SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 58. PEDEKATE


__ADS_3

"Maaf. Maafkan aku," Ezra masih memeluk erat. Ia mencium pipi kiri Dilara saat istrinya itu terisak. Lama dalam posisi demikian, ia sadar, wanita dalam pelukannya tengah menahan lapar.


"Lapar? aku temani makan ya," bisik lelaki dengan rambut yang masih basah mulai mencari perhatian.


Dilara menyentuh kedua tangan yang membelit agar melepaskan dia sejenak karena harus mematikan microwave juga teko air panas yang telah berbunyi nyaring tanda air mendidih.


"Biar aku, duduklah," pinta pria yang masih mengenakan baju koko dan sarung.


Ezra menahan tubuh yang dia dekap seraya menghapus jejak lelehan lava bening yang jatuh dari sudut mata. Mengurai pelukannya lalu meraih jemari nan gemetar itu. Menggenggam dan membawa pemilik raga duduk di kursi makan yang baru saja dia tarik dengan tangan kirinya.


Wanita berhijab marun tua hanya diam, melihat semua yang dilakukan pria itu di dalam pantry. Tak lama, semua yang Dila siapkan tadi, dibawa oleh Ezra menuju meja makan dimana dirinya menunggu.


"Aku suapi ya, tapi ini masih panas," ucapnya membelah dimsum menjadi dua bagian sebelum menyerahkan pada Dila.


"Bukan begitu. Aku gak mau makan kalau cara makannya begitu." Dila memanyunkan bibirnya melihat Ezra merusak makanan yang susah payah ia hangatkan.


"Eh, salah ya?" sahut Ezra saat melihat tulisan yang istrinya sodorkan.


Bukannya meminta maaf telah merusak mood ibu hamil di pagi buta, ia justru tersenyum melihat Dilara merajuk. Ezra menggeser duduknya ke sisi wanita dengan perut membuncit, membujuk agar tetap mau memakan dimsum yang terlanjur dia belah menjadi dua.


"Masih sama ko rasanya meski tampilannya berbeda." Giliran Ezra menulis setelah tangan kirinya mengambil kertas dari atas meja makan.


Dila hanya diam, kecewa, moodnya turun. Ia hendak bangkit ketika tangan kiri Ezra menahan bahunya.


"Diem, sini aku suapi. Siapa tahu rasanya beda, malah lebih enak." Ezra menulis balasan di kertas lainnya.


Wanita yang kelaparan dipagi buta mendadak kehilangan nafsu makan akibat kesalahan Ezra, ia bersikukuh meninggalkan pria itu sendiri.


Tangan kiri kokoh milik suaminya, menarik lengan dan merengkuh pinggang Dila hingga terduduk di pangkuan Ezra. Nyonya muda pun terkejut, ia berusaha berontak.


Degh.


Seketika, putra sulung Emery tertegun kala lengan kanan yang memeluk tubuh Dilara merasakan sebuah gerakan halus.


Ingin rasanya mengusap perut dibalik hijab panjang namun dia sadar, tak bisa terburu membujuk Dilara.

__ADS_1


"Ok, maaf. Aku hangatkan yang baru ya. Please diem disini sama aku. Biarkan aku memperbaikinya, anak kita lapar." Ia berusaha menulis meski dengan penolakan sikap Dila padanya.


Putri angkat Ruhama akhirnya luluh, setelah membaca tulisan dari sang suami. Dilara mengangguk pelan hingga muncul sebaris senyum di wajah Ezra.


"Gemes, tunggu ya Sayang." Pria tampan itu tak menulis lagi, ia hanya berbisik ditelinga istrinya. Bahasa cinta tak perlu di tulis, pikir Ezra. Buktinya Dila diam dan menunduk tersipu malu.


Wanita muda ini bangun dari pangkuan sang suami. Membiarkan pria tampan nan wangi menghangatkan kembali dimsum baru untuknya.


"Tahrim, aku mandi dulu. Bentar lagi subuh, nanti aku makan dimsum nya ba'da subuh aja." Dilara menulis diatas kertas lalu mengetuk meja menggunakan ujung sendok agar Ezra melihatnya. Dia kemudian bangkit mendorong kursi ke belakang agar lebih banyak ruang bergerak ketika ia akan menjauh dari sana.


