
Soetta.
Qavi's Couple tiba di Jakarta. Bunda Shan masih sangat lengket pada Ezra. Pun sepanjang perjalanan mereka dari gate ke waiting room banyak menyita perhatian, keduanya tak peduli.
"Ckck norak. Kayak abege baru pacaran aja," cibir Rolex dari kejauhan saat melihat kemesraan keduanya.
Saat pasangan yang di mabuk cinta itu memasuki ruang tunggu Bandara. Rolex masih tak beranjak dari duduknya. Sengaja mengamati, mereka akan melakukan apalagi disana. Bagai tiada penghuni, persis slogan dunia milik berdua, yang lain ghoib.
Dilara sangat manja, semua menu yang di pesan hanya ingin dia nikmati dari tangan dan mulut Ezra.
"Ckckck, Nyonya. Mode kekanakan baru mulai kah? apa gak jijay gitu ya? memakai sendok yang sama, bekas tegukan di tempat semula, iiishhhh, gelay," cibir Rolex lagi atas kelakuan kedua majikannya.
Muak menikmati kemesraan lebay, Rolex menghampiri mereka. Duduk dihadapan keduanya. Namun sungguh diluar dugaan, dia di abaikan.
"Bos."
Tik. Tok. Tik. Tok.
Tak ada sahutan ataupun jawaban.
Beberapa menit berlalu.
Rolex harus puas menyaksikan live kemesraan dari jarak dekat.
"Hemm, why?"
"Sayang, pelan. Habis ini pulang dan istirahat. Nanti malam ke rumah sakit ya," bisik Ezra mengusap perut Dila dari balik hijab.
Dilara hanya mengangguki perkataan suaminya. "Abang, aku gak mau lihat dia, duluan ya," ujar Dila bangkit dari kursi lalu berlalu menuju pintu keluar.
"Hah, Nyonya. Apa salahku?" Rolex bingung.
Ezra tertawa. "Salahmu, datang ke sini," balasnya.
"Lah kan minta jemput tadi, Bos." Rolex menggaruk tengkuk yang tak gatal, heran dengan sikap nyonya muda.
"Do'ain, Lex. Shan mau punya adek, Dilara mood swing banget. Kamu kudu sabar jika kena sasaran nanti, sifat dan sikapnya jungkir balik dari biasa," Ezra mengingatkan Rolex seraya menyusul Dila yang masih berdiri diluar menunggunya.
"Kau pulanglah duluan, aku pakai taksi saja. Sorry ya Lex, nanti juga kamu ngalamin," Ezra terkekeh geli melihat ekspresi muka Rolex.
"Bos, gugatan?" seru sang aspri
"Di ruang kerja, kita bahas. Bye Lex, hati-hati," balas Ezra kian menjauh.
...***...
Dua jam berikutnya. PIK Tower.
Shan juga Mama antusias melihat kedatangan putri dan Bundanya. Namun Dila justru cuek terhadap mereka.
Dia melenggang pergi, apalagi kala melihat Shan, reaksinya sungguh diluar prediksi.
"Mommy."
"Heeemmm, main sama Eyang atau Nenek ya. Bunda mau bobok," ucap Dila berlalu menapaki anak tangga.
"Nduk? Za?"
__ADS_1
Ezra meraih tangan mertuanya, mengecup bolak balik disana, terlebih Shan. Dia meraih tubuh gempal menggemaskan itu hingga sang bocah tertawa lepas saat Ezra duduk di sofa.
"Ma, do'ain ya. Nanti malam mau ke Obgyn, semoga sih bener karena menurut noted aku, Dila telat hampir sepuluh hari. Kewalahan aku, dia moody sekali." Ezra menyampaikan alasan kegundahan sang Mama atas sikap putrinya.
"Oalah, jadi karena itu Dila cuek sama Mama dan Shan?" Devana tersenyum lega. Menyusul kedua prianya duduk di sofa.
