


...Komunikasi dalam RT, penelusuran suatu masalah dari dua sisi, juga akibat dendam tak mendasar dalam versi berbeda yang banyak terjadi di sekitar, coba mommy tuang disini. Semoga masih bisa di cerna....


...Maafkan harus berakhir. Ada rasa enggan untuk melanjutkan, buka apk pun jadi ragu, akhirnya sampailah di titik bahwa notice report adalah sesuatu yang menakutkan πŸ˜ͺ... namun sadar kewajiban ekslusif, jadi bismillah, memejamkan mata pada notice and melanjutkan dengan rasa hati yang beraneka ragam... in sya Allah perjalanan ini akan membawa pada yang se-frekuensi... aamiin.. thanks a lot, kalian sudah sampai di sini πŸ₯°πŸ˜˜...


...πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ...


...Buat yang sudah ikhlas kasih Rate, Vote. Mommy ucapkan terimakasih banyak. ...


...Jangan lupa mampir di kisah selanjutnya. Antara Shan dan Fayyadh.

__ADS_1



...


__ADS_2