Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
47 : Masih Gugup


__ADS_3

“Saya enggak kenal mereka, Bu! Tolong jangan fitnah saya. Alasan saya mau ikut dengan kalian saja karena saya menghormati hukum di negara ini!” Aisyah masih belum mau mengaku dan tak hentinya melakukan pembelaan diri. Ceramah tiada henti hingga polisi yang menyelidiki kesal sendiri.


Polisi wanita yang menghadapi Aisyah sampai muak karena bukannya menjawab sesuai pertanyaan, Aisyah terus saja berdakwah. Kalaupun tidak, Aisyah malah akan balik bertanya.


“Suami Anda sudah mengakui, bahwa sebelumnya, Anda merupakan mantan anak punk! Asal Anda dengan mereka pun masih satu kota!” yakin polisinya.


Aisyah langsung ketar-ketir. “Suami saya begitu karena dia merasa tertekan, apalagi kalian pasti terus mnkannya!” elaknya.


Setelah polisi di hadapan Aisyah menghela napas dalam, wanita berambut pendek cepak itu menoleh ke belakang. Di sana, rekannya yang juga wanita, berangsur masuk ke ruang pemeriksaan khusus. Demi menghormati Aisyah, mereka memang memperlakukannya dengan cara khusus. Wanita itu mendekati Aisyah, menawari Asiyah untuk membuka cadar atau setidaknya jilbab guna kepentingan pemeriksaan. Tentu Aisyah langsung menolak.


“Jika Anda tidak kooperatif, kami berhak memaksa!” tegas polisi yang melakukan penyelidikan kepada Aisyah.


“Jika kalian sampai melakukannya, berarti kalian telah melakukan kejahatan ham!” balas Aisyah masih melawan.


“Kami bukan anak kecil yang bisa Anda takut-takuti apalagi kami menjalani pemeriksaan sesuai prosedur!” balas polisi yang ada di hadapan Aisyah sembari berangsur berdiri.


Polisi wanita tadi berangsur menatap rekannya. Setelah tatapan mereka bertemu, mereka kompak mengangguk dan terjadilah pemeriksaan. Keduanya terpaksa melepas paksa cadar Aisyah. Membuat mereka mendapati rupa asli wajah Aisyah. Bibir Aisyah bengkak parah berhias bekas darah yang sebagiannya tampak mengering.


Aisyah sudah tak karuan, ketakutan luar biasa. Dalam diamnya yang menahan ketegangan mendalam, harapannya hanya satu yaitu keluarganya segera datang kemudian menyelamatkannya. “Ini pasti gara-gara mas Ilham yang sudah ngomong tidak-tidak. Padahal, aku begini dan sengaja berusaha menyingki*rkan Arimbi, juga masih karena dia!” batinnya.


Lain dengan Aisyah, Arimbi yang masih di rumah, tengah sibuk menyiapkan jualannya. Baru Arimbi sadari, motor dan gerabahnya dititipkan ke bengkel di sebelah biasa ia jualan.


“Oh iya, aku harus ke sana dulu. Kalau enggak pakai motor itu, aku jualan pakai apa?” pikir Arimbi.


Arimbi langsung bersiap pergi dan berniat mengajak mas Agung untuk mengantarnya ke pasar. Namun, baru juga keluar dari rumah, ia sudah mendapati motor berikut gerabahnya di teras rumahnya.


“Loh, ini ... ini kok ada di sini?” lirih Arimbi terheran-heran. Andai ia tak mendapatkan telepon dari mas Aidan, ia pasti sudah ke depan dan bertanya pada pekerja di sana.


“Assalamualaikum, Mbak?” sapa mas Aidan dari seberang.


“Apa mas Aidan yah, yang antar ini?” pikir Arimbi yang juga langsung menjawab.

__ADS_1


“Motornya sudah sampai, kan? Tadi aku baru ingat tanpa motor itu, Mbak enggak bisa jualan,” lanjut mas Aidan.


“Ya ampun, Mas. Aku ngerepotin lagi. Ini sebenarnya aku juga baru mau ajak mas Agung buat ambil.” Terbiasa serba melay*ani Ilham sekeluarga, Arimbi yang menjadi serba dimanjakan oleh mas Aidan malah merasa merepotkan.


“Ngerepotin bagaimana, sih? Ya enggaklah, kan biar mbak bisa fokus istirahat. Lumayan walau paling, Mbak hanya ambil beberapa menit saja buat istirahatnya.”


“Ya sudah, ... makasih banyak, ya, Mas. Mas sudah mulai kerja, kan? Ya sudah, hati-hati.” Arimbi sengaja menutup obrolan mereka karena terlalu bingung harus membahas apa lagi di luar urusan kasus Aisyah maupun kepentingan dagangnya.


“Nanti sore mau jualan jam berapa?” tanya mas Aidan yang kali ini mendadak terdengar canggung.