Ezra melihat catatan yang dimaksud oleh istrinya. Tergesa melangkah agar dapat menjangkau bahu Dilara sebelum keluar pantry dan menatap lekat iris mata coklat tua gadis itu.


"Mau gak, sholat berjamaah denganku?"


Permintaan sang putra mahkota El Qavi diangguki samar oleh Dila sebelum ia pergi menuju kamar dan bersiap sholat subuh.


Saat adzan subuh berkumandang.


Bibi baru saja keluar kamar tatkala melihat Ezra sedang menata makanan di atas meja. Dia menghampiri anak asuhnya itu.


"Jam dua malam," jawab Ezra singkat.


"Ini buat siapa? biasanya Non Dila suka makan dimsum tengah malam, ko ini udah siap aja. Dia kemana?" desak Bibi curiga majikan pria nya ini telah mengacaukan sesuatu.


"Tuh," ucap Ezra kala melihat Dila membawa sajadah.


"Sholat Bi, mau ikut berjamaah gak? buruan ya," ujarnya lagi, dia pun menuju toilet di kamar tamu.


"Iya, mau ikut Den, tunggu." Bi inah bergegas menuju kamar mandi.


Lima menit kemudian, ia bergabung dengan majikan wanita yang telah menggelar dua sajadah di ruang keluarga.


"Lex, subuh." Ezra membangunkan sang aspri saat akan keluar dari kamar tamu setelah berwudhu.


"Hmm, bentar Bos." Suara beratnya menguar samar menyahuti sang Bos.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu.


Ba'da sholat subuh, tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Ezra sibuk dengan dzikir, Dila lirih bermurajaah sementara Bi Inah meninggalkan keduanya di sana.


"Nah gitu, kan kelihatan adem. Harmonis, semoga seterusnya," gumam wanita paruh baya seraya kembali masuk kedalam kamarnya menyimpan peralatan ibadah kemudian bersiap ke pantry untuk membuat sarapan.


Dari ekor mata, Ezra menyadari bahwa Dila menunggunya. Ia menengadahkan kedua tangan, mengucapkan doa panjang. Entah istri kecilnya mendengar atau tidak, lelaki itu tak peduli. Yang dia inginkan hanyalah kerukunan rumah tangganya.


Nyonya muda masih terlihat bingung untuk mengambil sikap atas perubahan perilaku pria dihadapannya.


Dia berusaha mencerna, meski otak dan hatinya seakan mengajak untuk ingkar atas apa yang di lihat.


Meski masih setengah hati menerima tingkah laku yang melembut dari sang suami, Dilara berusaha menunaikan kewajibannya yang paling ringan. Dimulai dengan meminta salim pada suaminya setelah sholat.


Ezra tak menyangka, respon Dilara akan seperti ini. Jemari kirinya lalu mengelus kepala Dilara saat dia salim, juga mengecup kening gadis itu.


"Alhamdulillah ... setelah sarapan, boleh gak aku minta waktu untuk bicara berdua denganmu diruang kerja?" pinta Ezra menahan lutut Dila saat akan bangun dari duduknya.


Kedua manik mata bulat itu menatap pada pemilik iris hitam dihadapannya. Dila mengangguk pelan.


Architect yang terlambat menyadari rasa simpati yang perlahan berubah menjadi kepedulian serta sayang, membantu istrinya bangun dengan mengulurkan kedua tangannya.


Dila mengerti, suaminya sedang mencoba berusaha lebih dekat padanya. Gadis manis itu pun menerima uluran tangan itu hingga ia lebih mudah bangkit.


Keturunan Emery itu meraih dagu Dilara. "Hati-hati, dimsum nya di makan ya. Mau aku temani?"


Wanita muda yang tengah berada di persimpangan perasaan, hanya mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia menggeleng samar.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya." Meski kecewa, Ezra sedikit merasa lega. Bayangan penolakan ekstrim dari Dilara tak ia dapatkan pagi ini, hari pertama saat keduanya bertemu setelah sekian purnama.


"Hari ini, kita akan habiskan banyak waktu bersama...." Ucapnya seraya menaiki barisan anak tangga menuju lantai dua. Rencana yang telah ia susun semalam semoga perlahan dapat mencairkan suasana.


.


.

__ADS_1


...___________________________...


__ADS_2