SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 118. JOGJA, AKU DATANG


__ADS_3

"Pawon Ratu...." eja Mahira pada standing banner di depan resto.


Gadis itu kian mengamati sosok bersahaja tak jauh dari pandangan dimana dirinya berdiri, hingga suara waiter yang meminta agar Mahira maju ke payment section membuyarkan lamunan putri pemilik pesantren itu.


"Order atas nama Mahira, saya bacakan ulang ya Kak ... totalnya 230.000, swipe card atau cash Kak?" tanya petugas kasir saat Mahira akan melakukan pembayaran.


"Cash saja ... hmm, itu yang sedang di wawancarai, siapa ya, cantik sekali," pancing Mahira atas keingin tahuannya.


"Oh beliau Ownernya. Pembawaan Bunda memang anggun," jawab sang kasir.


"Pawon Ratu, emang ownernya mantan Ratu ya? kerajaan kuno mana?" selidik Mahira lagi seraya ia mencari pecahan uang lembaran sepuluh dan lima ribu dari tasnya.


"Bukan. Filosofinya karena orang tua Bunda dahulu di percaya sebagai kepala dapur yang khusus mengolah hidangan untuk para Ratu ... sejarah nama ini tertuang dalam web kami Kak, boleh search pawon.ratu.jogja," ungkap kasir wanita dengan senyum ramah.


"Oh gitu. Makasih ya infonya," Mahira menyerahkan lembaran uang sejumlah bill yang dia terima.


"Terimakasih telah melakukan order di Pawon Ratu, semoga hidangan yang kami suguhkan dapat memberi vibes taste ala Ratu, nikmat dan berkelas," pungkas kasir memberikan closing greeting pada customernya.


Mahira lalu duduk sejenak menanti order selesai. Mata sipit itu kembali mengagumi sosok wanita dengan looks menawan di samping kirinya.


Sesi wawancara telah usai, tanpa sengaja kedua tatapan wanita ini bertemu. Sang owner tersenyum manis seraya menundukkan kepala pada gadis belia bernama Mahira.


"Ehh." Putri Yai Sa'id kikuk mendapat penghormatan dari sang owner. Ingin balik menyapa namun waitress menghampiri dirinya seraya menyerahkan pesanan yang tadi telah ia bayar.


"Maa sya Allah, cantik. Senyumnya mirip Dila," tanpa sadar, Mahira lirih berkata.


Gadis itu pun keluar dari resto menuju cafe sebelah dimana Leon, Shan juga Mita menunggunya.


Karena Shan tertidur, mereka mengurungkan niat makan di cafe. Leon mengajak kedua gadis itu agar segera meninggalkan mall karena Ezra telah menelponnya beberapa kali.


Dalam perjalanan ke kediaman Ruhama.


Mahira gelisah, berkali melihat capture di galery ponselnya tentang sosok cantik tadi namun dia belum berani menyampaikan perihal ini.


"Nanti saja, kalau ketemu Pak Ezra di rumah." Batin Mahira.


Satu jam kemudian, menjelang ashar.


Leon dan rombongan tiba di rumah asri nan sederhana peninggalan Ruhama. Hunian dengan fasad depan yang familiar pada jaman kolonial Belanda, langit-langit tinggi, berubin tegel hitam nan mengkilap menambah kesan nyaman meski terkesan kuno.


Banyaknya bunga di sisi teras dan beberapa tanaman obat yang ibu tanam kian membuat teduh tampilan halaman ini.


Saat Shan datang, ibundanya telah lelap kembali di dalam kamar. Dilara sedang tidak fit.


"Mommy," suara kantuk terdengar.

__ADS_1


"Sama Ayah aja ya, Bunda lagi bobok karena sedikit demam," bujuk Ezra pada putranya yang baru saja berpindah gendong dari Leon.


"Mommy," rengekan Shan kembali terdengar namun sang Ayah tak patah arang. Dia berdiri menggendong putranya hingga batita itu kembali memejam.


Kedua gadis dibantu seorang santri menyiapkan hidangan, menghampar tikar agar mereka dapat makan bersama.


"Leon, kalian duluan makan. Aku nunggu Dila dan Shan nanti," ucap Ezra seraya membawa putranya keluar dari ruang tamu dan duduk di teras.


Langkah Tuan muda Qavi diikuti oleh ajudan sang papa.


"Tuan muda, kapan berangkat ke Jogja? Rolex baru saja selesai menyiapkan keperluan kita di sana. Apa Nona muda juga ikut?" tanya Leon mengikuti sang majikannya.


"Nanti malam kita berangkat, kau makan dulu lalu jemput kami ba'da isya," jawab Ezra meminta sang aspri ayahnya melakukan apa yang dia butuhkan.


"Tuan Sanjaya bagaimana?"


"Entah. Rolex bilang Anastasya murka pada ayahnya karena mencari seorang wanita. Ku pikir ini berkaitan dengan Ibu kandung Istriku," balas Ezra lagi bertepatan dengan kedatangan Mahira.


Merasa bahwa ini waktu yang tepat untuk bertanya. Mahira mengikuti kedua pria Qavi ke teras seraya membawa baki.


