Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
99 : Sangat Manis


__ADS_3

Mas Aidan baru tahu, ketika seseorang khususnya dirinya jatuh cinta, baginya tidak ada yang lebih indah dari dia yang telah membuat hatinya berbunga-bunga. Tidak ada yang lebih istimewa dari dia yang menyelimutinya dengan penuh kenyamanan, juga dia yang mampu membuatnya merasa damai, dan itu benar-benar masih orang yang sama. Walau jelas, beban dan segala kesibukan tak mungkin meninggalkannya, karenanya yang telah menyelimutinya dengan rasa cinta, ia tetap baik-baik saja. Ia mampu melewati semua cobaan dengan mudah.


Adalah Arimbi, wanita itu sungguh menjadi penyebabnya. Walau memang bukan cinta pertama, Arimbi mampu membuat mas Aidan merasa sempurna dengan segala kesempurnaan yang selalu wanita berikan. Malahan, membiarkan Arimbi tersorot matahari pagi ketika wanita itu sedang jualan saja, ia tak rela. Namun Azzam yang duduk di sebelahnya mengatakan lebay. Barulah setelah Sepri datang, Azzam langsung kalem.


“Dek, daripada ke Mas, kamu jauh lebih patuh ke Sepri. Kamu bener, mau jadi suami Sundari? Apa iya, yang pecicilan, nyinyir melebihi akun gosip seperti kamu, keterima jadi menantunya ibu Septi sama pakde Andri?” mas Aidan menatap serius Azzam yang duduk di antara dirinya dan Sepri.


Tadi, awalnya Azzam duduk di ujung, tempat Sepri duduk. Namun setelah Sepri datang, Azzam langsung menyapa sopan kemudian geser memberi pria difabel itu tempat duduk.


Kini, efek pertanyaan dari mas Aidan barusan sudah langsung membuat seorang Azzam sangat gugup. Lain dengan Sepri yang sudah langsung ngakak.


“Sopan, Pri. Sopan! Gini-gini, aku direktur. Gajiku lebih dari lumayan dan otomatis bisa menjamin, memberikan kehidupan layak buat Sundari. Terus, aku ini ganteng melebihi yang mengaku ganteng. Bisa dipastikan, aku ini bakalan jadi sumber ‘bibit unggul’. Teru, papahku bilang, aku ini lucu dan cerdik, bukan nyinyir dan tukang gosip seperti yang beredar, bukan ya Alloh. Masa kalian enggak bisa merasakan kalau aku anak baik-baik?” ucap Azzam berusaha membela diri.


Tak hanya Sepri yang tertawa, tapi juga Arimbi yang baru saja ditinggalkan pembeli.


“Anaknya mamah papah, yah, Mas?” ujar Arimbi yang bergegas merebus air dan berniat menyeduh kopi untuk Sepri.


“Tahu saja kamu, Mbak. Dukung aku lah, Mbak. Aku saja dukung kamu kan?” tanggap Azzam bersikap semanis mungkin pada Arimbi yang hanya menertawakannya.


“Eh, eh ... kalian sudah tahu kabar terbaru, belum?” sergah Azzam mendadak semangat dan itu karena ia ingat, kabar Akala dan Cinta, belum ia sebar ke kalangan yang seharusnya mengetahui.

__ADS_1


Mas Aidan sudah langsung menghela napas sambil geleng-geleng. Lain dengan Arimbi yang sampai sakit perut gara-gara menertawakan Azzam.


“Baru juga membela diri kalau kamu bukan tukang nyinyir penyebar gosip, anak baik-baik,” ucap Sepri sengaja menyindir Azzam.


Setelah sempat terdiam kebingungan, Azzam jadi tertawa tak berdosa. Namun ia langsung tidak terima ketika Sepri menyamakannya dengan pak Haji Ojan.


“Sebenarnya kalai Ndari sedang di rumah, si Ojan jadi lebih manusia, enggak hanya mirip manusia!” ucap Sepri sungguh-sungguh, tapi ketiga orang yang sedang bersamanya termasuk mas Aidan sudah langsung tertawa.


