Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
116 : Menjadi Pecun-dang


__ADS_3

Tidak ada yang tidak bingung. Bukan hanya Akala, tapi juga mas Aidan dan Arimbi yang melempar buket pengantinnya.


“Nih, buat kamu!” sergah Akala yang masih berucap lembut. Ia memberikannya kepada Cinta, tapi Cinta tak menerimanya dan malah sengaja menyudahi tatapannya kepadanya.


Justru, Chole si gadis periang yang mengambil buketnya dari Akala. “Sini, Mas. Nanti aku kasihkan ke Kak Cinta!” Ia tersenyum cerah kepada Akala yang memang langsung tersenyum. Hanya saja, Chole juga yakin senyum Akala kali ini hanya senyum pura-pura.


“Sebulan lagi, kakakmu menikah, kan?” tanya Akala lirih kepada Chole yang memang menjadi sekat kebersamaannya dan Cinta.


Chole yang memang tidak memakai jilbab, menyelinapkan anak rambutnya ke belakang telinga kanan. Ia melirik Cinta yang kali ini tampil menawan dengan warna pink nude, termasuk jilbab segi empat yang menutup kepala kakaknya itu.


“Kak Cinta, ... atau malah aku yah, yang menikah?” lirih Chole bingung dan berakhir menatap Akala.


Akala juga menjadi tak kalah bingung setelah mendengar apa yang Chole katakan.


“Berjanjilah, Mas akan terus menyayangi Kak Cinta hingga akhir!” lanjut Chole, kali ini menuntut Akala untuk memberinya kepastian.


“Apa maksudmu?” lirih Akala menatap sangat serius Chole. Namun bisa ia pastikan, meski mereka tengah di keramaian, obrolan mereka benar-benar rahasia. Hanya ia dan Chole saja yang mengetahuinya.


“Zam, disalip kamu, Zam!” ucap pak Angga sengaja menggoda Azzam yang langsung terlihat kikuk. Azzam terlihat terkejut, tak percaya, dan juga ekspresi mencolok bahwa pemuda itu tak rela andai dirinya sampai disalip Akala.

__ADS_1


Namun, setelah menatap Sundari yang langsung tersenyum geli kepadanya, Azzam langsung kembali tersenyum. “Enggak apa-apa, Yah! Asal nikahnya sama anaknya ibu Septi, aman terkendali sampai jannaaah!” yakinnya dan tak hanya membuat pak Angga yang menjadi lawan bicaranya tertawa. Karena mereka yang paham hubungan Azzam dan Sundari, apalagi ibu Septi dan Sepri, langsung tertawa heboh.


“Aku mau kembangnya dong, buat si Janda!” ujar pak Haji Ojan yang kembali dengan tangan kosong lantaran buket yang awalnya siap ia tangkap malah melesat jauh.


“Kasih suketnya saja, Chole. Suket, kamu tahu suket, enggak? Suket itu rumput liaar!” bawel Azzam.


Chole yang memang baru tahu bahwa suket merupakan bahasa lain dari rumput liar, hanya terbengong-bengong menatap Azzam yang sampai menghampirinya. Azzam yang awalnya di barisan ujung menghadap meja panjang kebersamaan mereka, sampai menghampirinya, meninggalkan Sundari yang menjadi sibuk menahan tawa.


“Mas Azzam, buket pengantin ya enggak ada suketnya ih. Dikiranya buketnya ambil di kebun orang, saking buru-burunya karena takut ketahuan, sampai suket sama kodok tanah yang di pot saja, diangkut kayak mas Ojan?” ucap Sundari.


Mendengar itu, Azzam langsung semringah kemudian menoleh, balik badan menatap semringah snag kekasih. “Jadi di pot kanda bolong yang Ojan bawa, ada kodoknya? Hahahaha!”


Tawa renyah Azzam sudah langsung menular, termasuk itu kepada Akala dan Cinta yang dari awal sudah sibuk menjaga jarak. Lebih lucunya lagi, Azzam dengan tega hanya memberikan serpihan daun kecil dari bunga lily selaku buket pengantinnya kepada pak Haji Ojan.


“Masalahnya dia bukan janda. Dia masih istri orang. Kamu bahkan sudah nyumbang kodok hidup, ya sudah, itu sudah lebih dari cukup!” yakin Azzam yang kemudian mengajak semuanya bubar mengingat acara di sana memang sudah selesai. Namun sekali lagi, mereka menyalami mas Aidan dan Arimbi yang terlihat sangat bahagia.


Sambil menenteng sovenir dalam karton pink nude berukuran agak besar, Azzam dan teman pengantin lainnya yang memang masih bagian dari keluarga besar, berangsur melepas para tamu meninggalkan tempat resepsi hingga depan pintu masuk.