Rasa gugup mulai menguasai Arimbi hingga wanita itu refleks menahan napas. “Ya seperti biasa, Mas. Pukul empat sore atau setengah empat.”


“Ya sudah, paling nanti aku tunggu di lapak saja karena paling, urusanku di rumah makan baru selesai sekitar pukul lima.”


“Ya enggak apa-apa, Mas. Diselesaikan dulu urusannya,” balas Arimbi yang kemudian merasa, kenapa mereka mendadak sangat canggung bahkan kaku? Terbukti, ketika akhirnya mereka bertemu, mereka juga merasakan itu.


“Mas mau makan apa? Makan pecel terus, bosan, kan?” tanya Arimbi sungkan. Ia sengaja mendekati mas Aidan yang duduk di bangku sebelahnya, setelah pembelinya pergi semua.


Mas Aidan yang awalnya sedang fokus mengetik di ponselnya, langsung menggeleng. “Enggak juga. Aku suka. Pakai lontong, tanpa gorengan karena aku enggak suka gorengan.”


“Iya ....” mas Aidan tersenyum pasrah.


“Aku siapin, ya,” ucap Arimbi, tapi mas Aidan memintanya untuk melihat layar ponselnya.


“Mas ... Excel, ya?” tebak Arimbi lantaran foto profil ruang obrolan WA yang menghiasi layar ponsel mas Aidan, merupakan sosok Excel yang sedang tidur kemudian memakai bandana kelinci pink.


Mas Aidan berangsur menggeleng. “Bukan, ini mbak Azzura tapi ya biasa, namanya juga mbak Azzura, pasti ada saja tingkahnya jail ke suaminya.”


Mendengar itu, Arimbi segera mengambil alih ponsel mas Aidan, tapi sebelumnya, ia sengaja mengucapkan kata maaf untuk permisi. Benar, itu kontak Azzura. Azzura meminta dibelikan pecel dengan bumbu yang dipisah dan level pedasnya ditandai karena Excel tidak bisa makan pedas.


“Berarti ke depannya, Mas enggak masalah punya istri jail karena sudah terbiasa menghadapi mbak Azzura, ya?” ucap Arimbi sambil menahan senyumnya. Ia memberikan ponsel mas Aidan.

__ADS_1


Sambil menerima ponselnya, mas Aidan berkata, “Kamu bukan tipe yang jail. Harusnya aman.”


Alasan Arimbi langsung kikuk karena ia mencerna maksud balasan mas Aidan lebih dalam. Karena dengan kata lain, mas Aidan sudah mantap membuat mereka ada menjadi suami istri.


Teng ....


Pemberitahuan tanda pesan masuk terdengar dari ponsel mas Aidan bertepatan dengan kepergian Arimbi.


Mbak Azzura : Mamah sama Papah mau ke sana katanya mau sekalian kuliner, sambil ketemu calon mantu! Wkwkwkwkwk


Mas Aidan : Serius?


Mbak Azzura : Bentar, aku foto sebagai bukti.


Mas Aidan tak lagi membalas. Ia sengaja menunggu, dan langsung bengong ketika mendapat kiriman video dari Azzura yang merekam obrolannya dengan sang mamah maupun papah.


“Papah Mamah mau motoran sore sekalian ketemu mantu? Pacaran terus ih, bikin iri,” ucap Azzura.


“Bentar lagi Mbak juga jalan-jalan naik jet, kan, sama suami?” balas pak Kalandra.


“Tapi sama mamah enggak boleh, Pah. Katanya takut aku kan lagi hamil,” balas Azzura terdengar langsung merengek manja.


“Ya sudah, dengerin kata Mamah karena Mamah pasti lebih paham.”


“Ihh, Papah kok enggak belain aku?” kesal Azzura.


“Enggak, pokoknya kalau Mamah sudah bilang enggak, berarti memang enggak boleh.”


“Kalau mau jalan-jalan, pakai mobil, hati-hati.” Kali ini ibu Arum yang berbicara dan memang baru menjadi bagian dari kebersamaan karena saat Azzura awal merekam, ibu Arum buru-buru masuk kamar dan kembali sambil menenteng tas selempang.


Walau tahu orang tuanya akan datang, mas Aidan sengaja tidak mengabarkannya kepada Arimbi. Khawatir andai ia langsung cerita, yang ada Arimbi malah gugup tak karuan dan malah melakukan banyak kesalahan.

__ADS_1


“Maaf banget loh, Mbak. Tapi demi keamanan bersama, aku mending enggak kasih tahu Mbak!” batin mas Aidan diam-diam mengawasi wajah calon istrinya.


Arimbi yang sadar dirinya tengah diawasi, refleks mengerling dan langsung salah tingkah ketika lirikannya malah bertemu dengan tatapan mas Aidan yang terang-terangan mengawasinya.


__ADS_2