SUARA UNTUK DILARA

SUARA UNTUK DILARA
BAB 124. PERPISAHAN


__ADS_3

"Jadi begini ... kisahnya?" Davina menghela nafas, ia terduduk lemas menyaksikan semua ini.


Para tamu di Joglo masih diam tak bergerak dari tempatnya, setelah gempuran pengakuan noda diri di masa lalu.


Sebuah ingatan lama kembali melintas di benaknya. Dengan nafas berat, Davina lirih membuka kisah pilu dari sisi keluarganya.


Ezra masih merekam apa yang sedari tadi ia saksikan. Meski lelaki itu terlihat tak melakukan apapun.


Suara lembut, tegas dan kental logat Jawa, mulai terdengar saat Davina mengawali kisah.


"Ayah kecolongan siang itu, sesungguhnya beliau tahu bahwa Akbar telah menikah lagi namun ia simpan rahasia itu sendiri."


"Putrinya sangat mencintai pria itu, juga tengah mengandung. Sayang, ayah lengah hingga Devana luput dari pengawasan dan kabur menemui Akbar di Jakarta dengan mobil pickup yang biasa dipakai untuk mengangkut padi dari penggilingan menuju pengepul."


"Ayah menceritakan awal mula kisah perih, padaku."


"Karena merasa bersalah dan khawatir, ayah menyusul Devana ke Jakarta namun tak jua menemukan dimana posisinya saat itu. Ibu dalam kondisi sakit, menangis setiap malam memikirkan nasib anak sulung yang akan melahirkan."


"Hingga dua pekan setelah proses persalinan, ayah baru menemukan dimana Devana tinggal."


"Saat beliau menjumpai sang anak, Deva sudah sulit di ajak bicara. Hanya air mata yang keluar dari mata bulat nan cantik itu. Sesekali jeritan bahkan makian keluar dari mulutnya, sangat kontras dengan dahulu."


"Deva kami santun, pendiam juga rajin mengaji. Jangankan berkata kotor dan kasar, marah pun dia tak bisa. Yang dilakukan ketika Deva marah adalah diam, menangis."


"Akhirnya ayah membawa Deva pulang, tanpa bayinya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan kami. Sakit ibu semakin parah karena melihat Deva depresi, kehilangan bayi, hingga dua bulan kemudian ibu meninggal dunia. "


"Ayah dan ibu itu tidak pernah terpisah jarak ataupun waktu, karena merasa kesepian dan harus fokus pengobatan Deva namun tak ada yang dapat membagi beban. Akhirnya aku dipanggil pulang, untuk melakukan terapi pada Deva. Beberapa bulan berselang, ayah menyusul ibu."


Air mata Davina luruh, suaranya mulai sumbang. Tergambar jelas betapa ia sakit menahan perih seorang diri kala itu.


"Aku dan Dena adik bungsu kami satu-satunya berjibaku menjaga Deva. Kakak sulung panutan kami. Hingga Denara suatu saat izin ke Jakarta untuk menemui Akbar."


"Entah apa yang Dena lakukan di Jakarta berbulan lamanya, dia kembali sudah tak bernyawa, surat medis mengatakan bahwa Dena sakit terkena serangan jantung saat di ruang publik. Hatiku kian hancur, cinta kami untuk Deva, karena dia tak dapat mengatakan yang sesungguhnya, membawa keluargaku masuk dalam kubangan duka yang menghantar nyawa."


"Kini hanya aku, harapan satu-satunya sebagai penyemangat Devana. Tahun berganti, perlahan dia bicara namun tak jua menceritakan kisah pilu itu. Hingga hari ini aku tahu segalanya dari kalian."

__ADS_1


"Selendang dan liontin yang Pak Ezra bawa adalah kenangan terakhir orang tua kami yang juga raib bersama Deva dan bayinya. Ayah diangkat menjadi pendamping wedana dan ibu menerima kehormatan sebagai orang kepercayaan Sinuhun. Mungkin Deva sengaja membawa dua benda itu karena dia tahu akan seorang diri di kota asing."


Jeda. Isakan Davina kian kentara.


Asyraf hamid ikut meneteskan air mata, Akbar kian lemah duduk dengan putrinya.


Hening, beberapa saat.


"Pak Ezra, dimana Dilara? bolehkah aku bertemu?" ujar wanita anggun itu, kembali pada mode sebelumnya, lembut.


Davina menatap Ezra dengan penuh pengharapan agar diizinkan bertemu sang keponakan.


"Apakah Nyonya Devana, masih hidup? dimana beliau?" bukannya menjawab, Ezra malah balik bertanya pada sosok anggun bernama Davina.