"Pak Ezra, tadi aku lihat ini. Di resto Mall, saat beli menu makan siang tadi," putri Nyai Syuria menyodorkan handphonenya ke atas meja, di hadapan Ezra.


Lelaki tampan keturunan bangsawan Turki itu meraih ponsel dengan casing hijau tua. Memperbesar tampilan foto pada layar.


Gurat wajah serius tercipta, netra elang putra sulung Emery itu menelisik dengan teliti setiap garis wajah ayu di layar gawai.


Di tatap intens pria mapan, dewasa dan tampan, gadis belia itu kikuk.


"Ehhm, in-i tadi beli di Pa-won Ratu. Di mall, Pak Leon tahu kan ya resto ramai waktu aku antri?" ujar sang gadis.


"Iya tahu, kenapa?" pria dingin menjawab pertanyaan Mahira.


"Ya ownernya beliau, di panggil Bunda oleh pegawainya. Filosofi restonya ada di web, coba cek...." Mahira menyebut alamat website resto yang ia maksud.


Leon meninggalkan hidangan di meja. Dia bangkit dan berlari kecil mengambil laptopnya dari mobil. Sementara Mahira, memilih masuk ke dalam rumah bergabung dengan Mita setelah Ezra menyerahkan handphonenya.


Sang aspri pun kembali. Jemarinya lincah membuka laptop dan menekan tuts diatas keyboard.


"Tuan muda, silakan. Ini." Leon menggeser pinggan di atas meja. Mendorong laptop ke hadapan Ezra.


Pria bermata elang itu membaca barisan kalimat yang terjajar rapi. Jemarinya terus menggeser kursor turun melewati beberapa alinea. Hingga tiba pada satu gambar yang menampilkan suasana pawon jaman dulu.


Netranya menangkap satu lembar kain yang menggantung di atas meja display dalam foto, di sisinya terdapat wanita paruh baya tengah menata hidangan.


"Anggun sekali, apa ini Ibu kandung Dila?"

__ADS_1


Putra semata wayang dalam gendongannya menggeliat namun Ezra tak melepas pandang pada satu gambar di layar laptop. Hatinya mengatakan bahwa dia harus pergi sore ini juga.


"Leon, makan dulu. Kita langsung berangkat ke Jogja setelah Dila bangun dan Shan mandi," ujar Ezra kemudian.


Wajah tampannya dia tengadahkan ke atas menghadap langit-langit. Seakan memohon pertolongan agar pencarian ini Allah mudahkan.


Jika memang takdir Dilara adalah putri keluarga terpandang maka akan dia perjuangkan segala hak dirinya, namun jika sebaliknya, Ezra tetap bersyukur. Niat menikahi Dilara bukan karena asal usul semata apalagi saat ini, cinta pada wanita itu kian menguat.


Ajudan Emery mengikuti perintah sang Tuan Muda. Ia menghabiskan makan siang yang tertunda dengan lahap.


Sementara itu, Ezra meminta Mahira agar membangunkan istrinya pelan, Dilara harus segera bangun dan bersiap karena mereka akan pergi ke suatu kota.


"Leon, tolong hubungi resto buat janji temu dengan owner Pawon Ratu sekarang ... Mita, minta Arjuna, mungkin buyutnya punya kontak juru kunci Pakualaman di sana, aku ingin ketemu," ujar Ezra cepat, memberikan instruksi pada kedua orang kepercayaan saat ini.


Ajudan Emery sigap menjalankan perintah, di susul Mita yang terdengar melakukan panggilan pada karibnya.


Di dalam kamar.


Mahira berhasil membangunkan sang Nyonya Qavi, netra bulat itu akhirnya terbuka. Mendengar samar suara suaminya memberi perintah, dari balik tembok kamar depan, Dilara bangkit. Bertanya pada Mahira apa yang terjadi.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala tanda ia pun tak paham situasi genting saat ini.


"Tolong panggilkan Abang, tapi kamu jangan keluar dari sini ya," pinta Dila.


Sang sahabat pun mengikuti kemauan menantu Emery itu. Memanggil suaminya agar masuk ke kamar.


"Ya sayang? sudah baikan?" Ezra datang memenuhi panggilan istrinya, seraya menggendong Shan.


"Mau kemana? tidurkan Shan disini," Dila masih dengan suara khas bangun tidur, menepuk sisi ranjang yang kosong agar Ezra menidurkan Shan di dekatnya.


"Jogja, mencari tahu di sana. Mita, Rolex dan Leon sudah menyiapkan segalanya. Aku telah membuat analisa. Tinggal eksekusi, mau kan?" terang Ezra seraya membaringkan Shan diatas ranjang.


"Karena?"


"Foto ini Sayang. Juga diperkuat oleh temuan dari Mahira," Ezra meminta Mahira menunjukkan sebuah foto pada istrinya.


Putri angkat Ruhama menatap tak percaya saat Mahira menunjukkan sebuah gambar, Dila meminta jawaban pada sang suami. "I-ini ... sia-ppa?"


"Tuan, owner resto baru saja pulang ke Jogja setelah Safari outlet, ujar manager Pawon Ratu di Mall tadi," Leon memberikan laporan kilat.


"Fix, bersiaplah Sayang."


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2