"Iya, aamiin. Sabar ya Za. Ibu hamil trimester awal suka begitu," pesan sang Mama.
"In sya Allah, aku excited banget. Anggap aja ini penebusan masa karena waktu hamil Shan, aku gak ada di sisinya bahkan banyak menyakiti," ayah Shan kembali murung.
"Daddy, don't be sad," ucap sang bocah, menciumi wajah Ezra.
"Enggak, Ayah happy dan bangga juga bersyukur, Bunda mempertahankan Shan dengan sangat baik," balas sang Ayah menciumi wajah putra semata wayang hingga tanpa sadar kepala Ezra jatuh dipangkuan sang mertua.
"Sudah, jangan diinget lagi. Mama tahu, kamu eman e sama Dila. Mama paham, mugiya kalian itu langgeng jodoh, aamiin. Sama bucinnya," ujar sang Mama lembut, membelai kepala menantunya sayang.
Degh.
"Belaian ini. Aku merindu, tak pernah mendapatkan dari dia," batin Ezra.
Devanagari mengerti, dia tetap membelai kepala menantu dan cucunya hingga mereka terlelap di sofa dalam pangkuan.
"Ya Allah gusti, tampannya mantu dan cucuku. Jagalah Ezra hanya untuk Dila, rahmatilah rumah tangganya, juga jauhkan dari orang-orang hasad. Aamiin."
Bi Inah yang mendengar suara majikannya pulang, datang dari pantry membawa dua gelas minum.
"Loh, tidur di sini Mbak?" tanya Bibi seraya menaruh baki di atas meja.
"Iya biar, kasian mantu ku. Ganteng, lembut koyok ngene loh Inah, keliatan juga kalau dia bucin."
"He em. Den Ezra tuh aslinya manja, lembut tapi karena ... yaah gitulah," sesal Inah, dia memilih beranjak dari sana, malas jika membahas Fransiska.
Rolex datang ke apartemen, setelah menyelesaikan urusan kantor lebih dulu.
"Ma, Bos mana?"
"Tidur, nih. Kenapa? lelah banget dia, kesian Lex."
Mendengar samar suara Rolex yang datang, Ezra perlahan membuka mata.
"Loh Ma, aku tidur ditemani Mama? eh Shan juga?" gumam Ezra tanpa sadar bahwa dia terlelap di sofa dalam pangkuan Mama.
Devanagari hanya tersenyum mengangguk.
"Duh maaf Ma, pasti pegal ya?" Ezra bangkit, memeluk Shan yang tertidur di dadanya.
"Lex, tunggu diruang kerja bentar. Aku punya sesuatu, naroh Shan dulu di kamar."
Menit berlalu, kedua pria telah berada di ruang kerja.
"Anastasya akan mulai sidang besok. Bi inah saksi kunci, dan Nyonya juga harus hadir karena ini sidang kedua. Akbar Sanjaya, menemuiku tadi, memohon cabut gugatan, namun Mama bilang, lanjutkan saja karena itu kriminal," jelas Rolex.
"Alhamdulillah ... Dia gak minta ke aku tapi mungkin akan datang ke Mama, kalau dia bujuk Dila gimana ya. Takut istriku luluh, Lex."
"Sementara tutup akses Bos. Sampai besok," saran Rolex.
Keduanya membicarakan strategi agar sidang kedua besok berjalan lancar karena mulai menghadirkan saksi.
__ADS_1
*
Tepat pukul tujuh malam.
Dila menolak ke dokter karena dia mengatakan bahwa tengah haid. "Aku haid, baru aja."
"Bukan haid kali Nduk. Check ke dokter sana, Za kamu angkat Dila dah. Paksa aja," Devana khawatir itu bukan haid melainkan flek awal kehamilan.
Dila menjelaskan saat hamil Shan dia tak memiliki tanda demikian. Namun Ezra dan sang Mama tetap kukuh hingga Dilara mengikuti kemauan mereka, dan bersiap ke rumah sakit.