“Eh, asli. Ke Ndari dia nurut banget, kaya peliharaan yang sayang ke bosnya. Coba kalau ke aku, sudah aku gendong, aku timang-timang pun, Ojan tetap kurang a*jar. Buang hajat sembarangan bahkan bertepatan sama aku pas makan. Astagfirullah.” Sepri geleng-geleng sementara tangan kanannya mengelus dada.


Walau Azzam sempat tertawa puas di atas penderitaan Sepri, pemuda berusia dua puluh sembilan tahun itu menjadi takut. “Eh, Pri! Itu Ojan begitu, jangan-jangan dia naksir lagi ke Ndari?” Azzam takut jika apa yang ia khawatirkan benar, berarti Sundari dalam bahaya.


“Ah, aku tetap khawatir!” ujar Azzam.


“Mas Sepri, kopinya,” ucap Arimbi yang memang menyuguhkan segelas kopinya kepada Sepri.


“Ya ampun, Mbak. Makasih banyak. Jadi ngerepotin!” ucap Sepri menjadi sungkan dan sampai berdiri untuk mengambil alih kopinya sendiri dari nampan yang dibawa Arimbi.


“Itu dibikinin gitu wajib bayar loh, Pri! Kamu bawa duit, enggak?” jail Azzam menakut-nakuti Sepri.

__ADS_1


Ulah Azzam membuat Arimbi tertawa sampai menangis. Arimbi mengikuti tuntunan mas Aidan yang membantunya duduk di sebelah Azzam. Pria itu mengalah berdiri karena di sana tidak ada tempat duduk lain.


“Ngehina banget kamu ya ke calon kakak sendiri! Nih! Punya sebanyak ini enggak kamu?!” omel Sepri memamerkan isi dompetnya yang benar-benar penuh uang lembaran warna merah dan biru.


“Ih, Pri. Itu duit banyak banget? Habis jual apa kamu?” Azzam sudah langsung tidak bisa berkata-kata.


“Aku habis jual g*injal! Kamu mau, g*injalnya aku jual juga, biar uangku makin banyak?” omel Sepri.


Bukan hanya Azzam yang langsung tertawa karena pasangan kalem di sebelahnya juga tak kalah heboh.


“Kalau gitu, kamu sering-sering ke sini, ya. Borong dagangannya mbak Arimbi! Biar makin disayang Mas Aidan!” ucap Azzam sudah langsung tertawa.


Mas Aidan yang menjadi sasaran hanya geleng-geleng di tengah senyumnya.


“Tampang boleh saja bi, tapi dompet jangan sampai kerempeng!” ujar Sepri sambil menyimpan kembali dompet lipat warna hitamnya ke saku samping celana panjangnya.


“Tapi sumpah, yah, Pri. Aku enggak mau munaf*ik. Aku mau jujur, ngomong kenyataan. Karena sumpah, di mata aku bahkan mungkin hampir semua orang, penampilan kamu kelihatan kayak orang susah. Apalagi kalau kamu habis dari sawah, enggak pakai baju cuma pakai celana panjang, nyeker juga, tubuh sampai kepala sampai mata kamu ketutup lumpur! Malah mirip memedi yang meloloskan diri dari jerat ayat kursi!” ucap Azzam yang kemudian geleng-geleng. “Yang benar saja kamu Pri. Duit banyak kok kamu enggak merawat diri dan jaga penampilan?”


“Merawat diri ibarat bentuk penghargaan kita ke diri kita yang sudah bekerja keras loh, Pri. Ibaratnya ya, kita wajib menghargai diri kita dan salah satunya dengan merawatnya biar lebih sedap dilihat. Soalnya kalau bukan kita, siapa lagi? Tetangga? Atau mereka yang kerjanya julid ngeprokin kita manis di depan bosok alias buseok di belakang? Enggak, Pri! Demi kebaikan kamu, mulai sekarang kamu wajib berubah. Terlebih penampilan juga menjadi awal orang menilai kita.”

__ADS_1


“Jadi kalau kamu rapi, wangi, kamu sudah sopan sekaligus pekerja keras dan uang kamu sudah obesitas, Insya Alloh, jodoh pun makin dideketin ke kamu!” Azzam mengakhiri ucapannya dengan tersenyum ceria. Tak lupa, kedua tangannya ia bentuk hati kepada Sepri hingga ia mendapat pujian dari Arimbi bahwa apa yang ia lakukan sangat manis.


__ADS_2