
“Mas Rio hanya boleh berbicara seperti itu jika Mas Rio memiliki hubungan lebih dengan mbak Arimbi!” Setelah terdiam sejenak, mas Aidan yang menatap tegas mas Rio berkata, “PAHAM?” Namun di hadapannya, mas Rio yang sebelumnya menolak tawaran jamuan makanan atau minuman darinya, menggeleng.
“Poin utama yang membuat saya berani maju karena mbak Arimbi memang tidak terikat hubungan dengan laki-laki mana pun, termasuk itu Mas. Mbak Arimbi sudah menolak Mas. Mas enggak bisa kasih masa depan buat mbak Arimbi karena sekadar meminta restu ke mamah Mas saja, ... Mas enggak sanggup,” tegas mas Aidan masih berucap lirih karena biar bagaimanapun di lantai bawah kebersamaan mereka, suasana terbilang ramai. Mereka bisa duduk di sana saja terbilang untung. Karena kebetulan, tadi bertepatan dengan kedatangan mas Rio, beberapa pengunjung yang menghuni meja mereka, pergi.
“Mas Rio enggak berhak membatasi gerak mbak Arimbi tanpa harus saya jelaskan panjang lebar lagi karena sebelum ini pun saya sudah menjelaskannya!” ucap mas Aidan. “Terakhir, ... saya dan mbak Arimbi akan menikah. Hubungan kami tanpa sedikit pun paksaan. Kami benar-benar akan menikah dalam waktu dekat!”
Apa yang baru saja mas Aidan sampaikan sudah langsung membuat mas Mario menangis batin. Ia tak mampu bersuara lagi walau ia sangat tidak rela melepas Arimbi pada laki-laki mana pun bahkan itu sekelas mas Aidan.
“Mulai sekarang, semua yang berkaitan dengan mbak Arimbi, otomatis akan menjadi tanggung jawab saya. Jadi apa pun itu, termasuk jika Mas Rio berani mengusik mbak Arimbi, Mas juga akan berurusan dengan saya!” lanjut mas Aidan.
Dunia seorang mas Mario seolah langsung runtuh detik itu juga. Kedua matanya berembun hingga mas Aidan yang memenuhi pandangannya, menjadi terlihat makin tidak jelas. Di lain sisi, Azzam juga menjadi murung hanya karena kedua matanya malah mendapati satu kotak besar berisi pecel di sebelah tudung saji dapurnya. Mas Azzam yakin, itu pecel Arimbi.
Arimbi dan segala pesonanya termasuk kenyataan wanita muda itu yang begitu pekerja keras, memang telah memikat hati Azzam dengan sangat mudah. Ditambah lagi, Arimbi sangat mirip dengan mamahnya, padahal mereka tak memiliki ikatan khusus.
Menghela napas dalam, dalam hatinya Azzam berkata, “Sakit enggak berdarah, tapi jika aku terus membayang-bayangi hubungan mereka, berarti aku jahat. Apalagi mereka saling mencintai, dan sana sini bilang mereka sangat cocok.”
Dalam benak Azzam, segala interaksi manis antara Arimbi dan juga mas Aidan, langsung terputar bak pertunjukkan film dokumenter. “Mereka benar-benar semanis itu ...,” lirih Azzam yang malah gemas pada interaksi keduanya.
Di tempat berbeda lagi, Arimbi yang tengah dimaksud, masih sibuk jualan. Menu baru dan itu rujak potong yang Arimbi buat langsung menarik minat pembeli. Arimbi memang sengaja menyiapkan sampel rujak, membiarkan pembeli untuk mencicipi rujak buatannya.
__ADS_1
Kedatangan mas Agung yang membawa Lesti sang istri, langsung meringankan kesibukan Arimbi karena keduanya langsung membantu.
“Ada rujak, Mbi?” tanya mbak Lesti yang memilih membantu Arimbi membungkus setiap pesanan pecel. Sementara sang suami memilih membungkus setiap pesanan gorengan dan lontong karena dari semuanya, itu yang paling mudah.
“Iya, Mbak. Inovasi baru. Langsung ludes itu, tinggal segini. Apa ini buat Mbak saja. Sudah, tutup taruh belakang biar enggak dibeli orang!” ucap Arimbi sambil menahan senyumnya.
Arimbi merasa sangat bahagia. Tak semata karena rasa lelahnya terbayar dengan dagangannya yang terjual laris. Namun juga karena adanya mas Aidan sekeluarga yang mendukungnya. Ia tak lagi hanya berjuang dengan sang ibu maupun mas Agung. Karena mas Aidan sekeluarga juga selalu siaga membantunya.
Udara sore ini benar-benar sejuk karena suasana memang agak mendung. Senja di ufuk barat sampai tertutup oleh awan hitam.
“Mbi, tadi ada yang nawar rumah kamu. Gimana? Kamu mau jual, apa semacam dikontrakan saja?” ucap mas Agung tiba-tiba.