“Ta ...?” sergah Akala berat, berusaha melakukan pendekatan kepada Cinta.

__ADS_1


Cinta yang masih duduk di tempat duduk VIP dekat pelaminan, langsung kebingungan lantaran Chole mendadak pamit. Chole kabur dan jelas sengaja memberi Cinta maupun Akala waktu hanya berdua.


“Kamu mau nikah juga, Chole?” ucap pak Kalandra sambil menatap hangat Chole yang bergabung menghampiri kebersamaan orang tua. Di sana ada Tuan Maheza dan ibu Aleya juga. Semuanya yang dilengkapi kedua pengantin, kompak berdiri karena mereka juga akan pulang.


“Mau lah, Om. Yang sudah nikah saja sampai nikah lagi!” balas Chole masih ceria.


Pak Kalandra yang masih tersenyum cerah, refleks mengusap gemas ubun-ubun Chole. “Memangnya calonnya sudah ada? Kok enggak diajak?”


Dito*dong calon, Chole langsung bingung. “Aku mau bantu-bantu Mas Aidan sama Mbak Arimbi boyong kado ke mobil,” sergah Chole masih mendekap buket pengantinnya.


“Eh, ini asli? Kok buket pengantinnya di aku terus? Benar gitu, aku akan menggantikan Kak Cinta menikah dengan om Helios? Lah gimana ceritanya, lihat wajah om Helios saja, aku takut banget!” dalam hatinya, Chole ketar-ketir sendiri. Namun ketika ia tak sengaja melihat kebersamaan Cinta dan Akala ... kemudian diam-diam mengawasi mas Aidan yang terus saja menggandeng lembut sebelah tangan Arimbi, butiran bening lolos dari kedua sudut matanya.


“Cukup aku saja yang harus kehilangan laki-laki yang selama ini aku cintai sekaligus kagumi karena selama ini aku hanya mencintainya dalam diam. Walau melihatnya bahagia bersama wanita pilihannya juga membuatku merasa bahagia. Namun aku percaya, kebahagiaan yang aku rasa akan jauh lebih sempurna jika aku yang menjadi wanita beruntung itu. Iya, aku pasti akan jauh lebih bahagia jika aku yang menjadi istri mas Aidan. Beruntung sekali, ... kamu beneran beruntung bisa jadi istri laki-laki bertanggung jawab sekaligus penyayang seperti mas Aidan, Mbak Arimbi. Jadi, jangan sampai, kak Cinta juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang hanya karena kak Cinta harus melepas Akala,” batin Chole, langsung gugup tak karuan hanya karena disapa oleh mas Aidan.


“Berarti buket pengantinnya jadi milik kamu, yah, Dek?” ujar mas Aidan.


Chole yang tak mau terus-menerus senam jantung bahkan kehilangan kewarasan hanya karena dekat-dekat dengan mas Aidan, memilih kabur. Ia bertemu dengan Divani yang langsung memberinya tatapan sengit. Pandangan yang juga membuat langkah Chole menjadi lebih pelan.


“Pada akhirnya, bukan kamu, tapi justru wanita tak terduga yang menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mas Aidan. Tak apa, kamu menyebutku pe*cundang, walau alasanku begitu karena kamu yang memaksa. Sekarang lihat, siapa yang menangis?” Chole menatap Divani penuh kemenangan seiring ia yang mengeratkan dekapannya terhadap buket pengantin di dadanya.

__ADS_1


“Aku ikhlas. Aku bahagia, terlebih mamah papahku bilang, Mbak Arimbi wanita yang sangat baik, sangat mirip dengan mamahnya mas Aidan. Karena pada kenyataannya, jodoh memang cerminan diri. I-yah, ... aku percaya itu. Mana mungkin mas Aidan yang penyabar bahkan nyaris sempurna, berjodoh dengan nona muda tak tahu aturan seperti kamu. Malahan, kamu lebih cocok dengan kak Cikho si biang masalah!” Kali ini Chole yang masih berucap lirih, melirik sinis Divani yang sampai ia terobos.


Divani tetap bungkam, menghela napas dalam, kemudian bersikap, seolah semuanya baik-baik saja. Ia sempat mengawasi kebersamaan mas Aidan yang benar-benar manis. Namun ia tak berniat memberi keduanya selamat karena itu hanya membuat luka-luka yang belum kering jauh di dalam hatinya, kembali menganga. Selain itu, ia juga tidak berniat menjadi pecunda*ng layaknya Chole yang malah dengan bodddohnya bantu-bantu di sana.


__ADS_2