Tiga jam berlalu, menjelang pukul sepuluh malam.
Biiip.
Ezra membuka pintu apartement pelan, memapah Dila masuk ke dalam. Mama masih menunggu mereka kembali dengan hati cemas.
"Gimana, Za?" tanya Devana pada sang menantu.
"Alhamdulillah Ma, tapi bedrest total ini. Gak boleh ngapa-ngapain, Dila kecapekan." Ezra menanggapi mertuanya seraya menuntun pelan saat Bunda Shan menaiki tangga.
Merasa tidak sabar, Ezra melingkarkan tangan ke bagian bawah tubuh istrinya, mengangkat Dila. Putri Devana pun mengalungkan kedua lengan pada leher Ezra, menyandarkan kepala di dada.
Mama menyusul keduanya, membuka pintu kamar mereka.
Perlahan meletakkan Dilara di ranjang. "Nurut ya, Sayang. Jangan bantah aku. Ok?" pinta Ezra saat tubuh molek itu telah berbaring.
"Sabar ya Nduk. Bismillah selamet dilewati sampai lahiran nanti. Dinikmati kalau begini begitu," imbuh sang Mama mengelus kepala putrinya. Ezra menepi, menyiapkan segala sesuatu sesuai anjuran dokter, agar Dila mudah menggapainya nanti ketika dia sedang tidak ada di kamar.
Pria itu nampak sibuk menghubungi Sonny, ingin menata ulang kamar selama Dilara bedrest agar istrinya itu tidak bosan harus terkurung dalam ruangan sepanjang hari.
"He em. Aku kok gak nyadar ya," keluh Dila seakan menyesal.
"Wajar, kan beda-beda setiap kondisi. Jangan banyak pikiran ya Nduk. Wes istirahat, nanti Shan sama Mama aja," pungkas Devana seraya bangkit dari sisi ranjang dan berlalu keluar kamar.
"Baby." Setelah kepergian sang Mama, Ezra mendekat, menciumi perut rata istrinya. Menghadiahi banyak kecupan pada wajah oval yang semakin ayu.
"Ini karena kecapekan di Malay, Abang sih," sungut Dila mengingat setiap malam panas mereka.
"Kok aku? kan kamu yang hot, entah belajar dimana itu," Ezra terkekeh geli sekaligus hanyut dalam permainan panas Dila.
"Gak di mana-mana lah. Naluri aja, lagian harusnya Abang hati-hati kalau sudah tahu dan ngrasa. Ini malah enggak," protesnya lagi.
Tawa lepas Ezra kembali mengudara. "Ya mana sadar, kan lagi enak ... kamu kudunya ingetin aku," kilahnya lagi.
"Yeee kan sama, gak nyadar karena lagi enak."
Keduanya terlibat obrolan absurd menjelang tidur. Ezra juga perlahan menyampaikan bahwa besok akan digelar sidang kedua Anastasya, namun kehadiran Dila dapat ditangguhkan sebagai saksi. Hanya Bi Inah yang hadir nanti.
"Hem, keadilan bagi Ibu harus tetap jalan. Mama juga akan mengerti," ucap Dila sendu.
"Baby, jangan dipikirin ya. Serahkan padaku... Mama ridho kok karena itu kejahatan Ana, beliau menyampaikan hal ini pada Rolex," jelas Ezra seraya memeluk wanitanya.
"Maaf ya, jika kehamilan ini bakal nyusahin kalian."
"Dila, kewajiban suamimu ini baru akan di jalani, jadi jangan merasa bersalah atas kondisi sekarang ya. Anggap saja aku menebus waktu lalu saat kamu hamil Shan dulu. Aku tidak menunaikan tugas dengan benar. Banyak menyakiti kamu Sayang, maaf ya ... terimakasih banyak atas semua hal baik yang kamu bawa untuk hidupku, Dilara Huwaida," kecupnya pada pucuk kepala putri angkat Ruhama.
.
__ADS_1
.
...__________________________...