Arimbi langsung tersipu. “Ya enggak gitu, Mbak Lis. Kalau aku enggak butuh duit, aku enggak mungkin pontang-panting masih di sini. Ya tetap butuh duit buat masa depan. Meski setelah menikah nanti, semuanya akan jauh lebih tertata. Nanti aku dibuatkan semacam warung khusus. Di rumah makan mas Aidan pun bakalan ada, ibaratnya menu andalan. Sementara untuk tempat tinggal, tentu aku ikut mas Aidan. Termasuk ibu juga tetap ikut aku. Tapi ya andai ibu ingin ikut kalian, pasti aku antar. Besok mas Aidan pasti izin ke Mas dan Mbak karena biar bagaimanapun, sekarang kalian waliku.” Arimbi menjadi terenyuh lantaran kedua orang yang menyimak ucapannya, sudah langsung berkaca-kaca. Mas Agung dan mbak Lesti, terlihat sangat terharu.
“Semoga segala rencana baik, dipermudah yah, Mbi!” ucap mas Agung bersamaan dengan sang istri yang merangkul Arimbi. Mereka masih berdiri di balik meja dagang Arimbi.
“Amin, Mas!” balas Arimbi bersuka cita menatap kedua wajah di hadapannya.
“Jadi, masalah rumah bagaimana?” tagih mas Agung. “Rumah dan pekarangan kan masih hak kamu. Nanti, itu bekas rumah lama dirobohkan saja. Rumah bisa dijual, atau dikontrakan karena kamu enggak mungkin menetap di sana. Sementara pekarangan bisa ditanami pohon yang jualnya gampang. Bisa juga buat kebun kelapa apa kebun apa, daripada dikosongkan. Kamu juga bisa bahas ini dengan mas Aidan.”
__ADS_1
Baru disebut namanya, mas Aidan sudah datang. Pria itu mengendarai motor matic dan langsung kikuk ketika melihat mas Agung berikut mbak Lesti.
Kebersamaan yang tidak direncanakan akhirnya terjadi. Mas Aidan pun mengutarakan niat baiknya untuk berkunjung ke kediaman mas Agung. Selain untuk silaturahmi, tentu untuk membahas hubungannya dan Arimbi.
“Maunya habis lamaran langsung nikah, Mas!” ucap mas Aidan duduk di ujung bangku sebelah meja dagang Arimbi. Ia menghadap mas Agung, sementara di belakang mas Agung, ada mbak Lesti dan juga Arimbi.
Saking terharunya sang adik akan dipersunting oleh orang sebaik mas Aidan yang juga bukan orang sembarangan, mas Agung sampai tidak bisa berkata-kata. Terlalu nelangsa, benar-benar terharu, membuatnya tak kuasa menahan air mata. Apalagi sebelum bersama mas Aidan, Arimbi baru saja dilukai oleh Ilham sangat dalam. Bahkan karena luka dari Ilham tersebut, keluarga mereka sempat dipandang hi*n*a.
“Lakukan yang terbaik, Mas karena kalian yang akan menjalani dan kami sebagai keluarga akan selalu mendukung, mendoakan yang terbaik tentu saja. Namun untuk urusan lamaran dan lainnya, ... kalau boleh dilangsungkannya di rumah baru saja biar warga juga tahu, Arimbi memang sudah menikah. Biar Ilham dan istrinya enggak rempong lagi! Rumah Arimbi kan jauh dari rumah saya. Sudah beda desa, sementara sejauh ini, yang rempong kan warga sekitar rumah Arimbi!” ucap mas Agung.
“Setuju!” sergah mbak Lesti. “Berarti nanti Mas juga dipercepat rapihin rumah barunya.
Mas Aidan mengangguk. “Baik, Mas. Saya sudah ada gambaran acaranya. Paling nanti karena resepsi pernikahan di rumah makan keluarga saya, paling saya sediakan mobil buat tetangga yang mau datang. Diantar jemput, rombongan biar lebih seru!”
Mendengar usul mas Aidan, mas Agung dan mbak Lesti, termasuk Arimbi langsung setuju. Kebersamaan mereka diakhiri dengan keputusan yang begitu manis, selain dagangan Arimbi yang habis, dan mas Agung maupun mbak Lesti juga membantu Arimbi maupun mas Aidan, membereskan gerabah dagangan Arimbi.
“Mbak, kamu capek banget, ya?” tanya mas Aidan ketika mereka sudah bersiap di motor masing-masing.
“Memangnya kenapa, Mas?” sergah Arimbi deg-degan karena jika sudah sampai ditanya begitu, biasanya mas Aidan memang akan mengajaknya pergi.
__ADS_1
“Habis isya, kita pergi beli pakaian buat acara empat bulan kehamilannya mbak Azzura, ya?” balas mas Aidan yang menatap Arimbi dengan tatapan yang begitu teduh.