Belum sempat menjawab pertanyaan Ezra, Asyraf hamid menyela obrolan mereka.


"Aku ingin ketemu dengan Dila juga, Za. Tolong, aku kangen keduanya terutama cucuku Shan," imbuh sang janda kaya.


"Shan?" tanya Davina, Akbar dan Anastasya bersamaan, menatap Ezra menunggu penjelasannya.


Asyraf hamid tertohok. Betul kata Ezra, permintaan dirinya terlalu tinggi untuk seorang yang telah berbuat keji terhadap kehidupan gadis dan keluarga kandungnya.


Dia pun bangkit dari duduk, pamit undur diri dari hadapan semua yang ada di Joglo. Membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan terakhir serta mengucap maaf yang entah diterima atau sebaliknya.


"Tiada guna lagi disini, yang penting sudah mengutarakan segalanya. Jikalau ada proses hukum yang harus dijalani, aku akan menerima konsekuensi dari perilaku di masa lalu. Andai sisa hidup ini harus dihabiskan dari balik jeruji besi, setidaknya itu lebih baik karena dikelilingi banyak orang, juga tidak kesepian meski perilaku mereka bar-bar. Harapanku hanya satu, ketika nafas akhir di kerongkongan, aku dapat menghadap Tuhan sebab telah berusaha menebus semua dosaku, meski tidak seluruhnya," terang Vega Gianina, perlahan kakinya terangkat meski berat melangkah.


Istri almarhum Asyraf hamid memejam, meluruhkan air mata. Tidak ada yang menahan dirinya pergi, tanda memang ja tidak diinginkan.


"O-ma."


Suara khas anak kecil memecah keheningan.


Ezra menoleh ke samping kanan, tak sadar bila Leon sudah menghilang, kini lelaki itu berdiri di belakang Dila dan Mita. Menggendong Shan, putranya.


Asyraf hamid bergegas menuruni undakan tangga disusul oleh Andre, berhadapan dengan pasangan ibu dan anak yang ia rindukan.

__ADS_1


"S-shan. Oma, masih boleh peluk Shan? terakhir kali?" tanya Vega, takut melihat Dila yang menatapnya tajam.


"Jika aku tidak mengizinkan?" ketus Dila.


"Tak apa Sayang. Aku salah, maafkan ya Dila. Maaf." Tangan Vega urung meraih Shan dalam gendongan Leon meski anak polos itu sudah menangis kala melihat Oma nya meneteskan air mata.


"Oma."


Tak tega pada sang putra, Dilara meraih Shan dari dekapan Leon, mengizinkan bocah gempal itu memeluk asyraf hamid.


Netra senja wanita kaya terbelalak tak percaya, Dila menyerahkan Shan padanya. Kedua tangan nan bergetar bersiap menyambut Shan lalu memeluk erat.


"Maafin Oma. Maafin ya Shan. Do'akan Oma meski kita tak akan pernah jumpa lagi, Oma sayang Shan. Maaf." Tangis Vega pecah mengiris gendang telinga. Wanita itu menciumi seluruh wajah batita dalam pelukannya, seiring tangisan Shan seakan batita itu paham situasi.


Ingatan Asyraf hamid saat Shan bayi tiba di Sharjah, melihat dan membersamai semua perkembangan bocah ini hingga beberapa hari terpisah, membuat hatinya sakit. Seketika ia teringat penderitaan Devana, dosanya tak terampuni dan inilah balasan, menyayangi Shan dan dirinya harus rela tak lagi menampakkan batang hidung di hadapan mereka.


"Shan. Shan. Oma sayang Shan." Vega berusaha membisikkan kata cinta di telinga bocah yang sedang di tarik ibunya.


Dila meraih putranya, separuh hati mengatakan dia harus tega namun bagian satu lagi, justru iba.


"Sayang, kemarilah ... Mita, bawa Dila," Ezra memanggil istrinya dan meminta Mita menemani. Wajah pucat Dilara masih menggelayut kentara.


Seiring langkah Dila, Vega pun pergi dengan berlinang airmata.


"Omaaaa, Omaaaa." Teriakan Shan, menyayat hati.


Dilara mengikuti perintah sang suami. Matanya memendar sekeliling, Akbar sanjaya, Anastasya juga seorang wanita anggun mirip dirinya.


"A-bang ... i-ini?" ucap Dila terbata seraya menenangkan Shan yang masih meronta ingin ikut Asyraf hamid.


"Di-la ... Dilara?"


.


.

__ADS_1


...________________________...


__ADS_2